BAB 29: Sangkar Tanpa Penjaga Keberangkatan Papa Bram ke Singapura pagi itu terasa seperti penarikan garis pertahanan terakhir bagi Ressa. Di depan gerbang rumah, ia memeluk ayahnya lama, menghirup aroma minyak kayu putih dan parfum lama yang menenangkan. Papa Bram harus kembali untuk menstabilkan operasional bisnisnya yang sempat terbengkalai akibat drama pernikahan yang gagal, sekaligus—menurut pengakuannya—mencoba mencari jejak Ratna melalui koneksi lamanya di sana. "Jaga dirimu baik-baik, Res. Papa titip rumah. Titip Regin juga," bisik Papa Bram sambil menepuk bahu putrinya. Ressa hanya bisa mengangguk kaku, tenggorokannya tercekat oleh rasa bersalah yang nyaris membuatnya sesak napas. Ia melepaskan pelukannya dan melihat ayahnya masuk ke dalam mobil. Di sampingnya, Regin berdiri

