29. Melupakan

1309 Kata
"Jun..na..le..pas..kan." Kinara menarik tangan Arjuna dari lehernya, namun cengkeraman tangan Arjuna semakin kuat. Kinara kesusahan bernapas, sekuat apapun Kinara menyadarkan Arjuna, namun suaminya itu masih berada dibawah pengaruh alkohol dan seakan tidak bisa mendengar apapun di sekitarnya. "Indira kamu..." Arjuna melepaskan tangannya dari leher Kinara dan tubuhnya ambruk di sebelah kanan istrinya itu. Kinara terbatuk-batuk sambil memegang lehernya. Rasanya sakit, Kinara bahkan berpikir kalau hidupnya akan berakhir di tangan Arjuna saat itu juga. Ia bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup. Kinara melihat ke samping dan melihat Arjuna terlelap tidur. Ia geser tubuh Arjuna yang menimpa tubuhnya, tulang-tulang Kinara seperti remuk tertimpa tubuh Arjuna, segera ia bangkit menuju kamar mandi. Kinara kembali ke kamar dan melihat Arjuna masih telelap tidur. Ingatan Kinara kembali ke beberapa menit yang lalu saat Arjuna mengatakan kalau masih mencintai Indira dan ingin memiliki wanita itu seutuhnya. Tiba-tiba Kinara kesal dan marah dengan sikap Arjuna tadi, ia ambil vas kaca yang ada di meja dan mendekati Arjuna. Rasanya ingin memukul kepala Arjuna dengan Vas ini sampai berdarah. Pikiran liar Kinara menjelajah kemana-mana. Kinara naik ke atas kasur, mengayunkan tangannya yang memegang vas keatas untuk dibenturkan di kepala Arjuna. Kinara menangis dan menurunkan tangannya, ia tidak punya keberanian untuk melakukan itu. Kinara menyesali niat buruknya. Segera ia bangkit dari kasur namun pinggangnya ditarik oleh Arjuna hingga tubuhnya terjatuh di sebelah suaminya itu. Arjuna segera mendekap tubuh Kinara dari belakang. Kinara berusaha melepaskan tangan kekar Arjuna yang melingkar di pinggangnya, namun sia-sia. "Indi.." Arjuna mulau mengigau. Kinara berusaha melepaskan lagi dekapan Arjuna, namun justru dekapan itu semakin erat. "Indira, Indira, Indira terus!" ucap Kinara kesal. "Kinar.." "Jangan pergi Kinar.." Arjuna semakin mendekap erat Kinara. Kinara tidak tahu Arjuna memang tidur dan mengigau namanya atau hanya pura-pura tidur. "Juna, kamu pura-pura tidur, ya?" Tidak ada jawaban dari Arjuna. Kinara penasaran. Ia renggangkan dekapan ditubuhnya dan berbalik menghadap Arjuna. Kinara bisa melihat dengan sangat dekat wajah teduh Arjuna saat tidur. Lagi-lagi tangan Kinara reflek menyentuh wajah Arjuna, namun segera ia tarik tangannya menjauh. "Juna, Juna, Juna.." panggil Kinara dengan memukul ringan d**a bidang Arjuna. "Juna, kebakaran!" Tidak ada respon dari Arjuna, bisa dipastikan Arjuna benar-benar tidur. Kinara menguap dan mulai ngantuk. Akhirnya Kinara tertidur dalam dekapan Arjuna. **** Kinara mengerjapkan matanya perlahan, kemudian mendudukkan tubuhnya. Kinara memandang sekitar dan menoleh ke samping, tidak ada Arjuna di situ. Segera ia bangkit untuk mandi lalu berganti pakaian. Kinara keluar dari kamar dan mulai mencium bau masakan. Kinara mengendus bau itu dan tenryata berasal dari dapur rumahnya. Ia lihat Arjuna berdiri di depan kompor dengan alat masaknya. Arjuna bisa masak? Batin Kinara. Kinara duduk di kursi makan dan menatap Arjuna. Satu lagi hal yang membuat Kinara kagum pada Arjuna, yaitu laki - laki yang bisa dan mau memasak. "Sudah bangun?" tanya Arjuna. "Iya," jawab Kinara singkat. "Masak apa?" tanya Kinara. "Nasi goreng." Arjuna menuju meja makan dengan membawa dua piring nasi goreng. Arjuna kemudian duduk dan memberikan nasi goreng pada Kinara. Kinara menatap Arjuna yang sedang makan nasi goreng dengan lahap. Ia kembali mengingat kejadian tadi malam, betapa kasarnya Arjuna yang hampir saja menghabisi nyawanya saat itu juga. Kinara menelan ludahnya dan reflek memegang lehernya. "Kamu kenapa, Kinar?" tanya Arjuna. "Gakpapa, Jun." Kinara tidak ingin membahas kejadian tadi malam. Ia ingin melupakan semua dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Ia bahkan menyesali niatnya yang ingin memukul kepala Arjuna dengan vas kaca. Kinara juga tidak mau membahas tentang Indira. Biarlah itu menjadi urusan Arjuna. Ia tidak mau lagi ingin tahu tentang wanita itu. Semakin Kinara ingin tahu, semakin hatinya tercabik-cabik dan semakin susah untuk melupakan perasaannya pada Arjuna. Kinara menggelengkan kepalanya pelan dan mulai makan nasi goreng buatan Arjuna. "Apa yang terjadi tadi malam?" tanya Arjuna. "Kamu mabuk," jawab Kinara. "Lalu apa yang terjadi?" "Gak terjadi apa-apa, kamu menarikku untuk tidur di dekatmu," jawab kinara. "Lehermu kenapa merah?" tanya Arjuna membuat Kinara kelabakan. Ia lupa menutup beberapa tanda bekas gigitan Arjuna "Aku gak tahu, serangga mungkin," jawab Kinata asal. Arjuna menengernyit heran. Tidak mungkin serangga menggigit leher Kinara sampai berbekas merah seperti itu. "Kita gak melakukannya, kan? Aku gak sadar dengan apa yang kulakukan tadi malam," ucap Arjuna. "Gak lah. Dalam keadaan mabuk kamu berani macam-macam pasti ku tendang." Kinara tertawa pelan. Arjuna menghabiskan nasi gorengnya, mengambil ponsel dan mengambil foto Kinara yang sedang makan. "Kamu ngapain, Jun? Mengambil fotoku?" tanya Kinara. "Enggak! Kepedean banget, sih!" celetuk Arjuna. "Berikan ponselmu!" Kinara mengulurkan tangannya di depan Arjuna. Ia yakin Arjuna mengambil fotonya diam-diam. "Gak," jawab Arjuna ketus. Kinara bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri tempat Arjuna duduk. Ia mendekat untuk meraih ponsel Arjuna namun dapat Arjuna cegah. "Juna, berikan!" "Punya sendiri, jangan ganggu punya orang!" ketus Arjuna. Kinara harus menghapus fotonya, sementara Arjuna kekeuh tidak memberikan ponselnya. Kinara mendekatkan wajahnya pada telinga Arjuna dan membisikkan sesuatu. Arjuna lengah, Kinara langsung mengambil ponsel Arjuna, membuka galeri dan menghapus tiga fotonya. Kinara mendongak, tanpa ia sadari Arjuna sudah berada tepat di depannya. Kinara sampai harus mundur hingga tubuhnya merapat di sisi meja. "Ini ponselmu." Arjuna mengambil ponselnya dan menaruhnya sembarang, ia lebih fokus dengan mangsa di depannya. Arjuna memajukan wajahnya hendak meraih bibir namun Kinara segera memalingkan wajahnya. "Kenapa?" tanya Arjuna. Kinara teringat kata-kata Arjuna tadi malam, bahwa dia masih mencintai Indira. Tiba-tiba Kinara merasa kesal dan ingin menghindari perlakuan manis Arjuna. Namun, entah kenapa reaksi tubuh Kinara selalu bertolak belakang dengan otaknya. Arjuna kembali mendekati tubuh Kinara dan mendaratkan bibirnya di bibir Kinara. Kali ini Kinara menyambut dengan baik. Arjuna mengangkat tubuh mungil itu dan diletakkannya di atas meja makan. Bibir mereka saling berpagut cukup lama hingga Kinara mendorong Arjuna untuk bernapas. Kinara terengah dan berusaha menetralkan deru napasnya. Arjuna kembali meraih bibir Kinara lagi dan melumatnya kasar. Ia beralih ke leher Kinara dan membuat beberapa tanda disana. "Jun..na.." "Hm..." "Ja..ngan mele..wati ba..tas," ucap Kinara sambil terengah. Arjuna mendongak dan menatap wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu. "Ingat perjanjian kita, Jun. No s*x, no Love. Ingat kan?" "Kamu memintaku untuk tidak melibatkan hati, maka aku minta jangan melewati batas. Aku tidak mau melakukannya denganmu tanpa rasa cinta," jelas Kinara. "Akan ku usahakan, tapi aku gak bisa janji," jawab Arjuna. "Jangan egois, Jun." "Aku berhak untuk egois. Diamlah! Dan nikmati saja." Arjuna kembali menyerang leher Kinara. Tanganya bahkan sudah mejelajah kemana-mana, membuat Kinara serasa melayang. Kinara tidak bisa berpikir dengan jernih saat seperti ini. Sentuhan-sentuhan Arjuna membuatnya hilang akal. "Arjuna, Kinar.. Upsss.." Arjuna dan Kinara menoleh pada sumber suara. Mereka melihat Safira berdiri sambil menutup matanya. Arjuna segera bangkit dan merapikan diri begitupula Kinara. Sudah dua kali Safira memergokinya seperti ini. Sungguh memalukan! "Ibu, kenapa tiba-tiba masuk?" tanya Arjuna saat ibunya sudah duduk di meja makan. "Ibu kan punya kunci cadangan, lagian daritadi ibu bunyikan bel dan panggil gak nyaut-nyaut, ya ibu buka lah, ternyata kalian sedang---" "Ibu, mau minum apa?" tanya Kinara menghentikan perkataan ibu mertuanya. Jujur saja Kinara masih merasa malu. "Gak usah sayang. Ibu kesini cuma memastikan kalian sudah sarapan." "Kami sudah sarapan. Apa lagi?" tanya Arjuna. "Ya ampun, anak ibu masih marah ya, gara-gara ibu potong tadi aktivitasnya. Memang belum puas semalam?" Safira tertawa. "Belumlah," jawab Arjuna asal membuat Kinara ingin memukul kepala Arjuna. "Nanti malam lagi deh, masih ada banyak hari, gak boleh ngambek. Oh ya Jun, kamu ke kantor utama ya, ada yang harus papa bilang padamu dan Rama. Karena kamu sudah menikah, semua harus berubah," jelas Safira. "Baiklah." "Ibu pulang dulu ya, nikmati pagi kalian," ucap Safira sambil berjalan keluar rumah. "Jun, kenapa kamu kelihatan tidak bersemangat mendengar permintaan ibu tadi?" tanya Kinara. "Aku malas memimpin perusahaan utama. Aku juga malas kalau harus berdebat dengan Rama." "Jangan begitu, dia kan saudara kandungmu, diskusikan baik-baik," ucap Kinara sambil membereskan piring bekas sarapannya tadi. "Kinar?" "Hm?" "Letakkan piringnya!" "Hah?" Arjuna mendekat, membuat Kinar meletakkan piringnya kembali. Arjuna menangkap tubuh Kinara dan menggendongnya seperti menggendong karung beras. "Arjuna, mau ngapain? Turunkan!" "Melanjutkan yang tertunda." Arjuna membawa Kinara masuk ke dalam kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN