32. Rayuan Arjuna

1215 Kata
Kinara membuka mata perlahan lalu menoleh ke samping dan melihat Arjuna masih menutup mata dan memeluknya erat. Kinara berusaha menyingkirkan tangan Arjuna dari pinggangnya dan hampir berhasil, namun Arjuna bergerak dan melingkarkan tangannya lagi di pinggangnya. Kinara mendengus kesal karena ia tidak bisa bergerak. "Juna, please, aku harus bangun." Kinara memukul lengan suaminya namun tidak ada pergerakan sama sekali. "Juna!" "Sebentar, Kinar." Arjuna melepas tangannya dari pinggang Kinara. Kinara duduk dan menatap Arjuna yang juga menatapnya. Ia melihat Arjuna tersenyum dengan seringaian khasnya membuat Kinara merinding seketika. "Bisa gak sih, Jun, jangan senyum kayak gitu," protes Kinara. "Kenapa?" "Aku mikirnya kamu mau berbuat macam-macam padaku, aku jadi merinding," jawab Kinara jujur. "Aku pasti berbuat macam-macam sama kamu, tinggal menunggu hari," ucap Arjuna sambil menarik tubuh Kinara ke dalam dekapannya. "Juna, lepaskan!" teriak Kinara. "Gimana challenge itu, kamu setuju?" tanya Arjuna tanpa menggubris teriakan Kinara. "Ini tidak sesuai dengan perjanjian, Jun." "Kita terjebak dalam situasi ini, Kinar. Mau tidak mau akhirnya harus setuju, bukan? Aku harus memenangkan challenge ini, kalau tidak... " Arjuna menghentikan perkataannya. Kinara melihat Arjuna termenung beberapa saat, dia tampak memikirkan sesuatu yang sepertinya berat. Kinara ingin bertanya, namun ia urungkan karena takut melewati batas. "Sudahlah, intinya kita harus menang. Kamu harus siap menghadapiku, Kinar. Hamil dan melahirkan anakku," jelas Arjuna. Kinara kembali menelan ludahnya kasar. Jujur saja ia tidak siap dengan challenge itu. Arjuna memang suami Kinara tapi hatinya untuk orang lain. Kinara tidak tahu kenapa Arjuna sering berbuat manis padanya dan sialnya Kinara tidak bisa menolak perlakuan manis itu. Arjuna sendiri tidak pernah mengatakan kalau dia sudah mencintai Kinara dan justru masih terjebak dengan masa lalunya. Sungguh miris! Seandainya Kinara sudah melakukan 'itu' dengan Arjuna, lalu tiba-tiba Indira muncul kembali, apa Arjuna akan mencampakannya begitu saja meskipun ada janin di dalam rahimnya? Belum juga challenge itu mereka lakukan, tapi pikiran negatif Kinara menjelajah kemana-mana. "Kinar?" "Kinar, kamu melamun?" Arjuna menyentil dahi Kinara. "Auuh, sakit. Juna, apa-apaan sih?" protes Kinara. "Aku takut kamu kesambet jin tomang," canda Arjuna. Kinara mendengus kesal. Beberapa kali ia berusaha melepaskan dekapan Arjuna namun sia-sia. Tenanganya habis hanya untuk bergerak tidak jelas. "Jawab dulu, gimana challenge itu, kamu setuju?" "Aku ragu karena kamu tidak mencintaiku, Jun." Kinara memalingkan muka, berusaha menghindari tatapan Arjuna. "Dari awal hubungan kita memang tidak di dasari oleh cinta, Kinar. Harusnya kamu ingat itu," ucap Arjuna. "Aku tahu." "Lalu?" "Kalau seandainya orang yang kamu cintai itu muncul kembali, kamu pasti akan memilihnya dan membuangku, Iya bukan?" tanya Kinara dengan mata berkaca-kaca. Kinara menunduk agar Arjuna tidak melihat matanya. Arjuna diam. Ia tidak menjawab pertanyaan Kinara, bahkan ia memalingkan tatapannya ke arah lain. Kinara hanya menghela napas berat, begitu sulitkah Arjuna belajar untuk mencintainya dan melupakan masa lalunya? "Maaf Kinar, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Tapi, jika kamu hamil dan melahirkan anakku, aku akan bertanggung jawab sebagai seorang ayah," jelas Arjuna. Kinara menunduk mendengar perkataan Arjuna barusan, dia bilang akan bertanggung jawab sebagai seorang Ayah jika dirinya hamil dan melahirkan anaknya. Perlu digaris bawahi, hanya bertanggung jawab sebagai Ayah, bukan sebagai suami. "Aku akan menjadi donatur utama di panti asuhanmu dan aku akan mengusahakan pendidikan tebaik untuk adik-adikmu di panti. Aku janji," jelas Arjuna. "Baiklah, Jun. Janji adalah hutang, kamu harus menepati janjimu," balas Kinara. Ia tidak berniat membahas lebih lanjut tentang hati karena semakin dibahas semakin sakit. "Jadi, kita akan melakukannya?" tanya Arjuna sambil menarik dagu Kinara hingga mendongak ke atas "Iya, Jun. Tapi, beri aku waktu. Aku belum siap untuk sekarang." Arjuna tersenyum menyeringai. Ia dekatkan wajahnya dan melumat bibir tipis Kinara. Bibir yang sudah jadi candu bagi Arjuna. Rasanya manis ketika Arjuna melumat benda kenyal itu. Sungguh memabukkan. "Juna, kamu harus menyelesaikan bab 1 dan bab 2 mu," ucap Kinara ketika bibirnya sudah terlepas dari pagutan Arjuna. "Sudah selesai," jawab Arjuna. "Hah? Kapan kamu mengerjakannya, tadi malam?" tanya Kinara heran karena memang sepertinya Arjuna tidak mengerjakan apapun. "Argan yang mengerjakan," jawab Arjuna sambil menarik selimutnya kembali. "Harusnya kamu sendiri yang mengerjakan jun, bukannya merepotkan pak Argan!" ketus Kinara. "Argan itu asisten pribadiku. Dia harus membantu segala keperluanku, termasuk skripsi itu," jelas Arjuna. Kinara mendengus kesal, ia hendak berdiri untuk mandi namun tertahan karena tubuhnya di tarik oleh Arjuna dan dengan sekejap posisi Kinara sudah berada di bawah, di tindih oleh Arjuna. Kinara memberontak, ia sedang tidak mood untuk bersentuhan dengan Arjuna. "Lepas, Jun. Aku harus mandi." Kinara menatap kesal. "Gak! Kamu harus tanggung jawab karena sudah membuat adikku berdiri," ucap Arjuna dengan senyum yang tidak bisa Kinara artikan. "Jangan gila, Jun. Aku belum siap." Kinara terus meronta tapi pegangan Arjuna pada tangannya semakin erat. "Aku masukkan sekarang?" goda Arjuna. "Jangan bercanda, Jun." Kinara ketakutan. Ia tidak tahu Arjuna serius atau bercanda, yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari cara keluar dari situasi ini. Kinara menggerakkan kakinya dan menyundul aset berharga milik Arjuna dengan lututnya. Kinara melihat Arjuna meringis kesakitan, segera ia mendorong tubuh suaminya itu dan berlari menuju kamar mandi. Kinara mendengar Arjuna yang berteriak dari luar. "Awas kamu Kinar, aku balas nanti," teriak Arjuna. "Silahkan pak Arjuna yang terhormat," balas Kinara dari dalam kamar mandi. Kinara tertawa pelan. Ia kemudian segera mandi dan berangkat ke kampus. ***** Kinara berangkat ke kampus sendiri karena Arjuna masih harus ke kantor dan meminta skripsi pada Argan. Masih ada waktu 30 menit sebelum kelas dimulai. Amel ijin tidak masuk karena ada acara keluarga, dari pada Kinara tidak ada teman di kelas, ia memutuskan untuk membeli minum di kantin. "Kinara?" Kinara mendongak dan melihat Arya tersenyum manis padanya. "Pak Arya," sapa Kinara. "Kamu sudah pesan makan?" "Saya gak pesan makan pak, saya cuma minum saja," jawab Kinara. "Baiklah." Arya memesan makanan kemudian kembali ke meja Kinara untuk duduk di sana. "Saya boleh duduk sini?" tanya Arya. Kinara melihat sekitar dan belum muncul keberadaan Arjuna. Ia segera mengangguk mengijinkan Arya duduk di mejanya. Kinara merasa tidak enak kalau harus menolak, toh hanya duduk di meja yang sama. "Kamu tidak sama Arjuna?" tanya Arya. "Saya berangkat dulu pak. Dia ke kampus agak siangan mengumpulkan bab 1 dan bab 2 ke pak Arya," jelas Kinara. "Hm, oke." Arya makan Nasi goreng dan teh hangat yang baru sudah datang. "Gimana hubungan kamu sama Arjuna?" "Oh, itu pak, kami baik-baik saja, hehe." Kinara bingung harus menjawab apa, setidaknya orang lain tahu hubungan mereka baik-baik saja. "Kamu---" "Boleh gabung?" Kinara mendongak dan kaget melihat Arjuna berdiri di depan mejanya. Ia menelan ludah kasar berkali-kali, ekspresi muka Arjuna susah untuk di artikan. "Boleh," jawab Kinara sesantai mungkin. "Silahkan Arjuna, maaf saya tadi juga numpang duduk di meja Kinara," jelas Arya yang sudah selesai dengan nasi gorengnya. "Tidak masalah, asal Kinara tidak menggodamu," balas Arjuna asal. "Aku tidak menggoda siapapun!" ucap Kinara ketus. Kinara kesal dengan Arjuna. Apa-apaan menannyakan itu, bagaimana mungkin aku menggoda dosenku sendiri, aku paham diriku sudah berstatus sebagai istri, batin Kinara. "Kinara tidak melakukan apapun. Oh ya saya balik dulu, kamu temui saya untuk mengumpulkan skripsimu," perintah Arya. "Baiklah," jawab Arjuna. Selepas kepergian Arya, Kinara hanya diam, ia kesal dengan perkataan Arjuna barusan. "Kemana?" Arjuna menahan tangan Kinara. "Aku ada kelas jam 10," jawab Kinara. "Masih ada 20 menit lagi, duduk dulu!" pinta Arjuna. Kinara terpaksa duduk kembali ke kursinya. Ia juga tidak berniat menatap Arjuna. "Ehem, kenapa kamu yang sepertinya marah? Bukannya harusnya aku?" tanya Arjuna. "Biarin, lagian kamu---" "JUNAA...!" Kinara dan dan Arjuna menoleh pada sumber suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN