Kinara meremas kedua tangannya ketika MUA memoles wajahnya dengan riasan-riasan tipis. Kinara sengaja meminta polesan tipis natural karena ia tidak suka dengan make up yang tebal dan terlalu menor. Gugup, takut dan perasaan lainnya campur aduk menjadi satu.
"Rileks sayang, kamu gugup?" tanya wanita berusia 30 tahunan yang sedang memberikan eyesadow pada matanya.
"Iya kak, maaf aku gerak terus," ucap Kinara.
"Biasa itu, gakpapa kok. Apalagi kamu akan bersanding dengan Arjuna Atmaga. Ah tampan sekali, kamu beruntung sayang," ujar wanita itu.
Kinara hanya tersenyum. Wanita itu tidak tahu saja kalau pernikahan ini hanya pura-pura belaka. Seandainya Arjuna benar-benar mencintai Kinara kemudian memutuskan untuk menikah, itu baru yang namanya beruntung.
"Memang kalian ketemu dimana?"
"Kantor, kak," jawab Kinara.
"Siap-siap ya, sayang. Kalian pasti menghabiskan malam pertama yang panjang. Gagah sekali calon suamimu," celetuk wanita tadi sambil memasang bulu mata.
Kinara menelan ludahnya kasar. Bayangan malam pertama menguasai pikirannya. Astaga, sepertinya sifat m***m Arjuna sedikit menular pada Kinara.
Riasan selesai, wanita itu menata rambut Kinara yang di sanggul dengan indahnya. Kemudian Kinara berganti baju kebaya modern yang telah ia coba sebelumnya.
"Kinar."
Kinara menoleh dan melihat ibu Linda, Risa dan Dona sedang berjalan ke arahnya. Senyum sumringah melekat di bibir Kinara. Ia begitu bahagia melihat keluarganya disini untuk menyaksikan pernikahannya.
"Aku kangen sama kalian," ucap Kinara setelah mencium tangan ibu Linda.
"Kamu cantik sekali, Kinar," sahut Risa.
"Luar biasa cantik," celetuk Dona.
"Makasih ya, kak." Kinara memeluk Risa dan Dona--kakak panti yang paling dekat dengannya. Mereka selalu berbagi cerita dan pengelaman hidup masing-masing.
"Kinar, ibu Diana ingin video call." ibu Linda menyerahkan ponselnya agar Kinara bisa ngobrol dengan ibu Diana. Kinara hampir saja meneteskan air mata namun segera ia tahan agar make up di wajahnya tidak luntur.
*****
Kinara dibawa ke meja tempat ijab qobul akan dilaksanakan. Ia melihat Arjuna sudah ada disana. Jantung Kinara berdetak dua kali lebih cepat, apalagi ia lihat Arjuna begitu tampan dan gagah dengan setelan jas berwarna hitam. Mata Kinara hanya tertuju pada Arjuna, sungguh debaran itu berkali-kali hadir di hatinya.
Saat ijab qobul, Kinara berkali-kali menggibit bibir bawahnya karena gugup, namun Arjuna mengucapkannya dengan lantang dan tegas dalam satu tarikan napas. Kinara bernapas lega, walaupun pernikahan ini hanya pura-pura, melihat Arjuna mengucapkan ijab qobul dengan lantang membuat Kinara merasakan bahagia, haru, sekaligus sedih dalam waktu bersamaan. Kinara meneteskan air mata dan dengan cepat diusapnya dengan perlahan.
Arjuna memasangkan cincin di jari manis Kinara, begitu pula sebaliknya. Kinara tidak menyangka kalau dirinya sudah sah menjadi istri seorang Arjuna. Laki-laki tampan yang beberapa hari belakangan telah mengobrak-abrik hatinya. Membuatnya terbang ke angkasa dan dengan sekejap menjatuhkannya ke dasar bumi. Mengukir senyum di bibir Kinara kemudian membuatnya menangis berhari-hari.
Sekali lagi, Kinara tidak mau berekspektasi tinggi dengan pernikahan ini karena semua hanya pura-pura. Seandainya perasaan Kinara pada Arjuna juga hanya pura-pura, sayangnya ia sudah jatuh hati dengan laki-laki yang sekarang sah menjadi suaminya itu. Tapi, Kinara bertekad untuk menghilangkan rasa ini meskipun ia tahu akan lebih sulit dari dugaannya.
Suara pembawa acara membuat lamunan Kinara buyar, ia harus mengikuti acara selanjutnya.
Kinara mencium punggung telapak tangan kanan milik Arjuna. Ada desiran di d**a Kinara saat melakukannya dan hatinya pun berdebar tidak karuan. Kinara mendongak menatap Arjuna, rasa gugup dalam sekejap menguasi dirinya. Arjuna berjalan mendekat dan menarik tubuh Kinara hingga bibirnya menempel di kening istrinya itu. Cukup lama Arjuna melakukannya hingga sorak sorai tamu yang hadir membuat Arjuna melepaskan bibirnya dari kening Kinara.
Para tamu undangan meminta Kinara untuk mencium Arjuna. Rasanya begitu malu, namun Kinara harus melakukannya. Meskipun Kinara sudah memakai sandal hak tinggi ia harus berjinjit untuk menggapai pipi Arjuna. Sorak sorai tamu kembali terdengar membuat Kinara malu dan menjauhkan bibirnya dari pipi Arjuna.
Acara selanjutnya adalah menyantap hidangan pernikahan dan mengucapkan selamat kepada pengantin. Kinara melihat Amel menghampirinya. Amel adalah satu-satunya tamu dari kampusnya yang datang ke pernikahan Kinara. Amel memeluk Kinara dan mengucapkan selamat kepada sahabatnya itu.
"Selamat ya, Kinara. Astaga gak nyangka banget lo sudah nikah. Pokoknya bahagia untuk kalian." Amel kembali memeluk Kinara.
"Makasih ya, Mel. Gue bahagia banget lo datang kesini," balas Kinara.
"Pasti dong. Gue mau lihat sahabat terbaik gue nikah. Lo cantik banget," puji Amel.
"Makasih Amel sayang."
Amel mengangguk, memberi selamat pada Arjuna kemudian kembali bersama tamu lainnya.
Lisa, Rama dan Laura menghampiri Kinara dan Arjuna. Sejak acara dimulai mereka tidak menunjukkan senyum tulus sama sekali. Kinara berusaha tidak peduli, karena mereka memang tidak menyetujui pernikahan ini.
"Selamat ya, Jun." Rama memberikan selamat dan memeluk adiknya itu.
"Makasih, kak." Arjuna membalas pelukan Rama. Bagaimanapun juga mereka saudara kandung.
"Selamat, Jun." Lisa mengulurkan tangannya pada Arjuna dan Kinara. Ekspresinya masih sama sinis dan angkuh.
"Selamat, Jun. Kalau kamu mau menceraikan istrimu, aku siap kapanpun menjadi penggantinya," ucap Laura sambil tersenyum mengejek pada Kinara.
Kinara hanya melongo mendengar perkataan Laura. Sungguh wanita yang berani dan arogan, pikir Kinara.
"Makasih, Laura. Sayangnya, aku tidak akan menceraikan, Kinara," balas Arjuna.
"Oh yah? Meskipun dia sudah kembali?" tanya Laura.
Kinara terkejut mendengar pertanyaan Laura. Kembali? Apa yang di maksud Laura adalah Indira? Apa benar Indira sudah kembali? Hati Kinara begermuruh. Entah kenapa ada perasaan takut jika benar Indira sudah kembali.
Kinara melirik Arjuna. Suaminya itu mengepalkan tangan dan terlihat menahan emosinya.
"Bukan urusanmu, Laura," ucap Arjuna.
"Yah, memang bukan urusanku. Benar kan, Kinara?" Laura tersenyum mengejek pada Kinara.
Kinara tidak berniat membalas perkataan Laura. Ia hanya membalas senyum sebagai bentuk keramahannya pada tamu undangan.
"Baiklah, kita pergi dulu Jun dan juga adik ipar," ucap Lisa dengan penekanan pada kata 'adik ipar'.
Kinara kembali tersenyum menanggapi perkataan Lisa. Ia tidak mau ambil pusing dengan kakak iparnya itu, mau membenci atau menyukainya, itu terserah Lisa.
Senyum Kinara kembali merekah ketika Agatha berlari kecil menghampiri Kinara. Ia memeluk Agatha erat. Agatha adalah anak dari adik Safira. Agatha kecil tinggal di rumah Arjuna karena ibunya telah lama meninggal sementara papanya menikah lagi dan tinggal bersama istri barunya.
"Selamat Juna dan Kinara. Ah, kamu cantik sekali, Kinara. Awas ya hati-hati nanti malam, Juna ganas soalnya. Hahaha." Agatha tertawa.
"Diam deh, anak kecil gak usah ikut komentar," ketus Arjuna.
"Dih, aku bukan anak kecil ya, enak saja! Aku kan seumuran Kinara," celetuk Agatha.
"Anak kecil tetap anak kecil," ejek Arjuna.
"Diamlah, Jun."
Agatha tidak berniat menanggapi Arjuna lagi, ia mengobrol dengan Kinara sebentar, lalu pergi menemui tamu yang lain. Selepas kepergian Agatha, Argan datang untuk mengucapkan selamat pada pengantin.
"Selamat, Jun." Argan memeluk Arjuna.
"Makasih, Gan."
"Selamat Kinara, kamu cantik," puji Argan sambil melirik ke arah Arjuna yang mulai menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Sepertinya ada yang kesal aku memujimu, Kinara."
"Diamlah, dan segera pantau keadaan tamu undangan," sahut Arjuna.
"Baiklah. Gue di usir nih? Hahaha." Argan tertawa lalu berjalan meninggalkan pengantin itu.
Kinara tertawa pelan. Ia tidak tahu Arjuna memang cemburu atau hanya ating belaka, namun melihat ekspresi muka Arjuna membuat Kinara senang.
Tamu-tamu undangan mulai bersalaman dengan pengantin. Kinara mulai capek harus berdiri menyapa dan menyalami tamu yang hadir hingga acara selesai.
Setelah acara resepsi, Safira dan Ardi memberikan kunci rumah kepada Kinara dan Arjuna. Rumah itu terletak di sebelah kanan rumah utama milih mereka. Sama halnya dengan Rama dan Lisa, juga mendapat rumah di sebelah kiri rumah utama. Safira dan Ardi sengaja membangun rumah di dekat rumah utama agar Arjuna dan Rama tidak jauh dari mereka.
Kinara begitu gugup saat menerima kunci rumah itu karena mulai saat ini ia harus tinggal serumah dengan Arjuna. Kehidupan baru seorang Kinara dimulai dari sini.