30. Dosen pembimbing

1185 Kata
Kinara merapikan pakaiannya di depan cermin. Hari ini ia harus ke kampus untuk kuliah seperti biasanya. Untung saja kelas pertama di mulai pukul 10 pagi. Kinara melihat Arjuna yang masih bertahan di dalam selimut. Satu jam sebelumnya, mereka melakukan ativitas di atas kasur itu. Bukan aktivitas panas berhubungan ala suami istri pada umumnya, tapi hanya sekedar berciuman dan saling menyentuh. Kinara masih menutup segelnya rapat-rapat karena di perjanjian memang tertera seperti itu, No s*x and No Love. Lagipula, Kinara tidak mau melakukannya tanpa cinta. Kinara tidak berniat membangunkan Arjuna, ia pelan-pelan keluar dari kamar dan segera ke kampus naik kendaraan umum. Sebenarnya Safira menyuruh sopir untuk mengantar Kinara, namun ia tolak karena sudah terbiasa naik kendaraan umum. Sampai di kampus, Kinara melihat Serin dan Dessy berdiri di depan kelas. Kinara ingat kejadian waktu dirinya bertengkar dengan Serin. Wanita itu cemburu karena berpikir kalau Arya lebih perhatian pada Kinara, padahal Kinara tidak pernah berpikir seperti itu, ia hanya berpikir Arya memang baik dan mau menolongnya. Kinara berusaha acuh saat lewat di depan Serin. Namun, tangan jahil Serin menarik tas Kinara hingga tubuhnya terhuyung dan jatuh. Serin dan Dessy tertawa puas di ikuti oleh tawa mahasiswa lainnya. Kinara menggertakkan giginya kemudian berdiri. Ia sebenarnya malas berurusan dengan kakak tingkatnya itu. Namun sikapnya yang sudah keterlaluan membuat Kinara kesal. "Lain kali, tangannya dipakai buat kebaikan, jangan dipakai buat nambah dosa terus!" ujar Kinara sambil tersenyum sinis. "Maksud lo apa, ya?" tanya Serin dengan nada tinggi, Kinara yakin wanita itu sudah tersulut emosi. "Kuliah tinggi-tinggi pasti bisa mikir kan?" ejek Kinara. "Kurang ajar!" Serin menghampiri dan mendorong tubuh Kinara. Kinara terhuyung ke belakang namun seseorang menangkapnya. Kinara bersyukur tidak jatuh, ia mendongak dan melihat Arya menatap Serin dengan marah. "Apa-apaan ini?" tanya Arya. "Aku mendorongnya karena dia kurang ajar telah menamparku." Serin memegang pipinya dan akting sebagai pihak yang tersakiti. Kinara muak melihatnya. "Mulutnya kalau ngomong yang jujur dong, jangan nambah dosa mulu," ucap Kinara sinis. "Lo!" "Cukup Serin!" bentak Arya. "Kalian berdamai dan saling memaafkan! Silahkan bersalaman," perintah Arya. Kinara melihat kemarahan di wajah Arya. Lebih baik tidak memperpanjang masalah ini daripada berurusan dengan guru killer seperti Arya, bisa-bisa nilainya berubah menjadi D lagi. Kinara dan Serin berdamai dan saling bersalaman. Kinara tidak menyangka pagi harinya harus berurusan dengan Serin dan berakhir seperti ini. Sebenarnya ia malu pada Arya, kekanak-kanakan sekali bertengkar di kampus dan di lihat oleh mahasiswa lainnya. Namun bagaimana lagi, semua sudah terjadi. "Saya tidak ingin melihat kalian bertengkar lagi di kampus, mengerti?" Kinara dan Serin mengangguk. Kinara tahu Serin tidak mungkin berhenti mengganggunya, dia pasti akan berulah lagi nantinya. Kinara pamit dan berjalan menuju kelasnya. Amel bahkan sudah menunggunya sejak tadi di dalam kelas. Selesai kuliah, Kinara mampir dulu di kantin untuk membeli minum. Ia melihat Arjuna sedang duduk sambil mengetik sesuatu di laptop miliknya. Kinara ingin menghampiri, namun langkahnya terhenti ketika beberapa wanita menghampiri Arjuna. Mereka tampak akrab dengan Arjuna. Kinara memutuskan duduk di meja agak jauh dari meja Arjuna sambil menunggu wanita-wanita itu pergi. Setelah Arjuna sendiri Kinara segera menghampirinya. "Seneng banget habis di apelin banyak wanita," ucap Kinara yang duduk di depan Arjuna. "Cemburu?" jawab Arjuna tanpa melihat Kinara. "Jelas enggak!" Arjuna tertawa tanpa merespon perkataan Kinara. Kinara mulai kesal kemudian ia berdiri hendak pergi namun ditahan oleh Arjuna. "Mau kemana?" "Pulang." "Duduk sini dulu," pinta Arjuna. Arjuna berpindah duduk di samping Kinara. Ia mulai mengerjakan bab 1 skripsinya. Tangan Arjuna mulai menari di atas keyboard, memunculkan huruf-huruf yang tersusun menjadi kata dan sebuah kalimat. Kinara menoleh untuk menatap wajah tampan di sebelahnya, lalu segera ia menoleh lurus ke depan. Hampir saja Kinara terbuai lagi dengan pesona Arjuna. "Mau bantu?" tanya Arjuna. "Gak deh," jawab Kinara. "Tadi pagi bertengkar dengan Serin?" tanya Arjuna. "Kok tahu?" "Ngapain lagi Serin?" tanya Arjuna masih fokus dengan laptopnya. "Dia menarikku sampai terjatuh. Lalu kami bertengkar." Sebenarnya Kinara tidak ingin memiliki musuh di kampus ini, sebisa mungkin ia menghindari segala hal yang membuat masalah baginya. Ia hanya ingin kuliah dengan tenang, lulus lalu bekerja. Namun, keinginannya itu sepertinya mustahil, karena sekarang ia sudah berurusan dengan Serin, kakak tingkat bar-bar yang seenaknya sendiri. "Jauhi dia," ucap Arjuna. "Sepertinya kamu mengenalnya dengan baik, Jun." "Dia pernah menggodaku tahun lalu. Aku memang jarang ke kampus ini, kadang aku mengikuti perkuliahan online. Aku bertemu dengannya beberapa kali, " jelas Arjuna. "Dan kamu tergoda?" tanya Arjuna. "Enggak!" "Oh, kirain." "Kamu lebih menggoda," ucap Arjuna sambil menyeringai. "Gak nanya!" jawab Kinara kesal. Suasana menjadi hening. Arjuna sibuk dengan laptopnya dan Kinara sibuk dengan ponselnya. "Siapa dosen pembimbingmu, Jun?" tanya Kinara memecah keheningan. Arjuna menghentikan tangannya dan raut wajahnya berubah jadi masam. Ia menggeleng pelan, kemudian kembali mengetik di laptopnya. "Kenapa? Dosen pembimbingmu galak?" tanya Kinara. "Hm, sangat menjengkelkan dan sok tahu," ujar Arjuna. "Siapa?" "Bu Aulia dan pak Wira," jawab Arjuna. "Mana ada bu Aulia dan pak Wira menjengkelkan dan sok tahu? Mereka baik kok," ujat Kinara. "Pak Wira cuti karena kesehatannya yang semakin buruk dan menggantinya dengan...." "Dengan siapa?" "Arya," jawab Kinara. "Hah?" Kinara membayangkan Arya menjadi dosen pembimbing Arjuna. Saat bertemu saja, dua laki-laki itu terlihat tidak menyukai satu sama lain, bagaimana Arjuna akan bimbingan pada Arya? Kinara menepuk dahinya pelan. "Selamat siang, boleh bergabung?" Kinara dan Arjuna mendongak dan melihat Arya berdiri di depan mereka. Tanpa persetujuan, Arya duduk di kurai depan Arjuna. Dia meletakkan buku di depannya kemudian menggeser buku itu ke arah samping laptop Arjuna. "Untuk bab 2, bisa jadi referensi skripsimu. Besok kumpulkan di saya bab 1 dan bab 2," ucap Arya. Kinara melihat Arya tersenyum dan sepertinya Arjuna tidak menyambut baik perkataan Arya. "Terimakasih," jawab Arjuna singkat. "Kinara, kamu bisa bantu Arjuna agar skripsinya cepat selesai dan bisa wisuda tahun ini." "Baik, pak." "Yasudah saya balik ke ruang dosen dulu." Arya berdiri dan kembali ke ruang dosen. Kinara melirik pada Arjuna yang sejak tadi mengepalkan tangannya dan seperti menahan sesuatu. "Ayo, pulang," ajak Arjuna. "Sudah selesai?" "Ibu ingin kita berkumpul sekarang." Kinara mengangguk dan mengikuti langkah Arjuna menuju parkiran. Kinara masuk ke dalam mobil dan melirik Arjuna yang hanya diam sambil mengetuk stir mobil dengan jarinya. "Juna, kenapa?" "Kamu lihat mukanya? Sok tahu dan menyebalkan!" jawab Arjuna. "Maksudmu pak Arya? Jun, dia tadi memberimu buku agar kamu cepat menyelesaikan bab 2 dan lanjut ke bab berikutnya, biar kamu cepat lulus," jelas Kinara. Arjuna menoleh dan menatap tajam Kinara. "Kamu membelanya?" tanya Arjuna. "Bukan begitu," ucap Kinara lirih. "Kinar?" "Iya?" Arjuna menarik tubuh Kinara dan mendaratkan bibirnya di bibir Kinara. Kinara memejamkan mata menikmati ciuman itu. "Sudah lebih baik," ucap Arjuna ketika melepaskan pagutan mereka. "Maksudnya?" tanya Kinara heran. "Bibirmu bisa menenangkanku, Kinar," ucap Arjuna dengan senyuman seringainya. "Halah, nge-gombal," jawab Kinara sambil mengatur tempat duduknya. Kuatkan hatiku Tuhan, batin Kinara. ***** Kinara dan Arjuna memasuki rumah orang tua mereka. Di ruang keluarga sudah ada Ardi-Safira dan Rama-Lisa. Mereka tampak serius, mungkin saja akan membicarakan hal penting, pikir Kinara. "Duduk, jun, Kinar." Safira mempersilahkan Arjuna dan Kinara duduk. Kinara dan Arjuna duduk di sebelah Rama dan Lisa. Arjuna langsung duduk tanpa menyapa kakak dan kakak iparnya itu, sementara Kinara hanya tersenyum sebagai bentuk kesopanan. "Kami sudah memutuskan untuk memberikan challenge pada kalian," jelas Safira. Hah? Challenge?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN