16/END

876 Kata
Aku gak tau ada apa yang udah terjadi di basecamp selama aku balapan. Yang jelas sekarang aku, Dya, Agung, Chandra, Danu, Rio, Papa dan Mamaku, serta Mama Rio sedang berada di rumah Dya untuk merayakan pesta kemenanganku. Semua terlihat sedang bersenang-senang. Karena itu aku gak mau menggangu kesenangan mereka dengan bertanya apa yang telah terjadi selama aku balapan. Aku meninggalkan ruangan tempat pesta diadakan dan berjalan ke halaman belakang. Kugulung celanaku hingga selutut dan kemudian kumasukkan kedua kakiku kedalam kolam. Aku meneguk isi dari minuman kaleng yang kubawa. Saat aku menikmati kesendirianku itulah Dya datang dan ikut duduk disebelahku. “Selamat, ya.”ujarnya lalu tersenyum manis. Senyuman itulah yang selama ini kurindukan dan ingin selalu kulindungi. Senyuman yang kuharapkan gak akan pernah beranjak dari wajahnya. Dan aku bersumpah untuk terus menjaga senyum itu agar selalu berada di tempatnya. “Makasih.”sahutku singkat. Aku tidak ingin banyak bicara. Aku ingin memanfaatkan waktuku untuk menyimpan sebanyak mungkin rekam wajahnya dalam ingatanku. Kulihat Dya menunduk, ”Yo... Aku mau minta maaf karena gak mau mendengarkan semua penjelasanmu atas semua masalah yang terjadi. Aku udah tau semuanya. Aku menyesal. Maafin aku, ya?? Aku tau kamu gak akan pernah melanggar janji yang pernah kamu ucapkan padaku. Aku juga tau gak mudah buat kamu untuk memaafkanku setelah apa yang kulakukan dan kukatakan padamu.”ujar Dya pelan. “Kamu tau? Aku selalu memaafkan semua kesalahanmu tanpa kamu minta. Lagipula aku juga punya banyak kesalahan padamu. Aku dengan mudahnya menerima permintaan Ily untuk menjadi pacarnya selama penelitian. Dan aku juga berjanji padanya untuk melakukan apapun layaknya orang pacaran.”ucapku jujur. “Aku senang kamu gak pernah melanggar janjimu. Tapi, ada satu hal yang selalu terpikirkan olehku.” “Apa??” “Apakah ciuman malam itu juga termasuk janjimu pada Ily??” “Kamu tau??”pertanyaan Dya kali ini benar-benar membuatku kaget. “Saat itu aku mencarimu untuk berterima kasih sekaligus bertanya kenapa kamu memilih untuk pindah. Dan aku gak sengaja melihatnya.” “Wah untung banget kalau kamu melihatnya. Setidaknya kamu tau apa yang sebenarnya terjadi. Coba kalau kamu cuma mendengarkannya aja, kamu pasti udah ngira kalau aku nyium Ily.” “Jadi, kamu gak nyium Ily??” “Gak bakal. Satu-satunya cewek yang pernah kucium hanya kamu. Dan gak akan pernah ada yang lain. Pura-pura pacaran dengannya aja aku udah mengkhianati kamu, apalagi kalau aku sampai menciumnya. Aku hanya mencium dahinya sebagai ucapan perpisahan.” “Kalau gitu kenapa kamu minta maaf setelah menciumku di kamar??” Aku memutar badan Dya hingga menghadapku,”Karena saat itu kamu bukan pacarku. Tapi pacar orang lain.” “Uhm... Aku boleh nanya satu lagi??” “Apa??” “Saat itu kamu bilang kalau barangmu yang ketinggalan ada tas dan...??” Aku gak langsung menjawab pertanyaan Dya. Aku menariknya kedalam pelukanku, ”Aku gak peduli lagi kamu pacar Rio. Aku akan merebutmu kembali. Kamu mau atau enggak, hanya kamu yang gak bisa kulepas. Hanya kamu, Dy. Aku gak takut kalau pun harus berkelahi mati-matian dengan Rio untuk mendapatkanmu kembali. Aku gak keberatan melepas apapun yang kumiliki agar kamu kembali ke sisiku.” Dya membalas pelukanku dan kemudian berbisik padaku, ”Kamu gak harus berkelahi kok, karena aku udah memutuskan untuk kembali padamu. Aku udah putus dengan Rio.” “Kamu serius??”tanyaku takjub sambil menjauhkan Dya. “Aku serius. Dan aku mohon... Jangan pernah pergi dan meninggalkanku lagi.” “Gak akan.” “Lalu rencana melanjutkan kuliah ke Singapore itu??” “Aku baru berencana. Hanya rencana karena emosi sesaat, tapi aku belum sampai pada tahap niat sesungguhnya. Tapi kamu tau darimana kalau aku mau ke Singapore??” “Agung.” “Alah... Agung dipercaya. Agung itu kalau ngomong 99.99 % bohong. Dia cuma akan bicara jujur kalau ditanya mengenai aku. Tapi aku salut sama mereka. Baik itu Chandra maupun Agung... Mereka berani membentak bahkan membohongimu.” “Jadi kamu gak jadi ke Singapore??” “Enggak. Aku takut saat aku tinggal nanti, kamu akan kehilangan ingatan tentangku lagi.” “Aku sayang kamu, Yo. Aku mencintaimu.” “Aku juga.” Dua bulan kemudian saat liburan semester genap datang bertepatan dengan liburan sekolah Dya, aku, Dya, kedua orang tuaku, Rio dan Mamanya berangkat ke London untuk mengadakan pesta pertunanganku dengan Dya. Sebagai hadiah pertunangan, aku membawa kotak kecil yang terdapat dalam kotak keramat Dya. Liontin kunci yang ada di kalung Dya adalah kunci kotak itu. Sesaat setelah pesta pertunangan, Dya membuka kotak itu. Selembar kertas terlipat yang ada didalamnya segera dibuka oleh Dya. Kamu memang bukan pusat tata surya Tapi kamu pusat segala perhatianku Kamu lebih bersinar dari matahari Menerangiku hatiku selalu Kamu memang gak sebesar dunia Tapi bagiku, kamu adalah duniaku Tempatku bermanja Tempatku mendapatkan cinta Senyummu memang bukan senyum terindah Yang diakui dunia Tapi bagiku senyummu yang paling indah Senyum yang paling ingin kulihat Senyum yang paling ingin kulindungi Senyum yang paling inging kumiliki Senyum yang paling ingin aku abadikan Kamu mungkin bukan sumber kehidupan Tapi kamu adalah hidupku Kamu telah memberiku tempat Yang tak pernah inginku tinggalkan Dirimu lebih penting dari dunia Hatimu lebih penting dari hatiku Kebahgiaanmu lebih penting dari kebahagiaanku Kehadiranmu disisiku lebih penting dari nyawaku sendiri Jangan pernah tinggalkanku... Tetaplah disisiku Temaniku sepanjang jalan hidupku Berikan aku hadiah Sebuah senyum terindah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN