Ikut Makan Hasil Mencuri

1393 Kata
Menjelang magrib aku sampai di rumah. Setelah membersihkan diri dan salat, aku menggantikan ibu berjaga di warung. Walaupun magrib, warung ini tidak pernah sepi dari pembeli. Ada saja keperluan mereka meski hanya untuk membeli obat nyamuk, rokok, permen dan lain-lain. Kadang aku berpikir aneh dengan kebiasaan-kebiasaan orang-orang tertentu. Kenapa mereka mau salat berjamaah di masjid bawa bekal permen segala. Kemudian aku berpikir positif, mungkin mereka akan memakannya setelah pulang dari masjid. Tapi anehnya mereka pulang dari masjid pun biasanya juga masih mampir ke warung ibu untuk membeli hal-hal yang sederhana lagi. Datang Pak Karta dan ibu-ibu ke warung. Seperti biasa, yang aku layani dahulu adalah yang laki-laki karena yang mereka beli hanya hal-hal sederhana. “Cari apa, Pak?” tanyaku kepada Pak Karta. “Rokok, Mas,” ucapnya. Karena sudah berlangganan bila mereka sebut rokok tak perlu sebut merk aku tahu selera masing-masing pembeli. Pak Karta menerima rokok dan menyerahkan uang warna biru. Aku pun segera mengambil pengembaliannya lalu menyerahkan kepada Pak Karta. Lalu Pak Karta pun pergi. “Gula seperempat, minyak seperempat, lombok 1 ons, bawang merah dua ribu, bawang putih dua ribu, Mas Bagus,” pesan Bu Kasmini. Segera aku beranjak mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk kemudian aku kilo dan aku bungkus. Aku harus mengingat-ingat apa saja yang Bu Kasmini ucapkan, kalau lupa biasanya akan aku tanyakan lagi. “Eh ... itu Pak Karta sering kali bakar-bakar jagung di kebunnya Pak Wongso,” ucap Bu Mariasih mulai gosip. “Pak Karta yang tadi?” tanya Bu Kasmini. “Iya, tadi sore dia juga bakar jagung miliknya Pak Wongso lagi. Malah katanya mengajak teman,” ucap Bu Mariasih. “Lha iya. Bakar jagung punyanya orang kok seperti punyanya sendiri. Kalau minta satu atau dua saja masih wajar, itu katanya tiap hari ngambil,” ucap Bu Kasmini. Seketika belanjaan Bu Kasmini yang sudah aku bungkus jadi satu jatuh ke bawah. Ternyata jagung bakar yang aku makan tadi bukan milik Pak Karta. Dan yang digosipkan oleh Bu Mariasih dan Bu Kasmini tentang orang yang di ajak Pak Karta itu adalah aku. Betapa malunya aku bila banyak yang tahu kalau aku makan jagung hasil mencuri. Gula dan minyak ternyata pecah. Bu Mariasih dan Bu Kasmini menghentikan menggosipnya beralih memperhatikanku. “Kok bisa jatuh, Mas?” tanya Bu Mariasih. “Nggak sengaja, Bu, tadi,” jawabku. “Ya Allah Wo ... Wo ... apa yang kamu lakukan. Ibu bisa rugi kalau begini,” teriak Ibu yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingku. “Maafkan Bowo, Bu, maaf,” ucapku. Biasanya ibu selalu mengomel tidak berhenti-berhenti kenapa kali ini omelan ibu cuma pendek sekali, jadi merasa ada yang kurang. Aku segera mengganti pesanan Bu Kasmini dengan yang baru sedangkan ibu membersihkan bahan makanan yang sudah menyatu di lantai tadi. Kalau tidak tercampur dengan minyak, sebagian bahan masih bisa di pakai, karena bercampur dengan minyak jadinya semua terbuang. Para pelanggan datang dan pergi silih berganti, semua mendapat pelayanan yang terbaik menurutku. Dan waktu pun beranjak malam. Ibu masih terlihat agak diam. Bahkan saat dia melayani pembeli, tidak secerewet biasanya. “Kamu kenapa, Bu,” tanyaku di warung saat tidak ada pembeli. “Nggak apa-apa, Wo,” jawab ibu. “Tapi kenapa ibu dari tadi diam saja tidak seperti biasanya?” “Kalaupun ngomong sama kamu pasti akan percuma,” ucap Ibu. “Jangan begitu, Bu. Bicara dong, Bu! ada apa?” “Kamu itu anak ibu satu-satunya, Wo. Harusnya kamu yang nantinya kasih makan ibu,” ucap ibu sambil menarik napas panjang. Kemudian dia berkata lagi, “tapi istrimu seperti itu. Aku tidak yakin kalau kelak sudah tua kamu bersedia merawat ibu saat sakit-sakitan.” “Kenapa ibu bisa berpikir seperti itu? Aku akan tetap di samping ibu,” ucapku. “Itu katamu sekarang. Mana tahu kelak kamu lupa karena memiliki keluarga sendiri.” “Tidak, Bu. Aku akan selalu berada di sisi itu,” ucapku. “Kenyataannya kamu ingin usaha sendiri. Pastinya kamu akan selalu sibuk dengan usaha barumu dan akan mengabaikan warung ibu, selanjutnya tidak mau mengurus ibu karena ibu sudah tidak berguna,” ucap ibu. Ternyata itu yang dirasakan oleh ibu. “Tidak, Bu. Bukankah usahaku berhubungan juga dengan warung ibu. Aku bisa melakukan dua-duanya. Ibu jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan meninggalkan ibu meski ibu kelak tua renta dan sakit-sakitan. Tapi semoga saja itu tidak terjadi, aku selalu berdoa agar ibu selalu sehat,” ucapku. “Tapi aku tidak yakin bila istrimu bisa menerima. Sekarang saja makan hasil dari warung sini, dia sering memperlakukan ibu dengan kasar apalagi bila kamu dapat uang dari usaha sendiri. Pastilah ibu tidak akan dianggapnya sama sekali,” ucap ibu. “Kenapa ibu berpikiran seperti itu, lalu aku harus bagaimana, Bu?” tanyaku. Sedih kenapa ibu bisa memiliki pemikiran demikian. “Tanya dengan dirimu sendiri, apa yang sebaiknya kamu lakukan?! Aku lihat Mariska itu tidak akan sembuh bila kamu selalu bersikap melunak di depannya,” ucap Ibu tegas. “Mariska memang manja, Bu. Tapi aku tidak bisa kasar dengannya, aku mencintainya,” ucapku. “Justru kamu mencintainya itu kamu harus tegas dengannya. Ingat nasib rumah tanggamu di masa depan bila memiliki istri manja seperti dia. Lama-lama dia akan menginjak-injak harga dirimu. Karena kamu terlalu menuruti kemauannya, dia akan berbuat semaunya.” Entah mengapa aku tidak sependapat dengan ibu. Aku hanya berpikir sudah tugas seorang pria memanjakan istrinya. Mencukupi kebutuhannya lahir, dan batin. Lagi pula tiap orang berbeda-beda cara menghadapi pasangannya begitu juga dengan diriku. Kalau yang lainnya mungkin agak keras dengan istri mereka, tapi tidak dengan aku. Aku yakin kalau bisa mengubah sikap Mariska secara perlahan-lahan, dengan kasih dan sayang. “Sudah sepi. Aku pulang dulu, ya, Bu!” ucapku. Ibu tidak menjawab. Aku mencium tangannya, anggap saja kalau wanita yang melahirkanku ini selalu merestui apa pun keputusanku. Aku taruh keranjang belanjaan di atas sepeda motor. Belum sampai menyalakan sepeda motor aku teringat sesuatu. “Apa, Wo? Kok balik? Ada yang tertinggal?” tanya ibu. “Tadi aku belum bikin catatan untuk belanja esok hari, Bu,” ucapku sambil memeriksa bahan apa saja yang habis, dan bahan apa saja yang masih cukup. Setelah merasa cukup, aku pun pulang ke rumah mertua. Mariska menyambutku di depan pintu dengan tangan di lipat di depan d**a. Aku hafal sekali dengan kelakuan istriku ini apabila dia marah. Tanpa berucap satu kata pun wanitaku itu masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk. “Sayang, marah, ya?” tanyaku yang selalu tahu jawabannya meski perempuan yang selalu terlihat cantik ini tidak menjawab. Aku memeluk Mariska erat. “Maafkan aku, ya,” ucapku sambil mengecup keningnya. “Sudah berapa kali, Mas minta maaf? Puluhan bahkan mungkin ratusan. Tapi apa mas kemudian memperbaikinya? Tidak, kan, Mas?” ucap Mariska judes. “Iya ... iya ...,” ucapku. Aku tidak suka berdebat dengan Mariska. Mengalah kemudian membuatnya senang itulah yang sering aku lakukan selama ini. “Iya-iya. Enak saja bilang iya-iya. Kalau dibilangin istri selalu ngomong iya iya melulu padahal masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Baru saja tadi siang mas berjanji kalau akan menuruti keinginanku, tapi nyatanya apa? Siang berjanji, sore kau ingkari.” Apakah serumit ini wanita. Sana sini suka berkicau tidak jelas. “Jawab, Mas. Jawab,” ucap Mariska. “Aku harus jawab apa, Sayang? Kamu ingin kita bersama sepanjang hari, tapi kamu tidak ingin tinggal bersama ibu padahal uang belanja kita dari sana, lalu aku harus bagaimana?” tanyaku putus asa. “Tadi siang, kan sudah aku kasih solusi. Mas Bagus hanya membantu ibu sampai siang saja. Habis itu pulang. Mas harus bisa bagi waktu untuk ibumu dan untukku. Nyatanya Mas hanya punya waktu untuk ibumu dan pulang saat butuh tidur doang.” “Astaugfirulloh sayang ... kenapa kamu berkata seperti itu. Aku di rumah ibu kerja sayang kerja bukan main. Kita tidak akan kenyang dengan cinta. Kita butuh makan, butuh menabung untuk anak kita kelak.” Aku mulai tidak habis pikir apa yang merasuki wanitaku ini kenapa pikirannya pendek sekali. “Nah. Mas ingin nabung, kan? Minta bayaran yang lebih sama ibu kamu. Kalau Mas pulang malam minta lemburan!” Sama sekali aku tidak tertarik mendengarkan ocehan Mariska yang semakin mengada-ngada. Aku bekerja di rumah ibu kandung kenapa harus ada disuruh minta uang lembur segala. Sedangkan aku adalah anak satu-satunya, kalau pun uang ibu kelak menjadi banyak siapa yang akan mewarisi kalau bukan aku dan dia. Aku tinggalkan Mariska di kamar dan pergi ke teras. Berusaha menenangkan diri agar tidak tersulut emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN