Arjuna melepaskan tautan bibirnya dan tersenyum sebelum bibirnya mengecup lembut kening Kinara. Cukup lama Arjuna melakukan itu dan Kinara memejamkan matanya begitu menikmati kelembutan yang Arjuna berikan. Selesai dengan kening, Arjuna mencium mata, hidung, pipi dan terakhir bibir Kinara. Ciuman lembut berubah menjadi kasar dan menuntut. Pegangan tangan Arjuna pada kedua tangan Kinara terlepas sehingga Kinara merubah posisi tangannya melingkar di leher Arjuna.
Kinara mendorong tubuh Arjuna karena membutuhkan pasokan udara, Arjuna yang mengerti langsung melepas bibirnya dan berganti mencium leher kiri istrinya. Kinara menggigit bibirnya dan meremas rambut Arjuna untuk menyalurkan apa yang ia rasakan sekarang. Desahan keluar dari mulut Kinara saat Arjuna mengecup dan menggigit kasar lehernya. Puas dengan leher kiri, Arjuna berpindah ke leher kanan dan melakukan hal yang sama.
Arjuna beralih dari leher Kinara kemudian melepaskan kaos yang dipakainya, memperlihatkan perut six pack yang membuat Kinara reflek menyentuhnya.
"Suka?" tanya Arjuna.
Kinara hanya mengangguk karena malu untuk mengatakannya secara langsung. Kinara melihat Arjuna tersenyum menyerangi dan dengan gerakan cepat membuka baju Kinara.
"Juna, aku malu," ucap Kinara sambil menutup mukanya.
Arjuna melepaskan tangan Kinara yang menutupi mukanya kemudian mencium bibirnya kembali. Kinara terbuai dengan sentuhan-sentuhan Arjuna sampai tidak menyadari dirinya telah polos tanpa sehelai benang pun.
Arjuna mulai menyatukan tubuh mereka dengan perlahan. Kinara menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya dan mencakar punggung Arjuna.
"Junaaa, akuu men..cintaimuh.."
Arjuna menghentikan aktivitasnya dibawah sana untuk menatap Kinara yang masih memejamkan matanya.
Kinara membuka matanya dan menatap Arjuna. Sementara Arjuna diam saja tidak berusaha menjawab perkataan Kinara.
"Kenapa berhenti?" tanya Kinara.
Arjuna tersenyum dan melumat bibir Kinara lagi. Mereka melakukannya berkali-kali malam itu hingga Kinara kelelahan dan tertidur.
*****
Kinara terusik dari tidurnya ketika merasakan lengan kekar memeluknya begitu erat. Kinara membuka matanya perlahan dan melihat tangan Arjuna melingkar di pinggangnya. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya tapi justru rasa sakit yang dirasakannya di seluruh tubuh terutama bagian bawah.
"Auh, perih.." Kinara kembali menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa perihnya.
Kinara teringat tadi malam mereka memang melakukannya berkali-kali sampai capek dan tertidur. Sesuai dugaan Kinara, Arjuna begitu liar saat di atas ranjang. Bahkan dia tidak memberikan jeda untuk Kinara beristirahat.
"Juna bangun, sudah pagi!" teriak Kinara.
"Juna!"
Arjuna hanya menggeliat dan melepaskan pelukannya pada Kinara. Arjuna menarik selimut untuk menutupi kepalanya.
"Arjuna, bangun!" teriak Kinara lagi sambil menarik selimut hingga tubuh bagian atas Arjuna terekspos.
"Apa Kinar? Kamu mau lagi? Aku masih ngantuk," ucap Arjuna asal.
Kinara melotot dan mencubit lengan Arjuna dengan keras membuat suaminya itu langsung membuka matanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu harus bangun untuk menemui rekan bisnis papa, kan?"
"Jam berapa ini?" tanya Arjuna.
"Jam 7, bukankah harus ketemu jam 8?" tanya Kinara.
Arjuna tersenyum dan menarik tubuh Kinara hingga menempel di d**a bidangnya. Kinara protes tapi Arjuna justru merubah posisinya menjadi di atas Kinara. Tatapan mereka bertemu. Kinara menelan ludahnya kasar, ia takut Arjuna menerjangnya lagi.
"Satu lagi sebelum mandi," pinta Arjuna.
"Tidak, Juna. Masih sakit," jawab Kinara.
"Benarkah?"
"Kamu pikir?" Kinara siap melayangkan pukulanya pada Arjuna.
"Baiklah, aku mandi dulu." Arjuna beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi.
Kinara menenggelamkan kepalanya di bawah selimut. Rasanya seperti mimpi, tadi malam ia melakukannya dengan Arjuna. Kinara reflek menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu.
"Hari ini masa suburku, apa aku akan segera hamil? Ahhh, kenapa aku jadi sangat malu begini," monolog Kinara di bawah selimut.
Kinara mendengar pintu kamar mandi dibuka, menandakan Arjuna sudah selesai mandi. Kinara menyingkirkan selimut dari kepalanya agar bisa melihat Arjuna.
"Segeralah mandi dan sarapan," ucap Arjuna sambil mengancingkan kemejanya. Kinara kembali membayangnya perut six pack Arjuna yang begitu menggoda.
"Juna, kamu pulang jam berapa?" tanya Kinara.
"Belum tahu, kenapa?"
"Tanya saja. Aku mau jalan-jalan juga di sekitaran sini."
"Oh, oke. Kamu lagi masa subur kan, Kinar?" tanya Arjuna.
Kinara mengangguk dan melihat Arjuna sudah rapi dengan setelan jasnya. Arjuna menghampiri Kinara mengusap lembut rambut dan mencium kening Kinara.
"Semoga benihku segera menjadi janin yang mungil," ucap Arjuna sambil mengusap lembut perut Kinara.
Kinara merasa geli kemudian tersenyum pada Arjuna. Ah, andai saja mereka saling mencintai, pasti Kinara begitu bahagia.
"Kalau begitu aku berangkat," ucap Arjuna.
Kinara mengangguk dan melihat Arjuna keluar dari kamar hotel. Kinara langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai mandi, Kinara merapikan dirinya di cermin. Ia melihat banyak tanda merah di leher dan tubuhnya. Segera ia ambil cushion untuk menutupi tanda merah itu.
"Dasar Juna! Kenapa gigitannya banyak sekali. Kalau tertutup baju tidak masalah, nah ini di tempat terbuka seperti ini." Kinara mendengus kesal.
Kinara sengaja menggerai rambut sebahunya agar tanda merah itu tidak mencolok. Kinara menyambar tasnya kemudian turun ke lantai 1 untuk sarapan pagi.
Setelah keluar dari lift dan hendak menuju meja makan, Kinara tidak sengaja menyenggol lengan seorang wanita.
"Maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya Kinara.
Wanita dengan dress warna putih dan rambut disanggul itu tampak begitu cantik apalagi ditambah riasan natural di wajahnya. Dia tersenyum sangat cantik kepada Kinara.
"Aku baik-baik saja. Kamu gimana?" tanya wanita itu.
"Aku juga baik-baik saja. Sekali lagi aku minta maaf." Kinara terus memperhatikan wanita cantik, murah senyum dan sopan di depannya.
"Iya, saya permisi dulu ya." Wanita itu berjalan ke arah yang sama dengan Kinara.
Kinara segera mengambil makanan dan ditaruhnya di meja. Ia memperhatikan sekitar dan melihat wanita tadi menghampiri meja seorang laki-laki yang mungkin saja pacar, suami, atau keluarganya.
"Cantik sekali, ramah dan murah senyum pula, adem lihatnya," monolog Kinara lalu segera ia habiskan makanan di depannya.
Selesai makan, Kinara jalan-jalan di sekitar hotel menuju pantai. Ia harus puas menikmati indahnya Nusa Dua bali selama ada di sini. Kinara mencoba berbagai makanan yang dijajakan di pinggir jalan dan mengabadikan setiap momen yang ia lakukan. Hingga siang ia kembali membeli es krim gelato yang ia nikmati di pinggir pantai. Kinara melihat jam tangannya dan waktu menunjukkan jam setengah 2 siang. Kinara melihat kafe di sekitar situ dan menghampirinya. Kinara terkejut melihat Argan berdiri di depan kafe.
"Pak Argan?"
"Ki.. Kinara..kamu ngapain di sini?"
Kinara mengernyit mendengar pertanyaan Argan, bukankah sudah jelas kalau ia ingin masuk ke kafe ini? Sikap Argan tidak seperti biasanya.
"Aku lapar dan mau makan, pak Argan sendiri?" tanya Kinara.
"Niatnya juga mau makan di sini, tadi habis nerima telepon dulu."
"Juna tidak bersamamu? Bukankah kalian bertemu klien bersama?" tanya Kinara.
Kinara melihat ekspresi gugup di wajah Argan, seperti ada yang ia sembunyikan. Kinara semakin penasaran dengan sikap aneh Argan. Ia berusaha mengamati mata Argan, apakah ada kebohongan disana.
"Kami baru saja selesai, dan Juna berpisah denganku, mungkin dia sudah pulang," jawab Argan.
Entah kenapa Kinara meragukan perkataan Argan barusan. Namun, untuk apa juga Argan berbohong? Kinara masih penasaran namun karena perutnya yang lapar, ia urungkan untuk bertanya lebih jauh.
"Kinara, mau makan denganku?" ucap Argan tiba-tiba.
"Yuk," balas Kinara.
"Gak di sini. Aku mau makan steak dan aku dengar steak di sini kurang enak, baru saja aku browsing di internet."
Kinara diam dan bertanya-tanya dengan sikap Argan yang tidak seperti biasanya. Dia seakan mengajak Kinara untuk menjauhi tempat ini. Kinara justru penasaran dengan sesuatu yang ada di dalam kafe ini.
"Baiklah, tunggu di sini pak, aku masuk sebentar, aku harus ke toilet dulu."
"Baiklah."
Argan tidak melarang, tapi ia masih penasaran dan akhirnya memasuki ke dalam kafe. Kinara mencari keberadaan Arjuna namun tidak dapat ia temukan. Kinara hanya melihat wanita tadi yang sempat ia tabrak di hotel sedang duduk sendiri. Kinara mungkin hanya berlebihan. Ia segera keluar dari kafe lagi karena memang tidak ingin ke toilet, sebenarnya ia hanya berbohong pada Argan agar bisa masuk ke kafe sebentar untuk mencari Arjuna.
"Sudah?" tanya Argan.
"Yuk, pak."
Argan dan Kinara berjalan menuju mobil. Namun perasaan Kinara tidak enak sejak tadi, rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal. Apa Kinara melewatkan sesuatu saat memeriksa kafe tadi? Kinara segera menggeleng kuat. Ia tidak mau banyak berprasangka yang kurang baik.