Sebelum memasuki rumah baru, Arjuna dan Kinara berkumpul dengan keluarga besar Atmaga. Arjuna melewatkan pertemuan itu karena harus bertemu dengan Argan di ruang kerjanya. Sebenarnya Kinara penasaran dengan sikap aneh Arjuna setelah resepsi selesai. Arjuna menjadi gelisah dan tidak fokus, namun apa daya, Kinara harus tertahan di antara keluarga besar Atmaga untuk mendapatkan wejangan-wejangan seputar kehidupan rumah tangga.
Jujur saja Kinara mulai bosan dan mengantuk, rasanya seperti di ceramahi oleh senior-senior yang berpengalaman. Sebenarnya yang mereka katakan adalah ilmu yang bisa dipakainya dalam menjalani rumah tangga yang sesungguhnya, namun karena keadaan tubuh yang lelah membuat Kinara ingin secepatnya beristirahat.
Kinara akhirnya bisa keluar sejenak dari pertemuan keluarga itu dengan ijin ke toilet. Ia berjalan ke toilet dan bertemu dengan Laura disana.
"Laura," sapa Kinara.
"Eh ada pengantin baru," ucap Laura.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Kinara penasaran dengan ucapan Laura sebelumnya.
"Tanya apa? Males sebenarnya, aku hanya kasihan padamu yang sepertinya penasaran," ejek Laura.
Kinara daritadi berusaha sabar menghadapi Laura. Ia menahan emosinya dan tetap tersenyum.
"Apakah Indira sudah kembali?" tanya Kinara langsung, ia memang tidak mau berurusan lama dengan Laura.
"Tahu darimana tentang Indira?" tanya Laura.
"Tidak penting aku tahu darimana. Jadi, apakah dia sudah kembali?"
"Kenapa? Kamu takut dicampakkan oleh Arjuna jika dia kembali?" tanya Laura mengejek.
.
"Aku tidak takut. Aku hanya penasaran saja," jawab Kinara.
Toh jika Arjuna mencampakkannya setelah menikah, Kinara bisa bebas dan menikmati hidupnya lagi tanpa bayang-bayang Arjuna.
"Mungkin saja dia sudah kembali. Persiapkan dirimu untuk memiliki banyak pesaing. Jangan lupakan bahwa aku juga masih mencintai Arjuna." Laura tersenyum dan pergi meninggalkan Kinara yang masih berdiri di dalam toilet.
Perkataan Laura tidak memberikan jawaban pasti apakah Indira sudah kembali atau belum. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah Arjuna sudah menemukan keberadaan Indira? Kinara mengetuk pelan kepalanya, kenapa ia harus memikirkan ini semua? Bukankah seharusnya ia tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadi Arjuna? Ah semuanya begitu rumit bagi Kinara.
Kinara segera kembali ke keluarga Atmaga, disana sudah ada Arjuna yang menunggunya. Sebagian keluarga juga sudah pulang. Kinara segera menghampiri Arjuna.
*****
Kinara duduk di tepi kasur yang sudah dihiasi bunga-bunga mawar. Sungguh menggelikan, bunga-bunga itu disusun menyerupai bentuk hati. Saat ini mereka sudah berada di rumah baru pemberian orangtua Arjuna. Kinara sudah membersihkan dirinya sementara Arjuna masih berada di kamar mandi.
Kinara daritadi merasa gugup, padahal seharusnya tidak tejadi apa-apa di malam pertama mereka. Tapi, mengingat otak Arjuna yang seperti itu, mungkin saja dia akan berubah pikiran. Ah tidak, Kinara menggelengkan kepalanya pelan, untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang binggap di otaknya.
Kinara mendengar pintu kamar mandi terbuka, seakan menambah kegugupannya. Ia segera menyingkirkan bunga-bunga itu dan membaringkan tubuhnya di kasur. Kinara mengamati Arjuna keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang ke bawah. Lagi-lagi ia harus menelan ludahnya kasar melihat tubuh Arjuna. Sementara Arjuna daritadi hanya diam menuju lemari untuk mengambil baju gantinya. Kinara segera memasukkan kepalanya ke dalam selimut ketika Arjuna berganti baju di depannya. Kinara tidak siap dengan pemandangan yang sangat asing baginya.
"Kamu kenapa, Kinar?" tanya Arjuna.
"Kamu yang kenapa ganti baju sembarangan?"
"Sembarangan apanya? Aku ganti baju di kamar, bukan di trotoar," jawab Arjuna.
Jawaban Arjuna membuat Kinara kesal sekaligus ingin tertawa, ya mana ada orang ganti baju di trotoar. Kalau ada berati pikiranya sudah tidak waras.
Kinara merasakan seseorang naik keatas kasur dan berada tepat di atasnya. Kinara membuka selimut yang menutupi kepalanya, dan benar saja Arjuna sudah ada di atasnya.
"Kenapa belum tidur? Menungguku untuk malam pertama kita?" tanya Arjuna yang sukses membuat Kinara tiba-tiba gugup.
"Enggak! Aku emang belum bisa tidur," sahut Kinara asal.
"Benarkah?" Arjuna mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga kanan Kinara.
"Tapi aku harus pergi, Kinar. Ada yang harus aku urus dengan Argan." Arjuna bangkit dari kasur dan menuju lemari untuk mengambil jaketnya.
"Harus sekarang?" tanya Kinara.
"Hm."
"Kenapa tidak besok saja? Maksudku, kamu tidak capek seharian mengikuti acara resepsi? Lagian sudah jam 9 malam." Jujur saja Kinara khawatir dengan Arjuna.
"Jangan khawatir, aku akan memberikan malam pertamamu besoknya lagi," ucap Arjuna sambil duduk di dekat Kinara.
"Bukan itu maksudku!" ucap Kinara kesal.
Arjuna tersenyum dan mendekatkan bibirnya untuk menempel di bibir Kinara. Awalnya hanya kecupan biasa kemudian berubah menjadi lumatan yang menuntut. Arjuna menekan tengkuk Kinara untuk memperdalam ciuman mereka. Kinara memukul d**a Arjuna dan segera dilepaskannya bibir itu dari bibir Kinara.
"Aku harus pergi."
Kinara tidak berniat merespon ucapan Arjuna. Ia hanya duduk di kasur sambil memandang suaminya itu keluar dari kamar. Pikiran Kinara kemana-mana, harusnya malam ini mereka tetap di kamar, jika bukan melakukan hubungan suami istri setidaknya mereka istirahat karena seharian lelah dengan acara pernikahan.
Tiba-tiba Kinara ingat perkataan Laura tadi, mungkin saja Indira memang sudah kembali dan Arjuna menemuinya. Seharusnya Kinara tidak peduli, tapi nyatanya ia justru khawatir. Kinara beranjak dari kasur dan mengambil ponsel yang diletakannya di meja. Ia buka kontak atas nama Arjuna dan berkali-kali Kinara ingin memencet tombol memanggil namun ia urungkan. Jadilah Kinara hanya mondar-mandir dengan gelisah.
"Kinar, kamu apa-apaan sih. Kenapa harus peduli dengan kehidupan Arjuna. Please Kinar, sadarlah. Pernikahan ini hanya pura-pura." Kinara memukul kepalanya pelan kemudian meletakkan kembali ponselnya di meja.
Kinara kembali menuju kasur. Sekuat apapun ia berusaha memejamkan matanya, namun belum juga tertidur. Kinara kesal dengan dirinya sendiri. Ia ambil kembali ponsel di atas meja lalu ia menyalakan lagu dan ditaruh kembali ponselnya di atas nakas samping kasur. Dengan perlahan Kinara mulai menutup mata dan melupakan sejenak kekhawatirannya pada Arjuna.
Kinara terbangun dari tidurnya, ia melihat jam menunjukkan pukul 00.45, Kinara melihat ke samping dan tidak ada Arjuna. Kinara berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari depan membuat Kinara takut. Ia mengendap-endap menuju pintu depan, siapa tahu itu maling.
Kinara mengambil apapun yang bisa digunakan untuk memukul. Ia melihat seseorang masuk ke dalam rumah, langkahnya gontai kemudian terjatuh. Kinara menajamkan penglihatannya dan terkejut saat tahu orang itu adalah Arjuna. Kinara segera menghampiri Arjuna dan membantunya bangun.
"Juna, kamu darimana? kenapa kamu... kamu mabuk? Astaga."
Kinara membantu Arjuna berjalan menuju kamar, sementara Arjuna daritadi hanya diam tanpa menjawab ocehan Kinara.
Dengan susah payah Kinara menuntun Arjuna masuk ke kamar. Kinara memegang tubuh Arjuna untuk menghadap ke arahnya, ia ingin melepas jaket Arjuna.
"Aku merindukanmu.." Arjuna mulai meracau.
"Aku lepas dulu jaket---"
Belum selesai bicara Arjuna sudah membungkam bibir Kinara dengan bibirnya. Kinara tidak berdaya, Arjuna menciumnya dengan kasar. Kinara berusaha mendorong tubuh suaminya itu tapi nihil, justru Arjuna mengangkat tubuhnya dan di dorongnya ke atas kasur.
"Juna, kamu mabuk."
Arjuna menindih tubuh Kinara dan kembali mencium bibirnya dengan rakus. Puas dengan bibir beralih menuju leher. Ia cium dan gigit leher Kinara.
"Juna, hentikan!"
Arjuna mendongak kemudian melepas jaket dan bajunya. Ia juga melepas paksa kancing baju tidur milik Kinara. Kinara memberontak tapi sia-sia, kancing baju Kinara sudah terlepas semuanya. Air mata kembali membasahi pipi Kinara. Ia tidak mau melakukan dengan keadaan seperti ini.
"Aku merindukanmu, Indi. Akan ku jadikan kamu milikku seutuhnya."
Deg
Deg
Dugaan Kinara benar, Arjuna masih mencintai Indira. Saat mabuk begini, Arjuna bisa jujur dengan perasaannya. Air mata kembali mengalir dari mata Kinara.
"Sadar, Jun. Aku Kinara, bukan Indira. Lepaskan aku!"
Arjuna menatap Kinara, kemudian kembali mencium bibir Kinara dengan rakus. Beberapa detik kemudian ia lepaskan bibir Kinara dan kembali menatap Kinara yang sudah kehabisan tenaga.
"Aku mencintaimu, tapi kenapa kamu meninggalkanku!" bentak Arjuna.
"Sudah kubilang aku bukan---"
Kinara tidak bisa melanjutkan bicaranya karena Arjuna mencekik lehernya.
"Jun..na..le..pas..kan!"