Bab 19

1761 Kata
"Oh, Mbak Ressa sudah pulang?" Regin berdiri, suaranya terdengar sangat formal, seolah-olah mereka benar-benar hanya saudara titipan. "Ini Tiara, teman kampusku. Kami ada tugas kelompok." Gadis bernama Tiara itu berdiri dan menyalami Ressa dengan sopan. "Halo, Mbak. Maaf ya mengganggu sore-sore begini." Ressa tersenyum kaku, hatinya terasa seperti diremas tangan raksasa. "Enggak apa-apa. Silakan dilanjutkan. Saya masuk dulu." Saat melewati Regin, Ressa mencium aroma parfum yang berbeda—aroma yang bukan miliknya. Ada rasa cemburu yang membakar, yang meledak di dadanya tanpa bisa ia cegah. Ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya memburu. Kenapa aku harus cemburu? Bukankah ini yang aku inginkan? Dia menjauh, dia mencari kebahagiaan di tempat lain. Tapi bayangan Regin tertawa bersama gadis seumurannya membuat Ressa menyadari satu kenyataan pahit: Ia tidak siap melihat Regin bersama wanita lain. Ia tidak siap kehilangan binar pemujaan yang selama ini hanya ditujukan untuknya. Malam harinya, setelah Tiara pulang, suasana apartemen kembali sunyi. Ressa keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Ia melihat Regin sedang duduk di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelap-kelip. Ressa memberanikan diri mendekat. "Temanmu tadi... cantik." Regin tidak menoleh. "Ya. Dia baik. Dan yang paling penting, dia tidak menganggapku sebagai beban moral atau kesalahan." Kalimat itu tajam, menghujam langsung ke titik terlemah Ressa. "Regin, aku tidak bermaksud—" "Sudahlah, Res," potong Regin, kini ia menoleh dan menatap Ressa dengan mata yang lelah. "Kamu minta aku menjauh. Aku menjauh. Kamu minta aku mencari kebahagiaan di tempat lain. Aku sedang mencoba." "Tapi tidak secepat itu, Gin..." bisik Ressa lirih. Regin tertawa sinis, ia berdiri dan melangkah mendekati Ressa. Kali ini, ia tidak menyentuhnya. Ia hanya berhenti dalam jarak satu meter, membiarkan angin malam berembus di antara mereka. "Kenapa? Kamu takut kehilangan penggemarmu yang paling setia? Kamu ingin aku tetap mengejarmu agar ego manajermu merasa puas, sementara kamu tetap bisa jadi 'anak berbakti' di depan Papamu?" "Bukan begitu!" "Lalu apa, Ress? Kamu mau kita terus begini? Berbagi napas di ruangan yang sama tapi berpura-pura asing? Kamu membiarkan aku menciummu sampai kamu lemas, lalu lima menit kemudian kamu mengusirku seperti binatang?" Suara Regin meninggi, penuh luka yang selama ini ia tekan. "Dengar, Res. Aku memberikanmu pilihan. Aku janji akan membatalkan pernikahan itu. Aku janji akan menghadapi Om Bram. Aku berani mengambil risiko dibuang oleh Mamah hanya untuk bersamamu. Tapi kamu? Kamu lebih memilih kenyamananmu sendiri." Ressa menangis sesenggukan. "Ini bukan soal kenyamanan, Regin! Ini soal martabat Papa! Dia sudah menderita sejak Mama meninggal. Ratna adalah satu-satunya harapannya!" "Dan aku adalah satu-satunya harapanmu untuk merasa hidup kembali, Ress! Kamu tahu itu!" Regin melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. Ia tidak menyudutkan Ressa, ia hanya berdiri di sana, sangat dekat, hingga Ressa bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya. "Akui saja, Ress. Kamu mencintaiku. Kamu menginginkanku lebih dari apa pun. Katakan sekali saja, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, apa pun risikonya." Ressa menatap mata gelap itu. Di sana, ia melihat seluruh masa depannya yang berantakan, sekaligus seluruh gairah yang selama ini ia tekan. Ia ingin mengatakannya. Bibirnya sudah terbuka untuk membisikkan pengakuan itu. Namun, bayangan wajah ayahnya yang tersenyum di bandara kembali muncul. Bayangan Tante Ratna yang mencopet di supermarket hanya untuk "merayakan keluarga baru mereka" kembali hadir. Ressa menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa seperti membelah jiwanya menjadi dua. "Aku... aku tidak bisa, Regin." Regin menatapnya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Kekecewaan yang begitu dalam terpancar dari matanya, membuat Ressa merasa seperti wanita paling jahat di dunia. "Oke," ucap Regin lagi. Kali ini suaranya lebih lirih, hampir seperti bisikan angin. "Kalau itu keputusanmu, maka mulai besok, aku akan benar-benar menghilang dari hidupmu. Aku akan pindah ke asrama kampus. Kamu tidak perlu lagi melihatku, tidak perlu lagi menjaga 'adik titipan' ini." "Regin, jangan..." "Bukankah ini yang kamu minta, Ress? Jauhi kamu? Aku akan memberikannya. Sepenuhnya." Regin berjalan melewati Ressa, masuk ke dalam dan mulai mengemasi beberapa bukunya dengan gerakan yang mekanis. Ressa hanya bisa berdiri di balkon, menatap langit Jakarta yang mendadak terasa sangat gelap. Ia telah memenangkan "perang moral"-nya. Ia telah menyelamatkan pernikahan ayahnya. Ia telah menjadi anak yang baik. Tapi kenapa, di bawah lampu kota yang gemerlap ini, ia merasa seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya? *** Akhir pekan panjang yang seharusnya menjadi momen istirahat, justru menjadi horor yang nyata bagi Ressa. Sejak percakapan menyakitkan di balkon malam itu, Regin benar-benar menjadi "orang asing". Ia tidak lagi menggoda, tidak lagi menatap lama, bahkan tidak lagi menghirup aroma kopi yang sama dengan Ressa. Namun, rencana kepindahan Regin ke asrama tertunda karena sebuah instruksi mendadak dari Singapura. Papa Bram dan Tante Ratna memutuskan untuk pulang lebih awal dan menjemput mereka untuk berlibur. "Ini kesempatan bagus untuk kalian benar-benar menjadi kakak-adik yang kompak," ujar Papa lewat sambungan telepon dengan suara riang yang membuat ulu hati Ressa perih. Pagi itu, mobil mewah Papa sudah terparkir di lobi apartemen. Tante Ratna turun dengan kacamata hitam besar dan syal sutra yang berkibar, tampak seperti ratu yang siap menginspeksi wilayahnya. "Halo, kesayangan Tante!" seru Ratna sambil memeluk Ressa erat, lalu beralih ke Regin. "Gimana, Gin? Sudah siap liburan keluarga?" Regin mengangguk datar. "Siap, Mah. Tapi aku minta izin, aku mengajak satu orang temanku. Boleh, kan? Supaya tidak bosan kalau kalian asyik berduaan terus." Tante Ratna membelalakkan mata, namun sedetik kemudian senyumnya merekah lebar. Ia melirik Ressa dengan tatapan yang seolah berkata, 'Lihat, anakku sudah mulai mencari dunianya sendiri.' "Tentu saja boleh! Siapa dia? Teman cowok?" tanya Ratna penuh semangat. "Bukan. Tiara. Teman kampusku yang tempo hari ke apartemen," jawab Regin santai, tanpa melirik Ressa sedikit pun. Hati Ressa mencelos. Ia merasakan tangannya mendadak dingin. Papa Bram tertawa sambil menepuk bahu Regin. "Bagus itu! Biar ramai. Ajak saja, Papa sudah pesan vila dengan banyak kamar." Sepuluh menit kemudian, Tiara datang. Gadis itu tampil sangat segar dengan celana jeans pendek dan kaus putih ketat yang memamerkan lekuk tubuh masa mudanya. Ia menyapa Papa Bram dan Tante Ratna dengan sangat manis—tipe gadis idaman semua orang tua. "Halo Om, Halo Tante. Maaf ya Tiara jadi ikut merepotkan," ucap Tiara dengan tawa renyah. "Sama sekali tidak, Sayang! Ayo masuk ke mobil," Tante Ratna menarik Tiara masuk, sengaja mendudukkan gadis itu di kursi tengah, tepat di samping Regin. Sementara Ressa, dipaksa duduk di kursi depan di samping Papa yang menyetir. Penerbangan singkat dari Jakarta ke Singapura terasa seperti perjalanan menuju eksekusi bagi Ressa. Di dalam pesawat, Tante Ratna tidak henti-hentinya memuji betapa "cocok" Regin dan Tiara. Ressa hanya bisa menatap keluar jendela, melihat gumpalan awan yang seolah menggambarkan kekacauan di hatinya. Begitu sampai di Singapura, Papa Bram membawa mereka langsung ke Ola Beach Club di Pantai Siloso, Sentosa. "Kita butuh udara laut sebelum pusing dengan urusan dokumen besok," ujar Papa sambil merangkul bahu Tante Ratna. Suasana beach club itu sangat ceria. Musik tropical house berdentum pelan, aroma sunblock bercampur dengan wangi kelapa, dan hamparan pasir putih yang kontras dengan biru laut. Tante Ratna segera memesan sebuah daybed besar tepat di depan kolam renang yang menghadap pantai. "Regin, Tiara, kalian tidak mau coba kayaking atau paddleboarding?" tanya Tante Ratna sambil menyesap cocktail-nya. Matanya melirik Ressa dengan tajam, memastikan Ressa melihat betapa serasinya pasangan muda itu. "Boleh, Mah. Ayo, Ra," ajak Regin. Regin melepaskan kausnya, hanya menyisakan celana pendek renang. Tubuhnya yang atletis terpapar sinar matahari sore Sentosa, mengundang decak kagum dari beberapa turis wanita di sekitar mereka. Tiara, dengan bikini berwarna pastel yang sangat berani, tampak sengaja memamerkan lekuk tubuhnya sambil terus menempel di lengan Regin. Ressa hanya bisa duduk di sudut daybed, mengenakan dress pantai panjang dan kacamata hitam besar untuk menyembunyikan matanya yang mulai memanas. "Ressa, kamu kenapa tidak ikut renang?" tanya Papa Bram. "Atau mau Papa pesankan makanan? Kamu pucat sekali." "Hanya agak pusing karena panas, Pa," dusta Ressa. Di laut yang dangkal, Ressa melihat Regin membantu Tiara naik ke atas papan paddleboard. Regin memegang pinggang Tiara agar gadis itu tetap seimbang. Dari kejauhan, mereka tampak seperti pasangan kekasih yang sedang menikmati bulan madu. Tawa Tiara terbawa angin sampai ke telinga Ressa, terasa seperti sayatan sembilu. Tante Ratna mendekati Ressa, berbisik sangat pelan agar tidak terdengar oleh Papa Bram. "Lihat mereka, Res. Regin butuh wanita yang segar dan ceria seperti Tiara. Bukan wanita yang penuh beban dan keraguan sepertimu. Biarkan mereka bahagia, dan biarkan Papa kamu bahagia bersamaku." Ressa hanya bisa terdiam, tangannya mencengkeram erat pinggiran gelas minumannya. Malam harinya, suasana di Ola Beach Club berubah menjadi lebih intim dengan lampu-lampu dekorasi yang menyala di sepanjang pantai. Papa Bram dan Tante Ratna sedang asyik berdansa pelan di area restoran, sementara Regin dan Tiara masih berada di area bar dekat kolam renang. Ressa memutuskan untuk menjauh. Ia berjalan ke arah bibir pantai, membiarkan air laut yang dingin membasuh kakinya. Ia butuh kesendirian. Ia butuh meyakinkan dirinya bahwa melepaskan Regin adalah hal yang benar. "Pasirnya cantik, tapi suasana hatimu kelihatannya buruk," suara itu muncul dari belakang. Ressa tersentak. Regin berdiri di sana, memegang sebuah gelas minuman. Ia tidak lagi bersama Tiara. "Mana Tiara?" tanya Ressa kaku. "Sedang ke toilet. Atau mungkin sedang memesan minum lagi," jawab Regin tak acuh. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Ressa, menatap cakrawala Singapura yang dipenuhi lampu kapal-kapal tanker. "Kamu sukses, Gin," bisik Ressa pahit. "Tante Ratna sangat bahagia. Papa juga. Tiara apalagi. Semua orang mendapatkan apa yang mereka mau." "Kecuali kita," potong Regin tajam. Ia menoleh, menatap Ressa di bawah cahaya rembulan Sentosa. "Kamu pikir aku senang melakukan sandiwara ini? Kamu pikir aku senang menyentuh wanita yang bahkan aromanya tidak membuatku bergetar sama sekali?" "Regin, jangan mulai..." "Aku membawanya karena kamu yang memintaku menjauh, Ress! Aku memberikan apa yang kamu minta!" Regin meletakkan gelasnya di pasir, lalu ia mencengkeram pergelangan tangan Ressa, menariknya ke balik sebuah perahu kecil yang terparkir di pinggir pantai, jauh dari jangkauan pandangan orang tua mereka di klub. "Jangan, Gin! Kalau ada yang lihat—" "Tidak akan ada yang lihat, mereka sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri!" Regin memojokkan Ressa ke lambung perahu yang dingin. "Katakan padaku, Ress. Setelah melihatku seharian bersama Tiara, apa kamu masih mau menyuruhku menjauh?" Ressa menangis, ia memukul d**a Regin lemah. "Kamu jahat, Regin... kamu sengaja melakukan ini untuk menyiksaku!" "Aku hanya ingin kamu jujur!" Regin meraih wajah Ressa, mencium bibir wanita itu dengan penuh amarah dan kerinduan. Ciuman itu terasa panas di tengah angin laut yang dingin. Di kejauhan, terdengar suara Tante Ratna memanggil nama Regin. "Regin! Tiara! Dimana kalian? Ayo kita kembali ke hotel!" Ressa panik, ia mencoba mendorong Regin. "Mamamu, Gin! Lepas!" Regin tidak segera melepasnya. Ia memberikan satu hisapan kuat di leher Ressa—tepat di bawah garis rambut—sebuah tanda yang akan sangat sulit disembunyikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN