42. Kembali Ke Rumah

1377 Kata
Kinara mengemasi pakaian dan barang-barangnya ke dalam koper. Hari ini tepat seminggu setelah keberangkatan honeymoon itu. Sudah waktunya ia pulang dan berpura-pura pada orang tua Arjuna bahwa mereka telah menikmati satu minggu di Bali dengan bahagia. Safira dan Ardi tidak boleh tahu kalau honeymoon yang mereka rencanakan berakhir menyedihkan bagi Kinara. Kinara menunggu kedatangan Arjuna di depan panti. Dua hari berlalu sejak pertemuannya dengan Indira di kafe itu, namun Kinara belum bisa menerima kenyataan bahwa ia harus berdamai dengan keegoisan Arjuna dan menerima keberadaan Indira. Selama dua hari itu Kinara berusaha untuk menghilangkan rasanya pada Arjuna dan melatih hatinya untuk cuek dengan segala hal tentang Arjuna. Sulit tapi Kinara harus bisa karena ia yakin setelah ini akan ada lebih banyak hal yang membuatnya sakit hati. Mobil Arjuna mendekat ke arah panti dan berhenti. Kinara sudah berpamitan dengan ibu Linda, ibu Diana dan penghuni panti lainnya. Kinara segera menuju mobil Arjuna dan dilihatnya Indira melambai dari dalam. Iya, sepagi ini meraka sudah membuat Kinara kesal. Kenapa harus mengajak Indira? Apa Arjuna tidak memikirkan perasaannya sama sekali? Atau pembalasan karena ia tidak mau mengangkat telepon bahkan membalas pesan dari Arjuna selama dua hari kemarin? Sungguh menyebalkan dua manusia di dalam mobil itu, pikir Kinara. Kinara hanya tersenyum pada Indira dan segera masuk ke dalam mobil. Ia tidak berniat untuk menyapa Arjuna sama sekali. Mobil kembali di lajukan Arjuna, sepanjang perjalanan dua orang di depan Kinara itu terus saja berbicara sementara Kinara tidak mau terlibat dan memilih diam. Sesekali Indira menoleh ke belakang untuk bertanya dan dijawab singkat oleh Kinara. "Kinara, Juna akan mengatarku ke apartemen dulu, gakpapa kan?" tanya Indira. "Iya, gakpapa," jawab Kinara. "Kamu baik, aku menyukaimu Kinara. Senang bisa mengenalmu," ucap Indira dengan senyum ramahnya. Memang terlihat ramah tapi entah kenapa terlihat memuakkan bagi Kinara. Kinara membalas perkataan Indira dengan mengucap terimakasih padanya. Setelah itu Indira kembali berbicara panjang lebar pada Arjuna. Beberapa kali Kinara melihat Arjuna yang meliriknya melalui kaca dalam mobil. Kinara langsung memalingkan muka dan masa bodoh dengan apa yang dilakukan Arjuna. Mobil Arjuna berhenti di depan apartemen. Indira meminta Arjuna untuk masuk ke dalam sebentar karena ada yang ingin dibicarakan. Indira bahkan mengajak Kinara untuk ikut masuk namun segera ia tolak, lebih baik Kinara menunggu di mobil daripada harus melihat kemesraan mereka di dalam apartemen. Kinara memainkan ponselnya sembari menunggu Arjuna dan Indira. Tiba-tiba ponselnya berbunyi karena ada panggilan dari nomer tak bernama. Kinara ragu untuk mengangkatnya dan ia biarkan saja. Panggilan berhenti namun berbunyi lagi. Kinara akhirnya mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Arya si dosen killer di kampusnya. Kinara meminta maaf pada Arya dan obrolan pun berlanjut. Arya meminta Kinara untuk menemuinya besok di kampus. Kinara setuju karena besok ia berencana untuk masuk kuliah kembali. "Baik, pak Arya," ucap Kinara yang sengaja ia keraskan saat tahu Arjuna masuk ke dalam mobil. Kinara meletakkan ponselnya di dalam tas setelah telepon berakhir. "Pindah ke depan!" titah Arjuna. "Gak mau," balas Kinara. "Aku tidak akan menjalankan mobilnya kalau kamu tidak pindah ke depan," ancam Arjuna. "Pemaksa!" gerutu Kinara. Kinara membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Segera ia pakai seatbelt dan melihat lurus ke depan tanpa menoleh pada Arjuna. "Kita harus berpura-pura di depan papa dan ibu," ucap Arjuna sambil menyetir. "Aku tahu." Kinara menoleh pada Arjuna. Ia mengamati satu objek yang menarik perhatiannya yaitu leher Arjuna. Ada tanda merah di sana entah bekas gigitan atau lipstik, yang jelas itu pasti perbuatan Indira. Sialnya, Kinara mendadak kesal. Tanda itu sepertinya baru saja dibuat oleh Indira karena tadi pagi sebelum mereka masuk ke apartemen belum ada tanda merah seperti itu di leher Arjuna. Kinara segera memalingkan muka untuk menghadap ke jendela mobil. "Kenapa?" tanya Arjuna. "Gakpapa," jawab Kinara. "Oh." Kinara semakin kesal. Sepagi ini mood nya sudah berantakan gara-gara ulah Arjuna. Kinara harap saat sampai di rumah nanti, ia masih bisa berpura-pura bahagia di depan mertuanya. "Jun, bisakah kamu menahan dirimu sampai kita.. berpisah?" tanya Kinara. "Apa maksudmu, Kinar?" "Aku tahu kalian saling mencintai, tapi bisakah kamu menahannya? Atau paling tidak gunakan pengaman saat melakukan 'itu' dan jangan sampai Indira hamil," ucap Kinara pelan. Arjuna menepi dan menghentikan mobilnya. Ia menatap Kinara lekat-lekat mencoba memahami kemana arah pembiraan Kinara. "Kemana arah pembicaraan ini? Apa maksudmu berbicara seperti itu, Kinar?" tanya Arjuna. "Di mata hukum, agama dan keluarga kita, kamu adalah suamiku dan aku adalah istrimu. Jika kamu keblabasan dan Indira hamil tentu akan menjadi berita besar dan menurunkan citra keluargamu. Kamu seharusnya paham itu dan kamu juga yang menentukannya, Jun." "Jangan berkomentar apapun jika kamu tidak tahu bagaimana hubunganku dengan Indi!" "Kamu benar. Aku memang tidak tahu apa-apa. Aku hanya memberikan masukan padamu," ucap Kinara. Arjuna melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan tidak seperti biasanya. Kinara menoleh untuk melihat Arjuna, dan benar saja Arjuna sedang emosi saat ini. Kinara berharap mereka masih selamat dan sehat sampai rumah. Arjuna memarkir mobilnya saat sampai di kediaman Atmaga. Arjuna menggandeng tangan Kinara saat memasuki rumah. Mereka tampak canggung tapi Kinara dan Arjuna harus berpura-pura tidak terjadi masalah apapun. Arjuna meminta salah satu pelayan untuk membawa oleh-oleh dari Bali. Arjuna sengaja meminta Argan untuk membeli oleh-oleh yang banyak sebelum kembali ke sini agar terkesan mereka menikmati honeymoon itu. Safira dan Ardi menyambut kedatangan anak mereka dengan bahagia. Pelukan hangat Kinara rasakan dari Safira. Kinara bahkan sudah begitu sayang dengan ibu mertuanya itu. Ia tidak ingin membuat sedih atau mengecewakannya. Kinara tidak melihat Rama dan Lisa dan tenyata keduanya masih di Korea dan baru pulang ke sini besok. Setelah berbincang-bincang sebentar, Kinara dan Arjuna pamit untuk pulang ke rumah mereka. Suasana kembali hening saat Arjuna dan Kinara masuk ke dalam rumah. Arjuna sepertinya masih kesal dengan Kinara. Sementara Kinara bersikap acuh. Ia segera masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan pakaiannya dari lemari lalu ia masukkan ke dalam keranjang dan membawanya keluar kamar. Arjuna yang dari tadi hanya mengamati Kinara, akhirnya bangkit dari duduknya dan menghadang langkah Kinara. "Mau dibawa kemana bajumu?" tanya Arjuna menatap tajam pada Kinara. "Kamar sebelah," jawab Kinara dengan santai. "Apa maksudmu?" tanya Arjuna. "Mulai sekarang aku pindah kamar sebelah. Kita tidur terpisah." "Aku gak setuju!" "Aku gak minta persetujuanmu!" Kinara berjalan melalui Arjuna dan masuk ke kamar kosong depan kamar mereka sebelumnya. Kinara mulai merapikan kamar itu dan meletakkan baju dan barangnya di sana. Ia tidak peduli Arjuna yang tidak setuju dengan keputusannya. Ini akan lebih baik daripada ia harus satu kamar dan tidur bersama Arjuna, bukannya berhasil untuk melupakannya bisa-bisa Kinara semakin sulit untuk move on. Beberapa kali Kinara masuk kamar Arjuna untuk memindahkan barang dari sana ke kamar barunya. Ia hanya melirik Arjuna yang sejak tadi duduk di sofa kamar sambil menatapnya tanpa ekspresi. Ia tidak peduli dan terus melanjutkan aktivitasnya memindahkan barang. Kinara hampir selesai merapikan kamarnya sampai ia mendengar pintu kamarnya di buka dengan cukup kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kinara menatap tajam Arjuna yang berjalan ke arahnya. Tanpa basa-basi Arjuna menangkap tubuh Kinara, mengangkat dan meletakannya pundak. Tidak sulit bagi Arjuna melakukan itu karena tubuh Kinara yang mungil. "Junaa, turunkan!" Kinara memukul punggung Arjuna namun sama sekali tidak ada respon dari suaminya itu. Arjuna membawa Kinara keluar dari kamar dan masuk ke kamarnya. Ia meletakkan Kinara di atas kasur dan menindih tubuh istrinya itu. "Juna, kamu mau apa?" Kinara mulai takut menatap mata Arjuna. "Aku sudah bilang tidak setuju kamu pindah kamar, kenapa membantah?" tanya Arjuna. "Kamu sudah punya Indira yang menemanimu tidur, Jun. Jangan maruk! Kita harus tidur terpisah mulai sekarang!" Kinara meneteskan air mata dan membuang muka ke samping agar tidak bertatapan dengan Arjuna. Arjuna diam saja dan menenggelamkan wajahnya di leher Kinara. Kinara mencoba mendorong Arjuna namun sia-sia saja, justru Arjuna semakin menekan tubuhnya pada Kinara. "Junaa.. Jangan lakukan ini." Kinara kembali meneteskan air matanya. "Aku meminta hakku sebagai suami," jawab Arjuna. Sore itu, mereka melakukannya lagi. Kinara tidak bisa menolak sentuhan-sentuhan Arjuna yang memabukkan, entah kenapa ia hanya pasrah saat Arjuna melakukan 'itu' padanya, hingga mereka kelelahan dan istirahat. Masih dengan tubuh polos yang ditutupi selimut, Arjuna memeluk Kinara dari belakang. Kinara kembali meneteskan air mata karena mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya, dari awal mengenal Arjuna, terjadinya penikahan kontrak itu, honeymoon, hingga kejadian hari ini. "Aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain kecuali kamu, Kinar." Kinara terkejut mendengar perkataan Arjuna. Entah dia jujur atau bohong Kinara tidak tahu. Setelah berkata tadi Arjuna mengeratkan pelukannya dan tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN