BAB 24: Labirin Tanpa Pintu Rumah baru Papa Bram di pinggiran Jakarta bukanlah sebuah istana impian bagi Ressa; itu adalah penjara dengan jeruji emas yang sangat menyesakkan. Bangunan bergaya kolonial modern itu memiliki lorong-lorong panjang yang memantulkan suara langkah kaki dengan gema yang menghantui. Sejak barang-barang Regin dipindahkan ke paviliun bawah, Ressa merasa setiap sudut rumah itu memiliki mata. Mata Tante Ratna yang penuh kebencian, mata Tiara yang licik, dan tentu saja, mata Regin yang selalu mengintai dari kegelapan taman. Dua minggu. Waktu yang diminta Regin untuk mempercepat pernikahan terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi mati bagi Ressa. Pagi itu, rintik hujan membasahi kaca jendela ruang kerja Ressa di lantai dua. Ia mencoba memfokuskan diri pada layar

