bc

Di Balik Embun Pagi

book_age16+
915
IKUTI
8.4K
BACA
second chance
drama
straight
brilliant
genius
ambitious
lucky dog
male lead
poor to rich
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

“Sebagai lelaki, aku berjuang agar bisa membahagiakanmu. Kamu tahu sendiri, kan? Aku bekerja hampir 24 jam. Ketika miskin, kamu mampu bertahan saat menghadapi cobaan tapi ketika kita mampu merangkak naik sehingga bisa dikatakan berkecukupan, tak sedikit pun kamu bersyukur. Demi ingin diwahkan orang kamu rela melakukan perbuatan terkutuk itu!”

“Kamu kira selama ini kamu sendiri yang berjuang? Modal yang kamu dapatkan kamu kira dari mana, hah?!”

Jawaban dari Mariska sungguh di luar ekspetasi. Bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Aku sudah tak mampu berkata-kata lagi. Mungkin benar kata ibu kalau aku telah memanjakannya sehingga sekarang sangat terlambat untuk mengendalikannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Perjalanan Pulang dari Pasar
Satu jam perjalanan setelah keluar dari kota, aku mulai memasuki jalan berbatu di tengah perkebunan tebu. Tiba-tiba di depan, jalan tampak sempit. Ada mobil pick up tua mogok di tengah jalan. Mobil itu tertutup kabut embun sehingga aku tidak bisa melihatnya dalam jarak lebih dari tiga meter. Untung aku selalu mengendarai sepeda motorku dengan pelan sehingga bisa menghindari kecelakaan. Aku memarkirkan sepeda motorku ke tepi. Tidak mungkin kuterobos jalan yang hanya muat untuk sepeda motor saja. Bisa-bisa aku menjadi pemain akrobat dadakan bila keranjangku menyenggol bak mobil. Kenapa mobil pick up itu harus mogok di tengah jalan, dan tidak dipinggirkan? umpatku dalam hati sambil berkacak pinggang. Aku mencoba mengamati dengan seksama mobil pick up tersebut. Sepertinya pengemudinya tidak ada. Sial! Apakah ini artinya aku harus menurunkan barang-barang yang aku bawa agar bisa melewati mobil? Karena penasaran aku memeriksa isi bak mobil. Ada beberapa jenis sayuran ada di sana juga macam-macam bumbu dapur. Bagaimana bisa pengemudinya pergi begitu saja? untung jalan ini jarang dilewati orang. Andai aku pencuri aku akan ambil dua atau tiga karung bawang merah ini, pasti dapat uang lumayan, batinku. Lelah menanti akhirnya aku putuskan untuk menurunkan sayuranku yang ada di keranjang. Namun, belum sempat aku turunkan tiba-tiba ada lampu sepeda motor yang menerobos kabut embun dari arah depan. Aku menyalakan senter HP agar lebih jelas menerangi pandangan di depanku. Pun memberitahu kepada mereka kalau ada orang yang berdiri di sini yang hanya sekedar membutuhkan pertolongan ingin melewati mobil pick up di depannya. Biasanya ada orang yang bersedia membantu mengangkat keranjang bila dalam keadaan darurat. “Maaf, Mas! Nggak bisa lewat, ya?!” ucap pengemudi sepeda motor sambil menghampiriku yang ternyata datang khusus untuk mobil pick up yang berada di depanku. Orang yang berada di boncengan membawa jerigen yang kemungkinan berisi bahan bakar menuju ke arah mobil. “Kenapa di tinggal, Mas, apa tidak berbahaya?” tanyaku. “Pak Yoyok istrinya lahiran di rumah sakit, Mas. Mungkin karena panik lupa mengisi bahan bakar sedangkan mobil sayuran siap kirim. Tadi rencananya Bu Yoyok di bawa ke rumah sakit ditemani mertuanya habis itu Pak Yoyok langsung kirim barang ke pasar tapi karena bahan bakar habis Pak Yoyok akhirnya menghubungi saudaranya yang di kota buat jemput mereka sedangkan mobil ini dia meminta kami yang mengurusnya,” ucap pemuda tersebut. “Pantas saja, Mas. Tadi ada beberapa pelangganku yang lapaknya kosong, ternyata ada sedikit kendala di pengiriman,” ucapku. “Hehehe iya, Mas.” “Ngomong-ngomong kalau aku beli cabe merahnya 5 kg boleh, nggak, Mas?” tanyaku mengingat cabe merah yang aku dapat dari pasar cuma 1 kg sedangkan kebutuhan cabe merah di warung sehari bisa habis 5 kg lebih. “Boleh, Mas. Paling-paling kami datang ke pasar terlambat. Para pedagang sayur mayur sudah banyak yang pulang,” ucap pemuda tersebut sambil mengambil tas kresek warna hitam ukuran sedang. “Berapa, Mas?” tanyaku. “Total seratus dua puluh lima ribu, Mas.” Agak sedikit kaget aku mendengar harga yang dituturkan oleh pemuda tersebut. Biasanya cabe merah keriting aku beli paling murah tiga puluh ribu itu pun sudah melalui proses penawaran yang amat panjang bahkan tadi aku membeli cabe dengan harga empat puluh ribu karena stok terbatas. Dan ini hanya seratus dua puluh lima ribu otomatis sekilonya cuma dua puluh lima ribu. Wah ... bisa untung lumayan bila aku beli dari tempat asalnya, pikirku. Soalnya aku dan ibu biasa jual di warung 1 ons lima sampai enam ribu rupiah. “Kok bengong, Mas? Ini cabenya!” “I—iya, Mas, terima kasih,” ucapku sambil mengambil dompet yang berada di saku. “Sekalian bawang merah 5 kg dan bawang putihnya 5 kg, ya, Mas,” ucapku kemudian. Meski stok bawang merah dan bawang putih masih banyak di warung tidak ada salahnya bila aku beli karena dapat harga yang lebih murah dari harga pasar. Setelah bertransaksi aku menata ketiga benda yang aku beli tadi ke atas keranjang. Mobil pick up itu pun menepikan kendaraannya biar aku bisa lewat. Sebelum aku menyalakan sepeda motor, aku sempat menanyakan alamat pemilik mobil pick up dan kedua pemuda tersebut. Bahkan kami sempat bertukar nomor telepon. Tiba di rumah, pembeli sayur ibu sudah menanti. Sebagian ada yang membantu menurunkan dagangan dari tempatnya dan menata di meja. Mereka sudah hafal letak sayuran dan ikan. “Tumben kesiangan, Mas Bagus?” tanya Bu Marni tetangga sebelah yang merupakan pembeli tetap kami sambil membantu membawakan tahu yang berada di tepi ranjang. Sebenarnya aku sampai ke rumah pukul lima pagi tapi karena molor dari waktu biasanya mereka mengatakan kalau aku kesiangan. “Tadi ada mobil mogok di jalan, Bu,” jawabku. Setelah semua berada rapi di tempatnya aku pun membantu ibu melayani pembeli. “Tolong balik ikan yang ada di dapur, Wo!” titah ibu sembari menghitung belanjaan orang yang berada di depannya. Namaku Bagus Wibowo. Sejak kecil ibu memang lebih suka memanggilku dengan sebutan Bowo daripada Bagus. “Baik, Bu,” jawabku yang tidak pernah membantah perintah ibu. “Memang mantunya ke mana, Bu Ratih?” tanya salah seorang pembeli sesaat setelah aku beranjak ke arah dapur. Tentu saja aku mendengarnya karena suara ibu-ibu itu lebih keras dari suara sound sistem. Sengaja aku mempertajam pendengaranku ingin tahu bagaimana jawaban ibu. Ternyata ibu pura-pura tidak mendengar, aku jadi lega. Selama satu bulan Meriska berada di rumah ibu, dia tidak kerasan. Sering kali ibu dan dia bercekcok mulut. Terutama soal selera masakan. Kata ibu, Mariska tidak bisa memasak, sedangkan kata Mariska ibu kalau masak rasanya aneh, itu hanya soal masakan. Banyak hal-hal lain yang membuat mereka sering bertengkar. Aku sendiri merasa heran, apakah wanita selalu begitu bila bersama dalam satu rumah. Sejak pertama kali Mariska aku kenalkan kepada ibu mereka sudah tidak cocok. Ada saja keluhan-keluhan yang aku dengar dari keduanya. Apalagi setelah mereka tinggal serumah ada saja kegaduhan akibat ulah mereka. Ibu yang dasarnya memang cerewet sedikit-sedikit ngomel apa pun yang dilakukan Mariska, sedangkan Mariska terlihat tidak terima bila diomeli oleh orang yang melahirkan aku tersebut. Sekarang Mariska tinggal di rumah orang tuanya. Di tempat itu gantian diriku yang merasa seperti terkucilkan. Di depan saudara-saudara Mariska, mertuaku selalu mengungkit-ungkit tentang perjodohan yang pernah ditolak Mariska dan lebih memilih aku sebagai pasangan hidupnya. Untuk itu dia berpesan kalau aku jangan pernah mengabaikan perasaan Mariska. Ucapan mertuaku sebenarnya menyakiti hatiku tapi aku diam saja dan mulai memahami perasaan Mariska saat tinggal di rumah ibu. Begini rasanya bila tinggal di tempat orang yang tidak menyukai kita. Bahkan mertuaku mulai mengungkit-ungkit nafkah yang aku berikan untuk Mariska tiap harinya kalau itu hasil meminta dari orang tua. Seharusnya mertuaku paham kalau aku membantu ibu berjualan dari dini hari sampai petang hari amat layaklah bila ibuku memberi upah dari hasil kerja kerasku toh aku sudah beristri. Setiap kali mertua merundungku aku hanya diam saja, mencoba memohon kepada Mariska agar pulang ke rumah ibu pun percuma. Dia pasti tidak akan bersedia lagi pula kasihan Mariska bila dia bertengkar dengan ibu seperti sebelumnya. Selanjutnya sekarang aku jadi seperti setrikaan tiap saat mondar-mandir dari rumah ibu ke rumah mertua. Belum lagi beberapa kali pergi ke pasar. Sedangkan untuk menetap di rumah ibu saja itu tidak mungkin karena ada Mariska di rumah mertua, tapi untuk menetap di rumah mertua itu juga tidak mungkin karena aku harus mencari nafkah dengan cara membantu ibu. Aroma gosong menyentak lamunanku. Ikan yang ada di depanku ternyata sudah menghitam. “Wooo! Bau apa itu yang gosong?” tanya ibu dari arah warung segera berlari ke dapur menengok ikannya. Aku pun segera mematikan kompor. Siap menghadapi omelan dan ceramah ibu yang pasti sangatlah panjang sepanjang jalan tol.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
45.0K
bc

JANUARI

read
50.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
6.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.1K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook