Hah? Challenge?
Kinara dan Arjuna terkejut mendengar perkataan Safira. Entah apa rencana orang tua mereka sampai meminta untuk berkumpul dan memberikan challenge. Kinara melirik Rama dan Lisa, sepertinya mereka juga sama terkejutnya.
"Challenge? Maksud ibu apa?" tanya Lisa.
"Tolong jelaskan bu, challenge apa ini?" tanya Rama.
Kinara dan Arjuna hanya diam menunggu penjelasan dari Safira. Safira berjalan menuju lemari di ruang keluarga itu dan membawa dua amplop kemudian meletakkan dua amplop itu di meja. Kinara dan Arjuna saling pandang karena penasaran dengan isi amplop itu.
"Ibu ingin kalian liburan selama satu minggu, melupakan semua pekerjaan di rumah dan urusan yang ada di sini. Ibu ingin kalian bersenang-senang," jelas Safira.
"Papa akan memberikan kalian cuti kerja," sahut Ardi.
"Untuk apa? Jika itu honeymoon, bukankah untuk mereka saja?" tanya Lisa sambil melirik ke arah Kinara.
"Tentu saja untuk Liburan dan menjalankan challenge yang kami berikan," ucap Safira.
"Challenge apa bu?" tanya Kinara.
"Ibu ingin kalian menghabiskan waktu bersama, dan berikan kami cucu."
Penjelasan ibu membuat mereka berempat terkejut. Kinara ternganga mendengar kata 'cucu' keluar dari mulut Safira. Bagaimana mungkin ia dan Arjuna memberikan cucu sementara pernikahan mereka hanya pura-pura. Katakanlah Arjuna pasti menyetujuinya, otak m***m Arjuna pasti tidak menolak. Hanya saja Kinara tidak mau melakukan itu dengan Arjuna tanpa adanya cinta. Jika hanya ia yang mencintai Arjuna, Kinara takut akan terluka suatu hari nanti dan bagaimana dengan nasib anaknya? Pikiran Kinara menjelajah kemana-mana.
"Challenge macam apa ini bu? Ibu menyindirku karena belum hamil juga?" Lisa menaikkan intonasi bicaranya karena emosi.
"Kenapa Lisa? Ibu cuma ingin menimang cucu. Apa salahnya?" tanya Safira.
"Ibu harus melakukan ini, karena kamu sama sekali tidak ada usaha untuk memiliki anak. Coba pikir, selama ini ibu minta kalian konsultasi ke dokter tapi kalian tidak mau. Bahkan ibu tawarkan program bayi tabung kalian menolak. Mengertilah kami sangat ingin menggendong cucu dari kalian," jelas Safira memandang dua putranya
"Bukan begini caranya bu," ucap Rama.
"Jadi ibu menyuruhku untuk segera menikah karena ini juga?" tanya Arjuna.
"Iya, Juna. Salah satu alasannya ibu ingin segera memiliki cucu," jawab Safira.
"Yasudah, habis ini akan aku kasih cucu 5," sahut Arjuna Asal.
Kinara menatap tajam Arjuna. Rasanya ingin memukul kepala suaminya itu dengan batu karena asal bicara dan tidak dipikir terlebih dahulu.
"Kami tidak menerima penolakan. Setelah ini persiapkan diri kalian karena dua hari lagi kalian berangkat. Kami sudah mengurus semuanya," jelas Safira.
"Hadiahnya? Bukankah pemenang challenge dapat hadiah?" tanya Arjuna.
"Yang bisa memberikan cucu lebih dulu akan dapat 70% warisan dan yang kalah 30%," sahut Ardi.
"Menarik," ucap Juna.
"Apa-apaan ini pa, ini tidak adil!" sahut Rama.
"Iya, bu. Ini tidak adil. Kenapa dihubungkan dengan warisan?" tanya Lisa dengan nada kesalnya.
Safira menghela napas berat. Ia memang sengaja menggunakan hadiah warisan agar kedua putranya semangat untuk memenangkan challenge ini. Ia ingin sekali memiliki cucu, selain itu ada alasan lain yang lebih besar yang belum bisa Safira jelaskan kepada kedua putranya itu.
Sama seperti orang tua pada umumnya, di usianya yang sudah setengah abad ini ingin rasanya Safira dan suami bisa menikmati hari-hari bersama cucu.
"Challenge ini berlaku mulai hari ini. Silahkan ambil amplop masing-masing dan segera ke ruang makan untuk makan." Safira dan Ardi pergi ke ruang makan dulu, meninggalkan anak-anak mereka yang masih di ruang keluarga.
Kinara dan Lisa saling menatap. Kinara bisa melihat tatapan kesal dan benci menjadi satu.
"Kamu senang karena ibu membuat challenge konyol ini, kan?" tanya Lisa pada Kinara.
Kinara tidak habis pikir dengan Lisa yang selalu berpandangan negatif padanya dari awal bertemu sampai sekarang. Kinara sendiri tidak pernah berpikir negatif tentang kakak iparnya itu, bahkan ia ingin lebih dekat dengannya.
"Aku sama terkejutnya denganmu, kak Lisa," jawab Kinara.
"Atau jangan-jangan kamu yang membujuk ibu agar melakukan ini?" tanya Lisa lebih menggebu.
Kinara menggelengkan kepala, kakak iparnya ini memang suka sekali menuduh dan memojokkan dirinya. Kinara menjadi malas harus lama-lama berbicara dengan Lisa, keinginan untuk lebih dekat dengan Lisa sepertinya akan lebih sulit.
"Cukup, Lis! Tuduhanmu tidak berdasar," sahut Arjuna.
"Jangan membentak istriku, Juna." Rama menatap adiknya.
Dua saudara kandung itu saling menatap dengan emosi. Tangan mereka sudah mengepal dan siap melayangkan pukulan masing-masing. Kinara menghampiri Arjuna, berdiri didepan suaminya itu dan menenangkannya. Ia peluk Arjuna dan mendorongnya mundur agar emosinya mereda.
"Maaf kak Rama. Sungguh kami tidak tahu apa-apa tentang challenge itu. Sebaiknya kita makan atau mereka tahu kalian bertengkar," jelas Kinara.
Rama hanya diam, kemudian ia menggandeng Lisa menuju ruang makan. Kinara melihat Arjuna yang masih menahan emosinya.
"Jaga emosimu, Jun. Jangan bertengkar di dalam rumah apalagi sampai berkelahi. Kalian akan menyakiti ibu dan papa." Kinara melepaskan pelukannya pada Juna.
"Dia berubah menjadi orang yang tidak ku kenal sama sekali. Hanya ada rasa iri dan benci di matanya. Aku hanya merindukan dia yang dulu."
Kinara melihat mata juna yang mulai berkaca-kaca. Ia yakin Arjuna tidak ingin hubungannya dengan Rama seperti ini.
"Semua yang rusak bisa diperbaiki, Jun. Kita bisa mencobanya pelan-pelan." Kinara tersenyum sambil mengusap pipi Arjuna lembut.
"Kita?" tanya Arjuna.
"Maksudku kamu, aku hanya ikut bantu," jawab Kinara.
Kinara melihat senyum tipis Arjuna, mungkin tidak akan terlihat kalau tidak diamati dengan baik. Arjuna mendekat dan memeluk tubuh mungil istrinya.
"Arjuna, kamu..."
"Diamlah sebentar saja," sahut Arjuna.
Kinara membiarkan Arjuna memeluknya. Ia tahu Arjuna memang butuh pelukan sekarang. Kinara bertekad untuk membantu Arjuna memperbaiki hubungannya dengan Rama. Setidaknya ia bisa berbuat sesuatu untuk keluarga ini.
"Kita harus makan, Jun." Kinara mendorong pelan tubuh Arjuna agar terlepas darinya.
"Malas, aku makan kamu saja." Seringaian muncul di bibir Arjuna.
"Mulai deh," ucap kinara malas.
Arjuna kembali memeluk Kinara kemudian melepaskannya dan meraih bibir Kinara. Mereka kembali melumat dan menikmati rasa masing-masing.
"Ayo makan, Jun." Kinara mendorong tubuh Arjuna dan melepaskan bibirnya.
"Hm."
*****
Selesai makan, Kinara dan Arjuna pamit pulang ke rumah mereka. Rama dan Lisa sudah lebih dulu pergi. Safira menahan Kinara untuk pulang karena ingin berbicara dengan menantunya itu.
"Kamu pulang duluan saja, ibu ingin bicara dengan Kinara sebentar," ucap Safira.
"Ngomongin apa?" tanya Arjuna.
"Rahasia dong, cuma wanita saja yang boleh tahu," jelas Safira.
"Dih, pasti lama dan membosankan," sahut Arjuna.
"Gak usah cerewet, sana pulang dulu," usir Safira. Arjuna akhirnya pulang lebih dulu karena tidak mau berdebat dengan ibunya itu.
"Sini, Kinar. Kita ngobrol di ruang kerja papa," ajak Safira.
Kinara mengangguk dan mengikuti langkah Safira. Jujur saja Kinara gugup karena tiba-tiba Safira mengajaknya ngobrol berdua saja setelah pengumuman challenge itu.
*****
Kinara berjalan masuk ke dalam rumahnya. Kata-kata Safira masih terngiang di kepalanya. Ia gelengkan kepalanya pelan kemudian segera menuju kamar untuk mandi dan istirahat. Ia juga membawa salah satu amplop pemberian Safira tadi dan diletakkannya diatas meja. Ia belum berniat untuk tahu isi amplop itu.
Kinara melihat Arjuna sudah berbaring di kasur. Ia segera mandi dan bersih-bersih kemudian menyusul Arjuna tidur. Rasanya sangat capek hari ini, pagi tadi ia harus berdebat dengan Serin dan sore tadi ia kembali berurusan dengan Lisa.
Kinara membaringkan tubuhnya di sebelah Arjuna. Ia amati sebentar wajah Arjuna kemudian berbalik membelakanginya.
Ini keputusan yang sulit, tapi kamu harus kuat Kinar, kamu harus bisa, batin Kinara.
Kinara menghela napas panjang kemudian berusaha memejamkan matanya perlahan. Kinara membuka matanya kembali ketika sebuah tangan melingkar di tubuhnya.
"Baru pulang?" tanya Arjuna dengan suara khas seseorang yang baru bangun tidur.
"Challenge itu---"
"Kita bahas besok, Jun. Tidurlah dan pagi-pagi kamu harus mengerjakan skripsimu, besok harus di kumpulkan di meja pak Arya," jelas Kinara.
"Jangan sebut namanya saat kita di ranjang, Kinar!"
"Maaf," ucap Kinara.
"Tidurlah, sebelum besok-besok aku buat kamu tidak tidur semalaman," ucap Arjuna.
"Hah?"