45. Sisi lain Indira

1204 Kata
"Jun..na.." Kinara masih menatap Arjuna yang hanya diam tanpa ekspresi. "Kamu mau konsultasi?" tanya Kinara. "Menurutmu?" Deg Kinara merasa Arjuna sedang marah padanya. Kata-kata Arjuna sangat dingin dan menusuk. Apa karena tahu ia keluar dari ruang Arya? Kinara segera menyingkir agar Arjuna bisa masuk ke dalam. Arjuna masuk dan menutup pintu dengan cukup keras membuat Kinara terkejut. "Kenapa suka marah-marah?" Kinara mendengus kemudian berjalan menuju kantin karena 30 menit lagi waktu menunjukkan pukul 1 siang. Arya memintanya untuk makan siang bersama. Kinara sampai di kantin dan memesan minum terlebih dahulu. Ia mengeluarkan laptopnya sekalian mengerjakan tugas kuliah tadi pagi. Jari-jarinya mulai menari di deretan huruf pada keyboard, sesekali ia istirahat untuk minum dan mengecek ponselnya. "Hai, kinara.." Kinara tidak asing dengan suara yang menyapanya dan benar saja suara itu milik Indira. Kinara mengernyit, bagaimana bisa Indira ada disini? Apa permintaan Arjuna? Padahal ia ingin menyelesaikan tugasnya tapi kalau ada Indira mana mungkin ia konsentrasi. "Hai, Indira. Kamu nyari Juna, ya?" tanya Kinara. "Juna yang memintaku datang kesini." Indira sudah duduk di depan Kinara. Dia memang wanita yang cantik, tapi dengan pakaian yang dipakainya sekarang, sangatlah tidak pantas untuk masuk di area kampus. Dari tadi banyak mahasiswa yang memperhatikan meja Kinara karena Indira memakai dress ketat dengan panjang di atas lutut dan bagian d**a agak terbuka. Rasanya ingin Kinara bungkus pakai selimut biar tubuh Indira tidak menjadi konsumsi publik. Helaan napas terdengar dari mulut Kinara. Biarlah itu menjadi urusan Indira, mau berpakaian sopan atau tidak itu menjadi pilihan masing-masing orang. "Kinar, Juna kemana?" "Sepertinya masih di ruang dosen untuk bimbingan skripsi," jawab Kinara. "Oh, aku haus." "Mau minum apa? biar aku pesankan," tanya Kinara. "Jus Alpukat, makasih Kinara." Indira tersenyum manis, bahkan beberapa mahasiswa di sekitar terus memperhatikannya. Kinara berjalan menuju kedai minum, saat melewati Indira, kakinya seperti terhalang sesuatu dan akhirnya ia terjatuh. Gelak tawa Kinara dengar dari para mahasiswa yang ada di sekitar sana. Kinara melirik Indira sekilas dan telihat senyum tipis di bibirnya. Kinara yakin Indira lah yang menyebabkannya jatuh. "Kinar, kamu gak---" perkataan Indira terpotong dengan kedatangan Arya dan Arjuna. "Kinara, kamu gakpapa?" Arya datang langsung menghampiri Kinara dan membantunya berdiri. "Kenapa malah tertawa? Kalau ada yang kesusahan itu di tolong, bukan diketawain!" teriak Arya pada mahasiswa di sekitar sana. Tawa mereka langsung terhenti. "Aku gakpapa pak Arya." Kinara melihat Arjuna juga berada disana dan terus melihatnya yang ditolong oleh Arya. "Bagaimana kamu bisa jatuh?" tanya Arya sambil membantu Kinara berdiri. Kinara memperhatikan Indira, ia yakin Indira melakukannya. Dia menggunakan kakinya agar Kinara tersandung dan terjatuh. "Indira, kamu---" "Kamu menuduhku, kinara? Jun, aku tidak melakukan apapun, hiks.. hiks.." Indira terus menangis sambil memeluk Arjuna. "Aku tidak menuduhmu, Indira," ucap Kinara. "Kamu melihatku seakan menuduhku." "Maaf, aku sama sekali tidak---" "Cukup, Kinar! Hentikan permainan bodohmu ini!" hardik Arjuna. "Permainan bodoh? Apa maksudmu?" tanya Kinara. "Berpura-pura jatuh untuk menuduh indi," jawab Arjuna. Kinara mengepalkan tangannya erat untuk menyalurkan emosinya. Kinara benar-benar kecewa pada Arjuna karena menuduhnya seperti itu, bahkan Ia tidak akan selicik itu hanya untuk menarik perhatian. Kinara menghampiri Arjuna dan berdiri tepat di depannya. Tatapan marah Arjuna bertemu dengan tatapan marah Kinara. Keduanya saling melotot tanpa ada yang mengalah. "Kamu akan minta maaf karena ini, Jun." "Itu tidak akan terjadi, Kinar!" Arjuna membawa Indira meninggalkan kantin. Sementara Kinara masih berdiri mematung dengan emosi yang luar biasa. Rasanya ingin meluapkan semuanya saat ini juga, namun otaknya masih berpikir rasional. "Kinara?" Arya menyentuh pundak Kinara dengan lembut. Dengan perlahan dibaliklah tubuh mungil di depannya itu. Arya menarik dagu Kinara agar bisa melihat wajah cantik di depannya. Ia mengusap lembut air mata yang membasahi pipi seorang wanita yang beberapa hari belakangan ini mengusik pikirannya. "Jangan nangis, please," bujuk Arya. "Gak mau nangis, tapi air matanya gak berhenti keluar, pak." Arya menghela napas berat kemudian menarik tubuh Kinara dalam dekapannya. Reaksi Arya membuat seluruh mahasiswa disana heboh. Mereka tidak menyangka dosen killer itu akan melembut di hadapan seorang Kinara. "Tunggu di sini. Aku sudah selesai mengajar. Kita akan makan ditempat lainnya." Arya mendudukkan Kinara di salah satu kursi kemudian menuju ruang dosen. Kinara duduk termenung sampai Arya datang dan mengajaknya ke parkiran. Mereka makan di kafe terdekat dan mengobrol sampai sore. Kinara pamit pulang dan lagi-lagi harus menolak tawaran Arya untuk mengantarnya pulang. Kinara malas pulang ke rumah apalagi harus bertemu dengan Arjuna. Ia marah dan kecewa dengan sikap Arjuna tadi siang yang asal menuduh tanpa mencari tahu kebenarannya. Indira memang pacarnya dan orang yang di cintainya pantas saja kalau dia lebih membela Indira. Benar-benar tidak adil! Kinara yakin kalau tadi perbuatan Indira. Image wanita baik dan ramah seketika luntur di mata Kinara. Indira tidak sebaik dalam pikirannya, karena ada sisi mengerikan di dalam tubuh wanita itu. Kinara merinding mengingat senyum tipis yang terukir di bibir Indira saat Kinara sudah terjatuh dan di tertawai mahasiwa di sekitar kantin. Kenapa Indira melakukannya? Apa karena tidak menyukaiku? Dan ingin membuatku terkesan jahat dimata Arjuna? Ah aku pusing memikirkannya! Batin Kinara. Kinara segera masuk ke dalam rumah karena mobil Arjuna tidak berada di garasi. Mungkin saja dia masih bersama dengan Indira. Biarlah menginap sekalian dan tidak usah pulang ke rumah, agar ia tidak bertatap muka dengan Arjuna, pikir Kinara. Kinara segera menuju kamarnya dan mengunci dari dalam. Ia bersihkan tubuhnya lalu berbaring istirahat sambil memainkan ponselnya. Hingga, suara ketukan kamar membuat Kinara terkejut. Kinara membuka pintu dan di sambut oleh tatapan marah dari Arjuna. "Aku kira kamu tidak pulang dan menginap dengan pacarmu itu!" ejek Kinara. "Aku akan melakukannya setelah urusanku denganmu selesai," jawab Arjuna. "Sudah selesai, Jun. Pergilah!" Kinara mau masuk kamar dan menutup pintu namun dihalangi Arjuna dan ditariklah tangan Kinara menuju ruang keluarga. "Auh.. Sakit.." Arjuna mencengkeram erat kedua lengan Kinara. "Lepaskan, Jun. Kamu menyakitiku!" teriak Kinara. "Katakan padaku kenapa kamu melakukannya?" "Melakukan apa? Aku tidak menuduh Indira, tapi memang aku jatuh karena tersandung kaki seseorang, dan hanya Indira di sampingku!" jawab Kinara. "Untuk apa aku berbohong? Menarik perhatianmu? Jangan bodoh, Jun. Aku tidak perlu melakukan itu karena aku tidak butuh perhatianmu!" teriak Kinara saking jengkelnya. Arjuna melepaskan tangannya dari bahu Kinara. Ditatapnya mata Kinara yang sejak tadi sudah berkaca-kaca menahan agar tidak menangis. "Kamu pacaran dengan Arya?" tanya Arjuna tiba-tiba. Kinara tidak habis pikir, setelah membahas tentang Indira tiba-tiba Arjuna menanyakan hubungannya dengan Arya. "Gak!" jawab Kinara. "Kenapa kamu bertanya? Harusnya kamu tidak perlu peduli aku dekat dengan siapapun!" "Siapa yang peduli? Aku cuma bertanya." "Kamu aneh, Jun." Kinara pergi menuju kamarnya meninggalkan Arjuna yang masih berdiri di ruang keluarga. Kinara masuk kamar dan membanting pintu dengan kasar. Kesal sekali rasanya berbicara dengan Arjuna. Kinara mendengar ponselnya berbunyi dan segera diamblinya ponsel itu yang ternyata pesan dari Safira. Mertuanya itu mengatakan akan mengajaknya jalan-jalan ke mall besok setelah pulang kuliah bersama Agatha juga. Kinara membalas pesan Safira dengan senyum, sejenak ia lupakan pertengkaran tadi dengan Arjuna. Untung saja ibu mertuanya ini begitu baik beda sekali dengan anaknya yang egois dan pemaksa itu. Kinara kembali kesal mengingat kejadian tadi siang. Kinara mendengar pintu kamarnya di ketuk kembali. Kinara kesal namun akhirnya tetap beranjak dari kasur untuk membuka pintu. "Ada apa lag---" Kinara terdiam dan membeku saat Arjuna tiba-tiba mencium keningnya sekilas, setelah itu Arjuna langsung pergi menuju kamarnya tanpa berkata apapun. Kinara terus memperhatikan Arjuna sampai dia masuk ke dalam kamar. "Dasar aneh!" gumam Kinara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN