36. Makan Malam

1111 Kata
Argan membawa Kinara ke pantai, disana terdapat tenda-tenda kecil beserta meja dan kursi makan. Tempat ini ramai pengunjung karena makan malam di temani deru ombak dan angin malam sangatlah menyenangkan. Argan membawa Kinara ke salah satu tenda berwarna putih yang agak jauh dari tenda lainnya dan disana sudah ada Arjuna duduk dengan manisnya. Kinara mengernyit heran dengan tingkah aneh Arjuna yang mempersiapkan makan malam romantis untuk mereka berdua. Aneh saja rasanya bagi Kinara karena baru saja ia melihat foto lama Arjuna makan romantis bersama wanita yang ia duga adalah Indira, sekarang gilirannya diberi kejutan makan malam oleh Arjuna. Kinara duduk dan memperhatikan suaminya yang sejak tadi duduk dengan senyum. Arjuna kemudian menyuruh Argan untuk meninggalkan tempat ini. "Kenapa mempersiapkan ini semua?" tanya Kinara. "Untuk istriku," jawab Arjuna. Jawaban Arjuna membuat pipi Kinara memerah karena malu. Arjuna yang pandai berbicara manis itu sudah mengobrak-abrik hati Kinara berkali-kali. "Malu?" tanya Arjuna yang terus menatap Kinara. "Dikit," jawab Kinara asal. Arjuna tertawa, membuat Kinara mencebikkan bibirnya kesal. Selain lapar, angin malam membuat Kinara memeluk tubuhnya sendiri. Ia hanya memakai dress selutut lengan pendek. Arjuna memperhatikan gerakan tubuh Kinara kemudian mengambil jaketnya untuk dipakaikan ke tubuh wanita didepannya itu. Sekali lagi Kinara kaget denga sikap manis Arjuna yang tiba-tiba. "Kamu gimana? Gak dingin?" tanya Kinara. "Laki-laki harus kuat dimana pun tempatnya, apalagi di ranjang," jelas Arjuna membuat Kinara malu. "Iya deh iya, terserah kamu, Jun." Kinara memalingkan muka karena malu. Perkataan Arjuna mengingatkannya kalau mereka sebentar lagi harus melakukan usaha untuk memenangkan challenge itu. Tiba-tiba tubuh Kinara merinding membayangkan betapa liarnya Arjuna di atas ranjang. Kinara memilih diam setelah itu. Jujur saja Kinara malas berdebat dengan Arjuna. Ia hanya ingin makan karena perutnya sudah lapar, namun karena pengunjung banyak, antriannya juga panjang. "Aku lapar, Jun." "Mau memakanku? Atau aku saja yang memakanmu?" Arjuna terkekeh. "Jangan bercanda, aku serius." Kinara mulai kesal. "Sebentar lagi datang, sabarlah. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu hamil, sedikit-sedikit pasti minta makan." Arjuna kembali terkekeh kemudian tertawa. Kinara melotot mendengar perkataan Arjuna. Belum apa-apa sudah membahas tentang hamil. Rasanya ingin Kinara lahap tubuh Arjuna sekarang juga agar tidak berkata-kata lagi. "Diamlah, Jun." Setelah itu makanan datang, Arjuna dan Kinara segera melahap habis makanan yang disajikan. "Makasih suami," ucap Kinara. "Hm, aku sengaja kasih kamu makan banyak, biar kuat nanti malam," goda Arjuna. "Emang nanti malam mau ngapain?" "Main," jawab Arjuna asal. "Main apa?" Kinara penasaran. Arjuna menatap malas Kinara kemudian beranjak dari kursi dan berjalan menuju sekitar pantai. Kinara mengikuti langkah Arjuna hingga berjalan sejajar dengan suaminya itu. "Juna, kamu suka pantai?" tanya Kinara. "Iya, karena dia suka...." Arjuna tidak melanjutkan perkataannnya dan memilih diam sambil memandang ombak di depannya. Kinara juga diam karena ia tahu yang dimaksud Arjuna adalah Indira. Kemungkinan tempat ini menjadi kenangan bagi Arjuna dan Indira. "Jun.." "Hm?" Arjuna menoleh untuk menghadap ke Kinara. Kinara juga melakukan hal yang sama, mata mereka saling menatap. Kinara bisa melihat kesedihan dari mata Arjuna. Mungkin saja Arjuna teringat pada Indira. Kinara maju untuk lebih dekat dengan Arjuna. Dengan mata yang masih beradu, Kinara memegang lengan kanan Arjuna. "Aku bisa membantumu untuk melupakan masa lalu. Lihat aku, hanya aku, jangan lihat yang lain," ucap Kinara kemudian berjinjit untuk mencium pipi kanan Arjuna. Kinara tersenyum dan berjalan mendekati ombak yang menyentuh pasir pantai. "Kinar, aku---" "Cukup dengarkan, gak usah kamu jawab, Jun," pinta Kinara. Kinara tidak siap mendengar jawaban Arjuna. Kinara hanya ingin membantu Arjuna untuk keluar dari masa lalunya dan menata ulang semuanya bersama seseorang di masa depannya. Arjuna berjalan menuju Kinara dan menariknya untuk jalan-jalan kembali di sekitar pantai. Kinara hanya diam dan berjalan menunduk sambil mengamati sandalnya. "Kinar?" "Iya?" Kinara mendongak untuk menatap Arjuna. "Kamu kembali ke hotel dulu ya, ada yang harus aku urus sebentar." Kinara melihat Arjuna mengedarkan pandangannya ke berbagai arah seperti melihat seseorang kemudian kehilangan jejaknnya. "Oke, baiklah." Kinara tidak ingin bertanya banyak hal pada Arjuna. Mengingat kejadian sebelumnya saat ia penasaran dan bertanya, Arjuna akan marah dan memintanya untuk tidak peduli. Kinara tidak mau merusak momen honeymoon mereka. "Argan akan mengantarmu," ucap Arjuna. Kinara hanya mengangguk dan menunggu kedatangan Argan sementara Arjuna sudah berlari menuju suatu tempat. Setelah kepergian Arjuna, Argan datang untuk mengantar Kinara kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, Kinara langsung mandi dan bersih-bersih. Ia menuju kasur dan membaringkan tubuhnya. Ia cek ponselnya yang sejak tadi menganggur dan melihat beberapa notifikasi yang ada di IG. Kinara ingin mengetikkan nama Indira dan kepo dengan wanita itu namun ia urungkan kembali. Lagi pula ia tidak tahu nama panjang Indira atau IG yang di pakainya, dan pastinya banyak nama indira-indira yang lain. Akan sia-sia jika Kinara menuruti rasa keingin tahuannya. Kinara meletakkan ponselnya di nakas dan berusaha untuk memejamkan mata namun rasanya sulit. Kinara bangkit dari kasur, menyalakan televisi dan membuat teh hangat. Kinara melirik jam yang menunjukkan pukul 9 malam dan Arjuna belum pulang juga. Kinara segera menghabiskan tehnya dan berniat mencoba tidur kembali namun pintu kamar di ketuk seseorang dari luar. Kinara mengintip dari lubang kecil dan langsung membuka pintu. Arjuna masuk ke kamar tanpa mengucap apapun kemudian langsung menuju kamar mandi. "Belum tidur?" tanya Arjuna saat keluar dari kamar mandi. "Sudah di coba dari tadi, tetep saja gak mau merem," jawab Kinara yang berbaring di kasur sambil melihat televisi. Arjuna mengusap rambutnya yang basah sengan handuk, membuat Kinara menelan ludahnya berkali-kali. Arjuna telihat lebih tampan dua kali lipat dengan rambut basahnya. Kinara menggeleng, ia buang pikiran-pikiran liarnya. "Kenapa?" tanya Arjuna. "Gakpapa, Jun." Kinara gugup dan berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Arjuna menarik selimut Kinara ke bawah dan naik keatas kasur untuk berbaring di samping Kinara. "Junaa!" protes Kinara. "Hahaha." Ketawa Arjuna membuat Kinara kesal. Kinara ingin menarik selimutnya kembali namun tubuhnya ditahan oleh Arjuna. "Jangan," ucap Arjuna. Kinara memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Arjuna. Begitu pula dengan Arjuna, memiringkan tubuhnya untuk menghadap Kinara. "Kinar?" "Hm?" "Apa.. kita bisa melakukannya sekarang?" tanya Arjuna. Kinara diam, mulutnya seakan sulit untuk menjawab pertanyaan Arjuna. Kinara bahkan diam saja ketika tangan Arjuna sudah membuka satu persatu kancing baju tidur Kinara dan menyisakan satu buah paling bawah. "Bagaimana, Kinar?" Arjuna menyentuh kancing baju tidur paling bawah milik Kinara "Kamu diam, berati setuju," ucap Arjuna lagi. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Hanya saja ini tidak sesuai dengan perjanjian, Jun." Kinara menatap sendu mata Arjuna. "Kita terjebak dengan situasi ini, Kinar. Kita harus memenangkan challenge itu," jawab Arjuna. Kinara mengangguk. Arjuna menyelipkan rambut Kinara ke belakang telinga kemudian ia sentuh pipi, hidung dan bibir Kinara dengan jarinya. "Jun?" "Iya?" "Berjanjilah untuk pelan-pelan, ini pertama kali buatku," ucap Kinara dengan lirih karena malu. Arjuna tersenyum dan mendekatkan bibirnya untuk melumat bibir tipis Kinara. Arjuna merubah posisinya di atas tubuh Kinara dengan bibir yang masih menyatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN