Bab 12

1710 Kata
"Ara aku dan keluarga ke rumah kamu sabtu besok," kata Mas Adam. Ara baru saja pulang dari kafe, mendengar ucapan Mas Adam melalui telepon tentu saja membuat Ara terkejut. Setelah acara liburan bersama teman-teman Mas Adam empat hari yang lalu, mereka memang tidak saling berkomunikasi. Adam tidak mengirim pesan sama sekali pada Ara, tapi malam itu, ketika Ara baru saja sampai rumah, Adam memberinya kabar yang membuat perut Ara mendadak mulas. Perut gadis itu pun tiba-tiba jadi sakit. Jantungnya berdetak sangat cepat. Kabar ini benar-benar membuat Ara grogi. Sekalipun ia tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat, tetap saja Ara merasa tidak siap. Ia masih tidak percaya jika ini akan menjadi nyata. Dulu Ara hanya berani mengagumi Adam sebatas perasaan cinta monyet anak SD. Dia masih belum mengerti apakah perasaan itu bisa dikatakan cintaa? Yang jelas Ara senang jika bermain dengan Adam. Sosok Adam di mata Ara bagaikan seorang kaka yang Ara idam-idamkan. Dan kini, sosok Kaka itu akan menjadi calon suaminya? Ah, sungguh dia seperti berada di dunia mimpi. "Ra, kamu di situ kan?" Suara Mas Adam terdengar memecahkan lamunan Ara. Ara mengangguk, bodoh sekali. Padahal Adam tidak bisa melihatnya. "Iya Mas, iyaa aku di sini." "Kamu bilang Ayah sama Ibu kamu yaa" Katanya kemudian. Ara mencoba duduk di kursi ruang tamu. "Iya Mas." Adam diam, Ara pun begitu. Membuat suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Ara sebenarnya ingin berbasa basi dulu, menanyakan apakah Adam sudah makan? Ah tidak..tidak...pertanyaan sudah makan belum itu konyol sekali. Ara ingin menanyakan sesuatu agar mereka tidak canggung seperti ini. Dia ingin tau apa yang Adam lakukan hari ini, tapi Ara tidak berani mengatakannya. Sedangkan Adam ingin menyudahi telepon itu. Tapi keinginannya itu ia tahan, ia tau perempuan di sebrang sana pasti tengah berupaya untuk memberanikan diri membuka pembicaraan. Sebenarnya bisa saja sih, Adam memancing pembicaraan diantara mereka, hanya saja Adam terlalu malas melakukan itu. "Mas," Ara membuka mulutnya. "Iyaaa?" "Em...egak deh," "Kenapa Ra? Ngomong ajaa" Ara tersenyum. Walaupun dia sempat meragukan kesungguhan Adam, tapi dia sekarang yakin. Yakin jika lekaki itu adalah yang terbaik. Yang akan membawanya menuju pernikahan yang bahagia. "Mas hari ini ngapain aja?" "Apa ra?" "Itu mas—" "Eh, maaf yaa ra, Bunda panggil aku." "Oh, iya Mas gpp." "Yauda, Mas tutup." "Iyaa, assalamu'alaikum." "Waalaikumsalam wr wb." Ara menghembuskan nafas panjang. Baru saja dia berusaha untuk mendekat ke arah Adam, tapi ada saja halangannya. Mereka kan sudah mau menikah, kenapa yaa hubungan mereka tidak sedekat pasangan lain? Kenapa Adam terkesan sangat dingin padanyaa? Dan banyak sekali hal-hal yang membuat Ara overthinking. Alhasil, dia pun berencana untuk mandi air hangat sembari berendam. Tampaknya malam ini akan ia habiskan di dalam kamar mandi sembari merenungi beberapa hal yang telah terjadi akhir akhir ini. Tentunya Ara memberi tahu Mama dan Ayahnya terlebih dahulu. ----------------- Hari sabtu yang dinantikan Ara dengan perasaan campur aduk itu akhirnya datang juga. Semua keluarganya sudah datang ke rumah Ara. Ada Bunda Nur dan Ayahnya yang jauh-jauh datang ke Jogja setelah dua bulan ini pindah rumah. Ada juga Ibunya bersama Bapak yang sudah sampai sejak pagi tadi. Mereka semua kini tengah menunggu keluarga Adam. Bunda dan Ibu sibuk di dapur, semetara Ayah dan Bapak sibuk berbincang di ruang tamu. Sekalipun orang tua Ara sudah bercerai dan menikah lagi, mereka tetap rukun dan berkomunikasi dengan baik. sesekali dulu ketika Bapak dan Bunda masih belum pindah rumah, mereka bahkan mengadakan arisan keluarga bersama. membawa anak-anak mereka yang menjadi adik tiri Ara. Mungkin sebab itu Ara tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang keluarga. Sekalipun ada kalanya ia masih menyesali keputusan orang tuanya untuk bercerai. dan dia berjanji, dia tidak akan membuat anaknya merasakan apa yang ia rasakan—menjadi anak dari keluarga yang broken home. “Ara,” Ibu masuk kamar Ara ketika perempuan itu sibuk berbincang dengan Aulia—sahabat Ara dari SMA. Sebenarnya teman Ara ada banyak, tapi semakin besar Ara semakin merasa temannya semakin sedikit. Mungkin karena kebanyakan teman Ara sudah menikah dan punya anak, jadi yang masih sering kontekan dan mengajak bertemu ya palingan itu-itu aja. Kalau nggak Aulia ya Okta. Sayang Okta hari ini tidak bisa datang karena harus mengurusi kebun bunganya yang akhir-akhir ini jadi destinasi wisata baru di Jogja. “Ada apa Bu?” tanya Ara. Ketika tau ada Ibu Ara, Aulia sontak menghentikan curhatan tentang pacarnya yang akhir-akhir ini susah dihubungi. Menatap Ibu yang kini berdiri di bibir pintu. Ibu Ara pagi ini menggunakan setelan kebaya bewarna merah maroon, dengan sanggul yang menghiasi rambutnya. Ia terlihat ayu dan anggun sekaligus, membuat semua orang yang melihat pasti setuju jika ada yang bilang Ibu Ara masih seperti remaja dua puluh tahun. “Adam sampek mana? Kok belum dateng jugaa?” tanya Ibu dengan raut wajah kesal. Ara mencari keberadaan Hpnya. Jujur saja sejak kemarin Adam belum menghubunginya, pagi ini mereka pun tidak saling bertukar kabar. Hanya saja tadi ketika Adam sempat memberi tau Ara kalau dia sudah berangkat dari rumah. itu terjadi enam puluh menit yang lalu. Jika dilihat dari jarak rumah Adam, yang tak seberapa jauh, pantas saja sih Mama mengomel seperti itu. “Ibu tenang yaa, Ara hubungi Mas Adam sekarang.” Kata Ara. Ibu pun mengangguk kemudian meninggalkan kamar Ara. Sepeninggal Ibu, Ara segera menghubungi Adam. Berharap dengan sangat jika lelaki itu tidak mengalami sesuatu hal yang buruk. Keringatnya sudah panas dingin sejak tadi, dia tidak mau beban pikirannya semakin menumpuk jika terjadi sesuatu pada Adam. “Rumahnya di daerah Bukit Mas ya? harusnya uda dateng dong, kalau dia chat kamu dari jam delapan tadi,” kata Aulia yang semakin membuat Ara panik. “makanya itu li, aku takut dia kenapa-napa.” Kata Ara. Tangannya kini sibuk mencari nama adam kemudian menekan tombol telepon untuk tersambungan dengan Adam. Tut...tut...tut... Telepon masih belum diangkat, Ara mencoba sabar. Tut...tut...tut... Hingga beberapa menit kemudian, suara Adam terdengar di ujung sana. “Ara?” tanpa salam seperti telepon Adam biasanya, suara Adam terdengar bergetar. “Mas Adam dimana? apa terjadi sesuatu?” Tanya Ara. “Ara kamu bisa ke rumah sakit?” “Mas? Ada apa?” “Di rumah sudah ada Ayah kamu kan? dia uda dateng kan?” “Uda mas, tapi ada apaa?” “Plis Ra, kamu dan keluarga kamu ke rumah sakit Siti Maimun ya, yang di jalan Bunga.” “Bisa jelasin ada apa dulu?” “Bapak Ra,” kata Mas Adam dengan suara parau. Ara tidak tau kenapa Bapak Mas Adam. Dia belum bertemu dengan Om Faiz beberapa tahun ini. terakhir ketemu ketika Mama mengajak Ara berkunjung ke rumah keluarga Adam dua tahun yang lalu. hanya main biasa dan saat itu pun Ara tidak bertemu Mas adam karena dia sibuk di pondok. “Bapak kenapa Mas?” “Bapak sakit jantung, dan tadi waktu perjalanan ke rumah kamu beliau pingsan.” “Innalillahi...yauda, aku sama keluargaku habis ini ke sana.” “Oke Ra, nggak harus semuanya ikut. Yang jelas ajak Ayah kamu.” “Iya Mas.” Ara mematikan sambungan telepon itu. kemudian berjalan dengan cepat keluar kamar. Mengabaikan Aulia yang terlihat sangat kebingungan. “Ibuuu...buu..Ibuu!” Ara terlihat kelabakan. Bapak dan Ayah yang melihatnya pun sontak penasaran. Mereka mendekat ke arah Ara. “Ada apa Nduk? Ibumu tadi keluar,” kata Bapak. “Ayah...ayo ayah!” Air mata Ara tidak bisa di bendung lagi. sejak kemarin dia sudah khawatir dengan hari ini, jadi ketika hal seperti ini terjadi membuat Ara sangat sedih. “Ayo kemana ndukk? Ambil nafas duluu, kamu kenapa?” tanya Ayah sembari memegang bahu putri cantiknya. “Ada apa Aulia? Kenapa Ara?” tanya Bapak pada Aulia. “Nggak tau Om, kayaknya terjadi sesuatu dengan keluarganya Adam.” Kata Aulia. Ia mengelus punngung Ara yang kini mulai bergetar. Harusnya hari ini akan menjadi potongan hari bahagia Ara sebelum hari pernikahannya. Harusnya senyum indah itu yang nampak di wajah gadis itu. Bukan tangis seperti ini. Ibu dan Bunda terlihat memasuki rumah, dibuat terkejut ketika melihat Ara menangis. “Ada apa ini?” tanya Ibu. Mendekat ke arah putri yang paling ia cintai. “Kamu kenapa Ara??” “Ada apa ini Mas?” tanya Ibu. “Nggak tau Sri, ditanya bukannya jawab dia malah nangis.” Kata Ayah. “Ada apa Sayangg?” tanya Bunda. Ara menghembuskan nafas panjang, menghapus jejak sisa air mata yang membasahi pipi. “Bapak Mas Adam kritis, aku dan Ayah disuruh ke sana sekarang.” Jelas Ara. “Yauda Ayo! Ayo kita ke sana!” kata Ibu. Tanpa mengajukan pertanyaan lagi, semua orang di rumah Ara pun kini menaiki mobil mereka masing-masing. menuju ke rumah sakit siti maimun yang kebetulan tak berada jauh dari rumah Ara. Ara dan Aulia ikut mobil Mama, dan di dalam mobil Ara tak kunjung berhenti menangis. apalagi setelah mendengar cerita Mama tentang kondisi Bapak Mas Adam yang akhir-akhir ini semakin memburuk. Setibanya di rumah sakit, mereka semua menuju ruang UGD. Di luar ruang UGD sudah banyak keluarga Mas Adam yang berkumpul. Ara mendapati mas Adamnya tengah duduk dengan wajah tenang seperti biasa. Sekalipun begitu, di wajah tenang itu Ara menemukan kesedihan yang luar biasa. Ara tau, mas Adam pasti tengah berusaha kuat. Sementara di sampingnya ada Bunda dan dua adik perempuan Mas Adam yang sudah menangis sesenggukkan. “Mas,” Ara memanggil lelaki yang melamun itu. Mas Adam pun menoleh menatap Ara. Mata mereka bertemu lama. Ara masih mencoba menyelami ke dalam mata Mas Adam yang hitam legam yang kini terlihat sangat menyedihkan.  “Ra, kita nikah sekarang ya.” kata Mas Adam yang membuat mata Ara membulat sempurna. Ini sangat mengejutkan bagi Ara. Sungguh takdir memang terkadang terjadi sangat tidak terduga. Memikirkan hari ini akan melangsungkan lamaran dengan Mas Adam saja sudah membuat perutnya mules, gelisah dan tak karuan. Apalagi jika hari ini dia akan menikah dengan adam sekaligus? Ara masih belum siap. Tapi keadaan seolah enggan berkompromi dengan kesiapan Ara. “Dokter bilang umur Bapak sudah ndak lama lagi Ra, Bapak sekarang kritis, dan aku mau Bapak menyaksikan pernikahanku denganmu.” Mendengar itu, Ara tak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Adam. Mereka pun akhirnya melangsungkan ijab kabul di ruang rawat UGD yang serba putih itu. setelah mereka dikatakan sah, tak ada raut wajah bahagia. Hanya tangis yang nampak di wajah semua anggota keluarga. Apalagi setelah mendengar kabar Bapak Mas Adam meninggal sepeluh menit setelah ijab kabul itu dilakukan. TBC xx, muffnr
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN