38. Indira?

1423 Kata
Kinara dan Argan makan di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari hotel. Kinara lebih banyak diam karena hatinya tidak tenang, gelisah dan khawatir. Pikirannya hanya tertuju pada Arjuna. Firasatnya mengatakan kalau Arjuna berada di kafe tadi dan yang membuatnya bertanya-tanya, kenapa Argan sengaja menutupinya? Apa karena... "Kinara?" "Kinara?" Kinara segera membuang pikiran-pikiran negatifnya dan kembali fokus dengan laki-laki di depannya. "Maaf, pak." "Kamu melamun?" tanya Argan. "Hanya memikirkan sesuatu, hehe." Kinara tersenyum kemudian kembali memakan steak tenderloin di depannya. "Bagaimana hubunganmu dengan Juna?" tanya Argan. "Biasa saja, pak. Tidak ada yang berubah." Kinara tersenyum kecut. Memang tidak ada yang berubah. Hanya dirinya yang mencintai Arjuna. "Bagaimana dengan challenge itu?" Kinara merona mendengar pertanyaan Argan. Ia kembali mengingat percintaan panasnya dengan Arjuna tadi malam. "Dari ekspresimu bisa ku tebak kalau kalian sudah melakukannya," ucap Argan. "Hahaha, kelihatan ya, pak." Kinara tersenyum malu. Argan merubah ekspresinya menjadi khawatir. Kinara hanya menatapnya tanpa bertanya lebih lanjut. Ia kembali memakan steaknya sampai habis dan harus kembali ke hotel karena senja kembali hadir. Setelah makan, Argan mengantar Kinara ke hotel. Argan memang menginap beda hotel dengannya. Ia memastikan Kinara masuk ke dalam hotel setelah itu ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arjuna. "Semoga kamu kuat Kinara," monolog Argan. ***** Kinara mengeluarkan kartu hotelnya dan masuk ke dalam kamar. Di dalam sudah ada Arjuna yang rebahan di kasur sambil menonton televisi. Kinara harus menelan ludahnya kasar melihat Arjuna bertelanjang d**a. "Bagaimana kamu bisa masuk ke kamar, Jun?" Kinara yang memegang kartu kamar karena ia keluar kamar setelah Arjuna. "Aku minta kartu cadangan di resepsionis hotel," jawab Arjuna yang dibalas anggukan oleh Kinara. "Sejak kapan sampai di kamar?" tanya Kinara. "Siang," jawab Arjuna. Argan tidak bohong, nyatanya Arjuna bilang sudah ada di kamar sejak siang, pikir Kinara. Tapi, entah kenapa hati Kinara belum tenang. Ia segera meletakkan tasnya dan menuju kamar mandi. "Kinar, mau mandi?" tanya Arjuna dengan senyum khasnya, membuat Kinara sedikit merinding. "Iya, kenapa?" "Ikut." "Hah?" Arjuna bangkit dari kasur dan berjalan menuju Kinara. Ia gendong Kinara ala bridal style dan masuk ke dalam kamar mandi. Mereka mandi selama 2 jam, tentu saja ada aktivitas lain selain mandi yang menguras tenaga. Kinara keluar lebih dulu dari kamar mandi dan segera berganti baju. Arjuna menghajarnya tanpa ampun sampai sesuatu di bawah sana kembali sakit. Kinara naik ke atas kasur dan merebahnya dirinya disana. Tubuhnya terasa lemas dan capek. Ia tidak peduli dengan Arjuna yang masih di dalam kamar mandi karena kini matanya sudah mengantuk, dengan perlahan Kinara terlelap tidur. Arjuna keluar dari kamar mandi dan mendapati Kinara yang sudah tertidur. Ia berganti pakaian dan mendekati istrinya. Arjuna membenarkan selimut yang sedikit tersingkap dari tubuh Kinara dan mencium keningnya lama. "Makasih Kinara, maafkan aku," ucap Arjuna sambil mengusap lembut pipi Kinara. Arjuna kemudian keluar dari kamar hotel, meninggalkan Kinara tidur sendirian disana. ***** Kinara menggeliat dari tidurnya dan meraba sesuatu di sebelahnya, namun tidak menemukan apa-apa. Ia membuka matanya dan memang tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Kinara meraih ponsel di atas nakas dan melihat jam yang tenyata sudah pukul 11 malam. Kinara memeriksa kamar mandi namun tidak ada Arjuna di sana. Lalu kemanakah Arjuna? Kinara buka ponselnya dan memencet nama Arjuna. Panggilan masuk namun tidak ada jawaban dari Arjuna. Kinara mondar mandir khawatir, entah kenapa ia menjadi cemas. Kemudian ia teringat sesuatu, yaitu Indira. Hati Kinara bergemuruh hebat, pikiran negatif menyelimutinya. Ia coba membuang pikiran negatif itu, nyatanya tidak bisa. Kinara memanaskan air dan membuat teh hangat untuk menenangkannya. Bukanya bertambah tenang namun pikirannya semakin kalut. Kinara membuka ponselnya kembali untuk melakukan panggilan namun tidak ada jawaban dari Arjuna. Kinara menyerah, ia memutuskan untuk tidur kembali, meskipun matanya sulit terpejam, hingga beberapa menit kemudian ia bisa terlelap kembali. Malam berganti pagi. Kinara membuka matanya dan melihat Arjuna sudah berpakaian rapi. Kinara mengernyit, kapan Arjuna pulang? Bahkan ia tidak menyadarinya. Lalu mau kemana dia sepagi ini? Kinara membuka ponselnya dan melihat angka di pojok kanan atas, jam 7 pagi. "Sudah bangun?" "Iya. Jam berapa semalam pulang?" tanya Kinara. "jam 12," jawab Arjuna. "Dari mana?" "Keluar dengan Argan. Maaf aku tidak mengangkat panggilanmu, aku mengatur mode diam di ponselku." Kinara mengangguk tidak berniat bertanya lebih jauh tentang semalam. Ia malas berdebat dengan Arjuna sepagi ini. "Mau kemana?" tanya Kinara. "Bertemu rekan bisnis papa yang kemarin, belum selesai." Kinara mengernyit. Arjuna jelas-jelas berbohong. Kemarin Argan mengatakan kalau urusan dengan rekan bisnis papa sudah selesai. Pikiran Kinara kemana-mana. Ia bahkan mulai curiga dengan Arjuna. "Tunggu aku, kita sarapan sama-sama," ucap Kinara. Arjuna tampak ragu kemudian setuju. Kinara segera masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, ia bersiap dan keluar kamar bersama Arjuna untuk sarapan di lantai 1. Kinara terus memperhatikan Arjuna yang terlihat gelisah, namun Kinara tidak mau terlihat curiga, ia diam saja sambil makan tanpa bertanya apapun. Selesai makan, Arjuna pamit menuju tempat rekan bisnisnya papa menggunakan mobil yang ia sewa di sini. Kinara mengatakan kalau akan kembali ke kamar saja istirahat, padahal Kinara sudah berniat untuk mencari tahu apa yang dilakukan Arjuna di luar sana. Ia sebelumnya telah memesan taksi online dan sudah menunggu di depan hotel. Kinara segera masuk ke dalam taksi setelah Arjuna melajukan mobilnya. Kinara meminta sopir taksi untuk mengikuti kemana pun tujuan mobil Arjuna. Kinara ingin tahu apa yang disembunyikan Arjuna, meskipun ia sudah memiliki dugaaan-dugaan, ia tetap harus membuktinya. Biarkan hati Kinara sakit sekalian mengetahui faktanya daripada ia tidak tahu apa-apa. Kinara melihat mobil Arjuna berhenti di sebuah kafe. Ia memperhatikan Arjuna turun dari mobil dan masuk ke kafe itu. Kinara segera turun dan menunggu sebentar di luar kafe, ia biarkan Arjuna duduk terlebih dahulu. Jantung Kinara berdegup kencang, ia merasa cemas dan gelisah. Kini saatnya ia harus tahu apa yang terjadi di dalam sana, Arjuna dengan siapa dan melakukan apa. Kinara merasa seperti penguntit saja, namun ia tidak peduli. Kinara menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan hingga akhirnya ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe itu. Jantung Kinara semakin berdegup kencang ketika matanya mulai mencari keberadaan Arjuna. Ia melihat Arjuna duduk sendiri di kafe itu dan sepertinya sedang menunggu seseorang. Kinara berdiri agak jauh agar tidak curiga, untung saja kafe itu sangat luas. Kinara terus memperhatikan sampai tangannya di tarik seseorang. "Pak Argan!" "Ngapain kamu di sini?" tanya Argan. "Ikut aku, Kinara." Argan menarik tangan Kinara namun segera Kinara lepas. "Cukup, pak Argan, jangan halangi aku untuk tahu." Kinara berkata lirih agar tidak menimbulkan kegaduhan. Argan hanya diam. Ia melihat mata Kinara yang mulai berkaca-kaca. Jujur saja Argan kasihan pada Kinara. Kinara menoleh untuk melihat Arjuna lagi. Betapa hati Kinara hancur melihat seorang wanita menghampiri Arjuna. Mereka berpelukan begitu lama kemudian Arjuna mencium pipi wanita itu, senyum mereka begitu lepas dan tulus. Kinara hanya diam di tempat menyaksikan itu semua di depan matanya yang sejak tadi sudah basah. Argan menarik tangan Kinara untuk keluar dari kafe. Kinara kali ini menurut dan mengikuti langkah Argan. Argan berhenti ketika mereka sudah di luar kafe, Ia kemudian berbalik dan melihat Kinara menunduk. Argan tahu wanita di depannya ini sedang menangis. Argan kembali menarik tangan Kinara dan dibawanya wanita itu di area taman dekat kafe. Argan meminta Kinara duduk, sementara Kinara masih bertahan menunduk. Argan duduk di depan Kinara tanpa berbicara apapun. Ia biarkan Kinara menangis dan tenang terlebih dahulu. Beberapa menit berlalu, Kinara mulai tenang dan mengangkat wajahnya. Ia melihat Argan menatapnya dengan khawatir. "Kinara aku bisa jelas---" "Dia.. Indira kan?" tanya Kinara. "Aku bertemu dengannya kemarin saat di hotel, tidak sengaja aku menyenggol lengannya. Dia juga berada di kafe saat aku bertemu denganmu kemarin." "Maafkan aku Kinara," ucap Argan sambil menunduk. Argan merasa bersalah kemarin telah berbohong pada Kinara. "Dia sangat cantik, murah senyum dan ramah," ucap Kinara dengan air mata yang siap terjatuh kembali. "Ini salahku. Kenapa aku harus mencintai seorang Arjuna sehingga hatiku hancur seperti ini." Kinara kembali meneteskan air matanya. "Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu, Kinara." Argan kembali mendongak untuk menatap Kinara. "Lalu salah siapa? Ini semua sudah terlanjur. Aku terlanjur mencintainya dan Juna telah menemukan cintanya kembali." Kinara tersenyum tipis namun air matanya masih saja keluar. "Aku minta maaf karena telah menutupinya kemarin, Kinara." "Jika kamu merasa bersalah, maukah kamu membantuku, pak Argan?" tanya Kinara. Argan mengangguk. Ia akan melakukan apapun untuk menebus rasa bersalahnya. "Carikan aku tiket penerbangan Jakarta hari ini juga, aku mau pulang, dan jangan beritahu Juna." Argan kaget dengan keputusan Kinara, namun ia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Kinara itu. Ia merasa kasihan melihat keadaan Kinara sekarang. Jika Kinara terus berada di sini tentu saja akan memperburuk hatinya. "Tapi, bagaimana dengan orang tua Juna kalau tahu kamu pulang dulu?" tanya Argan khawatir. "Aku tidak akan pulang ke rumah Juna."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN