Insting Usaha

1174 Kata
Panas terik matahari menampar mukaku. Jalanan yang aku lalui ini tidak ada angin yang berhembus sama sekali di siang hari ini. Begitulah pekerjaanku tiap harinya. Tidak ada kata capek, tidak ada kata lelah, bahkan bisa dikatakan tidak boleh untuk sakit. Pekerjaan yang memenuhi kebutuhan rumah tangga para tetangga sekitar. Sehari saja badan terasa demam ingin beristirahat, maka para tetangga akan kelabakan dan mengeluh tidak punya ini dan tidak punya itu. Aku menata dagangan ke keranjang favoritku. Sejenak aku melihat mobil bak terbuka yang aku lihat tadi pagi bertemu di jalanan kebun tebu. Mobil itu berada di sini. Ada keperluan apa pemilik mobil pick up ini? Pemilik mobil itu menghampiri toko yang aku datangi tadi. Karena penasaran aku pun pura-pura beli sesuatu lagi. “Tadi terongnya dua puluh karung aku taruh di halaman,” ucap pemilik mobil itu kepada Ko Heri pemilik warung sembako. “Kualitas A semua, kan?” tanya Ko Heri dengan wajah serius. “Iya, kualitas A semua,” jawab pemilik mobil bak terbuka tersebut. ‘Apakah dia yang disebut-sebut dengan nama Pak Yoyok tadi pagi?’ Pikirku. Ko Heri memberikan beberapa lembar warna merah kepada pemilik mobil tersebut. Setelah menghitungnya, pemilik mobil pick up itu pun pergi. “Mas Bagus masih butuh sesuatu?” tanya Ko Heri menghentikan lamunanku. “Iya, Pak. Gulanya dua kilo lagi,” ucapku. Padahal dagangan yang aku beli sebenarnya sudah cukup untuk kebutuhan hari ini bahkan berlebih. Demi untuk mendengarkan komunikasi Ko Heri dengan pemilik mobil pick up tadi, aku harus berpura-pura membeli dagangan lagi. “Ini, Mas. Gulanya,” ucap Ko Heri sambil meletakkan dua bungkus gula di depanku. Laki-laki berdarah tionghoa ini meskipun memiliki pelayan toko banyak, dia juga terbiasa membantu melayani pelanggannya sendiri. “Ko Heri jualan sayuran juga, ya, Ko?” tanyaku. “Iya. Aku jualan sayur-sayuran basah seperti terong, kacang panjang, kangkung, buncis, dan sebagainya.” “Ambil barangnya dari mana, Ko?” tanyaku. “Aku nggak ambil. Ada yang setor. Itu Pak Yoyok yang tadi tiap hari bawa sayur-sayuran,” ucap Ko Heri. “Yang ngecer siapa, Ko?” tanyaku lagi seperti menginterogasi. “Ada para pedagang pasar. Nanti juga ada yang ngurus sendiri. Aku punya beberapa pedagang pasar yang khusus buat jual sayur.” “Owh ...,” ucapku sambil manggut-manggut. “Mas Bagus tertarik jualan sayur, atau mau setor sayur untuk aku?” tanya Ko Heri. “Aku tertarik apa saja, Ko,” ucapku sambil tertawa. Aku ambil gula yang di taruh Ko Heri di depanku kemudian menatanya ke keranjangku. Informasi yang aku dapatkan ini lumayan cukup untukku untuk merencanakan usaha sampingan yang ingin segera aku rintis. *** “Ingin nebas sayur, Bu,” ucapku sama ibu setiba di rumah sambil menata dagangan kering di etalase toko. “Lalu jualnya ke mana, Wo?” tanya ibu. “Ko Heri terima sayuran mentah, bu,” ucapku. “Tidak semudah itu, Wo. Kamu tidak bisa punya pembeli tunggal saja di pasar. Nanti dia akan monopoli perdagangan, akhirnya kamu yang akan dirugikan. Lagi pula jualan sayuran basah itu sekali beli harus langsung habis, kamu tidak bisa begitu saja asal ingin mendirikan usaha sebelum kamu pikirkan dampak buruknya. Kalau dampak baiknya pasti ada. Yang namanya pedagang pasti akan beruntung, tapi dampak buruk bagi pedagang sayuran itu sangat berisiko. Kamu harus memiliki persiapan yang matang,” ucap ibu sambil membantu menata barang dagangan. “Ibu kenapa mengendorkan semangatku, sih, Bu?” ucapku. “Aku kan sudah bilang kalau relasimu cuma Ko Heri saja sebaiknya kamu pikir-pikir ulang. Ibu hanya kasih masukan. Ibu yang sudah malang melintang di pasar paham lah permainan pedagang pasar. Kalau kamu hanya punya pembeli tunggal dia nanti kalau menentukan harga seenaknya saja, akhirnya yang ada bukannya untung tapi kamu malah memperkaya pedagang tunggal itu dan kamu sendiri akan gigit jari karena bekerja tidak mendapat hasil.” “Terus aku harus bagaimana, Bu?” tanyaku sambil melipat tas keresek bekas belanjaan barang-barang kering lalu mengumpulkannya menjadi satu agar nanti bisa dipakai lagi untuk membungkus dagangan yang di beli oleh pelanggan. “Perlahan-lahan saja, Wo. Usaha itu jangan grusa-grusu. Kalau kamu tadi pagi ingin jualan hasil bumi seperti palawija Ibu dukung, tapi itu tadi modalnya tidak sembarangan,” ucap Ibu. Setelah membetulkan dagangan, aku berencana untuk jalan-jalan di sawah. Bukankah seperti itu bila ingin usaha di bidang sayuran basah. Harus akrab dengan tanaman dan pemiliknya. Agar nanti bisa nego saat menebas sayuran. Setelah pamit sama Ibu, aku pun pergi ke sawah sebelah selatan desa. Sore hari berada di sawah ternyata bukan waktunya yang tepat. Meskipun aku disambut pemandangan sawah yang mengagumkan. Terik matahari dari arah barat sangat menyengat. Tanaman agak terlihat layu tidak seperti di pagi hari. Baru keluar dari desa tanaman yang aku jumpai pertama kali adalah jenis sayur-sayuran. Tanaman itu berada di sawah pinggir sungai. Letak yang sangat tepat untuk tanaman jenis sayuran yang selalu membutuhkan pengairan setiap harinya. “Tumben Mas Bagus ke sawah,” sapa salah satu penduduk desa yang bernama Pak Karta. “Iya, Pak,” ucapku. “Ada apa, Mas?” tanyanya. Orang desa memang selalu saja penasaran bila melihat orang yang melakukan aktivitas di luar kebiasaannya. “Aku hanya mau lihat-lihat sayuran, Pak. Dan ingin jalan-jalan saja. Sebenarnya tanaman apa yang bapak-bapak ini tanam,” ucapku. “Begitu ya, Mas,” ucap Pak Karta. “Di sebelah sana ada jagung muda, Mas. Mau Mas Bagus aku ajak bakar-bakar jagung!” tawar Pak Karta. “Tentu saja, Pak. Dengan senang hati,” jawabku dengan wajah berbinar. Pak Karta mengajakku di suatu tempat yang lumayan jauh dari desa. Kebun jagung yang luas. Di ujung kebun jagung itu terdapat gubuk yang yang terbuat dari bambu. Tapi Pak Karta mengajakku untuk bakar-bakar jagung di tepi kebun yang lain. Aku hanya manut saja karena merasa sebagai ekor. Pak Karta mengumpulkan ranting-ranting kayu yang kering kemudian mengumpulkannya menjadi satu. Dengan cepat laki-laki tersebut membakarnya sampai berubah menjadi bara barulah jagung yang di ambil dari kebun sebelah tadi di letakkan di pinggir bara tersebut. Aroma wangi khas jagung bakar menggoda selera. Aku langsung makan jagung yang dibakar Pak Karta tersebut di tempat. Rasanya enak sekali. setelah habis tiga aku merasa kenyang. Tiba-tiba rasa haus mulai terasa di kerongkongan. Anehnya Pak Karta setelah makan jagung bakar tadi sepertinya tidak merasa haus sedikit pun. Aku pun tidak berani bertanya dan tidak berani meminta minum kepadanya. Setelah kenyang, Pak Karta mengajakku pergi dari tempat tersebut. “Kebun jagung kalau waktu jagung muda ini, keadaan sepi, Mas. Karena tinggal tunggu panennya saja. berbeda kalau baru tanam, mereka akan merawatnya seperti bayi,” ucap Pak Karta. Aku hanya manggut-manggut mendengar kata-katanya. Tiba-tiba dari arah sebelah kanan yang lumayan jauh tampak orang berteriak-teriak kencang. “Heiii ... kalian ...!” “Ayo, Mas. Kita lari,” ucap Pak Karta. “Kenapa, Pak?” tanyaku kebingungan. “Sudah kita lari saja,” ucap Pak Karta sambil memaksaku berlari. Aku pun ikut berlari mengikutinya. Aku lihat ke samping kanan, orang tadi masih berteriak-teriak memanggil kami. “Woooiiii ... berhenti ...!” teriaknya sambil memegangi parit di tangan. Aku pun jadi tergidik ngeri. Dan terus saja berlari mengikuti Pak Karta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN