40. Keputusan

1313 Kata
"Maaf, Kinar. Aku tidak bisa melakukannya. Ini tidak semudah yang kamu pikirkan." Kinara ternganga mendengar jawaban Arjuna. Kenapa tidak mau bercerai? Apa yang dipikirkan Juna sebenarnya? Menahanku dan tetap berhubungan dengan Indira? Sungguh konyol. Batin Kinara. "Jangan konyol, Jun. Kamu tinggal menceraikanku dan menikahi Indira. Apa susahnya?" Kinara melihat Arjuna sedang menghela napas berat. Entah apa yang sedang di pikirkannya, namun sepertinya ada sesuatu yang membuat Arjuna tidak bisa bercerai dengannya. "Kenapa?" tanya Kinara lagi. "Sejak dulu, ibu tidak setuju aku berhubungan dengan Indi. Dan saat tahu Indi menghinatiku, ibu semakin tidak menyukainya," ucap Arjuna. Dalam hati Kinara tertawa keras, ia begitu senang mendengar kalau mertuanya tidak menyukai Indira. Biarlah dikata jahat atau apa, yang penting Safira di pihaknya. "Kalau begitu aku akan membujuk ibu untuk merestui kalian," ucap kinara. "Tidak semudah itu, Kinar. Ibu menyukaimu dan kita juga baru menikah, aku tidak mau mengecewakannya." "Lalu mau kamu apa, Jun?" Kinara semakin kesal dengan arah pembicaraan ini. "Kita akan menjalani ini, setidaknya sampai kontrak kita selesai. Lagi pula aku dan kamu harus memenangkan challenge itu, Kinar." Kinara menatap malas pada Arjuna. Ia tidak habis pikir dengan keputusan Arjuna yang masih menahannya hingga perjanjian kontrak itu selesai. Masih ada kurang lebih 11 bulan lagi ia harus bertahan. Kinara tidak tahu akan sanggup atau tidak menjalaninya, tapi sesuai dengan perjanjian awal ia harus bertahan dengan pernikahan kontrak ini selama satu tahun. Jika Kinara egois, ia memilih untuk bercerai apapun resikonya, namun Kinara masih memikirkan keadaan panti. Sejak Arjuna menjadi donatur utama, keuangan panti aman-aman saja. Bahkan kebutuhan dan pendidikan adik-adik panti terpenuhi dengan sangat baik. Kinara juga memikirkan perasaan ibu Diana, Ibu Linda dan Safira, karena bagi Kinara mereka adalah sosok ibu yang menguatkannya. Kinara tidak mau membuat mereka bersedih apalagi kecewa. "Lalu jika kamu menahanku, bagaimana hubunganmu dengan Indira?" tanya Kinara dengan mata berkaca-kaca. "Aku menikah denganmu karena perjanjian, dan kita terjebak dengan challenge itu. Sementara Indi.... dialah wanita yang sejak dulu aku cintai. Maaf, aku harus mengatakan ini." Kinara memalingkan muka. Ia tidak sanggup untuk menatap Arjuna. Sekuat apapun Kinara menahan tangisnya, bulir-bulir air mata itu tetap saja terjatuh. Kinara diam untuk beberapa saat hingga ia siap untuk berbicara lagi. "Baiklah. Aku akan bertahan. Tapi ingat, Jun. Jangan lagi bersikap manis padaku, jangan menyentuhku dan aku berhak untuk dekat dengan siapapun, seperti kamu dekat dengan Indira. Hanya satu tahun setelah itu kita bercerai. Kalau aku tidak hamil juga, jangan memaksaku. Aku tidak peduli dengan challenge itu." "Aku tidak melarangmu untuk dekat dengan siapapun, tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhmu." Kinara tidak habis pikir dengan perkataan Arjuna barusan. Kenapa takdir membawanya untuk mengenal dan terlibat hubungan dengan laki-laki egois seperti Arjuna. Andai saja waktu bisa di putar kembali, Kinara tidak ingin terlibat apapun dengan Arjuna. "Kamu egois, Jun!" "Aku berhak untuk egois, Kinar. Di mata hukum kamu adalah istriku. Aku berhak atas dirimu." "Terserahmu, aku tidak peduli." Kinara masih malas untuk menatap Arjuna. Ia marah pada Arjuna, tapi lebih marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus jatuh cinta dengan laki-laki se-egois Arjuna. Bahkan, cinta itu masih sama besarnya meskipun Arjuna lebih memilih wanita lain. "Kinar, ibu tidak tahu kalau kita sudah kembali ke Jakarta. Seharusnya masih 3 hari lagi kita di Bali. Kamu---" "Aku akan tinggal di panti," sela Kinara. "Baiklah. Aku akan menginap di apartemenku. Dan.. Indi juga akan menginap di sana." "Oh.." Hanya kata itu yang bisa Kinara ucapkan. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa lagi. Tidak ada percakapan yang terjadi setelah itu. Kinara malas berbicara dan memilih diam memandang jendela mobil. Arjuna melajukan mobilnya menuju panti asuhan untuk mengantar Kinara pulang. "Indi sudah tahu tentangmu. Besok aku akan menjemputmu, Indi ingin bertemu," ucap Arjuna saat mereka sudah sampai di depan panti. "Apa?" Kinara terkejut mendengar perkataan Arjuna barusan. "Iya, dia sudah tahu, Kinar. Tentangmu dan tentang pernikahan kontrak kita," jawab Arjuna. Sebenarnya, Kinara tidak ingin bertemu dengan Indira. Bagaimana pun Indira adalah orang ketiga di pernikahannya dengan Arjuna. Hati istri mana yang tidak sakit jika harus bertemu dengan orang ketiga dalam rumah tangganya, apalagi sang suami begitu mencintai orang ketiga itu. Kinara malas berdebat lagi dengan Arjuna dan terpaksa menyetujuinya. Arjuna mengantar Kinara sampai dalam panti dan berpamitan dengan ibu Linda. Mereka harus berpura-pura baik dan tidak ada masalah apapun. Kinara mengatakan pada ibu Linda kalau ia ingin menginap beberapa hari lagi di sini dan untung saja ibu Linda setuju. Siang berganti malam, Kinara kembali sulit untuk memejamkan matanya. Jam masih menunjukkan pukul 8 malam tapi Kinara berharap bisa tidur lebih awal. Ia membayangkan Arjuna dan Indira yang menginap di apartemen milik Arjuna. Apakah mereka akan melakukan 'itu' juga? Kinara menutup wajahnya dan berguling ke kanan dan ke kiri. Mendadak Kinara kesal dan melampiaskan emosinya dengan berguling dan menghentakkan kakinya di kasur. Pikiran negatifnya mulai berkelana, mengingat Arjuna adalah laki-laki berotak m***m. "Aku gak peduli sama mereka! Bukan urusanku mereka mau melakukan apapun!" Kinara mengatakan itu sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi. "Jangan nangis, Kinar. Kuat dan harus kuat." Kinara mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Amel dan Argan. Amel selalu menginfokan kegiatan kuliah dan tugas dari dosen setiap harinya. Kinara memang ijin seminggu untuk honeymoon di Bali, yang nyatanya menjadi honeymoon terburuk dalam hidupnya. Kinari kembali melihat pesan dari Argan yang menanyakan keadaannya. Kinara segera membalas pesan itu. Beberapa menit kemudian Argan mengabari kalau sudah berada di depan panti. Kinara terkejut dan segera berganti pakaian untuk menemuinya. "Pak Argan, tumben tiba-tiba datang kesini?" tanya Kinara saat keluar dari panti dan melihat Argan sudah berdiri di sana "Kebetulan lewat sini, sekalian mampir. Ini buat kamu." Argan memberikan kantong plastik berisi martabak. "Makasih, pak." Kinara menerima kantong plastik itu dengan sumringah. "Bisa bicara sebentar, Kinara?" tanya Argan. Kinara berpikir sebentar kemudian mengangguk. Seharusnya ia tidak boleh berbicara malam-malam begini apalagi dengan laki-laki lain tanpa seijin suaminya. Ah, suami yang bahkan sedang tidur dengan wanita lain. Tanpa pikir panjang lagi, Kinara mengajak Argan untuk duduk di kursi taman halaman panti. "Kamu baik-baik saja, Kinara?" "Bohong kalau aku bilang baik-baik saja, pak. Nyatanya aku masih belum bisa menerima keadaan ini dan hatiku masih sakit," jelas Kinara. "Maafkan aku, Kinara. Mmm.. Juna tadi menemuimu?" tanya Argan. "Iya, dan kami sudah mengambil keputusan, ah tepatnya dia yang mengambil keputusan." Kinara tersenyum masam. "Jadi?" tanya Argan. "Pernikahan kontrak itu tetap berjalan sesuai perjanjian dan dia...tetap menjalin hubungan dengan Indira. Dia memang egois!" Hanya dengan mengatakan itu mata Kinara sudah berkaca-kaca. "Maaf. Aku sebagai sahabatnya ingin meminta maaf padamu, Kinara." "Tidak perlu minta maaf, pak. Ini semua juga salahku karena setuju dengan pernikahan ini. Sejak awal Juna melarangku untuk jatuh cinta padanya. Ini resiko yang harus aku terima dan aku pasti bisa melaluinya," jelas Kinara. "Sebenarnya, dia memintaku untuk mencari keberadaan Indira, tapi aku tidak menemukannya dan ternyata takdir membawa mereka bertemu saat di Bali," ungkap Argan. "Pertemuan yang merusak honeymoon ku," ucap Kinara lirih. "Sudah ya, pak. Jangan di bahas lagi. Bahas yang lain saja," pinta Kinara. "Aku datang kesini sebenarnya bukan mau membahas itu," ucap Argan. "Iya, bahas yang lain saja, pak." "Kinara?" "Iya?" "Kamu jangan sungkan meminta bantuanku, aku akan ada buat kamu kapanpun," ucap Argan menatap mata Kinara dengan lembut. "Hah? Pak Argan serius?" tanya Kinara. "Aku serius Kinara," jawab Argan meyakinkan. Tunggu dulu. Ada yang aneh dengan perkataan Argan dan Kinara yakin ia tidak salah dengar. Argan memang baik kepada Kinara tapi rasanya ada yang berbeda saat laki-laki itu menawarkan bantuan kapanpun ia membutuhkannya. "Kenapa pak Argan bilang begitu?" tanya Kinara. "Karena aku---" "Kinar, sudah malam, sebaiknya kamu segera masuk," teriak ibu Linda dari teras panti. "Baik, bu." "Pak Argan, maaf. Aku sepertinya harus masuk. Kita sambung lagi lain kali," ucap Kinara. "Masuklah. Ayo kesana sekalian aku pamit pada ibu Linda." Argan berpamitan kepada ibu Linda, setelah itu Kinara masuk ke dalam panti. Kinara memikirkan perkataan Argan tadi, namun segera ia tepis pikiran itu. Ia merebahkan dirinya di kasur dan memejamkan mata untuk menyiapkan hari esok yang lebih berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN