Ngambek

1308 Kata
“Ngambek, ya?” godaku kepada Mariska. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Apabila aku bertanya seperti itu, dia malah bertambah sewot. Aku hanya membutuhkan sedikit kata-kata lagi agar wajah manyunnya segera sirna. “Maaf! Tadi banku bocor, terpaksa aku harus mendorongnya,” ucapku memecah keheningan. "Apa aku bertanya?" ucapnya menatap kedua bola mataku. Terlihat sekali betapa marah dan kecewanya dia. “Ya Allah, Sayang, Please! Jangan buat aku menjadi serba salah. Aku tidak bohong. Aku barusan benar-benar terkena musibah,” ucapku memohon. “Baiklah kalau begitu. Apa kamu bisa menuruti keinginanku agar aku bisa memaafkanmu?” tegas Mariska. Aku tidak mengerti apa yang dia inginkan. Sebaiknya aku iyakan saja agar ngambeknya tidak berkepanjangan. "Iya, Sayang. Apa pun itu. Asal kamu senang dan tidak bersikap acuh seperti ini. Kamu tahu, kan, sayang? kalau aku mencintaimu setinggi langit," rayuku sambil meraih tubuh Mariska ke pelukanku. Namun, Mariska langsung menghindar. “Kenapa lagi?” tanyaku. “Aku, kan belum ngomong apa yang aku inginkan, Mas Bagus main ingin peluk saja,” ucap Mariska pelan. Aku berdiri dari tempat dudukku. Aku tarik tangan Mariska ke dalam rumah. Lalu aku menuntunnya berjalan ke arah kamar. Meskipun sedang marah tapi Mariska tidak pernah menolak dengan kode yang aku berikan. “Ngomongnya nanti saja bila aku sudah sampaikan keinginanku,” bisikku mesra. Tiba-tiba, pipi wanita dengan rambut digelung asal itu, tampak bersemu merah. Kurapikan tempat tidur, menata bantal yang berserakan akibat ulah kami barusan. Setelah rapi kami pun tiduran kembali. Dalam sekejap wanita yang bermuka masam tadi seketika berubah seperti anak kecil yang manja. Mariska tidur di bahuku. Tubuh rampingnya memelukku dari samping sedangkan tangan kirinya mengelus dadaku. Aku kecup kening Mariska dengan kasih sayang. Seperti biasanya, Mariska mendongakkan kepalanya. Kami pun saling lempar pandang kemudian dia mengulum senyum. Manis sekali. “Ayo lekas membersihkan diri sebelum bapak ibu pulang,” ucapku. “Nggak mau. Gendong!” pintanya manja. Tak banyak bicara aku pun mengangkat tubuh ramping Mariska ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, kami dikejutkan dengan kehadiran anak kecil yang sudah nangkring di atas kloset. “Aaaa!” Mariska berteriak, begitu pun dengan anak itu. Gegas aku menurunkan Mariska dari gendonganku. “Kaget aku!” ujar Mariska setelah mengetahui kalau yang nangkring di atas kloset adalah Rayhan adiknya. Kemudian kami pun keluar dari kamar mandi. Setelah sampai di luar, kami salah tingkah sendiri. Kemesraan kami ternyata kepergok adik ipar yang masih kecil. Aku dan Mariska saling bertatapan dan berusaha menahan tawa karena malu. “Rayhan kapan pulang?” tanya Mariska setelah Rayhan keluar dari kamar mandi. “Sejak tadi,” jawab anak laki-laki kelas lima SD tersebut. “Sejak tadi kapan?” tanya Mariska lagi, serius. “Sejak perutku sakit,” ucap Rayhan. Kami pun lega. Sebagai orang dewasa tentunya kami akan amat malu bila aktivitas kami ada yang tahu. “Jadi kamu pulang sekolah karena perutmu sakit?” tanyaku. Rayhan menganggukkan kepalanya lalu beranjak meninggalkan kami berdua. “Eh, Kak!” tiba-tiba langkah Rayhan berhenti dan berbalik menatap kami. “Ada apa?” tanya kami serentak. “Tadi kakak ngapain main gendong-gendongan?” “Syuuuttt diam anak kecil. Jangan ikut campur urusan orang tua. Jangan cerita sama orang lain juga, ya!” ucapku. “Ada uang pencuci mulutnya, nggak, kak?” Mariska hanya terkekeh mendengar ucapan adiknya tersebut. Kemudian aku meraba saku dan menemukan selembar uang lima ribuan di sana. “Ini,” ucapku sambil menyerahkan uang lima ribu itu kepada preman kecil tersebut. Reyhan hanya menatap uang itu kemudian beralih memandangku, dia tidak bersedia mengambilnya. “Udah. Ambil saja! Jangan malu-malu,” ucapku. Reyhan menggelengkan kepala. Kemudian aku pegang tangannya dan memaksa menerima uang pemberian dariku. “Sudah. Ambil saja, ngapain malu sama kakaknya sendiri,” ucapku. “Bukan itu,” katanya. “Lalu apa?” “Masa uang suap cuma goceng?” Mariska tertawa lebar. Sial! Ternyata Reyhan tidak malu tapi bersikap profesional. “Hahaha ....” kembali lagi Mariska tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. “Nggak lucu kali,” ucapku. Rayhan masih berdiri di tempatnya dengan uang lima ribu yang masih menempel ditangan. Dia obat-abitkan uang itu ke kiri dan ke kanan seperti bendera. “Kamu nunggu apa?” tanyaku sama Rayhan. “Nunggu transaksi.” Lagi-lagi Mariska tertawa terpingkal-pingkal dengan ulah adik keduanya tersebut. Mariska punya tiga saudara. Semuanya laki-laki. Tapi baru kali ini aku diperlakukan oleh adik iparku sendiri seperti buronan. Aku harus memberi uang insentif untuknya biar terlepas dari nyinyiran para tetangga. Selang beberapa menit, mertua pulang. “Mana! Aku mau pergi!” ucap Rayhan sambil membuka telapak tangannya kepadaku. “Tidak ada,” ucapku. “Ya sudah kalau begitu orang pertama yang saya kasih tahu adalah ayah dan ibu,” ancamnya. “Pak ..., Bu ....” Rayhan berteriak kencang. Bapak ibu mertua yang baru pulang dari sawah tersebut segera menoleh. Dengan sigap aku langsung meraba uang dari kantongku sebelah kiri dan langsung menyerahkan kepada Rayhan. “Ada apa, Ray?” tanya Bapak. “Nggak apa-apa, Pak! Ini aku dikasih Mas Bagus uang saku,” ungkap Rayhan sambil menenteng selembar uang seratus ribu. Kaget. Dasar apes! Ternyata tadi aku salah ambil. Harusnya aku ambil uang yang dua puluh ribu malah ambil uang yang nominalnya paling besar tersebut. Padahal uang tadi jatah belanja Mariska besok. Mertuaku pun tak kalah kagetnya dengan aku. Mereka melihat kepergian Reyhan dengan heran. “Maaf ya Sayang. Uang jatah belanjamu besok barusan aku berikan kepada Reyhan,” ucapku kepada Mariska cemas. Aku menunggu bagaimana reaksi darinya. Benar saja. Istriku memperlihatkan raut kecewa. “Jangan seperti orang tidak pernah pegang uang, Mas. Kamu tiap hari pegang uang, kan? Jangan beralasan untuk tidak memberiku uang belanja. Nanti jadi kebiasaan.” “Tapi itu uang ibu, Sayang. Aku nggak berani ngambil, hanya terima bila diberi.” “Aku nggak mau tahu, Mas. Yang penting besok pagi saat aku belanja uangnya harus ada!” ucap Mariska sambil berlalu masuk ke kamar mandi. “Makanya jangan sombong. Uang pemberian orang tua saja sok-sok an dikasihkan orang lain. Mau dipuji? Tidak akan ada yang sudi memuji orang yang selalu bersembunyi di bawah ketiak ibunya.” Tak kupedulikan wanita tua yang tiba-tiba berbicara dari arah belakangku itu. Wajahnya yang penuh keriput dengan dagu panjang itu persis seperti nenek sihir. Tidak pernah kujumpai kedamaian dari setiap kata-katanya. Aku paksakan tersenyum demi menutupi pergolakan jiwa di hatiku meski sebenarnya di dalam d**a ini terasa sesak dan sakit setiap mendengar ucapan dari wanita yang bergelar ibu mertua tersebut. Setelah makan siang aku sempatkan bercakap-cakap dengan Mariska di dalam kamar. Ya. Tempat ternyamanku adalah kamar. Aku hampir tidak pernah keluar dari ruang sempit ini bila mertuaku berada di rumah. “Tadi katanya mau bicara, Yang?” tanyaku kepada Mariska memulai berbicara. “Mas bisa tidak nggak pulang ke Sukasari?” “Maksud kamu apa Sayang?” “Maksud aku kita biar selalu bersama-sama.” “Mana bisa sayang. Aku di rumah ibu kan tidak main, aku di sana bekerja. Kalau aku tidak bekerja lalu uang dari mana untuk makan kita sehari-hari?” “Tapi masa dari dini hari sampai petang, Mas? Mas kan bisa bekerja sampai siang saja toh ibu juga bisa sendiri melayani pembeli. Atau mas minta tambah upah ke ibu!” “Janganlah, Sayang! Kasihan ibu. Lagi pula aku kan pulang tidak menetap di sana. Lagi pula di sini aku juga tidak ngapa-ngapain.” “Katanya kamu ingin menuruti permintaanku tadi. Baru saja beberapa jam yang lalu Mas lupa. Sudahlah tidak ada gunanya lagi aku berbicara sama Mas.” Seperti biasa bila tidak aku turuti permintaannya, Wanita yang berada di sampingku ini pasti ngambek. Waktu menunjukkan pukul 12.30. Biasanya pukul 12.15 aku sudah berangkat ke pasar untuk membelanjakan ibu barang-barang yang tidak cepat busuk seperti gula, minyak goreng, detergen, dan lain-lain. Aku harus mengakhiri pembicaraanku dengan Mariska karena sepertinya belum ada titik temu antara keinginanku dan keinginannya. Bahkan aku belum mengatakan apa yang aku inginkan tentang rencana-rencanaku di masa depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN