Beberapa detik kemudian, Tari masuk dengan wajah bingung. "Iya, Mbak? Ada yang salah?"
"Kenapa berkas Seno Adiguna bisa ada di sini? Siapa yang melakukan screening awal?" suara Ressa meninggi, otoritas HRD-nya kembali, namun kali ini bercampur dengan kepanikan pribadi.
"Eh, itu... Pak Direktur yang memberikan rekomendasi langsung, Mbak. Katanya kualifikasinya sangat cocok dan rekam jejaknya di perusahaan sebelumnya luar biasa. Saya pikir Mbak sudah tahu karena... bukankah Mas Seno itu teman Mbak?"
Ressa memejamkan mata, berusaha menahan makian yang sudah di ujung lidah. Teman? Seno adalah kesalahan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Namun, di dunia profesional, alasan pribadi tidak bisa menjadi dasar untuk menolak kandidat yang direkomendasikan atasan.
"Keluar, Tari. Siapkan ruang wawancara," perintah Ressa dengan suara dingin.
Waktu berjalan dengan lambat, seolah sengaja ingin menyiksa Ressa. Pukul sepuluh tepat, ia sudah duduk di ruang wawancara yang berdinding kaca buram. Di depannya, duduk Seno Adiguna. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu, senyumnya masih sama seperti tiga tahun lalu—senyum penuh percaya diri yang dulu sempat membuat Ressa jatuh cinta, namun kini hanya membuatnya mual.
"Lama tidak jumpa, Ressa. Kamu terlihat makin... berwibawa," sapa Seno, mengabaikan suasana formal ruangan itu.
Ressa membuka map dengan gerakan kaku. "Ini sesi profesional, Pak Seno. Tolong jaga batasan. Mari kita mulai dari pencapaian terakhir Anda di perusahaan sebelumnya."
Wawancara itu berjalan dengan tensi yang aneh. Seno menjawab setiap pertanyaan dengan sangat brilian—ia memang kompeten, itu fakta yang tidak bisa dibantah Ressa. Namun, di sela-sela jabannya, Seno selalu menyelipkan tatapan yang seolah berkata, aku tahu kamu masih punya perasaan padaku.
"Saya rasa saya adalah orang yang paling mengerti bagaimana sistem operasional berjalan, Ressa. Sama seperti saya mengerti bagaimana cara membuatmu tenang saat kamu sedang stres dengan pekerjaan," ujar Seno di akhir sesi.
Ressa menutup mapnya dengan keras. "Cukup. Hasil wawancara ini akan diumumkan minggu depan melalui email. Silakan meninggalkan ruangan."
Seno berdiri, namun ia tidak langsung pergi. Ia membungkuk sedikit ke arah meja, mendekatkan wajahnya ke arah Ressa. "Aku dengar kamu masih sendiri. Bunga yang aku kirim tadi... kuharap kamu menyukainya."
"Aku membuangnya, Seno. Sama seperti aku membuang kenangan kita," balas Ressa tajam.
Seno tertawa kecil, tipe tawa yang meremehkan. "Kita lihat saja nanti, Sayang. Kita akan sering bertemu di kantor ini."
Setelah Seno pergi, Ressa merasa energinya terkuras habis. Ia kembali ke ruangannya, berniat mengurung diri sampai jam makan siang. Namun, ponselnya di atas meja bergetar.
Ada pesan w******p masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Ressa tahu persis siapa pemiliknya dari foto profilnya—sebuah gambar sketsa arsitektur yang tampak rumit.
Regin Ang: Mbak, aku sudah di kampus. Ternyata orientasinya membosankan. Aku lebih suka orientasi di apartemen Mbak pagi tadi.
Ressa melempar ponselnya ke sofa. "Anak ini benar-benar minta dihajar!"
Ia mencoba mengabaikannya, namun lima menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali ini sebuah foto. Regin sedang duduk di kantin kampus, dikelilingi oleh beberapa mahasiswi yang tampak curi-curi pandang ke arahnya. Regin berpose candid, menatap ke arah kamera dengan wajah datar namun sangat tampan.
Regin Ang:
Banyak yang mengajak kenalan. Tapi aku bilang pada mereka, aku sudah punya 'Mbak' yang galak di rumah. Mbak nggak cemburu, kan?
Darah Ressa mendidih. Antara Seno yang mencoba masuk kembali ke hidupnya secara profesional dan Regin yang mengacak-acak hidupnya secara personal, Ressa merasa otaknya akan meledak. Ia meraih ponselnya dan mengetik dengan cepat.
Ressa Vanilla:
Fokus kuliah, Regin! Jangan berani-berani bawa nama aku di kampus. Dan satu lagi, bersihkan ruang tamu sebelum aku pulang, atau semua barangmu aku taruh di gudang!
Ressa menunggu balasan. Detik demi detik berlalu, status typing muncul di layar.
Regin Ang:
Siap, Nyonya HRD. Tapi kalau aku bersihkan ruang tamu dengan bersih, boleh minta hadiah? Ciuman yang tadi pagi... sepertinya kurang lama.
Ressa meletakkan ponselnya dengan kasar di meja, layar menghadap ke bawah. Napasnya tidak beraturan. Ia merasa seperti sedang terjepit di antara dua api. Seno adalah api masa lalu yang berdebu, sementara Regin adalah api masa depan yang sangat panas dan liar.
Ia mencoba kembali bekerja, namun bayangan bibir Regin yang menempel di bibirnya pagi tadi terus terbayang. Ditambah lagi, bayangan Seno yang kini akan menjadi bawahannya di kantor menambah kerumitan hidupnya.
Jam menunjukkan pukul dua siang saat Ressa memutuskan untuk keluar ruangan mencari udara segar. Ia berjalan menuju kantin kantor. Suasana di sana cukup ramai. Ressa mengambil segelas kopi dingin dan duduk di sudut yang agak sepi.
Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Seno muncul dan duduk di depannya tanpa permisi.
"Ressa, ayolah. Kita perlu bicara soal masa lalu. Aku tahu aku salah, tapi memberikan kesempatan kedua tidak akan membuatmu mati, kan?"
Ressa menatap Seno dengan pandangan muak. "Kesempatan kedua hanya untuk orang yang tahu cara menghargai kesempatan pertama, Seno. Sekarang pergi, atau aku akan melaporkanmu atas tindakan tidak menyenangkan bahkan sebelum kamu resmi diterima."
"Galak sekali," Seno tersenyum lebar. "Justru itu yang aku rindukan."
Tepat saat itu, ponsel Ressa kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk. Dari Regin.
Ressa ragu sejenak, namun melihat Seno yang terus menatapnya dengan penuh percaya diri, ia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo, Regin?" ucap Ressa dengan suara yang sengaja dibuat sedikit lebih lembut, sebuah taktik spontan untuk membuat Seno merasa tidak nyaman.
"Mbak? Kok suaranya beda? Lagi ada orang ya?" suara Regin di seberang sana terdengar curiga. Sensor "predator"-nya seolah bekerja meski dari jarak jauh.
"Iya, lagi makan siang sama... rekan kerja," jawab Ressa, melirik Seno yang kini mengernyitkan dahi.
"Laki-laki?" tanya Regin cepat. Suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan tajam.
"Iya."
"Siapa?"
"Bukan urusanmu, Regin. Sudah ya, aku sibuk—"
"Tunggu," potong Regin.