Sebenarnya jauh sebelum pertandingan Dheo mulai, aku udah sampai dibelakang kampusnya bersama Rio. Hanya saja, Rio gak mau diajak nyari basecampnya Dheo. Dia bilang kalau kami lebih baik nonton dari tempat yang udah disediakan untuk penonton aja. Akhirnya aku sendirian mencari basecampnya Dheo, dan sempat berkali-kali nyasar. Aku baru sampai di tempat yang tepat saat pertandingan udah jalan 20 menit.
“Dya!!”panggil Chandra dari dalam basecamp sambil melambaikan tangannya padaku.
“Thank’s God!! Akhirnya...”seruku senang dan langsung berjalan memasuki basecampnya Dheo.
Benar-benar tempat nongkrong cowok. Dimana-mana yang ada hanya onderdil mobil. Tapi bukan berarti basecamp Dheo itu gak nyaman. Tempat itu malah menjadi tempat yang sangat nyaman karena ternyata, Dheo punya ruangan sendiri. Ruangan yang kini dijadikan tempat nonton bareng oleh Agung dan Chandra.
“Lu kok baru sekarang datangnya?? Si Dheo udah sampai berakar nungguin elu tadi.”tanya Chandra.
“Yah... Mau gimana lagi. Gw aja tadi entah udah berapa kali nyasar nyari ni tempat. Ngomong-ngomong mobil Dheo yang mana??”tanyaku sambil memperhatikan mobil-mobil yang melaju kencang di depan basecamp.
“Lu bakal tau sendiri koq mobil Dheo yang mana.”ucap Chandra sambil menyerahkan sekaleng soft drink padaku.
“Thank’s. Yang itu ya mobilnya Dheo?? Tapi bukannya itu mobil dia yang biasa dibawanya??”tanyaku sambil menunjuk sedan Cyan yang biasa dibawa Dheo.
“Ya. Mobil balap Dheo dengan mobil sehari-harinya sama. Lagian cuma dia sendiri yang berani kayak gitu. Orang lain mana ada yang berani bawa mobil balap ke jalanan. Makanya tuh mobil gak pernah di pinjamkan ke orang lain. Besar resiko ngebawa mobil balap ke jalanan umum. Apalagi mobil Dheo. Kayak yang elu alami malam itu.”
“Maksud lu apa??”tanyaku semakin bingung.
“Dheo itu pimpinan tertinggi drag race. Tapi bukan berarti semua anggota yang tergabung menuruti semua keinginan Dheo. Karena dari awal Dheo menjabat posisi itu, dia udah punya banyak musuh. Banyak yang ingin menyingkirkan dia. Tapi selama beberapa tahun ini, belum ada yang berhasil ngerebut posisi itu. Apapun akan dilakukan orang untuk menyingkirkan Dheo dari dunia drag race. Merusak mobil dan mengeroyok adalah salah satunya. Dan sepanjang pengetahuan gw, Rio tau itu semua. Rio tau dengan pasti apa akibat membawa mobil Dheo ke tempat-tempat umum.”
“Rio tau??”
“Ya, gw yakin Rio mengetahui hal itu dengan pasti. Dan kalau gw boleh tau, lu dateng kesini sama siapa??”
“Rio...”
“Rio tau dengan pasti dimana basecamp Dheo berada, tapi dia sama sekali gak mau nunjukin jalannya ke elu. Apa sih yang Rio gak tau tentang Dheo?? Mereka kan saudara.”
“Saudara?! Yang bener?? Kok gw jadi tambah bingung.”
“Gini lho. Nyokapnya Dheo nikah lagi sama bokapnya yang sekarang waktu Dheo umur 6 tahun. Dan saat itu bokapnya itu ya bokapnya Rio juga. Cuma bokap sama nyokapnya Rio udah cerai 6 bulan sebelumnya. Gara-gara itu, Rio menganggap kalau nyokapnya Dheo udah merebut ayahnya sekaligus menghancurkan keharmonisan keluarganya. Makanya semua hal yang diinginkan dan dimiliki Dheo akan direbut sama Rio. Mula-mula kesempatan masuk Fakultas Teknik. Itu salah satu alasan kenapa Dheo memilih Kedokteran selain untuk memenuhi janjinya dengan lu. Semua hal yang seharusnya menjadi milik Dheo, akan berpindah menjadi milik Rio. Sama kayak lu. Rio gak ingin Dheo memiliki orang-orang yang dicintainya. Dia ingin Dheo merasakan gimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga.”
“Kenapa lu bisa bilang kayak gitu??”
“Lu tau FK Magazines??”
“Gw udah pernah baca. Beritanya yang tentang Dheo dan Ily pacaran.”
“Lu tau, semua isi wawancara itu positif hasil karangan Rio sebagai ketuanya. Dheo sama Ily sama sekali gak pernah ditanya apapun tentang hubungan mereka. Dan malam itu. Saat lu makan diluar dengan Rio, Rio sangat mengharapkan mobil Dheo dirusak oleh para preman itu. Tapi ternyata bukan, yang dirusak adalah dirinya sendiri. Dia salah perhitungan. Saat itu Danu ada disana. Gak ada satu pun preman yang berani melawan Danu. Berani menyentuh mobil Dheo berarti cacat. Padahal saat itu tugas Danu adalah menjaga lo. Tapi Danu tetap gak bisa apa-apa, dia dilarang membuat keributan dimanapun. Kalau Danu sampai membuat keributan kecil aja, Danu terpaksa harus bersedia di D.O. Danu langsung menelpon Dheo begitu dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Dan Dheo juga langsung berangkat saat itu juga kembali kesini mengurus semua hal.
Belum pernah gw liat Dheo semarah dan se-kalap itu. Dheo belum pernah kehilangan ketenangannya. Selama gw mengenal Dheo, dia adalah orang yang paling gw kagumi karena selalu berhasil mengatasi emosinya dengan baik. Dia selalu tenang dalam menghadapi apapun. Dan dia bisa mengambil keputusan yang tepat di saat yang paling genting sekalipun. Tapi saat tau ada p*********n terhadap lu. Sumpah, Dheo gak kalah mengerikan dengan setan dari neraka. Semua yang ada di basecamp dimarahi dan dimaki. Bahkan semua yang ikut p*********n itu berhasil dikumpulkannya dan... Lu tau, mereka semua sukses masuk penjara setelah keluar dari rumah sakit nanti.”
“Terus kenapa pas gw telpon kemaren Dheo lagi sama Ily, kalau memang dia mengkhawatirkan gw?!”
“Itu karena Dheo akan membicarakan study-nya. Dheo akan kembali ke Singapore.”ujar Agung tiba-tiba, gak tau muncul darimana.
“Lu bilang apa barusan??”ulangku gak percaya mendengar apa yang barusan dibilang oleh Agung.
“Dheo akan melanjutkan semester berikutnya di Singapore.”jelas Agung singkat.
Aku benar-benar shock saat mendengar kalau Dheo akan melanjutkan kuliah di Singapore. Singapore memang gak jauh. Tapi pada dasarnya, Dheo akan meninggalkan aku sekali lagi. Dan kali ini aku sangsi dia akan kembali lagi untukku. Dheo gak punya lagi alasan untuk kembali ke Indonesia. Dan aku?? Apa aku bisa mencegah kepergiannya?? Aku langsung terduduk lemas di sebuah kursi.
Aku gak tau kapan Rio datang, tapi yang jelas sekarang Rio udah berada disampingku.
“Dya... Kita pergi yuk?”ucapnya lembut sambil sedikit membungkukkan badannya.
PLAK!!!
Aku gak sadar. Aku benar-benar gak sadar tanganku melayang ke wajah Rio dengan tiba-tiba. Rio benar-benar terlihat kaget. Dia menyentuh wajahnya yang memerah karena tamparanku.
“Dya?”ucapnya tak percaya.
Aku sama sekali gak menyesal udah nampar Rio. Dan aku juga gak akan minta maaf karenanya.
“Apa lagi yang bakal lu lakukan buat memisahkan gw dari Dheo?!”bentakku.
“Apa maksudnya??”tanya Rio bingung.
“Malam itu lu sengaja kan bawa mobil Dheo untuk pergi makan malam?? FK Magazines itu kerja’an lu juga kan?? Dan apa lu juga merencanakan hal terburuk yang membuat lu masuk rumah sakit??”tanyaku cepat.
“Untuk kedua pertanyaan lu, gw hanya punya satu jawaban. Ya. Gw sengaja bawa mobil anak sialan itu keluar supaya dirusak. Tapi ternyata semua perhitungan gw salah. Bukannya mobil itu yang dirusak, tapi malah gw yang dipukuli preman-preman itu. Dan gw beruntung masih bisa selamat. Gw ingin dia merasakan kehilangan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya. Dan gw berhasil bukan?? Kepedihan yang paling dalam adalah saat orang yang begitu kita cintai meninggalkan kita.”tutur Rio dengan berani, tanpa rasa bersalah.
“Jangan anggap itu keberuntungan lu!! Lu gak akan seberuntung itu kalau Danu gak ada disana. Lu gak akan bisa hidup sampai sekarang kalau Danu gak datang tepat waktu.”tukas Chandra.
“Apa hubungannya dengan cowok cantik itu??”tanya Rio yang tanpa sadar udah nyebutin kalimat yang paling tabu buat Danu.
“LU BILANG GW COWOK APA??”tanya Danu sambil menggeram yang tiba-tiba berada di basecamp dengan aura membunuh.
“Nu, tenang dulu, Nu. Biar kita selesaikan dulu masalah Dya. Tenang dulu, guys. Stay cool okay??”bujuk Agung yang berdiri di belakang Danu.
“Lu... Terserahlah!! Gw kasih waktu 15 menit buat ngurus masalah Dya. Habis itu gw mau buat perhitungan sama ni cowok!! Gw gak peduli nanti gw mau di D.O atau dimasukkan ke penjara sekalipun!!”geram Danu sampai wajahnya memerah karena saking marahnya.
“Rio... Jangan salah sangka. Lo selamat gara-gara Danu datang di saat yang tepat. Gak satupun preman di wilayah ini yang berani melawan Danu. Sampai saat ini belum ada. Kalau Danu udah berkelahi. Dia gak pernah bisa membedakan mana yang kawan mana lawan. Buat dia, semua sama aja. Hanya satu orang yang bisa membuat Danu menyadari kehadirannya. Orang itu Dheo. Se-kalap apapun Danu berkelahi, dia selalu bisa membedakan yang mana Dheo. Tapi sayangnya itu hanya berlaku untuk Dheo seorang. Karena itulah Danu sangat menghormati Dheo. Dheo punya sesuatu yang orang lain gak punya. Karena itu bukan hanya Danu yang menghormati Dheo. Gw dan Agung juga sangat mengaguminya.”jelas Chandra.
“Jadi, intinya gw harus berterima kasih sama dia karena udah datang tepat waktu gitu?? Atau lu mau bilang kalau gw harus berterima kasih sama Dheo karena udah nyuruh cowok ini buat datang??”tanya Rio, ”No way!!”
“Gw juga gak butuh terima kasih lu!! Simpan aja buat diri lu sendiri!! Buat gw, asal keinginan Dheo terlaksana, itu udah cukup. Dan liat aja apa yang bakal gw lakukan sama lu. Gw gak akan tinggal diam. Gw terpaksa harus minta maaf sama Dheo karena gak bisa ngelindungi dia lagi kalau sampai gw di D.O. Tapi gw gak peduli. Yang penting gw puas.”tegas Danu, yang untuk pertama kalinya terlihat sangat ‘cowok’.
“Yo... Lu kok dendam banget sama Dheo? Dia pernah buat salah apa sama elu??”tanyaku pelan saat yang lain gak bicara lagi.
“Dia dan wanita itu udah buat keluarga gw hancur!!”ucap Rio emosi.
“Kamu salah...”
Sebuah suara berat tiba-tiba menyela pembicaraan kami. Aku mencari sumber suara itu dan kudapati Papa Dheo bersama seorang wanita yang gak kukenal.
“Papa... Mama...”ucap Rio gak percaya.
Papa?! Mama?!
“Sejak tau kalau kamu membencinya gara-gara mamanya menikah lagi dengan papa, Dheo langsung meminta kami untuk bercerai. Dia minta agar Papa kembali pada mamamu. Bahkan dia memintanya sampai berlutut dan menangis. Suatu hal yang Papa yakin gak akan pernah dilakukan Dheo seumur hidupnya, mengingat harga dirinya yang sangat tinggi itu.”ujar Papa Dheo yang juga dipanggil Papa oleh Rio.
“Dia juga bicara pada Mama agar kembali pada Papa. Dia bilang kalau dia dan Mamanya akan menghilang dari kehidupan kami kalau kami bersama kembali. Jadi jangan membenci Dheo seperti ini. Kamu gak berhak membenci dia setelah semua yang semua usaha yang dilakukannya untuk membuat Mama kembali pada Papa.”ujar wanita yang ternyata adalah Mama Rio.
“Mama...”ucap Rio tak percaya.
Aku dapat melihat kalau saat ini Rio sangat hancur. Semua orang yang dicintainya membela Dheo. Wajah Rio melukiskan kepedihan yang dalam. Aku ingin menghiburnya, tapi dalam masalah ini, aku juga menjadi korban. Dia harus siap menanggung semua akibat dari perbuatannya selama ini.
Hari udah mulai hujan. Tapi kulihat Dheo belum berhasil menemukan performance terbaiknya. Kurebut headphone yang tadi dipakai Chandra dan berbicara dengan Dheo.
***
Sehari sebelum keberangkatan orangtua Dya ke London...
“Yo... Om tau Dya sama sekali belum ingat apapun tentang kamu. Tapi cuma sama kamu Om dan Tante bisa minta tolong.”ujar Yoga serius pada Dheo saat mereka bertiga makan malam diluar.
“Dheo tau, Om. Dheo juga gak keberatan kalau harus menjaga Dya. Dheo senang melakukannya. Dan seandainya Dya tetap gak ingat apapun tentang Dheo, Dheo pasrah aja. Mungkin udah takdirnya kayak gitu.”ujar Dheo sopan.
“Tante juga sedih melihat kalian seperti ini. Seperti orang yang gak saling kenal.”ujar Denise lembut.
“Gak pa-pa Tante. Dheo gak pa-pa.”tukas Dheo cepat.
“Lebih baik kamu tinggal saja dirumah kami selama kami pergi. Mana tau dengan begitu, Dya akan merasa seperti masa kecilnya dan dia akan mulai mengingat semuanya.”saran Yoga.
“Boleh juga, Om. Makasih, kalian udah mau percaya sama Dheo.”
“Karena kami sudah menganggap kamu anak sendiri, Dheo.”sahut Denise.
“Om... Tante... Seandainya ada hal yang kalian tau terjadi sama Dya. Dan Dheo sama sekali gak ada memberitahu kalian mengenai kejadian itu. Dheo yakin kalian akan mengira kalau Dya yang meminta Dheo untuk memnyembunyikannya. Karena itu dari sekarang Dheo katakan, seandainya hal itu memang terjadi, jangan pernah bertanya apapun pada Dya atau memarahinya. Dheo akan memastikan semuanya akan berlangsung baik untuk Dya. Dheo juga gak akan membiarkan Dya terluka oleh apapun apalagi sampai menangis. Dheo mohon kalian mengerti.”ujar Dheo serius.
“Kami tau. Kami tau itu semua sejak kami mulai minta tolong untuk menjaga Dya saat kami pergi ke luar negeri. Kami selalu menyewa orang untuk mengawasi kalian disamping pengawasan kamu. Dya gak pernah terluka oleh apapun saat kamu menjaganya. Karena itu kami mempercayai kamu. Kamu menjaga Dya seperti menjaga nyawamu sendiri.”jawab Yoga lalu tersenyum bangga.
“Karena Dya jauh lebih penting dari nyawa Dheo sendiri.”gumam Dheo pelan tanpa bisa didengar oleh kedua orang tua Dya