Kinara mengirimkan pesan pada Safira untuk share lokasi tempat mereka janjian. Setelah mendapatkan balasan dari Safira, Kinara segera menuju tempat itu.
Kinara melihat Safira menunggunya di depan perusahaan WO langganan keluarga Atmaga. Safira tidak sendiri, disampingnya berdiri wanita cantik bernama Agatha. Kinara berlari kecil menuju dua wanita yang menunggunya itu. Senyum sumringah melekat di bibir Kinara. Ia berusaha melupakan rasa kesalnya pada Arjuna, dan beruntungnya Kinara, Agatha ikut bersama Safira. Kinara menyukai Agatha, berbicara dengan Agatha membuat mood Kinara membaik.
"Kinara, sini," panggil Agatha.
Kinara mencium tangan Safira kemudian memeluknya. Setelah itu, gantian Kinara memeluk Agatha. Kinara baru saja bertemu wanita ini tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun mengenalnya.
"Loh, Juna kemana, Kinar?" tanya Safira.
"Juna ada urusan sebentar, tante. Dia memintaku untuk menemui tante dulu," jawab Kinara.
"Sepenting apa urusannya itu sampai melewatkan persiapan pernikahan kalian?" tanya Agatha
"Nanti biar ibu yang marahin ya, sayang." Safira mengelus lembut rambut Kinara.
"Gak usah dipikirin, Kinar. Kita senang-senang bertiga saja deh," ucap Agatha.
Kinara hanya mengangguk kemudian mengikuti Safira bertemu dengan panitia WO. Gambaran acara pernikahan Arjuna dan Kinara yang digelar tertutup dipaparkan oleh panitia WO. Safira sengaja mendatangi langsung tempat ini sekalian jalan-jalan dengan Agatha dan Kinara. Acara pernikahan akan digelar tertutup, artinya hanya pihak keluarga dan beberapa tamu penting yang datang.
Setelah berdiskusi dengan panitia WO, tiga wanita itu memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Kinara sebenarnya tidak terlalu suka jalan-jalan di pusat perbelanjaan, tapi demi menghormati calon ibu mertuanya, Kinara menyetujuinya.
Safira dan Agatha begitu antusias mencoba beberapa baju sementara Kinara bingung harus melakukan apa. Ia jarang sekali ke mall, bahkan untuk membeli baju-baju branded dengan harga selangit saja ia belum mampu, lebih baik uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Safira dan Agatha memaksa Kinara memilih baju, bahkan mereka memilihkan beberapa lingerie agar dipakai Kinara di malam pertamanya dengan Arjuna. Kinara merinding memegang pakaian tidur kurang bahan itu, apalagi membayangkan aktivitas malam pertama, membuat Kinara bergidik ngeri.
"Ibu ingin sekali loh Kinar, segera menimang cucu. Kamu tahu sendiri kan, Rama dan Lisa belum memiliki anak, ibu harap kamu segera hamil setelah menikah," ujar Safira.
Kinara hanya tersenyum dan mengangguk. Safira memiliki harapan besar pada pernikahannya nanti, semantara ia dan Arjuna hanya menikah kontrak, tidak ada cinta dan hubungan layaknya suami istri.
Selesai membeli baju, tiga wanita beda usia itu makan di salah satu tempat makan mall. Ketiganya begitu antusias bercerita, Safira yang berumur lebih dari dua kali lipat umur Kinara, bisa menyesuaikan diri dengan obrolan anak muda sekarang.
Saat aktivitas makan berlangsung, Arjuna datang menghampiri meja mereka. Dengan santai, ia duduk disebelah Kinara dan mencium pipinya. Kinara terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba, sementara Arjuna bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Dih, datang-datang langsung nyosor, Jun," ejek Agatha.
"Gakpapa, sama calon istri." Arjuna melirik Kinara.
Kinara hanya tersenyum karena malas menatap Arjuna. Ia masih kesal dengan perlakuan Arjuna yang seenaknya sendiri.
"Nah gitu, Jun. Kamu harus perhatian sama Kinara. Kamu darimana?" tanya Safira.
"Ada urusan sebentar sama Argan, bu." Arjuna melirik Kinara yang hanya diam tidak mau merespon perkataan Arjuna.
"Kinara marah ya sama Juna?" tanya Agatha.
"Hah? Enggak kok, Tha. Cuma kesel saja," jelas Kinara.
"Kasihan deh, Juna, hahahaha." Agatha tertawa diikuti Safira.
Safira memaksa Arjuna untuk minta maaf pada Kinara, dan dengan terpaksa Kinara memaafkan Arjuna di depan calon mertuanya itu. Selesai makan, Safira dan Agatha pulang ke rumah, sementara Kinara di antar oleh Arjuna.
Selama perjalanan hanya diisi oleh keheningan di dalam mobil. Baik Arjuna dan Kinara tidak mau mengalah untuk berbicara duluan. Setelah sampai di kontrakan, Kinara langsung keluar dari mobil tanpa mengucap permisi.
Arjuna ikut turun dan berjalan di belakang Kinara. Arjuna kemudian menarik tubuh Kinara dari belakang sehingga tubuh Kinara membentur tubuh Arjuna. Mata hazel Arjuna bertatapan dengan mata cokelat Kinara.
"Juna, lepas!"
Arjuna melepas tangannya dari tangan Kinara perlahan. Mata mereka masih beradu. Kinara segera memalingkan muka, ia tidak kuat lama-lama menatap mata Arjuna.
"Maafkan aku," ucap Arjuna lirih.
"Untuk apa?" tanya Kinara.
"Maaf, aku menyuruhmu turun di jalan."
"Hanya itu? Pulanglah!"
Kinara kesal. Ia berbalik dan berjalan ke arah pintu kontrakannya. Kinara menghela napas perlahan untuk menetralkan emosinya, ia meraih gagang pintu, namun langkahnya terhenti karena Arjuna memeluknya dari belakang.
"Juna!"
"Diam!" Arjuna mengeratkan pelukannya dan menikmati hangat tubuh Kinara.
"Lepas! Aku ngantuk, mau tidur." Kinara memberontak tapi sia-sia, bukannya melepas pelukannya, Arjuna justru semakin erat mendekap tubuh Kinara dari belakang.
"Maafin dulu," bujuk Arjuna.
"Lepas dulu!"
"Janji di maafin." Arjuna merengek seperti anak kecil, membuat pendirian Kinara goyah.
"Iya, lepas dulu."
Arjuna melepaskan tubuh Kinara dan membalik tubuhnya agar tatapan mereka bertemu kembali.
"Aku harus mendadak pergi untuk bertemu dengan Argan. Ada hal yang harus aku lakukan. Maaf, aku mengusirmu dari mobil tadi siang," jelas Arjuna.
"Harus ya, menurunkanku di jalan dengan marah seperti tadi siang?"
"Maaf, aku terbawa emosi. Aku buru-buru dan tujuan kita gak searah, Kinar."
Kinara diam sejenak. Ia sebenarnya ingin tahu apa yang dilakukan Arjuna dengan Argan sampai harus terburu-buru seperti itu. Kinara ingin bertanya pada Arjuna namun segera ia urungkan karena sepertinya Kinara sudah terlalu jauh menggunakan perasaannya. Ia menjadi ingin tahu segala hal yang dilakukan Arjuna termasuk semua yang berkaitan dengan masa lalu Arjuna. Bukankah seharusnya Kinara bersikap acuh saja? Entahlah. Kinara semakin bingung dengan dirinya sendiri.
"Aku memaafkanmu, Jun. Sekarang, pulanglah," pinta Kinara.
"Makasih, Kinar."
"Kita akan segera menikah. Aku gak mau tante Safira melihat kita sedang musuhan. Aku tidak mau mengecewakannya."
"Baiklah."
Arjuna tersenyum dan mendekati Kinara yang semakin mundur sampai tubuhnya membentur pintu. Kinara berusaha mendorong tubuh Arjuna agar menjauh darinya namun sekali lagi sia-sia.
"Juna, kamu mau ap--"
Arjuna membungkam bibir Kinara dengan bibirnya. Ciuman Arjuna kasar dan menuntut membuat Kinara tidak bisa mengimbanginya. Kinara memukul d**a bidang Arjuna agar laki-laki itu melepaskan ciumannya.
Kinara segera bernapas setelah bibir mereka terlepas.
"Cukup! Pulanglah, Jun."
"Gak! Aku mau menginap disini." Arjuna membuka pintu kontrakan Kinara dan masuk begitu saja.
"Tapi Jun---"
"Aku mau mandi. Kamu mau ikut mandi bersamaku?"
Kinara merinding mendengar ajakan Arjuna. Ia tidak habis pikir, saat seperti ini otak m***m Arjuna masih saja bekerja aktif.
Kinara menggelengkan kepala dan membelakangi Arjuna. Ia ingin menuju sofa sambil menunggu Arjuna mandi. Belum sempat duduk, tubuh Kinara merinding kembali karena dipeluk Arjuna dari belakang.
"Juna!" teriak Kinara.
"Sebentar saja."
"Juna, tanganmu jangan nakal!"
"Dikit."
Kinara ingin menolak, nyatanya ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Arjuna. Hati Kinara ingin memberontak namun tubuhnya berkata tidak. Sungguh, Kinara benci berada di keadaan ini. Ingin sekali tidak melibatkan perasaan dan hati, tapi nyatanya begitu sulit.
Kinara bertanya-tanya, jika Arjuna masih mencintai dan merindukan Indira, kenapa tidak menikah saja dengan wanita itu? Kenapa harus melibatkan dirinya seperti ini? Lalu dimanakah wanita itu?
Ingin bertanya pada Arjuna, Kinara yakin dia akan marah lagi, sementara pernikahan mereka tinggal 3 hari lagi. Kinara tidak mau mengecewakan semua pihak termasuk Safira yang menaruh harapan pada pernikahan ini. Sebisa mungkin ia dan Arjuna harus berpura-pura sebagai calon pengantin yang akur dan bahagia.
"Jun?"
"Hm."
"Kamu masih mencintainya, kan?"
"Jangan tanyakan yang lain saat aku sedang bersamamu!"
Kinara diam. Ia malas kalau harus berdebat lagi dengan Arjuna. Terserah saja, Kinara hanya harus bertahan dalam hubungan ini selama satu tahun. Hubungan yang entah akan seperti apa nantinya.
"Auuh, Juna sudah! Sana mandi!" Kinara berusaha melepas tangan Arjuna dari tubuhnya.
"Baiklah."
Arjuna membalik tubuh Kinara dan mendaratkan ciuman di bibir tipis milik Kinara. Kinara berusaha melepas namun Arjuna tetap bertahan dan semakin menuntut.
Buugggh
"Auuuuh, Kinar!" Arjuna meringis sambil memegang aset berharganya. Kinara baru saja menendangnya.
"Sudah ku bilang untuk mandi!" jawab Kinara ketus.
"Awas, Kinar. Setelah menikah akan ku buat kamu tidak bisa jalan!" Arjuna mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Kinara masih mencerna perkataan Arjuna, kemudian tiba-tiba ia merinding.
Dasar m***m!