Bab. 2
Para pembeli warung ibu pun ikut tergopoh-gopoh ke dapur turut menyaksikan apa yang terjadi.
"Astaugfirullloh ... Wooo! Apa yang kamu lakukan? Mana ada orang goreng ikan ditunggui jadi gosong?"
"Maaf, Bu, Maaf! Aku nggak sengaja," ucapku sambil menahan malu karena disaksikan banyak orang.
"Lha Mbak Mariska mana, Mas? Kok Mas Bagus sendiri yang masak?" tanya seorang pembeli yang bernama Mbak Sinta.
"Dia lagi main ke rumah orang tuanya, Bu," ucapku.
"Istrinya minggat nggak doyan masakanku, Sin. Kalau pun dia di sini mana mungkin dia mau masak ikan! Ntar kulitnya bisa melepuh terkena letupan minyak," ucap ibu kepada Mbak Sini sambil menyindirku.
"Apa sih, Bu?!"
“Iya, kan? Istrimu itu sok cantik. Mertua sama suaminya sibuk di warung pun dia nggak mau bantu. Cuci piring kek, masak kek. Sekali masak semua bumbu di masukin rasanya jadi ambyar. Mending kalau makan masakan mertuanya terima. Sudah nggak bisa masak, manja, banyak maunya, bawel lagi.”
“Kok jadi Mariska, Bu, yang kena?”
“Lha memang dia yang salah. Harusnya dia kan di sini, melayani suami. Suaminya kerja dari pagi hingga petang dia enak-enakan di rumah orang tuanya, tak sedikit pun kasihan melihat suaminya mondar-mandir di jalanan kayak setrikaan dari Desa Sukasari ke Desa Sukasurya. Esok, siang, malam, kamu juga Wo kok mau di atur-atur? Di sini, kan, kamu kerja nggak main-main. Itu tuh akibatnya istri selalu dimanja jadinya ngelunjak.”
“Ibu kok merembet ke mana-mana, sih? Gara-gara ikan doang. Nggak malu apa dilihat tetangga?” bisikku kesal sambil melirik para ibu yang sedari tadi berkerumun ikut menyaksikan tragedi ikan gosong di dapur.
Aku memang anak yang penurut. Tapi aku tidak suka bila ada orang yang menjelek-jelekkan istriku termasuk ibuku sendiri.
"Sudah. Kamu sana layani pelanggan biar ibu yang lanjutkan masak!" titah ibu.
Dasar ibu! Kenapa tidak sedari tadi saja dia yang masak pakai menyuruh aku yang gantiin. Akhirnya begini kan kejadiannya. Gara-gara ikan gosong bicara ibu makin ngelantur mana keras pula seperti suara mesin Kawasaki dua tak. Aku pun lekas beranjak ke depan biar ibu segera diam.
"Dasar punya istri tak berguna."
Suara ibu masih saja terdengar meski aku sudah mulai jauh menuju ke arah warung. Ingin rasanya aku menyahut tapi aku tahan, tak ingin dikatakan sebagai anak durhaka. Ada sedikit penyesalan kenapa tadi aku bisa melamun akhirnya rahasia keluargaku di dengar banyak orang dan sebentar lagi pasti Mariska menjadi bahan pembicaraan orang se kampung.
Aku melayani pembeli yang terus saja berjubel sampai pukul 8 pagi. Posisi rumah ibu yang berada di tengah kampung sangat strategis untuk digunakan berbagai macam usaha. Teringat perkataan mertuaku yang terkesan merendahkan aku karena memberi Mariska uang belanja hasil pemberian ibu, timbul keinginan untuk memiliki usaha sendiri.
“Bu, aku ingin bicara!” lirihku saat kami sarapan.
Sebenarnya sangat terlambat bila menurut orang-orang pukul delapan pagi baru sarapan, tapi tidak dengan kami. Aku dan ibu terbiasa sarapan, makan siang, atau pun makan malam di luar jam makan tentunya menunggu bila warung sepi pembeli.
“Hm ... bicara apa? Soal istrimu lagi?” tanyanya tidak suka.
“Bukan, Bu.” Aku menghentikan aktivitas makanku dan menatap ke arah ibu.
“Aku ingin buka usaha di samping warung sembako ibu,” ucapku berterus terang.
“Apa yang terjadi? Apa uang pemberian ibu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan istrimu?”
Seperti biasa ibu selalu meninggikan volume suaranya bila ada perkataan yang membuatnya kaget.
“Bukan seperti ibu, Bu. Mumpung kami masih muda dan belum punya anak, aku ingin memiliki penghasilan tambahan selain dari warung ibu. Aku tidak ingin terlihat sebagai lelaki yang selalu tergantung dengan ibu."
“Aku kira istrimu mengeluh kalau uang yang aku beri selama ini kurang. Memangnya kamu ingin usaha apa?” tanya ibu sambil menuang air minum ke dalam gelas.
“Aku ingin jual beli hasil bumi, Bu,” ucapku ragu.
Ibu menatap ke arahku lama. Air yang dia tuang dalam gelas, dia teguk sekaligus sampai habis.
“Ibu tidak pernah melarang kamu ingin buka usaha yang lain. Tapi apakah kamu tidak tahu kalau jual beli hasil bumi itu kelihatannya sepele tapi modalnya besar. Ibu tidak bisa memberimu modal yang cukup. Kalau kamu ingin carilah tambahan modal. Seharusnya uang yang aku berikan ke kamu sebagai nafkah untuk istrimu itu bisa dia tabung. Itu bila istrimu bisa berhemat. Coba kalau di sini, semua kebutuhan dapur dan sabun ada semua, kalian tidak perlu lagi mikir buat makan. Bujuklah istrimu supaya pulang ke sini lagi itu pun jika dia mau, dan mulailah menabung lalu membangun usaha yang kamu inginkan.”
“Iya, Bu. Nanti Mariska biar saya ajak pulang,” ucapku sambil menghabiskan sarapan yang tadi sempat aku tunda.
***
Perjalanan ke rumah mertua yang seharusnya membutuhkan waktu 20 menit berubah menjadi 1 jam karena sepeda motor yang aku tumpangi bannya bocor. Aku harus mendorong sepeda motorku sejauh 1 km karena bocornya di jalan yang jauh dengan pemukiman.
"Sayang, aku pulang," sapaku.
Namun, wanita yang baru dua bulan menemaniku itu hanya terdiam. Sejenak ia menoleh ke arahku kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. "Ada apa ini?" batinku.
Tak perlu pikir panjang, aku pun menyusulnya ke dalam.
Sesampai di dalam rumah, Mariska langsung pergi ke kamar. Aku mengikutinya dan mencoba mendorong pintu kamar, ternyata pintu itu tidak dapat kubuka, Mariska menguncinya dari dalam.
"Sayang, buka …," pintaku sambil mengetuk pintu. Tapi percuma, beberapa kali aku memanggilnya, Mariska tak kunjung membukanya.
Dengan kecewa aku rebahkan diriku di depan televisi. Aku ambil remot dan mulai menekan tombol power mencoba mencari hiburan. Namun, mata tidak fokus dengan apa yang aku tonton. Pikiranku menerawang memikirkan perilaku Mariska barusan.
Saat aku tengah termenung mimikirkannya, tiba-tiba Mariska berdiri di belakangku. Apakah tadi aku menyalakan televisi terlalu keras sehingga aku tidak mendengar suara derit pintu di buka?
Seketika aku berdiri mencoba menggapai bidadariku itu untuk mengajaknya bicara, tapi Mariska menyingkirkan tanganku yang menggenggam tangannya.
Sepertinya dia sangat kecewa. Kutatap manik mata wanitaku itu. Di sana terlihat bulir bening yang siap untuk terjatuh. Ada apa gerangan yang terjadi?
“Kenapa, Sayang? Ada apa denganmu?” tanyaku khawatir.
Bukankah aku sudah mengikuti kemauannya untuk pulang ke rumah orang tuanya?
Mariska diam saja. Sama sekali dia tidak merespon ucapanku kemudian dia berlalu menuju ke teras rumah.
Demi menjaga hatinya aku pun mengikuti istriku itu ke depan untuk memastikan hal apa yang membuatnya resah. Aku tidak ingin dia berlarut-larut kecewa kepadaku.
Di depan rumah wajah Mariska terlihat cemberut. Di angkatnya bak pakaian yang semula berada di dekat bunga bougenville menuju tempat penjemuran pakaian.
Owh ... mungkin itulah penyebabnya. Biasanya aku yang menjemur pakaian karena Mariska tidak suka berada di bawah sinar matahari secara langsung, kali ini aku lupa karena kelelahan mendorong sepeda motor saat bannya bocor tadi.
Aku pun merebut bak cuci yang dibawa Mariska untuk aku jemur. Aku memberi kode kepada wanitaku itu agar kembali ke teras.