Bab 1
PROLOG
Jakarta tidak pernah terasa segerah ini bagi Ressa Vanilla. Sebagai seorang HRD di perusahaan multinasional, Ressa terbiasa memegang kendali. Namun, sore itu, kendalinya hancur berkeping-keping tepat saat pintu apartemennya terbuka.
Seorang pria berdiri di sana. Tingginya hampir menyentuh kosen pintu, memaksa Ressa harus mendongak. Tidak ada lagi kacamata bulat atau kaos kedodoran. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memamerkan urat-urat menonjol di punggung tangan yang tampak kuat.
"Lama tidak jumpa, Mbak Ressa," suara bariton itu mengalun rendah, menggetarkan gendang telinga Ressa hingga ke ulu hati.
Ressa terpaku. "Re-Regin?"
Sepuluh tahun lalu, Regin Ang hanyalah bocah 9 tahun yang sering ia buat menangis. Ressa sering memaksanya memanjat pohon hanya untuk melihatnya gemetar ketakutan. Namun sekarang, pria 19 tahun di depannya ini justru memancarkan aura predator yang membuat Ressa merasa seperti mangsa kecil.
Tanpa menunggu izin, Regin melangkah masuk. Aroma maskulin yang bercampur harum sandalwood menyerbu indra penciuman Ressa. Saat Regin berpapasan dengannya di lorong sempit menuju ruang tamu, pria itu sengaja tidak memberi ruang. Bahu kokohnya bergesekan pelan dengan d**a Ressa, sebuah sentuhan singkat yang meninggalkan sensasi panas yang membakar kulit.
"Mbak masih suka mengganggu anak kecil?" Regin berbalik, matanya yang tajam mengunci manik mata Ressa. Pria itu meletakkan kunci apartemen di meja dengan bunyi dentang yang penuh penekanan.
"Kamu... kamu sudah besar," sahut Ressa bodoh, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.
Regin menyeringai, sebuah senyuman nakal yang sama sekali tidak menunjukkan kesopanan seorang 'adik titipan'. Ia mendekat, mengurung tubuh Ressa di antara dinding lorong dan tubuh besarnya. Ressa bisa merasakan panas tubuh Regin yang merembes melalui pakaian mereka.
"Besar?" Regin merendahkan wajahnya, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Ressa yang memerah. Tangannya yang lebar bergerak naik, jemarinya membelai tengkuk Ressa dengan tekanan yang menuntut. "Mbak belum lihat semuanya. Mau aku tunjukkan apa saja yang sudah 'tumbuh' sejak terakhir Mbak jahili?"
Napas Ressa tercekat. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan dominan dari aura pria di depannya ini. Jari-jari Regin kini beralih ke dagu Ressa, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap penuh obsesi.
"Dulu Mbak bilang aku cengeng karena sering nangis. Sekarang..." Regin menekan tubuhnya lebih rapat, membuat Ressa bisa merasakan setiap lekuk otot pria itu. "Akan kupastikan Mbak yang menangis malam ini. Tapi bukan karena sedih, melainkan karena memohon padaku."
Detik itu, Ressa sadar. Dia tidak sedang kedatangan seorang tamu. Dia sedang menyambut kehancurannya sendiri yang terbungkus dalam sosok berondong rupawan bernama Regin Ang
****
BAB 1: Tamu Tak Diundang, Gairah Tak Terbendung
Malam pertama Regin Ang di apartemen Ressa Vanilla tidak dimulai dengan makan malam hangat atau obrolan nostalgia. Sebaliknya, apartemen itu terasa seperti medan perang yang dipenuhi listrik statis.
Ressa berusaha menyibukkan diri di dapur, mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih. Pikirannya kalut. Bayangan Regin yang mengurungnya di lorong tadi masih membekas nyata di kulitnya. Bagaimana mungkin bocah yang dulu ia sebut "si ingusan" kini memiliki tatapan yang sanggup melucuti harga dirinya dalam sekejap?
"Mbak Ressa."
Ressa tersentak, hampir menjatuhkan piring keramik di tangannya. Regin berdiri di ambang pintu dapur, hanya mengenakan celana training abu-abu tanpa atasan. Air sisa mandi masih menetes dari ujung rambutnya, mengalir melewati otot-otot perutnya yang keras dan terpahat sempurna sebelum hilang di balik karet celananya yang rendah.
Ressa menelan ludah, matanya tanpa sadar mengikuti aliran air itu. "Kenapa... kenapa nggak pakai baju, Gin? Di sini dingin."
Regin tertawa kecil, suara baritonnya menggema seksi di ruangan yang sempit itu. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang coba dibangun Ressa. "Gerah, Res. Jakarta jauh lebih panas dari yang aku bayangkan. Atau... Mbak yang merasa panas kalau lihat aku begini?"
"Nggak usah ngaco. Sana pakai baju!" Ressa mencoba berbalik, namun tangan lebar Regin lebih cepat mencengkeram pinggiran meja dapur, mengunci tubuh Ressa di antara wastafel dan dadanya yang bidang.
Wangi sabun maskulin yang tajam menyerbu indra penciuman Ressa. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat tekstur kulit Regin yang kencang dan pori-porinya yang halus. Regin merunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Ressa yang sudah merah padam.
"Dulu, Mbak suka sekali memaksaku melepas baju di depan teman-teman Mbak hanya untuk menertawakan badanku yang kerempeng, kan?" bisik Regin. Jemarinya yang kasar perlahan menyentuh pundak polos Ressa yang hanya mengenakan tank top satin. "Sekarang, kenapa Mbak malah nggak berani lihat?"
"Itu... itu kan dulu, Gin. Kita masih kecil," suara Ressa bergetar. Ia mencoba mendorong d**a Regin, tapi telapak tangannya justru mendarat di atas otot d**a yang padat dan hangat. Jantung pria itu berdetak kuat di bawah telapak tangannya.
Regin tidak bergeming. Alih-alih menjauh, ia justru meraih tangan Ressa dan menuntunnya turun, perlahan melewati perutnya yang kaku. "Aku sudah bilang, aku bukan bocah itu lagi. Aku sudah tumbuh besar, Res. Di segala aspek."
Mata Regin menggelap, penuh dengan kilatan obsesi yang selama ini ia pendam. Ia menarik pinggang Ressa hingga tubuh mereka menempel tanpa celah. Ressa bisa merasakan napas panas Regin di bibirnya.
"Tanggung jawab, Res," gumam Regin rendah sebelum menanamkan wajahnya di ceruk leher Ressa, menghisap kulit sensitif itu dengan tuntutan yang lapar. "Mbak yang membuatku terobsesi jadi seperti ini. Sekarang, nikmati hasilnya."
Ressa mendongak, jemarinya tanpa sadar meremas rambut basah Regin. Seluruh logika HRD-nya menguap. Di sana, di antara aroma sabun dan gairah yang meluap, Sentuhan Regin di lehernya semakin dalam, membuat napas Ressa menderu pendek. Namun, tepat saat bibir pria itu nyaris menyentuh bibirnya, sebuah dering nyaring memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Drttt! Drttt!
Ponsel Ressa yang tergeletak di atas meja dapur bergetar hebat. Nama yang muncul di layar seketika menyiram gairah panas mereka dengan air es: Tante Ratna (Mamanya Regin).
Ressa tersentak, siuman dari sihir yang baru saja mengikatnya. Ia mendorong d**a Regin dengan sekuat tenaga. Kali ini Regin membiarkannya lepas, meski dengan tatapan kesal yang tidak disembunyikan.
Dengan tangan gemetar, Ressa mengangkat telepon itu. "H-halo, Tante?"
"Halo, Ressa sayang!" suara hangat Tante Ratna terdengar di seberang sana. "Maaf ya, Tante telepon malam-malam begini. Regin sudah sampai? Dia nggak nakal, kan?"
Ressa melirik Regin. Pria itu kini bersandar santai di meja dapur, melipat tangan di depan dadanya yang telanjang, menatap Ressa dengan seringai nakal seolah menantangnya untuk melapor.
"S-sudah, Tante. Baru saja sampai," jawab Ressa, mencoba menormalkan suaranya meski jantungnya masih berdegup kencang di tenggorokan.
"Duh, maaf banget ya, Tante jadi merepotkan kamu. Tante titip Regin ya, Res. Dia itu di rumah masih manja, sering ceroboh. Kalau dia susah diatur atau berisik, marahi saja seperti dulu kamu sering menjahilinya. Tante percaya dia bakal nurut sama kamu."
Ressa menelan ludah. Manja? Susah diatur? Yang ada di depannya sekarang justru seorang pria yang baru saja hampir melumatnya hidup-hidup.
"Iya, Tante... nggak apa-apa kok. Regin... Regin baik di sini," bohong Ressa sambil memalingkan wajah karena tak kuat menatap mata Regin yang kini bergerak nakal menelusuri lekuk tubuhnya.
"Ya sudah, Tante cuma mau tahu kabarnya. Makasih ya, Ressa. Selamat istirahat!"
Begitu sambungan terputus, Ressa mengembuskan napas panjang. Ia berbalik, hendak memarahi Regin, tapi pria itu sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Nurut?" Regin membisikkan kata itu tepat di telinga Ressa, mengulang ucapan ibunya tadi. "Mam benar, Res. Aku bakal sangat penurut... kalau Mbak minta aku 'main' lebih lama lagi."
Regin merebut ponsel dari tangan Ressa, meletakkannya kembali ke meja, lalu kembali mengurung wanita itu. "Jadi, sampai di mana kita tadi?"