Aku gak tau setan apa yang udah membuat aku sampai nekad nyium Dya kemarin. Padahal Dya bukan milikku lagi. Aku memang b******k karena udah berani-beraninya nyium pacar orang. Apalagi pacar saudara laki-lakiku sendiri.
“Dheo!!”panggil Chandra kuat membuyarkan semua ingatanku tentang ciuman itu.
“Apa??”sahutku malas.
“Lu mau pakai ban apa??”teriak Chandra dari rak-rak onderdil.
“Iya ya? Uhm... Ehm... Hujan-panas-hujan-panas-hujan. Uhm... Cuacanya gak jelas.”ujarku.
“Ramalan cuaca bilang cerah!!”pekik Chandra lagi.
“Cerah??”ulangku pelan.
Kutatap langit dengan seksama. Ya hari ini aku balapan. Dan aku sangat ingin memenangkannya lagi untuk menjadi penghibur hatiku. Saat itulah aku melihat sesuatu bergerak di langit utara.
“Anti slip, Chand!!”teriakku.
“LU serius?? Langit cerah kayak gini. Kalau lu pake anti slip, laju lu bakalan tertahan. Grid anti slip akan sangat ‘menggigit’ di aspal kering.”tanya Chandra sangsi dengan pilihanku.
“Believe me okay??”ujarku dengan gaya cukup meyakinkan.
Tanpa protes lagi, Chandra dan teman-teman yang lain mengganti keempat ban mobilku dengan ban anti slip. Dya belum juga datang, padahal balapan sebentar lagi dimulai. Semua mobil yang turun udah siap di posisi masing-masing. Hanya aku yang belum menaiki mobil hingga menit-menit terakhir. Aku pasrah. Kelihatannya Dya marah gara-gara aku cium dan memutuskan untuk gak datang. Aku langsung menaiki mobilku. Tepat saat aku menutup pintu. Bendera siaga dikibarkan.
Balapan akan berlangsung selama dua jam non-stop. Balapan yang sama saat aku mengalahkan Derby bertahun-tahun yang lalu. Yang paling banyak menyelesaikan putaran, dialah yang keluar sebagai pemenang. Akhirnya bendera hijau_bendera start_dikibarkan. Start kali ini aku masih cukup beruntung karena masih bisa berada di row pertama. Walaupun di urutan tiga. Padahal biasanya aku selalu pole. Di tikungan pertama aku berhasil menyalip hingga posisi teratas. Aku sudah membuat jarak dengan mobil terdekat. Tapi tiba-tiba earphone-ku berbunyi.
“Dheo!! Lu konsen gak sih??”tanya Chandra terdengar gak senang. ”Ini bukan gaya lu!! Lu gak pernah punya jarak segini dengan mobil terdekat!! Lu mau tau berapa jarak lu?! Gak nyampai 100 m!!”bentak Chandra emosi dari basecamp.
Untuk urusan yang satu ini, hanya Chandra yang berani membentakku. Itu makanya aku mempercayainya mengurus semua hal untukku di balapan. Dia tau apa yang baik dan yang enggak buatku.
“Gimana gw mau konsen kalau pikiran gw aja gak tau kemana!! Tolong ngerti perasaan gw!! Gw gak bisa fokus buat mikir balapan aja!!”ujarku nyaris teriak tapi aku tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menambah jarak dengan mobil terdekat.
“Lu gak boleh mikirin apapun sekarang!! Sekarang yang harus lu pikirkan adalah gimana caranya supaya lu bisa menambah jarak dengan mobil terdekat!!”balas Chandra.
“Gw gak janji. Tapi gw usahakan...”
Tapi sepertinya usahaku sia-sia. Mobil yang berada tepat dibelakangku hampir menyalipku berkali-kali. Mungkin aku sudah jauh tertinggal kalau di beberapa kesempatan tadi aku salah mengambil keputusan. Aku baru saja menyelesaikan putaran ketiga. Normalnya, kalau aku berada dalam kondisi terbaik, dalam waktu 2 jam, aku bisa menyelesaikan 13 putaran. Tapi sekarang?? Udah hampir 50 menit berlalu, aku belum juga bisa menyelesaikan putaran keempat.
Chandra atau siapapun yang ada di basecamp memilih untuk mempercayaiku. Walaupun sampai saat ini laju mobilku tertahan karena menggunakan ban anti slip di jalan kering. Aku merasa ini juga menjadi salah satu penyebab kenapa jarakku dengan mobil terdekat sangat pendek.
“Yo... Lu mau ganti mobil?? Kalau lu tetap ngotot mau...”belum selesai Chandra bicara di earphone, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
Hujan yang turun benar-benar deras. Sampai-sampai jalanan yang tadinya kering sekarang sudah mulai digenangi air.
Semua mobil selain mobil timku memilih untuk ganti mobil. Maklum ini bukan mobil F1 yang bisa ganti ban saat pit-stop dalam hitungan detik. Jadi, mau gak mau mereka harus ganti mobil.
“Good job, Yo!! Lu emang berpengalaman. Gw gak bakal protes lagi.”ujar Chandra terdengar sangat senang di basecamp.
“Thank’s God!!”seruku dari dalam mobil.
Gara-gara hujan turun dengan derasnya, aku berhasil membuat jarak yang cukup jauh dengan pengemudi lain. Bukannya mau menyombongkan diri. Tapi kalau untuk jalan basah, aku-lah yang paling cepat di timku. Entah apa yang membuatku mampu sedikit berkonsentrasi sehingga aku berhasil menyelesaikan 7 putaran dalam waktu kurang dari satu setengah jam. Emang gak sebaik prestasiku yang biasa. Tapi ini udah bisa dibilang lumayan dimana pengemudi terdekat baru aja menyelesaikan putaran keenam. Malah ada yang baru menyelesaikan putaran kelima.
Sesaat aku merasa kalau earphone-ku kembali berbunyi. Apa sih maunya orang-orang di basecamp?? Just wait and see aja susah amat. Aku udah siap untuk marah saat yang kudengar adalah suara cewek.
“Dheo... Ini Dya. Sorry aku datang telat. Tapi sebelum balapan berakhir. Aku mau liat kamu mengakhirinya dengan rekor terbaikmu. Dan aku ingin membicarakan banyak hal denganmu saat dirumah. Jangan kecewakan aku. Aku ingin melihat kemenanganmu.”ujar Dya terdengar terengah-engah, seperti habis berlari... Atau marah??
“Tapi, Dy... Waktu yang tersisa tinggal setengah jam. Gak mungkin aku menyelesaikan 6 putaran. Terlalu mustahil. Apalagi hari hujan...”
“Gak pernah ada kata mustahil kalau kita mau berusaha, Yo. Jangan pesimis. Aku... Aku... Aku sangat mencintaimu...”
Setelah berkata kalau dia sangat mencintaiku dengan suara pelan, aku sama sekali gak ada mendengar siapapun berbicara. Baik itu Dya ataupun Chandra. Apa maksud Dya dengan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku?? Apa hanya ingin menyemangatiku agar menang atau dia udah putus dari Rio?? Tapi kayaknya pilihan kedua itu amat sangat mustahil mengingat Dya gak mau mendengar penjelasan apapun dari siapapun.
Kalau Dya memang ingin aku untuk memenangkan balapan ini, akan kulakukan. Aku gak mau mengecewakannya dan gak akan pernah. Aku ingin melakukan apapun yang diinginkannya dengan baik. Aku akan mempersembahkan kemenanganku untuknya, walaupun bukan sebagai pacar. Aku memutuskan untuk memakai turbo.
Aku tau memakai turbo, walaupun hanya dijalan lurus, saat hujan sama saja berjudi dengan mempertaruhkan nyawa. Kalau Dewi Fortuna berpihak padaku, aku akan memenangkan pertandingan dalam 13 putaran. Rekor terbaikku. Tapi kalau Dewi Fortuna sedikit aja ragu untuk berpihak padaku. Maka balapan ini akan menjadi balapan terakhirku. Aku harus rela untuk kehilangan segalanya. Kehilangan Dya...
Untuk selamanya...
Saat itulah aku kembali mendengar keributan di basecamp melalui earphone.
“Walaupun lu orang yang mungkin amat sangat dicintai Dheo, tapi gw udah muak liat keegoisan lu!! Lu liat sekarang!? Gara-gara keegoisan lu yang menginginkan Dheo menang, Dheo pakai turbo!! Lu tau, semua orang yang ada disini menginginkan kemenangan Dheo, bukan cuma lu!! Tapi gak sampai harus meraih rekor terbaik!! Apalagi dalam cuaca seperti ini!! Lu tau apa akibatnya?? Dheo harus menyetir dengan sempurna!! Dia harus bisa memacu mobilnya sampai 10 ribu rpm kalau ingin mengaktifkan turbonya!! Dia sama sekali gak boleh memiliki keraguan apalagi ketakutan dalam hatinya. Kalau itu sampai terjadi, Dheo gak punya kesempatan hidup! Gara-gara lu. Dheo sampai nekad bertaruh nyawa!! Dheo bisa meninggal, b******k!!”bentak Chandra terdengar begitu emosi.
Wah wah... Hebat dia, ya? Berani-beraninya dia marah sama Dya sampai ngebentak-bentak kayak gitu. Apalagi sampai berani bilang kalau Dya itu b******k. Kayaknya kalau aku selamat menyelesaikan pertandingan, aku harus buat perhitungan dengan Chandra atas apa yang diucapkannya pada Dya.
“Gw... Gw... Gw bener-bener gak tau.”jawab Dya terdengar gugup, ”Yo? Kamu dengar suara aku kan?? Aku mohon, Yo... Jangan sampai memakai turbo. Aku mohon... Aku gak mau kehilangan kamu. Apalagi sampai melihat kamu me... me...”
“Dy... Aku gak mau mengecewakan kamu. Aku akan melewati garis finish dengan selamat dan kemudian mendengarkan semua yang akan kamu katakan padaku. Kamu percaya sama aku kan??”tanyaku lembut agar disana Dya menjadi tenang, walaupun kalau ditanya apa aku yakin akan selamat atau gak, aku akan menjawab enggak yakin.
“Aku percaya. Aku akan selalu percaya sama kamu. Kamu harus janji akan menyelsaikan balapan dengan selamat. Mendengar semua yang akan kukatakan. Kamu harus janji...”
“Iya. Aku janji.”
Dengan sisa waktu yang gak banyak lagi, aku tetap berusaha menyelesaikan putaran sebanyak mungkin. Saat bendera kotak-kotak dikibarkan, aku tau kalau waktu pertandingan sudah berakhir. Yang paling aku syukuri adalah, aku berhasil tiba digaris finish dengan selamat. Ternyata Dewi Fortuna memang memihakku. Gak sedikit yang berhasil menyelesaikan pertandingan, tapi gak sedikit juga yang tergelincir. Tapi yang jelas semua anggota timku berhasil menyelasaikan balapan. Aku langsung menghentikan mobilku di depan basecamp. Semua menungguku dibawah guyuran hujan. Secepat mungkin aku turun dari mobil dan langsung menarik Dya ke tempat yang teduh.
“Jangan macam-macam Dya!! Kamu belum sehat, jadi jangan coba mandi hujan.”ucapku tegas pada Dya.
Dya tersenyum, kemudian dengan sedikit berjinjit, Dya menciumku. Di depan semua orang. Di depan Rio.
***
Sehari setelah pernyataan cinta Ily...
Dheo mondar mandir kebingungan di kamarnya. Dia sama sekali gak ada perasaan apa-apa terhadap Ily. Tapi kalau dia menolaknya di depan para mahasiswa kemarin, Ily bisa kehilangan harga diri. Dan dia gak mau itu terjadi. Ily adalah sahabatnya.
“b******k!! Apa yang harus gw lakukan?! Ily... Ily... Lu juga sih yag buat masalah.”gerutu Dheo sambil terus mondar mandir di dalam kamarnya_atau lebih tepatnya, lantai dua rumahnya yang sudah disulap jadi kamar Dheo semuanya.
“Agh, aku tau!”ujar Dheo sambil meraih telpon rumahnya dan menekan nomor telpon seseorang.
“Hallo??”sahut suara di seberang.
“Ily?? Ini gw Dheo.”
“Oh, elu, Yo. Ada apa?? Tumben??”
“Gw cuma mau jawab pertanyaan lu kemarin.”
“Oh itu. Gimana?? Apa jawaban lu??”
“Gw gak bisa. Lu tau sendiri, gw udah punya orang yang gw sukai sejak dulu. orang yang senyumannya paling ingin gw lindungi. Walaupun sekarang dia sama sekali gak punya ingatan apa-apa tentang gw. Tapi gw akan tetap menunggunya.”
“Gw udah nyangka ini jawaban lu.”
“Sorry.”
“Gak pa-pa. Gak masalah. Yang jelas kita masih tetap teman kan??”
“Pasti. Gw gak mau kehilangan sahabat kayak lo.”ujar Dheo lalu mengakhiri pembicaraannya di telpon.
Bagi Dheo gak akan ada yang bisa menggantikan posisi Dya di hatinya. Posisi Dya sudah membekas terlalu dalam. Dan hanya Dya yang bisa mengisi ruang itu. Dheo selalu berharap kalau suatu saat ingatan Dya akan kembali. Dya akan ingat kembali dengan apa yang pernah mereka alami bersama. Kenangan mereka berdua. Dan saat kenangan itu kembali, Dheo yakin, Dya akan mencintainya.