13

1303 Kata
Hari ini genap seminggu aku dan Rio pacaran. Padahal kami baru jadian selama seminggu, tapi buatku rasanya udah setahun. Tadi malam Mama sama Papa kembali ke London. Aku sangat terkejut saat melihat Dheo ikut mengantar mereka. Mama memang bilang kalau sebelum ke bandara mereka akan menemui seseorang dulu. Tapi aku sama sekali gak nyangka kalau orang yang masih sempat ditemui sesaat sebelum mereka berangkat adalah Dheo. Entah kenapa semalam aku senang dapat melihat Dheo lagi. Aku masih mencintainya. Aku merindukan semua kelembutan yang selalu diberikannya. Aku merindukan senyum yang jarang diperlihatkannya itu. Aku merindukan kecemburuannya terhadap hal-hal yang sepele sekalipun. Seandainya dia masih disini... Tentu aku masih dapat melihatnya. Tapi itu gak mungkin. Dheo sudah melakukan yang terbaik dengan memilih untuk pindah dari sini. Agh!! Sudahlah! Padahal aku hari ini gak masuk sekolah karena ingin menenangkan diri tanpa memikirkan apapun... Baik Dheo ataupun Rio... Aku berbaring di tempat tidur di kamar yang dulu pernah ditempati Dheo. Aku sama sekali gak mau merusak suasana di kamar ini. Aku tau, gak mungkin Dheo akan kembali lagi ke sini. Tapi setidaknya, kenangan terakhirnya akan tetap aku jaga dengan membiarkan kamar ini apa adanya, seperti keadaan terakhir saat Dheo pergi. Aku membayangkan seandainya Dheo masih ada disini, sering berkeliaran dikamar dengan hanya mengenakan celana gunung pendek. Bau parfum dan badannya masih bisa aku cium dari tempat tidur. Ya, tanpa Dheo, rumah yang memang udah sepi ini semakin terasa sepi. Didi udah berangkat kesekolah, sedangkan Bik Umi belum kembali dari rumah saudaranya. Karena ternyata nyawa saudaranya gak tertolong lagi. Aku sendirian di rumah... Saat aku akan keluar dari kamar Dheo untuk kembali ke kamarku, kudengar pintu depan terbuka, dan kudengar dengan sangat jelas langkah-langkah orang memasuki rumahku. Padahal rasanya tadi aku sudah mengunci pintu depan. Aku mengurungkan niatku untuk keluar dari kamar Dheo. Aku kembali masuk dan menutup pintu. Kudengar langkah kaki itu mulai menaiki tangga, aku terdiam disudut tempat tidur Dheo, saat itu tanganku menyentuh tongkat baseball milik Dheo. Aku berjalan kesamping pintu dengan membawa tongkat baseball itu. Tepat saat pintu kamar mengayun terbuka, aku mengayunkan tongkat baseball itu sekuat tenaga. BUG!! “Aduh!!”teriak pemilik langkah itu kesakitan. “Dheo!?”ucapku tak percaya dan membuatku spontan menjatuhkan tongkat baseball itu. “Dya?? Aw!”erangnya sambil memegangi kepalanya yang benjol sampai berdarah. “Ma... Ma... Maaf! Aku... Aku... Aku kira...”ucapku tergagap karena melihat darah yang mulai mengalir di wajah Dheo. Dheo malah tersenyum, itu membuatnya terlihat cakep banget, ”Kamu pasti ngira aku maling kan??”tanya Dheo lembut, ”Sumpah, aku gak ngira kamu punya tenaga sekuat ini. Sakit banget. Untung aja cuma benjol.”sambungnya. “Cuma benjol??”ulangku, dan ternyata Dheo belum menyadari kalau yang katanya ‘cuma benjol’ itu sudah mengeluarkan darah merah segar. “Eh, apa nih yang ngalir??”tanya Dheo saat sudah mulai menyadari ada sesuatu yang mengalir di kepalanya, ”Hangat.”sambungnya sambil mengelap wajahnya dengan lengan bajunya yang berwarna putih. Aku gak bisa ngomong apa-apa. Dheo benar-benar terlihat b**o’. Saat itulah Dheo melihat lengan bajunya yang tadinya berwarna putih polos sekarang udah berubah menjadi merah. Dan aku sama sekali gak mengira reaksi Dheo akan seperti ini. DHEO PINGSAN!! “Dheo!!”pekikku spontan saat melihat Dheo langsung tumbang di dekat pintu sesaat setelah melihat darahnya. Aku berjuang menarik Dheo keatas tempat tidur. Aku langsung berlari mengambil kotak P3K di bawah. Kubersihkan lukanya lalu kuberi antiseptic sebelum aku perban. Cukup lama Dheo pingsan sebelum akhirnya tersadar. “Dya?? Aku kenapa??”tanya Dheo langsung setelah sadar. “Kamu pingsan, Yo. Setelah ngeliat darah kamu sendiri.”ujarku lega, sepertinya gak ada akibat yang lebih parah, ”Kok bisa sih, dokter takut sama darah??” “Cuma kalau liat darah sendiri kok. Liat darah orang gak masalah.”ucap Dheo pelan karena malu. Aku tersenyum, ”Ngomong-ngomong kamu kok bisa masuk?? Parasaan pintunya udah aku kunci deh.”tanyaku akhirnya. “Dya... Dya... Kamu tuh lupa apa amnesia lagi?? Pintu depan gak terkunci kok.”ucap Dheo sambil berusaha duduk. “Terus kamu ngapain kesini??” “Ada barang aku yang ketinggalan.” “Apa??” “Tas itu. Dan...” Dheo gak meneruskan ucapannya, dia malah langsung bangkit dari tempat tidur dan mengambil tas yang dibilangnya tadi. “Dheo tunggu!!”panggilku tiba-tiba sambil menarik baju Dheo. Dheo langsung kehilangan keseimbangan dan menabrakku hingga terjatuh ke tempat tidur. Dheo tepat berada diatasku. “Dya...”gumam Dheo lalu berangsur menyingkir dari atasku dan duduk di pinggir tempat tidur. Saat kami terjatuh tadi, hampir aja bibir Dheo menyentuh bibirku kalau saja Dheo gak segera menahan berat tubuhnya agar gak sempat menghimpitku. Akupun duduk di sebelah Dheo. Kami sama-sama terdiam beberapa saat sebelum Dheo akhirnya bicara. “Dy... Kamu besok bisa liat aku balapan gak??”tanya Dheo tanpa memandangku, ”Mungkin besok balapan terakhir aku.” “Balapan?? Jadi bener kamu ikut balapan liar??”ujarku balik bertanya. “Iya.” “Sejak kapan, Yo??” “Sejak aku kembali kesini. Kelas 1 SMA...” “Dimana balapannya??” “Dibelakang kampus. Kamu boleh ajak Rio kok.” “Oke. Aku datang. Tapi bilang dulu. Apa sambungan dari ucapan kamu tadi?? Tadi kamu bilang kalau barang kamu yang ketinggalan itu tas dan...??” Dheo menatap kedua mataku. Dalam. Dari sorot matanya aku tau kalau aku salah karena telah bertanya. Karena dengan tiba-tiba dan dengan sangat cepat, Dheo mendorong bahuku hingga kami terbaring ditempat tidur. Semakin lama Dheo makin mendekatkan wajahnya padaku, hingga hembusan nafasnya dapat kurasakan. Akhirnya, tanpa aku berniat untuk menolaknya, Dheo mencium bibirku dengan lembut. Aku sama sekali gak memberontak. Sampai akhirnya Dheo sendiri yang menjauh dariku. “Maaf...”ujarnya sesaat sebelum keluar dari kamar dan kali ini benar-benar pergi tanpa sempat aku cegah. *** Hari pertama Dheo masuk kuliah... “Eh, udah denger belum kalau ada anak tingkat satu yang dapat julukan Prince??” “Yang mana orangnya??” “Itu... Yang baru aja masuk ruang 3c.” Dheo semakin risih menjalani kehidupannya. Lepas dari julukan Prince of The End Century selama SMA, sekarang dia mendapat julukan Prince Charming di kampus. Hampir semua mata memperhatikannya, dan itu tentu saja membuat Dheo jengah setengah mati. Gw bukan orang yang sempurna, b**o’!umpat Dheo dalam hati. Dan saat kekesalannya memuncak, Dheo mendapatkan kejutan saat memasuki ruangan. “DHEO!!”pekik seorang cewek berambut pendek langsung berhambur ke pelukan Dheo. “Ily??!!”ucap Dheo takjub dan langsung membalas pelukan cewek itu. Dheo dan Ily sudah berteman sejak Dheo pindah ke Singapore. Mereka sangat dekat. Dan sekarang, setelah 3 tahun berpisah, mereka kembali bertemu di kampus yang sama, di ruangan yang sama. Selama seharian dikampus, kedua teman lama itu selalu bersama. Membuat semua yang mengidolakan Dheo harus rela melihat pujaan hati mereka bersama cewek lain. Dan tepat pada mata kuliah terakhir selesai, Ily berbisik pada Dheo. “Lu duduk bentar yah? Ada yang mau gw bilang sama lu di depan kelas.” Selesai bicara, Ily langsung berjalan ke depan dan dengan suara lantang dia berbicara. “Teman-teman yang ada semua disini. Gw Lauren Kaily. Gw baru pindah dari Singapore. Gw pindah kesini gara-gara merindukan seseorang yang istimewa buat gw. Dheo... Gw kesini sebenarnya gara-gara ngejar lu. Gw suka sama lu. Lu mau gak jadi pacar gw??” Dheo benar-benar kaget melihat apa yang dilakukan Ily. Serasa ada yang menghantam kepalanya dengan palu ribuan buah. Dheo sama sekali gak bisa ngomong. Dia langsung berdiri dan segera keluar dari kelas. Dheo juga sama sekali gak masuk kelas selanjutnya. Padahal kelas berikutnya adalah kelasnya Pak Jonowiloyo. Dosen tersenior di kampus sekaligus dosen dengan jabatan tertinggi di universitas. Dheo sama sekali gak memperdulikan hal itu. Yang dia pikirkan saat keluar dari kelas menuju mobilnya di parkiran adalah bagaimana cara menolak pernyataan Ily tadi. Karena buat Dheo Ily gak lebih dari sekedar teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN