“Perempuan kelahiran Blora 15 tahun yang lalu yang saat ini belajar di kelas X SMAN 1 Blora. Memiliki nama Annida El Fitri beralamat di Desa Purworejo Kec. Blora, Kab. Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Menyukai dunia kepenulisan sejak 2 tahun yang lalu. Dan mulai aktif menulis sekitar 1 tahun dengan menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya di antaranya adalah antologi cerpen dengan judul “Antara Aku, Corona, dan Ramadhan” dan “Beyond The Dreams” bercita-cita ingin menjadi guru dan penulis terkenal.”
“Sebagai lelaki, aku berjuang agar bisa membahagiakanmu. Kamu tahu sendiri, kan? Aku bekerja hampir 24 jam. Ketika miskin, kamu mampu bertahan saat menghadapi cobaan tapi ketika kita mampu merangkak naik sehingga bisa dikatakan berkecukupan, tak sedikit pun kamu bersyukur. Demi ingin diwahkan orang kamu rela melakukan perbuatan terkutuk itu!”
“Kamu kira selama ini kamu sendiri yang berjuang? Modal yang kamu dapatkan kamu kira dari mana, hah?!”
Jawaban dari Mariska sungguh di luar ekspetasi. Bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Aku sudah tak mampu berkata-kata lagi. Mungkin benar kata ibu kalau aku telah memanjakannya sehingga sekarang sangat terlambat untuk mengendalikannya.
Kematian yang tidak wajar membuat arwah Rumi penasaran. Teror demi teror menghantui Surti dan anak-anaknya. Sebenarnya Rumi hanya berharap kalau bibinya Surti tahu kalau dia sudah meninggal karena dijadikan tumbal pesugihan oleh ibu kandungnya sendiri dan Rumi berharap kalau bibinya Surti bisa memberikan keadilan untuknya agar beristirahat dengan tenang. Namun, untuk mewujudkan keinginan Rumi tersebut, Surti harus berhadapan dengan maut. Tiap hari jiwanya terancam karena jadi target tumbal berikutnya.