47. Gara-gara Skripsi

1196 Kata
Puas jalan-jalan di mall, belanja, makan bersama dan saling bertukar cerita, Kinara, Agatha dan Safira harus pulang karena senja sudah berganti malam. Agatha mengantar Kinara dan Safira terlebih dahulu kemudian baru pulang ke apartemen. Kinara langsung menuju rumahnya, setelah sebelumnya ia memastikan Safira sudah masuk ke rumah terlebih dahulu. Mobil Arjuna sudah terparkir rapi di garasi. Kinara menelan ludahnya kasar, bahkan ia lupa mengabari Arjuna kalau hari ini jalan-jalan bersama ibunya. Tapi, di pikir-pikir buat apa memberi tahu Arjuna, sedangkan mereka belum berbaikan. Kinara menggeleng kuat. Kenapa harus memikirkan Juna? Batin Kinara. Kinara masuk ke rumah dengan pelan-pelan. Ia melihat ke segala arah namun tidak ada sosok Arjuna di manapun. Mungkin di kamar, baguslah. Batin Kinara. Kinara segera masuk ke kamar dan mandi. Setelah itu ia keluar kamar kembali untuk membuat cemilan. Ia kelurkan beberapa sayuran, ayam, bakso dan sebagainya dari kulkas, malam ini ia ingin makan capcay kuah. Saat sedang memasak Arjuna keluar dari kamar dan berdiri di dekat dapur mengamati Kinara yang sedang memasak. Kinara yang tahu sedang diamati merasa risih tapi ia terlalu malas untuk protes pada Arjuna. "Aku lapar," ucap Arjuna. "Terus?" "Buatin aku makan," jawab Arjuna. "Males, bikin saja sendiri," jawab Kinara. Kinara melanjutkan memasak, ia tidak berniat sama sekali untuk menatap wajah Arjuna. Kinara yang sedang asyik menuangkan bumbu pada capcay nya harus dikejutkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Kinara terkejut sampai terlonjak kaget dan mundur kebelakang membentur tubuh Arjuna. "Juna!" teriak Kinara. "Apaan sih, lepaskan!" Kinara tidak bisa memberontak karena tangannya ia pakai untuk mengaduk masakannya. "Buatin aku makan dulu," ucap Arjuna tepat di telinga kanan Kinara membuat Kinara merinding seketika. "Bikin sendiri..Jun..na, aahh hentikan!" teriak Kinara karena tangan Arjuna sudah merayap ke atas menemukan benda kesayangannya saat mereka bergelut di ranjang. "Juna, please!" Kinara semakin merinding karena bibir Juna kini menjelajahi telinga dan lehernya. "Buatkan aku makan!" "Okeeh, tapi hen..tikan!" Arjuna melepas tangannya dari Kinara dan duduk di meja makan. Kinara menghela napas lega dan segera melanjutkan memasak. Ia bagi masakannya menjadi dua piring dan di berikan satu untuk Arjuna. "Mau ke mana?" tanya Arjuna saat melihat Kinara pergi membawa piringnya dan tidak berniat duduk dengan Arjuna. "Makan di kamar!" jawab Kinara. "Makan di sini, Kinar. Kalau kamu gak mau, aku akan mengikutimu kemanapun!" ancam Arjuna. Kinara mendengus kesal, kemudian memilih untuk duduk bersama Arjuna. Ia makan capcay dengan diam tidak berniat berbicara apapun dengan Arjuna. Kinara dan Arjuna selesai makan kemudian Kinara membereskan piring yang kotor. "Masakanmu enak, Kinar," puji Arjuna. "Emang," jawab Kinara singkat. Selesai mencuci, Kinara berjalan menuju kamarnya namun dihalangi oleh Arjuna. Kinara melotot pada Arjuna seakan protes. "Apa lagi, Jun?" "Bantu mengerjakan skripsi, bukankah dulu kamu janji membantu skripsiku" ucap Arjuna agak malu. "Kenapa minta tolong aku, bukannya Indira yang menguasi bidang skripsimu?" tanya Kinara. "Disini adanya kamu, aku minta tolong ya ke kamu," jawab Arjuna. Rasanya ingin menolak, tapi akhirnya Kinara setuju dengan berbagai pertimbangan, ia juga ingat pernah berjanji pada Safira dan Arya untuk membantu mengerjakan skripsi Arjuna. Kinara menyuruh Arjuna mengambil laptop dan dikerjakan di ruang keluarga. Namun, Arjuna menolak dan mengatakan skripsinya ia edit di komputer kamarnya. Kinara tidak tahu ini modus atau bukan, lebih baik menurut daripada Arjuna melakukan hal yang tidak terduga lagi. "Baiklah, tapi jangan macam-macam padaku, Jun!" "Hm." Kinara masuk ke dalam kamar Arjuna yang beberapa hari yang lalu masih menjadi kamarnya. Kinara segera duduk di depan komputer dan mulai membantu Arjuna mengerjakan hasil revisi skripsinya. Kinara membantu mengetik dan Arjuna mendekti kalimat yang di revisi. Keduanya mampu bekerja sama dengan baik, sesekali Arjuna bercanda dan membuat Kinara kesal lalu memukul laki-laki disampingnya itu. Bukannya marah Arjuna justru tersenyum kemudian memeluk Kinara layaknya anak kecil. Meskipun Kinara sangat kesal dengan sikap Arjuna, malam ini ia menikmati kebersamaan dengan Arjuna. "Kesimpulannya adalah Kinara sangat lucu dan menggemaskan," ucap Arjuna dengan sengaja. "Juna! Yang benar dong!" gerutu Kinara. Sudah beberapa kali juna berbuat seperti ini membuatnya kesal karena reflek mengetik sesuai yang dikatakan Arjuna. "Oke, oke. Kali ini serius," ucap Arjuna. Arjuna mulai serius dan selesai juga skripsi itu. Tinggal selangkah lagi menuju sidang kemudian wisuda. Kinara menggerakkan jarinya karena terlalu lama menari di keyboard. Ia lemaskan jari-jarinya agar tidak kaku. "Kinar?" "Hm?" Kinara menoleh dan begitu terkejut karena bibirnya sudah menempel pada bibir Arjuna. Kinara menjauh agar bibirnya terlepas. "Juna, aku mau ke kamar." Kinara berdiri namun tangannya ditarik oleh Arjuna sehingga duduk kembali dan Arjuna langsung menyambar bibir Kinara kembali. Kinara memejamkan matanya dan lumatan-lumatan itu mulai Kinara rasakan. Perasaan yang selalu sama saat Arjuna menciumnya. Lembut, manis dan membuat Kinara kehilangan akal. "Sudah, Jun." Kinara menarik lepas paksa bibirnya. Kinara berdiri dan keluar dari kamar Arjuna. Ia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Kinara memegang dadanya untuk menetralkan debaran yang dari tadi tidak kunjung menghilang. "Jantungku." Kinara melangkah menuju kasur, berbaring dan menarik selimutnya. Kinara berusaha memejamkan mata namun sulit terpejam. Ia coba bernyanyi dan menghitung domba namun tetap belum bisa terlelap. "Aaaahhhh," teriak Kinara sambil mengacak rambutnya. Kinara merasa ada yang salah dengan dirinya. Padahal ia berusaha melupakan Arjuna dan berusaha acuh padanya namun kenapa debaran di dadanya semakin menjadi. Kinara beranjak dari kasur dan keluar kamar menuju dapur. Kerongkongannya terasa kering, ia butuh asupan cairan saat itu juga. Kinara mengambil air dan di minumnya habis satu gelas. "Astaga, ya Tuhan.." Kinara terkejut ketika berbalik sudah ada Arjuna berdiri di depannya. "Bisa gak sih, gak ngagetin, Jun!" protes Kinara. "Aku juga haus," ucap Arjuna. Kinara mengambil gelas baru dan dituangkannya air dalam gelas itu lalu diberikan kepada Arjuna. Kinara berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan telivisi. Kinara melihat jam dinding dan waktu menunjukkan pukul 23.30. Arjuna ikut duduk di sebelah Kinara. "Ngapain ikut ke sini?" tanya Kinara. "Gak bisa tidur," jawab Arjuna. "Tadi darimana?" tanya Arjuna lagi. "Jalan-jalan sama Agatha sama Ibu. Mmm, tadi kami ketemu Indira di Mall," ucap Kinara. "Lalu?" tanya Arjuna sambil minum air putih. "Ibu kelihatan tidak menyukai Indira," jelas Kinara. Kinara kembali mengingat kejadian di mall. Mertuanya itu memang terlihat tidak menyukai Indira. Sementara Arjuna masih bertahan dengan wanita itu. Lagi-lagi hati Kinara mendadak sakit. Kinara menetralkan emosinya dan kembali melihat acara telivisi. Kinara menegang melihat acara televisi yang ia tonton tenyata adalah horor, segera Kinara memeluk Arjuna. "Aaaaghhh, hantu, hantu, hantu, Junaa, ganti channelnya please.." Kinara ketakutan dan badannya gemetar dalam pelukan Arjuna. "Sudah di ganti, Jun?" tanya Kinara. "Sudah," jawab Arjuna. Kinara mendongak dan melihat telivisi yang sudah berganti channel berita malam. Kinara bernapas lega, segera ia melepas tubuhnya namun di tahan oleh Arjuna. Beberapa kali Kinara berusaha melepaskan diri namun masih ditahan oleh Arjuna. "Juna lepas!" Juna hanya diam. Ia tetap bertahan tidak melepas pelukannya pada Kinara. Kinara berontak tapi tetap sia-sia. "Juna!" Arjuna menatap Kinara, begitu pula sebaliknya. Keduanya hanyut dalam tatapan masing-masing. Tiba-tiba suasana menjadi hangat dan nyaman. Arjuna kembali menempelkan bibirnya pada bibir Kinara, namun kali ini di d******i lumatan yang menuntut. Keduanya hanyut dalam rasa yang memabukkan hingga bunyi ponsel Arjuna menghentikan aktivitas mereka. Kinara melihat nama yang tertera si ponsel Arjuna yaitu Indira. Arjuna mengangkat telepon Indira dan meninggalkan Kinara di sofa ruang keluarga. Kinara merasa kesal, bukan karena ciuman mereka yang terhenti tapi melihat nama Indira di ponsel Arjuna. Kinara segera merapikan bajunya dan beranjak menuju kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN