43. Ketemu di Mall

1032 Kata
Kinara melepaskan pelukan Arjuna dengan pelan agar suaminya itu tidak terbangun. Ia yakin Arjuna kelelahan setelah aktivitasnya beberapa jam yang lalu. Kinara sendiri merasa badannya sakit semua karena Arjuna tidak membiarkannya istirahat setelah mereka melakukan 'itu', dia akan memintanya lagi dan lagi. Kinara memungut bajunya yang berserakan dan dibawa ke kamar barunya. Kinara sudah memutuskan untuk tidur terpisah dengan Arjuna meskipun suaminya itu tidak setuju. Ini adalah keputusan terbaik agar ia bisa menghilangkan cintanya pada Arjuna. Ia hanya harus menemukan strategi agar Safira tidak curiga jika dia berkunjung ke rumah ini dan jangan sampai ketahuan mereka tidur terpisah. Kinara keluar kamar untuk menemukan makanan di dapur. Ia melihat Arjuna keluar kamar dengan berpakaian rapi. Kinara tidak berniat bertanya dan langsung menuju dapur. Bisa ditebak, kalau Arjuna akan pergi menemui pacarnya itu. Makan malam romantis misalnya. "Aku mau pergi," ucap Arjuna menyusul Kinara menuju dapur. "Hm," jawab Kinara. Salah satu cara untuk move on adalah bersikap cuek dan acuh pada orang yang akan dilupakan. Kinara berusaha cuek pada Arjuna dan berinteraksi sedikit mungkin dengannya. "Kamu beneran pindah kamar?" "Tentu saja," jawab Kinara dengan lantang. "Baiklah, tapi ada syaratya," sahut Arjuna. Kinara menoleh dan melihat Arjuna mendekatinya. Beberapa saat wajah tampan di depannya mampu menghipnotis Kinara. Ia terus menatap Arjuna tanpa berkedip hingga Kinara sadar dan menggelengkan kepalamya pelan. "Kenapa pakai syarat?" tanya Kinara. "Karena aku tidak menyetujuinya, jadi harus ada syarat," jawab Arjuna. "Aku gak mau ada syarat!" tolak Kinara. "Aku memaksa," ucap Arjuna dengan senyum seringainya. Kinara ternganga mendengar perkataan Arjuna. Rasa kesal dan marah menjalar di tubuhnya. Kinara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk mentralkan emosinya. "Katakan syaratnya!" "Jatahku seminggu dua kali, bisa di kamarku atau di kamarmu, atau di tempat lain. Kamu masih istriku jadi aku tetap menginginkan hakku!" "Jangan konyol, Jun!" balas Kinara. Kinara tidak habis pikir, Arjuna masih memikirkan tentang haknya sebagai suami, padahal dirinya belum bisa menjadi suami yang baik bagi Kinara. Perjanjian mereka di atas kertas itu juga sudah melenceng kemana-kemana. Perjanjian awal no s*x no love berubah menjadi with s*x and love, dan sialnya hanya Kinara yang menggunakan cinta selebihnya karena napsu belaka. "Deal! Aku harus pergi," pamit Arjuna. "Aku bahkan belum menyetujuinya, dia sudah bilang deal. Egois!" gumam Kinara lalu berbalik untuk memasak kembali. "Aku juga akan pergi," ucap Kinara. Arjuna menghentikan langkahnya dan menoleh, mengamati punggung Kinara yang masih berkutat dengan masakan mie rebusnya. "Pergi kemana?" tanya Arjuna. "Aku pikir bukan urusanmu!" jawab Kinara cuek. "Oke, baiklah, silahkan bersenang-senang karena aku juga akan makan malam dengan Indi," jelas Arjuna. "Oke," ucap Kinara tanpa melihat wajah Arjuna. Kinara tidak tahu bagaimana reaksi Arjuna tapi Kinara justru merasa kesal mendengar Arjuna mengatakan akan makan malam dengan Indira, walaupun sesuai dugaannya tetap saja Kinara kesal. Kinara segera menyantap hangat-hangat mie instan yang dibuatnya. Sebenarnya, Kinara tidak punya rencana pergi kemana pun, ia hanya berbohong pada Arjuna. Kalau di pikir-pikir lagi daripada di rumah sendiri, mending Kinara pergi kemana saja untuk menghilangkan penat. Kinara segera bersiap dan keluar dari rumahnya. Ia memesan taksi online dan sudah menunggu di luar gerbang kediaman Atmaga. Kinara meminta taksi online untuk berhenti di mall terdekat. Ia ragu untuk masuk ke dalam sendirian begini, yakin di kira jomblo ngenes yang suka luntang-luntung sendiri. Ah peduli amat, yang penting jajan-jajan saja di dalam. Batin Kinara. ATM Kinara memang tidak pernah kosong semenjak ia menanda tangani perjanjian kontrak itu dengan Arjuna. Suaminya itu selalu mengisi setiap bulan dengan nilai yang menurut Kinara sangat besar. Arjuna bertanggung jawab soal finansial dan memenuhi kebutuhan pribadi Kinara dan kebutuhan rumah. Kinara berjalan menuju salah satu kedai minuman namun cerobohnya ia menyenggol seseorang yang berpapasan dengannya. Tanpa pikir panjang Kinara langsung minta maaf kepada orang itu yang ternyata adalah Arya. "Pak Arya!" teriak Kinara. "Loh, hai Kinara," sapa Arya. "Hai juga, pak. Sendiri?" tanya Kinara sambil celingak celinguk mencari seseorang di sekitar Arya. "Nyari siapa? Emang sendiri kok," jawab Arya setengah tertawa melihat tingkah Kinara. "Kirain sama calon istri, hehe," sahut Kinara asal. "Aku belum punya calon, Kinara." "Lah, kirain sudah punya pak," ucap Kinara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kamu mau jadi calon istriku?" tanya Arya serius membuat Kinara reflek menatap Arya. "Bercandanya lumayan lucu sih, pak, hahaha." Keduanya tertawa, hingga Arya menajamkan penglihatannya pada objek agak jauh dari mereka yang berada di butik baju ternama. Arya yakin tidak salah orang. "Kinara, bukankah itu Arjuna?" Arya menunjuk seseorang di butik baju. Kinara langsung mengikuti kemana arah tangan Arya. Kinara melihat dua orang disana dan benar saja, mereka Arjuna dan Indira. Kinara langsung bersembunyi di belakang tubuh Arya ketika melihat Arjuna memandang ke arah mereka. "Kenapa?" tanya Arya. "Kamu sudah putus sama Arjuna? Kok dia sama wanita lain?" Kinara bingung harus menjelaskan seperti apa pada Arya. Ia terpaksa harus berbohong lagi. "Sudah putus pak," jawab Kinara. Kinara meminta Arya untuk pergi dari tempat itu. Arya mengerti dan membawa Kinara yang masih bersembunyi di belakangnya ke sebuah kafe. "Jadi?" tanya Arya. "Dia selingkuh," jawab Kinara jujur. Arjuna memang selingkuh dengan Indira dan itu faktanya. "Oh." "Jadi, aku ada kesempatan dong?" tanya Arya. "Kesempatan apa, pak?" Arya menghela napas berat. Sepertinya ia harus menjelaskan panjang kali lebar dulu pada Kinara atau langsung ke intinya saja biar wanita di depannya ini mengerti. "Pak, perutku mules, aku ke toilet dulu ya?" Dibalas anggukan oleh Arya, Kinara segera menuju toilet. Kinara masuk ke dalam toilet dan terkejut karena ada Indira di dalam sana. Indira tampak terkejut melihat Kinara juga berada di mall. "Kinara? Kamu di sini?" tanya Indira. "Eh, Indira. Iya nih, kamu di sini juga?" "Juna gak bilang kalau kita makan malam di sini?" tanya Indira. Hati Kinara mencelos mendengar perkataan Indira. Rasanya Indira seperti pamer kalau sedang makan malam dengan suaminya. "Tahu, tapi aku gak tahu kalau ternyata di mall ini juga," jawab Kinara. "Sekalian belanja, Juna benar-benar memanjakanku." "Baguslah," jawab Kinara. Kok rasanya kesel ya mendengar perkataan Indira barusan, apa dia sengaja? Batin Kinara. Kinara langsung keluar dari toilet setelah selesai dan Indira juga sudah pergi dari sana. Kinara kembali ke kafe untuk menemui Arya. "Kenapa? Ekspresi mukamu beda," tanya Arya "Ketemu sama selingkuhan Arjuna di toilet," jawab Kinara jujur. "Oh ya, wanita itu, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya? Sudah lama sepertinya," ucap Arya. "Benarkah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN