18. Rama dan Lisa

1081 Kata
Kinara tidak menyangka kalau malam ini ia berakhir di kamar milik Arjuna. Setelah Safira meminta Kinara untuk menginap, akhirnya Kinara setuju dan harus tidur sekamar dengan Arjuna. Meskipun Arjuna berjanji untuk tidak berbuat macam-macam pada Kinara, namun masih ada kekhawatiran di wajah Kinara. Kinara melihat Arjuna keluar dari kamar mandi dengan baju lengkap yang pas sekali di tubuhnya. Kinara berharap bisa tidur selama Arjuna di dalam kamar mandi, namun matanya justru enggan tertutup. "Kenapa, huh?" Arjuna daritadi memperhatikan Kinara yang juga memperhatikannya. Kinara menggeleng kemudian menarik selimut dan memposisikan tubuhnya agar tidur dengan nyaman. Kinara memejamkan mata mencari kedamaian namun segera terusik dengan selimut yang tiba-tiba tertarik ke bawah, membuat tubuhnya merasakan dinginnya AC di kamar itu. Kinara membuka matanya dan menatap tajam Arjuna yang sedang menarik selimut lalu dengan santainya naik ke atas kasur, memposisikan tubuhnya berbaring disebelah Kinara dan menutup tubuhnya dengan selimut tadi. "Arjuna!" "Apa?" "Selimutnya!" Kinara kesal dan menarik selimut yang menutupi tubuh Arjuna. "Jangan sembarangan dong, kan aku pakai lebih dulu," gerutu Kinara. Kinara kembali memposisikan tubuhnya berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dalam hati Kinara senang melihat wajah kesal Arjuna. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena Arjuna kembali menarik selimut Kinara untuk menutupi tubuhnya sendiri. Kinara kesal, ia segera duduk dan menarik selimut itu kembali, namun Arjuna yang keras kepala dan tidak mau mengalah tetap mempertahankan selimut itu. "Arjuna, mengalahlah pada wanita." Kinara melotot melihat Arjuna yang tidak menggubrisnya malah justru memperkuat genggamannya pada selimut itu. Tidak ada respon dari Arjuna membuat Kinara kesal. Ia juga tidak bisa merebut selimut yang dipakai Arjuna. "Dasar seenaknya sendiri," gumam Kinara. Tiba-tiba ide gila melintas di pikiran Kinara. Ia tidak peduli, yang penting rasa kesalnya pada Arjuna bisa terobati. "Juna.. Junaa..Ada ular..ular," teriak Kinara. "Ular Jun, ulaaar." Arjuna yang awalnya tidak menggubris langsung menggerakkan tubuhnya hendak berdiri, namun segera Kinara tendang tubuh Arjuna menyebabkan laki-laki itu beserta selimut yang menutupi tubuhnya terjatuh dari kasur. Tawa Kinara menggelegar, ia puas sekali melihat Arjuna menatapnya kesal. Rasanya ingin Kinara foto atau rekam wajah Arjuna sebagai kenang-kenangan. "Kinar!" "Maaf. Reflek, Jun." Kinara menahan tawanya. "Kamu sudah di luar batas!" Arjuna naik ke atas kasur dengan tatapan yang tidak bisa Kinara artikan. Kinara mejadi takut dengan ekspresi wajah Arjuna yang seakan ingin menerkamnya saat itu juga. Kinara menelan ludahnya berkali-kali dan memundurkan tubuhnya seiring dengan tubuh Arjuna yang semakin mendekat. "Jun, aku cuma bercanda." Kinara menahan d**a bidang Arjuna yang terus menghimpitnya. "Bercanda? Lucu, ya?" "Bu.. bukan begitu. Aku hanya---" "Hanya apa?" Arjuna sudah menindih tubuh Kinara. "Berhenti, Jun! Kamu bilang tadi tidak akan berbuat macam-macam. Lalu ini apa?" Jantung Kinara berpacu dengan cepat karena Arjuna mengikis jarak diantara mereka, bahkan dahi Arjuna hampir menempel pada dahi Kinara. "Hukuman untuk gadis kecilku yang nakal." Arjuna menunjukkan seringaian yang bisa membuat Kinara bergidik ngeri. "Gadis kecil? Enak saja, aku sudah dewasa!" Kinara merengut kesal. "Benarkah?" "Ibu!" Kinara menoleh ke pintu kamar Arjuna. Arjuna mengikuti arah mata Kinara, tapi tidak menemukan ibunya di sana. Kinara langsung mendorong tubuh Arjuna dan mengganti posisinya diatas Arjuna. "Hei, gadis nakal?" "Diamlah." Kinara yang tidak tahu apa-apa tentang hal intim antara laki-laki dan wanita merasa aneh dengan tindakannya sekarang. Ia sebenarnya malu tapi karena kesal Arjuna menyebutnya gadis kecil membuatnya memiliki keberanian sedikit. "Baiklah, aku menunggu. Sekarang kamu mau apa?" tanya Arjuna. "Hah? A.. aku mau..." Kinara tidak tahu harus berbuat apa, posisinya sekarang di atas Arjuna saja sudah membuatnya sangat malu. Kinara mendekatkan wajahnya pada wajah Arjuna. Jantung Kirana berdetak lebih kencang begitu pula Arjuna. Kinara mendaratkan bibirnya di pipi Arjuna, lalu melepasnya perlahan. "Hanya ini?" tanya Arjuna. "Memang apa lagi? Aku tidak me---" Arjuna membalik posisi menjadikan Kinara berada dibawahnya. Kinara memberontak tapi sekali lagi tenaganya tidak cukup untuk melawan Arjuna. "Arjuna, lepas! Kamu mau apa?" Kinara berusaha melepaskan kedua tangannya yang di pegang Arjuna. "Mau main-main denganku, huh?" Kinara menggeleng, ia terlalu takut dengan sisi lain Arjuna yang liar seperti ini. "Ka.. kamu lihat apa?" Kinara terus memperhatikan arah mata Arjuna. "Berapa ukurannya?" tanya Arjuna. "Hah? Kamu menanyakan... dasar m***m!" "Biar ku tebak. 34 atau 36? Sepertinya 36," ucap Arjuna. "Arjuna!" "Hahahaa." Rasanya Kinara ingin menonjok wajah tampan di atasnya itu, sungguh menyebalkan. Arjuna ingin melanjutkan aktivitasnya namun terdengar suara dari ponselnya. Arjuna meraih ponselnya dan melihat panggilan atas nama Argan. Arjuna segera keluar kamar untuk menerima telepon itu. Kinara bernapas lega, Arjuna tidak jadi melakukan hal-hal aneh pada dirinya. Ia berusaha memejamkan mata namun sangat sulit untuk tertidur. Selesai dari menerima telepon, Arjuna kembali ke kamar dan melihat Kinara sudah memejamkan mata. "Kinar, kamu pura-pura tidur, kan?" Tidak ada jawaban, tapi Arjuna tahu Kinara belum tidur. "Aku akan melepas bajumu kalau kamu masih berpura-pura." Kinara langsung membuka mata dan menoleh ke arah Arjuna. Padahal hampir saja dirinya tertidur kalau saja tidak mendengar teriakan Arjuna. "Apasih, aku mau tidur," ucap Kinara kesal. "Kenapa? Kamu mau melanjutkan tadi yang sempat tertunda?" Arjuna tersenyum menyeringai. "Gak perlu!" jawab Kinara tegas. "Hahaha, tidurlah. Kamu pakai saja selimutnya, aku masih ada yang lain." Kenapa gak bilang dari tadi, ah, menyebalkan kan! Batin Kinara. Kinara beberapa kali memejamkan matanya. Namun lagi-lagi matanya masih enggan tertutup. "Jun?" "Apa?" "Belum tidur? "Belum," jawab Arjuna. "Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kinara. "Apa?" Arjuna menatap langit-langit kamarnya. "Hubunganmu dengan kak Rama dan Kak Lisa itu---" "Kami tidak pernah akur," jawab Arjuna. "Sejak kapan?" tanya Kinara. "Sejak dia menikah 8 tahun yang lalu," jawab Arjuna jujur. "Kenapa? Ah, maaf, bolehkah aku tahu? Aku menikah denganmu setelah ini, dia akan jadi kakak iparku, bukan?" "Sikapnya berubah menjadi pemarah, iri, mementingkan dirinya sendiri dan haus akan kekuasaan dan kekayaan. Dia bahkan bisa melakukan apapun demi tujuannya tercapai." Kinara terkejut dengan penjelasan Arjuna. Pantas saja hubungan keduanya seperti tidak dekat dan tidak seperti sauadara pada umumnya. Bahkan Arjuna lebih dekat dengan Argan daripada dengan Rama. "Maaf. Aku yakin kamu bisa mengembalikan keadaan seperti sebelum dia menikah. Aku akan membantu." Kinara tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Hanya saja entah kenapa Kinara ingin membantu. Ia melihat kesedihan di wajah Arjuna ketika bercerita tentang Rama. "Kamu mau membantu?" tanya Arjuna dengan seringaiannya. "Eh, i..iya.." "Kemarilah," titah Arjuna. "Ngapain?" Tanpa persetujuan, Arjuna menarik tubuh Kinara untuk mendekat ke tubuhnya. Kinara terkejut dengan gerakan tiba-tiba Arjuna. "Juna, kamu mau apa?" Arjuna membawa tubuh Kinara lebih dekat dengannya, mendekap tubuh mungil Kinara dengan lengan kekarnya. "Juna kamu mau membunuhku, huh? Lepaskan!" "Aku gak bisa tidur. Begini lebih baik," ucap Arjuna. "Iya tapi---" "Tidurlah." "Ketiakmu bau, Jun!" Bukannya melepas, Arjuna justru mendekap tubuh Kinara lebih erat, membuat Kinara semakin kesal. Arghh, Arjuna sialan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN