44. Kembali Kuliah

1288 Kata
"Benarkah?" Kinara jadi penasaran kapan Arya bertemu dengan Indira. "Wajahnya familiar, mungkin bertemu cuma sekali jadi aku lupa, nanti coba ku ingat lagi," jelas Arya. Kinara mengangguk. Jujur saja ia memang penasaran dengan sosok Indira yang kelihatan manis dan ramah itu. Apa dia memang memiliki sifat seperti itu atau hanya pura-pura. Kinara teringat perkataan Indira di toilet tadi yang sepertinya memang disengaja agar ia cemburu. "Kenapa? Kamu penasaran dengannya?" tanya Arya. "Dikit sih, pak." "Kamu masih mencintai Arjuna?" Deg Ditanya seperti itu, Kinara bingung harus menjawab seperti apa. Jujur saja perasaan itu masih ada, Kinara masih mencintai Arjuna. Ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, dengan kata lain Arjuna lah cinta pertamanya. "Aku sedang berusaha untuk melupakannya," jawab Kinara menunduk. "Boleh aku bantu?" tanya Arya. "Hah?" Kinara mendongak untuk menatap Arya. Kinara akui Arya laki-laki baik, dewasa, tampan dan mempesona, hanya saja Kinara belum siap untuk membuka hatinya kembali karena Arjuna masih ada di sana. "Aku cuma mau bantu kamu biar cepat lupa sama Arjuna, kalau diijinkan," ucap Arya. "Aku..akan memikirkannya, pak," jawab Kinara. Malam itu, Kinara dan Arya berbincang-bincang di kafe sampai waktunya mereka harus pulang. Arya memaksa mengantar Kinara pulang, namun ia tolak secara halus. Kinara tidak mau Arya tahu kalau sekarang ia tinggal bersama Arjuna. Biarlah rahasia ini terjaga rapat-rapat sampai kontrak itu selesai dan Kinara bebas dari Arjuna. Kinara melihat jam tangannya pukul 10 malam. Mobil Arjuna sudah ada di garasi itu artinya dia sudah berada di rumah. Kinara berharap Arjuna sudah tidur dan tidak tahu kepulangannya. Ia mengedap-endap masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, namun harus terkejut dengan sosok Arjuna yang menatapnya dari sofa ruang tamu rumah mereka. "Kenapa baru pulang?" tanya Arjuna dengan tatapan tajamnya. "Bukan urusanmu!" jawab Kinara dan berjalan mengacuhkan Arjuna. "Kinar!" Langkah Kinara terhenti saat mendengar teriakan Arjuna. Ia yakin Arjuna sedang marah sekarang. Tapi apa urusannya sampai marah seperti itu. Kinara berbalik dan melihat Arjuna sudah berdiri di depannya dengan tatapan marah. "Baiklah. Aku tadi jalan-jalan sebentar dan gak lihat jam, tiba-tiba saja sudah jam segini," jelas Kinara. "Kamu wanita yang berstatus sebagai istri. Pulang jam segini, bukankah tidak baik?" Kinara memutar bola matanya malas. Lagi-lagi Arjuna menggunakan status seorang istri untuk memojokkannya. Kinara malas berdebat dengan Arjuna, lagi pula sudah malam dan ia mulai mengantuk. "Sudahlah, Jun. Ini sudah larut dan aku mulai mengantuk," jawab Kinara. Kinara berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar. Namun Arjuna menghentikan langkahnya dengan menarik tangan Kinara. "Aku belum selesai bicara," hardik Arjuna. "Mau bicara apa lagi?" tanya Kinara. "Kamu boleh pergi kemanapun tapi ingat batasannya, Kinar. Lakukan kewajibanmu sebagai istri. Taat pada suami, menjaga diri saat suamimu pergi dan melayani suamimu dengan baik," ucap Arjuna sambil berjalan mendekati Kinara. Kinara semakin mundur saat Arjuna mulai mendekatinya hingga tubuhnya terbentur dinding. Tatapannya matanya dengan Arjuna bertemu, Kinara tidak kuat lagi dan mencoba mendorong tubuh Arjuna namun sia-sia. "Aku akan melakukan kewajibanku sebagai istri kalau aku menjadi istri yang sesungguhnya, sayangnya aku cuma istri pura-pura mu, Jun." Kinara menunduk tidak berani menatap mata Arjuna. Tiba-tiba saja air matanya kembali menetes. Kenapa kisah cintaku harus serumit ini? Batin Kinara. Arjuna meraih dagu Kinara agar wanita itu mendongak menatapnya. Arjuna menghapus air mata yang menetes di pipi Kinara dengan lembut dan mengecup bibir itu dengan perlahan tanpa melumat. Kecupan yang sangat manis dan lembut membuat Kinara sejenak melupakan kekesalannya pada Arjuna. "Jangan nangis, Kinar." Arjuna menarik tubuh Kinara dalam dekapannya. "Kamu selalu buat aku nangis. Kenapa kamu memperlakukanku begini? Harusnya jika kamu tidak mencintaiku, acuhkan aku atau pura-pura saja tidak mengenalku." Kinara kembali terisak dalam pelukan Arjuna. "Maafkan aku, Kinar." Arjuna mencium dan mengusap kepala Kinara dengan lembut. "Katakan padaku, kamu mencintaiku?" tanya Kinara. Kinara bingung dengan sikap Arjuna. Dia sering membuatnya menangis dan cemburu karena terus bermesraan dengan Indira, tapi sikapnya berubah manis ketika hanya berdua dengannya saja, seperti saat di rumah misalnya. "Katakan padaku, kamu mencintaiku?" Kinara mengulang pertanyaannya karena Arjuna hanya diam. "Jangan bodoh Kinar, aku.. aku mana mungkin mencintaimu," jawab Arjuna. Kinara kembali terisak mendengar jawaban dari Arjuna, namun ada yang berbeda saat Arjuna mengatakan tadi. Dia tampak gugup saat mengatakannya. Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Jun? Kenapa kamu mempermainkanku begini? Batin Kinara. Kinara melepaskan pelukan Arjuna dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia harus kuat bukannya cengeng begini di depan Arjuna. "Aku ngantuk, aku mau tidur," ucap Kinara hendak pergi namun ditahan oleh Arjuna. "Apalagi, jun?" "Aku belum selesai denganmu, Kinar." "Apa? Aaahhh.." Arjuna tiba-tiba menggendong Kinara dan dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Arjuna menurunkan pelan-pelan diatas kasur dan mulai menindih Kinara. "Juna, jangan bilang kamu mau---" "Kenapa?" tanya Arjuna. "Tunggu dulu, Jun. Aku sedang datang bulan." Arjuna yang menenggelamkan wajahnya di leher Kinara langsung mendongak mendengar perkataan Kinara barusan. "Kamu datang bulan?" tanya Arjuna. Kinara hanya mengangguk. Arjuna menjauh dari tubuh Kinara dan duduk di tepi kasur. Sementara Kinara ikut mendudukan tubuhnya di kasur itu. "Kembalilah ke kamarmu, setelah selesai datang bulan, kita harus berusaha lagi biar kamu hamil," ucap Arjuna. Kinara mengangguk dan langsung keluar dari kamar Arjuna. Kinara tidak sedang datang bulan, ia telah berbohong pada Arjuna. Alasan itu satu-satunya cara untuk mencegah Arjuna melakukan 'itu' padanya. Kinara segera masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Sementara Arjuna di dalam kamar mondar-mandir dengan gelisah. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Gan, sudah lo selidiki?" ucap Arjuna di ponselnya. "Maaf, Jun. Gue baru mulai menyelidikinya, kemarin gue ada urusan keluarga," ucap Argan. "Kabari gue perkembangannya. Orang tua lo sehat?" "Oke. Mereka sehat, Jun." "Salam untuk mereka." Arjuna menutup telepon dan merebahkan dirinya di kasur. Ia membuka ponselnya, mencari galeri foto dan menemukan sebuah foto. Arjuna tersenyum tipis mengamati foto itu. "Maaf," ucapnya lirih. ***** Kinara bangun terlambat pagi ini karena semalam baru bisa tidur pukul 3 pagi. Semua gara-gara Arjuna yang mengusik pikirannya. Kinara bersiap ke kampus dan keluar kamar. Keadaan rumah sudah sepi, Arjuna kemungkinan sudah berangkat ke kantor. Kinara segera bergegas menuju kampusnya. Sampai di kampus, Amel sudah menyambut Kinara dengan senyum manisnya. Rasanya sudah lama tidak bertemu Amel padahal hanya seminggu Kinara ijin tidak masuk kuliah. Kinara memberikan oleh-oleh kepada Amel karena hanya Amel sahabat baiknya dan dia pula yang tahu semua rahasia Kinara termasuk pernikahannya dengan Arjuna. "Cerita ke gue gimana honeymoon lo!" "Iya, nanti ya, bukan cerita bahagia tapi cerita menyedihkan." Kinara tersenyum masam. "Sesuai dugaan gue sih, kalau Arjuna bakal melakukan hal-hal yang buat lo terluka, tapi gue penasaran detailnya," ucap Amel penasaran. "Nanti gue cerita." Setelah percakapan itu, dosen masuk ke kelas dan kuliah berlangsung. Setelah selesai kuliah Kinara harus bertemu Arya di ruang dosen. Amel pamit pulang duluan setelah itu Kinara bergegas menuju ruang Arya. "Permisi, pak." Kinara mengetuk pintu dan masuk ke ruang Arya. "Masuk." "Pak, saya kesini untuk minta tugas selama ijin kuliah di mata kuliah pak Arya," ucap Kinara dengan bahasa formal. Arya yang sejak tadi memeriksa tugas mahasiswa mendongak dan menatap Kinara. "Gimana liburan kamu seminggu di panti asuhan?" tanya Arya. "Menyenangkan, pak. Sudah lama saya gak kesana," jawab Kinara. Untung saja Kinara berada di panti beberapa hari, jadi yang dikatakannya barusan tidaklah bohong. Ia memang ijin tidak masuk kampus selama seminggu dengan alasan ingin mengunjungi panti. "Tugas kamu, kan?" tanya Arya. "Iya, pak." "Saya sudah persiapkan tugas untuk yang kemarin tidak masuk kelas saya. Kamu kerjakan dan kumpulkan di meja saya satu minggu lagi," jelas Arya sambil menyodorkan kertas berisi rincian tugas. "Kalau begitu saya permisi, pak." "Silahkan." "Tunggu, Kinara." Kinara menoleh pada dosennya itu. Senyum manis terukir di wajahnya. Image guru killer luntur seketika di mata Kinara. "Nanti jam 1 siang makan sama saya di kantin," ucap Arya. "Hah? Bapak serius?" "Perlu saya ulangi?" tanya Arya. "Gak usah, pak. Saya permisi." Kinara segera berbalik dan berjalan keluar ruangan Arya. Saat Kinara membuka pintu, ada sosok yang berdiri disana menajamkan penglihatannya pada Kinara. Siapa lagi kalau bukan, Arjuna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN