41. Bertemu Indira

1521 Kata
Kinara melihat jam tangannya, sebentar lagi Arjuna akan menjemputnya untuk bertemu dengan Indira. Wanita itu cantik, murah senyum dan sepertinya baik, itu kesan pertama yang ia lihat dari Indira waktu di Bali. Kinara melihat mobil Argan berhenti di depan panti, dan benar saja laki-laki itu turun dan menghampiri Kinara. "Loh, pak Argan?" "Maaf tidak memberi tahumu dulu, Juna memintaku untuk menjemputmu," jelas Argan. "Oh, baiklah. Kita berangkat pak," ajak Kinara. "Kinara?" "Hm?" Kinara menghentikan langkahnya dan menoleh pada Argan. "Jangan memanggilku dengan sebutan 'pak' cukup panggil nama saja," pinta Argan. "Boleh?" "Tentu saja." Argan mengusap rambut Kinara lembut, membuat Kinara terdiam seketika. Kinara merasa aneh dengan sikap Argan. Namun, ia mencoba tidak memikirkannya lebih jauh. Kinara segera mengikuti langkah Argan memasuki mobilnya. "Pak..eh maksudku Argan, boleh aku minta tolong?" Kinara merasa aneh karena belum terbiasa memanggil Argan dengan sebutan nama saja. "Tentu saja boleh, katakan." Kinara sedikit ragu untuk meminta tolong pada Argan, namun Kinara ingat perkataan Argan tadi malam bahwa dia siap membantu kapanpun. Hari ini Kinara benar-benar membutuhkan bantuannya. "Nanti saat bertemu dengan Indira dan Juna, tolong tetap di sana bersamaku. Aku..aku takut tidak kuat menahannya sendiri." Kinara menunduk sambil meremas kedua telapak tangannya. "Baiklah. Aku akan menemanimu," balas Argan. "Makasih, Ar.. gan. Hahaha, aneh ya karena belum terbiasa." "Gakpapa, nanti juga terbiasa." Argan ikut tertawa. Selama di mobil, Argan mengajak Kinara bercanda dan bernyanyi untuk mencairkan suasana. Kinara sejenak bisa melupakan hal-hal yang membuatnya bersedih. Tanpa terasa mobil Argan sudah sampai di sebuah kafe. Arjuna dan Indira telah menunggu di sana. Kinara menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan sebelum memasuki kafe. Ia benar-benar gugup terlebih lagi Indira itu ingin bicara dengannya. Ia juga cemas kalau hatinya tidak cukup kuat melihat kemesraan Arjuna dan Indira. Kinara berjalan sejajar dengan Argan menuju sebuah meja yang sudah di isi oleh dua orang yaitu Arjuna dan Indira. Kinara melihat Indira yang bercanda dengan Arjuna. Betapa serasi dan romantisnya mereka berdua, hati Kinara kembali merasakan sakit. Argan memegang bahu Kinara lembut membuat Kinara tersadar dan berusaha untuk kuat. "Hai.." sapa Kinara dan Argan. "Hai Kinara dan Hai Argan." Indira tersenyum ramah dan manis. Deg Deg Perasaan apa ini? Melihat Indira ramah dan baik kenapa hatiku semakin sakit. Biasanya di sinetron-sinetron orang ketiga kebanyakan jahat dan arogan. Kenapa ini sebaliknya? Kenapa ibu tidak menyukai Indira kalau orangnya seramah ini? Batin Kinara. "Silahkan duduk," ucap Indira dengan senyum manisnya. Kinara dan Argan segera duduk di depan Arjuna dan Indira. Kinara melirik Arjuna begitu pula sebaliknya. Kinara segera menoleh pada Argan dan menanyakan minuman dan makanan apa yang mau dia pesan. "Eh, kalian pesan dulu saja," ucap Indira, sementara Arjuna dari tadi memilih diam. "Kita belum kenalan, Namaku Indira." Indira mengulurkan tangan pada Kinara. Kinara menjabat tangan Indira dan mengenalkan diri. Rasa kesal dan malas bercampur jadi satu, namun Kinara tetap menunjukkan senyumnya ketika bertatapan dengan Indira. "Aku sudah mendengar semuanya dari Juna, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Indira dengan mudahnya. Hati Kinara mencelos seketika. Bagaimana mungkin Indira dengan mudah mengatakan itu? Kerja sama? Yang seperti apa? Kinara tidak sudi bekerja sama kalau hanya akan menyakitinya semakin dalam. Kinara hanya mengangguk kemudian kembali ngobrol dengan Argan. Kinara tidak peduli dengan Arjuna yang menatapnya dari tadi. Biarlah, dia sendiri terlihat mesra dengan Indira. "Aku sudah menyelesaikan skripsimu, Jun. Setelah masuk kuliah, kamu bisa memberikannya pada dosen pembimbing," ucap Argan. "Oke, taruh di rumahku, akan aku cek secepatnya setelah pulang," jawab Arjuna. "Aku bisa membantumu, Jun," ucap Indira sambil memegang tangan Arjuna. Sengaja atau tidak, perbuatan Indira membuat Kinara mendidih seketika. Ia tahan kuat-kuat dirinya agar tetap tenang. "Aku lupa kalau kamu ahli di bidang ini, Indi." Arjuna membalas dengan memegang erat telapak tangan Indira. "Aku ijin ke toilet dulu, ya." Kinara segera berdiri dan berjalan menuju toilet. Sesampainya di dalam toilet, Kinara melihat dirinya di cermin, mengusap sedikit air mata yang menggenang di pelupuk matanya dan menenangkan diri. "Kuat Kinar kamu harus kuat," gumam Kinara. "Kinara?" Kinara menoleh dan melihat Indira menyusulnya di toilet. Wanita itu masih menunjukkan sikap ramah dan murah senyumnya. Kinara membalas sapaan Indira dengan tersenyum juga. "Kamu gakpapa, kan?" tanya Indira. "Aku baik-baik saja," jawab Kinara. Bagaimana mungkin hati seorang istri akan baik-baik saja melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain di depan matanya? Kinara tidak habis pikir dengan pertanyaan Indira barusan. "Aku mau bicara denganmu," ucap Indira. "Silahkan." "Kamu tahu kan, kalau aku dan Juna saling mencintai. Kami berpisah lama karena aku belum bisa berdamai dengan kejadian yang menimpaku dulu. Sekarang kami bertemu dan disatukan kembali. Kami saling mencintai, Kinara. Aku harap kamu bisa mengerti keadaan kami." "Aku mengerti, Indira. Lagipula pernikahanku dengan Juna hanyalah pernikahan kontrak. Selesai kontrak itu, kami akan bercerai," balas Kinara. "Aku juga minta tolong sama kamu, selama kontrak itu berjalan, bujuklah tante Safira agar mau menerimaku.Aku tidak tahu kenapa tante Safira tidak menyukaiku sejak kami pacaran dulu." Indira menghela napas dan terlihat sedih. "Akan aku usahakan." "Terimakasih. Satu lagi, aku minta kamu jangan mencintai Juna, karena aku tidak akan membiarkan Juna jatuh cinta padamu. Aku akan mempertahankan hubungan ini. Aku tidak mau berpisah lagi dengan Juna," ucap Indira dengan senyum ramahnya. "Baiklah, aku akan mengingatnya," balas Kinara dengan senyum yang sangat ia paksakan. "Terimakasih, Kinara. Mari kita berteman." Indira mengulurkan tangannya. Kinara membalas uluran tangan Indira. Kinara tidak punya pilihan lain selain setuju dengannya. Wanita itu tampak baik dan ramah, membuat Kinara tidak bisa berkata kasar ataupun melawannya. Setelah melepas tangannya, Indira meninggalkan toilet. Kinara menghela napas panjang dan menoleh untuk menghadap ke cermin. "Dengar Kinar. Kamu tidak boleh kalah, kamu harus menghilangkan cinta ini dan buatlah Juna menyesal." Kinara menunjuk dirinya di cermin. Kinara segera kembali ke meja Arjuna dan lainnya setelah hatinya mulai tenang. Ia lebih banyak mengajak Argan mengobrol untuk mengalihkan pandangannya dari Arjuna. "Indi, kamu pulang di antar Argan, aku ada perlu sebentar dengan Kinar," ucap Arjuna. "Emang mau ngapain, Jun?" tanya Indira. "Nanti aku jelaskan di apartemen. Ada yang harus aku bicarakan dengannya," ucap Arjuna sambil melirik Kinara. "Baiklah. Bye Kinara, ingat pesanku ya, sampai jumpa lagi." Indira menyusul langkah Argan keluar kafe. "Ayo," ajak Arjuna pada Kinara. Kinara tidak mau berdebat, ia segera menyusul langkah Arjuna menuju mobilnya. Kinara hanya diam selama di mobil begitu pula Arjuna, hingga mobil berhenti pada taman yang sangat sepi karena tidak ada aktivitas manusia di taman itu. "Turun, Kinar. Aku mau bicara." Kinara turun dari mobil dan menolak ajakan Arjuna untuk duduk di kursi taman. "Di sini saja, bukankah cuma sebentar?" Kinara berdiri menyender pada mobil dan Arjuna berdiri di depannya. "Sejak kapan kamu memanggil Argan tanpa embel-embel 'pak' di depannya?" Kinara tenganga mendengar pertanyaan Arjuna. Sepenting itukah sampai dia harus tahu alasannya? "Sejak Argan memintaku untuk memanggil namanya saja," jawab Kinara. Arjuna mengepalkan tangannya dan terlihat ekspresi marah. Kinara tidak mengerti kenapa Arjuna harus semarah itu. "Kenapa harus semarah ini, Jun?" tanya Kinara dengan santai. "Dengar baik-baik Kinar. Kamu boleh dekat dengan siapapun tapi tidak dengan Argan!" Arjuna mendekatkan tubuhnya membuat punggung Kinara menempel pada pintu mobil. "Kenapa? Dekat dengan siapapun artinya siapa saja boleh, tidak terkecuali Argan. Kamu tidak berhak melarangku karena aku juga tidak melarangmu untuk dekat dengan Indira," jelas Kinara dengan nada yang lebih tinggi. "Tidak bisa Kinar. Aku tidak akan membiarkan Argan menjalin hubungan dengan wanita yang pernah tidur denganku. Kamu harus ingat bahwa Argan itu lebih dari sahabat, aku menganggapnya sebagai saudaraku sendiri," jelas Arjuna. "Sementara kamu adalah wanita yang pernah aku sentuh dan---" "Cukup Juna!" Kinara menggerakkan tangan kananya untuk menampar namun dapat di tahan oleh Arjuna. Kinara menggerakkan tangan kirinya dan berakhir seperti tangan kanannya. "Mau ngapain, huh?" Arjuna membawa tangan Kinara menuju samping kanan dan kiri kepalanya dan menggenggam erat tangan itu. "Juna lepas! Kamu mau ngapain? Ini tempat umum!" Kinara menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang lewat. Sementara Arjuna menenggelamkan wajahnya di leher Kinara. "Junaa, le.. pas!" Kinara mencoba melepaskan diri namun begitu sulit. "Jangan berpikir untuk menjalin hubungan lebih dengan Argan atau kamu dan Argan akan berurusan denganku," ucap Arjuna dengan penuh penekanan di setiap kata. "Jangan seenaknya sen---" Kinara tidak bisa melanjutkan bicaranya karena bibir Arjuna sudah menempel di bibirnnya. Arjuna menggigit dan melumat kasar bibir itu. Kinara khawatir ada orang lewat dan melihat, untung saja jalanan sangat sepi tidak ada orang berlalu-lalang. Arjuna melepaskan bibir dan pegangan pada kedua tangan Kinara. Ia merapikan baju dan rambut Kinara yang berantakan, sementara Kinara hanya diam tidak berniat berbicara atau merespon perlakuan Arjuna. "Masuklah ke dalam mobil, Kinar." Kinara masuk ke dalam mobil lalu mobil dilajukan Arjuna dengan kecepatan sedang menuju panti. "Kinar?" Kinara hendak membuka pintu mobil namun ditahan oleh Arjuna. "Aku akan menjemputmu untuk pulang ke rumah dua hari lagi." Arjuna tersenyum dan mengusap rambut Kinara. Kinara melotot dan menepis tangan Arjuna dari rambutnya. Bukannya marah, Arjuna justru tersenyum menyebalkan membuat Kinara semakin kesal. Kinara hendak membuka pintu namun di hentikan dengan panggilan Arjuna. "Kinar?" "Hm." "Makan yang banyak," ucap Arjuna. Kinara menoleh dan menatap kesal pada Arjuna. Ia ambil tangan Arjuna dan di gigitnya keras. Kinara melihat Arjuna kesakitan barulah Kinara lepaskan dan keluar dari mobil. Kinara puas, ia tidak peduli Arjuna berkata apapun di dalam mobil dan tetap berjalan untuk masuk ke dalam panti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN