46. Heboh

1249 Kata
Pagi ini, Kinara di buat bingung dengan sikap Arjuna kembali. Pasalnya, saat Kinara keluar dari kamar untuk berangkat kuliah sudah ada nasi goreng di meja makan. Kinara celingak celinguk mencari keberadaan Arjuna namun tidak kelihatan batang hidungnya. Arjuna sudah berangkat ke kantor lebih dulu. Kinara duduk di meja makan dan membaca note yang ditinggalkan Arjuna di meja. "Makanlah yang banyak," ucap Kinara membaca note itu. "Sebentar bikin kesal, sebentar baik, sebentar nyebelin, sebentar berbuat manis, sebenarnya mau kamu apa sih, Jun?" Kinara terus saja mengomel mengingat sikap Arjuna yang tidak konsisten sama sekali tapi justru membuat Kinara resah. Kinara menggeleng cepat untuk membuang pikirannya tentang Arjuna dan segera menghabiskan nasi goreng itu. Kinara berangkat kuliah seperti biasanya. Sebelum masuk ke dalam gedung ia ditarik paksa oleh Serin. "Apaan sih, kak!" protes Kinara. "Jadi berita yang beredar benar, kalau lo pacaran sama pak Arya?" tanya Serin dengan melotot. Kinara terkejut mendengar perkataan Serin. Apa karena kemarin Arya memeluknya di kantin dan langsung jadi berita heboh di kampus? Pikir Kinara. "Gosip apalagi sih, kak. Aku gak pacaran sama pak Arya," jelas Kinara. "Nyatanya semua mahasiswa lagi ngomongin lo sama pak Arya pacaran! Dasar penggoda," ejek Serin. Kinara membuang napas kasar. Malas sekali rasanya pagi-pagi berdebat dengan Serin, apalagi kakak tingkat itu suka main kasar dengan menarik, menjambak dan sebagainya. "Terserah kak Serin, aku mau masuk kelas dulu, selamat pagi!" "Tunggu, enak saja." Serin menarik tangan Kinara kuat. "Aduh kak, lepasin!" "Serin, bisa kamu lepas tangan Kinara?" Kinara dan Serin menoleh pada sumber suara dan Arya sudah berdiri di dekat mereka dengan tatapan marah. Serin melepas tangan Kinara dengan kasar. "Saya sudah memperingatkan kamu, Serin. Jangan membuat masalah di kampus terutama mengganggu mahasiswa lain. Urus saja laporan magang kamu yang belum selesai!" ucap Arya. "Maaf pak, saya cuma memastikan, pak Arya pacaran dengan Kinara?" tanya Serin. Arya terkejut tapi berusaha untuk tenang. Arya melirik Kinara kemudian kembali fokus pada Serin. "Kalau iya, kenapa? Mulai sekarang jangan ganggu Kinara lagi, atau kamu berurusan dengan saya." Kinara dan Serin sama-sama terkejut dengan jawaban Arya. Di luar dugaan Kinara, Arya akan mengatakan itu. Serin yang kelihatan kecewa langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun lagi. Sementara Kinara masih bengong hingga Arya menyadarkannya. "Ayo masuk," ajak Arya. "Tunggu! Kenapa pak Arya mengatakan itu pada kak Serin?" "Hanya untuk melindungi kamu," jawab Arya. "Tapi pak, itu---" "Masuk, Kinara. Atau kamu akan terlambat," ucap Arya. Kinara masuk ke dalam kampusnya mengikuti Arya. Sepanjang jalan banyak mata yang memperhatikan mereka berdua. Kinara yakin gosip antara dirinya dan Arya sudah menyebar, ditambah sekarang ia dan Arya masuk ke kampus bersama. Helaan napas beberapa kali keluar dari mulut Kinara. Kinara berpisah dengan Arya yang masuk ke ruang dosen sementara dirinya masuk kelas. Amel langsung menarik Kinara untuk duduk di pojok belakang. "Lo udah denger, kan?" tanya Amel. "Gosip gue pacaran sama pak Arya, kan?," tebak Kinara. "Gila, lo bikin heboh se kampus, Kinara." "Itu gak benar, Mel. Gue sama pak Arya gak ada hubungan apa-apa. Kemarin itu dia reflek meluk gue buat nenangin gue. Gitu doang!" jelas Kinara. "Gue tahu, tapi yang lihat jadi menyimpulkan lo ada hubungan sama pak Arya, dia kan killer dan susah di dekati, eh sama lo malah perhatian, jadi mereka mikirnya kalian pacaran. Kalau gue mikirnya pak Arya beneran suka sama lo," jelas Kinara. "Mungkin, Mel. Tapi gue males mikirin itu. Masalah gue sama Juna saja gak kelar-kelar, gue gak bisa membuka hubungan baru dengan orang lain. Lagipula hati gue---" "Masih buat Arjuna. Gue paham, Kinara." Amel menepuk pundak Kinara dengan lembut. Amel terus menyemangati Kinara agar tetap kuat dan sabar menajalani semuanya. ***** "Kinara...." Kinara melambai pada Agatha yang menghampirinya di luar kampus. Ia segera masuk ke dalam mobil dan disambut hangat oleh Safira. "Kinar, sibuk terus jarang mampir rumah ibu," protes Safira. Kinara memang jarang ke rumah mertuanya, padahal rumah mereka berdekatan. Ia sibuk kuliah dan meladeni Arjuna yang sering membuatnya kesal, jadilah seharian ia habiskan berdiam diri di kamar saja. "Maaf, bu. Kinar akan sering ke rumah ibu," balas Kinara. "Kapan-kapan main ke apartemenku juga, Kinara," pinta Agatha. "Boleh," ucap Kinara semangat. "Oh ya, nanti kalau udah ada tanda-tanda hamil kasih tau ibu, ya?" pinta Safira. Kinara hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya hamil nanti, sementara Arjuna masih berat pada Indira. Kinara takut kalau hamil, ia dan anaknya tidak akan mendapatkan perhatian lebih dari Arjuna. Kinara menggeleng, berharap ia tidak hamil. Sungguh, Kinara ingin membahagiakan Safira, namun hatinya terlalu berat jika harus mengalah terus dengan ke egoisan Arjuna. "Ibu, tidak ajak kak Lisa?" tanya Kinara. "Mana mau, Kinar," jawab Agatha. "Kakak iparmu itu sulit sekali ibu ajak jalan, selalu ada saja alasannya. Ia lebih suka jalan dengan teman-temannya, terutama Laura itu," jelas Safira. Pantas saja hubungan Lisa dengan mertuanya kelihatan tidak akrab. Safira justru lebih dekat dengan Kinara dan Agatha. Obrolan mereka berlanjut hingga mobil Agatha sampai di parkiran mall. Mereka masuk ke dalam mall, belanja dan mencoba berbagai makanan yang ada di mall itu. Safira dan Agatha sibuk berbelanja sementara Kinara seperti biasanya tidak terlalu antusias memilih pakaian, kosmetik atau sejenisnya. Ia lebih banyak mengikuti langkah Safira dan Agatha. Selesai berbelanja, mereka jalan-jalan lagi dan mencari tempat makan yang sepi dan enak. Saat berjalan tanpa sengaja mereka bertemu dengan seseorang yang mereka kenal, dialah Indira. "Hai, tante. Apa kabar?" Indira menunjukkan senyum manisnya. "Baik," jawab Safira dengan malas dan dibalas senyum oleh Indira. "Dari kapan kamu balik ke sini, Indira?" tanya Agatha. "Oh, hai Agatha. Baru beberapa hari yang lalu," jawab Indira. "Ini Kinara istrinya Juna." Safira memperkenalkan Kinara pada Indira. Dari tadi Kinara celingak celinguk mencari keberadaan Arjuna, tapi sepertinya laki-laki itu tidak ikut Indira ke mall. Kinara bernapas lega. Ia tersenyum pada Indira, pura-pura saja baru mengenalnya. "Hai, Kinara," sapa Indira dengan ramah. "Kamu jangan ganggu Arjuna lagi karena dia sudah menikah. Kamu cari saja laki-laki lain. Lagian kamu juga menghianatinya dulu. Ayo Kinar, Gatha." Safira memperingatkan Indira dan mengajak Kinara dan Agatha pergi. Sementara Indira tetap mempertahankan senyumnya tanpa berkomentar apapun. Kinara bisa melihat ketidaksukaan Safira pada Indira. Mungkin alasannya karena dulu Indira menghianati Arjuna, tapi Arjuna bilang sejak awal masih pacaran Safira sudah tidak menyukai Indira. Kinara penasaran, mungkin ia harus bertanya langsung pada mertuanya itu. "Ibu tidak menyangka bertemu dengan mantan pacar Arjuna itu," gerutu Safira. "Iya tante, Gatha juga gak nyangka ketemu dia lagi," sahut Agatha. "Kinar, dia itu mantannya Juna yang menghianatinya dengan laki-laki lain. Kamu harus jaga suamimu baik-baik, siapa tahu dia ingin merebut Juna kembali," jelas Safira. Dalam hati Kinara ingin menjawabnya, kalau Juna sudah diambil wanita itu. Bahkan wanita itu sekarang tinggal di apartemen Juna. Kinara ingin sekali mengatakan itu, namun ia tahan kuat-kuat agar tidak menyakiti Safira. "Baik, bu." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Kinara. "Pantas saja, dulu waktu Juna bawa Indira ke rumah, ibu sudah tidak menyukainya. Didepan ibu memang ramah dan sopan tapi feeling ibu mengatakan Indira itu tidak baik buat Juna, dan ternyata dia mengkhianati Juna. Feeling ibu selalu tepat. Beda saat pertama ibu ketemu kamu, Kinar. Ibu langsung menyukaimu," jelas Safira. Kinara tersenyum bahagia, sungguh beruntung ia memiliki mertua yang baik seperti Safira, walaupun anaknya tidak memperlakukannya baik, setidaknya Safira menyayangi Kinara dengan tulus. "Kamu harus hati-hati dengannya, Kinar." Agatha memperingatkan Kinara. "Baiklah," ucap Kinara. "Satu lagi, berjanjilah untuk tetap bersama, Juna. Jangan biarkan wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kalian, berjanjilan Kinar," pinta Safira. Kinara terpaksa harus berjanji pada Safira. Ia tahu akan sulit menepati janji itu, lagi pula Indira sudah masuk ke dalam rumah tangga Kinara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN