Bab 2: Jebakan Lantai Licin
Regin merunduk. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Ressa. Mata gelapnya menatap tajam ke dalam manik mata Ressa yang bergetar. Satu tangannya terangkat, namun alih-alih menyentuh wajah Ressa, jemarinya yang panjang justru meraih sehelai rambut Ressa yang terjepit di kerah tank top-nya.
Ressa menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia yakin Regin bisa mendengarnya. Ia memejamkan mata, bersiap untuk sesuatu yang lebih jauh. Ia mengira Regin akan menerjangnya, menciumnya dengan paksa, atau melakukan sesuatu yang akan menghancurkan kewarasannya malam itu.
Namun, yang terdengar hanyalah tawa rendah yang mengejek.
"Mbak Ressa..." suara Regin berbisik pelan, hampir seperti desahan. "Mbak pikir aku bakal ngapain?"
Ressa membuka mata. Regin sudah menjauhkan wajahnya, tapi masih berdiri cukup dekat untuk membuat Ressa merasa terintimidasi. Pria itu memainkan helai rambut Ressa di jarinya, lalu melepaskannya dengan gerakan santai.
"Mbak ketakutan? Atau... Mbak berharap lebih?" Regin tertawa kecil, kali ini suaranya terdengar sangat menyebalkan. "Aku baru sampai, Res. Aku lapar. Tante Ratna bilang Mbak bakal urus makanku, kan? Bukannya urus 'kebutuhan' yang lain."
Regin mengerling ke arah kulkas, lalu berbalik memunggungi Ressa yang masih terpaku dengan napas memburu. "Aku cuma menggertak. Mau lihat seberapa galak 'preman komplek' yang dulu sering menyiksa aku. Ternyata..." Regin menoleh sedikit, memberikan tatapan merendahkan yang sangat provokatif. "Mbak sekarang gampang banget gemetaran. Lucu juga."
Ressa merasa harga dirinya diinjak-injak. Gemetaran? Lucu? Sialan. Beraninya bocah ini mempermainkannya!
"Regin Ang! Keluar dari dapur sekarang! Pakai bajumu!" teriak Ressa dengan suara melengking yang biasa ia gunakan untuk memecat karyawan bermasalah.
Regin hanya mengangkat bahu dengan santai. "Oke, oke. Galak banget. Aku mau tidur, capek habis perjalanan. Besok pagi tolong bangunkan aku, ya? Aku ada jadwal orientasi kampus."
Tanpa menoleh lagi, Regin berjalan keluar dapur dengan langkah ringan, meninggalkan Ressa yang masih memegang dadanya, mencoba meredakan debaran jantung yang rasanya mau meledak.
Ressa menyandarkan kepalanya di pintu kulkas yang dingin. Sial. Ia adalah seorang manajer HRD yang disegani. Ia terbiasa menghadapi serikat buruh yang mengamuk dan direktur yang keras kepala. Tapi kenapa, di depan seorang mahasiswa baru berumur 19 tahun, seluruh otoritanya menguap begitu saja?
Ia melirik ke arah ruang tamu. Regin sudah tidak terlihat, tapi aroma pria itu masih tertinggal di udara dapur. Ressa tahu, ini baru malam pertama. Dan jika Regin seberani ini di jam-jam pertamanya, maka kehidupan tenang Ressa Vanilla resmi berakhir.
Ressa meraih botol soda dari kulkas, meneguknya langsung sampai kerongkongannya terasa perih. Ia harus tetap waspada. Regin bukan lagi adik kecil yang bisa ia suruh memanjat pohon. Regin adalah ancaman nyata yang tinggal di bawah atap yang sama.
"Ingat, Ressa. Dia cuma anak titipan. Dia cuma anak tetangga," gumam Ressa pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan logika yang sudah mulai goyah.
Namun, bayangan otot perut Regin dan bisikan bariton pria itu di telinganya terus berputar seperti kaset rusak. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Ressa Vanilla kesulitan untuk memejamkan mata. Di kamar sebelah, ia tahu ada seorang predator yang sedang tidur dengan tenang, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyerangnya.
Pagi harinya, suasana apartemen tidak menjadi lebih baik. Ressa terbangun dengan kantung mata yang samar karena kurang tidur. Ia keluar kamar dengan piyama satinnya, berniat membuat kopi secepat mungkin sebelum harus berhadapan dengan "makhluk" bernama Regin itu.
Namun, pemandangan di ruang tamu membuatnya berhenti melangkah.
Regin tidur di sofa ruang tamu. Sepertinya pria itu enggan masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan. Posisi tidurnya semrawut; satu kakinya menjuntai ke lantai, sementara bantalnya sudah jatuh entah ke mana. Yang membuat Ressa naik pitam adalah meja tamunya yang penuh dengan botol minuman soda kosong dan bungkus camilan yang berserakan.
"Astaga... benar-benar bocah tidak tahu aturan," gerutu Ressa.
Ia berjalan mendekat, niat hatinya ingin menendang kaki Regin agar pria itu bangun dan segera membersihkan kekacauannya. Ressa berdiri di samping sofa, menatap wajah tidur Regin. Saat tidur, pria itu tampak sedikit lebih "manusiawi". Wajahnya terlihat tenang, bulu matanya lentik, dan bibirnya sedikit terbuka.
"Regin! Bangun!" teriak Ressa sambil mengguncang bahu Regin.
Regin hanya mengerang kecil, tidak bergerak sedikit pun.
"Regin Ang! Bangun sekarang atau aku buang semua barangmu ke koridor!" Ressa semakin kesal. Ia mengambil salah satu botol soda kosong yang ada di lantai untuk memukul lengan Regin.
Namun, saat ia melangkah lebih dekat, kakinya menginjak sisa tumpahan soda yang lengket dan licin di lantai.
"Eh—ehh!"
Tubuh Ressa kehilangan keseimbangan. Secara insting, ia mencoba meraih sesuatu untuk berpegangan, tapi yang ia tangkap justru kaos yang dikenakan Regin (kali ini dia pakai baju, syukurla!). Berat tubuh Ressa menyeret tubuh Regin yang sedang tertidur.
BRUK!
Ressa jatuh tepat di atas tubuh Regin yang keras. Wajahnya mendarat tepat di depan wajah Regin yang baru saja membuka mata karena terkejut. Kejadiannya begitu cepat, gravitasi seolah bekerja sama dengan lantai yang licin.
Bibir Ressa mendarat tepat di atas bibir Regin.
Mata Ressa membelalak sempurna. Ia bisa merasakan tekstur bibir Regin yang lembut namun padat. Napas hangat Regin menerpa wajahnya. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tak ada yang bergerak. Dunia seolah berhenti berputar.
Regin, yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, tidak langsung mendorong Ressa. Sebaliknya, tangannya secara otomatis melingkar di pinggang Ressa, menahan wanita itu agar tidak terjatuh lebih jauh.
Sentuhan tangan Regin di pinggang piyama satinnya membuat aliran listrik menyengat seluruh saraf Ressa. Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecelakaan, mendadak berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam ketika Regin tidak segera melepaskannya.