Bab 13

884 Kata
Ini bukan pernikahan yang Ara impikan. Sama sekali, dalam hidupnya Ara tidak pernah berpikir akan menikah dalam keadaan seperti ini. Tidak ada suara musik yang menggema, hiasan dekorasi cantik atau makanan enak yang biasanya menjadi ciri khas pesta pernikahan. Yang terdengar setelah ijab qabul hanya suara tangis yang membuat suasana semakin kalut. Perasaan Ara setelah menikah dengan adam bukannya bahagia malah terasa nelangsa. Malang sekali Ara, impiannya mengadakan pesta pernikahan di sebuah taman dengan dekorasi bunga-bunga tampaknya harus ia kubur selamanya. Karena pesta itu tidak akan dia dapatkan. Karena keluarga Adam telah kehilangan sosok yang paling berarti. Sepuluh menit setelah prosesi ijab dadakan itu usai, Bapak Adam menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan raut wajah yang terlihat damai ia pergi dari dunia ini. Meninggalkan keluarganya yang kini menangis tersedu. “Ara,” Ayah Ara membawa Ara keluar dari ruangan itu. meninggalkan ruangan yang dipenuhi suasana kalut. “Ayah..” Ara menangis sejadi-jadinya. Pikirannya kacau, semuanya terjadi begitu cepat. “Yang sabar ya nduk,” hanya itu kata Ayah. Kemudian tubuh Ara dibawa ke dalam dekapannya. “Ara yang kuat, Ara harus ikhlas.” Ayah Ara seolah mengerti perasaan putrinya. Ia tentu saja tau, menikah dengan cara seperti ini bukan keinginan siapapun. dan ini pasti berat bagi Ara. “Ara uda jadi istri orang yah..” kata Ara. “Ara yang baik ya sama Mas Adam, Ayah yakin Ara akan diperlakukan dengan baik di keluarga baru Ara. Ayah sudah kenal keluarga Adam jauh sebelum Ara lahir.” Ujar Ayah. Ara mengangguk. Sama seperti yang Ayah rasakan, Ara juga merasa yakin pada adam dan keluarganya. Mereka memang keluarga yang baik, tapi tetap saja ada perasaan takut karena harus berdaptasi dengan lingkungan keluarga yang baru. Bagaimana jika keluarga adam tak suka dengannya? bagaimana jika ara salah bertingkah laku? Dan banyak sekali yang membuat Ara khawatir. Namun sebelum Ara mengkhawatirkan hal-hal itu, sepertinya Ara harus mencari keberadaan Adam. Karena suaminya itu pasti dalam keadaan tak baik-baik saja. “Ara mau cari Mas Adam.” Kata Ara, sembari melepas pelukannya dengan Ayah. “Adam lagi sibuk nyiapin pemakaman Ayahnya Ra,” kata Ayah. “Kamu iikut pulang aja. nanti kita ke rumah Adam sama-sama.” “Oke yah” Kata Ara. Dia merasa saran Ayah betul juga. Ara dan keluarganya pun pamit untuk pulang. Ibu mertua Ara mengajak Ara berbicara berdua sebelum mengizinkan Ara pulang. Ia membawa Ara ke sudut ruangan. Ara tak melihat keberadaan Adam, mungkin benar kata Ayahnya. Adam pasti sedang repot menyiapkan pemakaman Ayahnya. “Ara terima kasih ya Nduk,” kata Ibu mertuanya itu sembari mengenggam tangan Ara. Air matanya yang sejak tadi berjatuhan kini turun semakin deras. “Bunda, kenapa bilang makasih?” tanya Ara bingung. Ara pun mengenggam tangan mertuanya itu erat. Seolah mencoba memberi kekuatan pada perempuan berusia lima puluh tahun itu. “terima kasih, kamu sudah mau mewujudkan keinginan Bapaknya Adam. Dan maaf kalau Adam menikahimu dengan keadaan seperti ini.” Kata Bunda. Air matanya kini ia coba hentikan, agar ia bisa berbicara denga jelas. “Gpp Bundaa, Ara mengerti.” Kata Ara. “Makasih ya nduk, sungguh ribuan terima kasih tidak akan cukup. Bunda tidak bisa bayangkan kalau kamu ndak mau menikah dengan Adam, pasti bunda akan dibebani rasa bersalah.” “Kenapa begitu Bunda?” sebenarnya Ara tidak ingin menanyakannya sekarang, tapi dia tak mau dihinggapi rasa penasaran yang membuat dadanya sesak. “Bapak adam dari dulu pengeen banget liat Adam menikah nduk, sudah banyak calon-calon yang Bunda kenalkan ke Adam tapi Adam selalu menolak. Kami pun mencoba mengerti dan memberi waktu, mungkin Adam masih ingin sendiri. tapi tahun ini, ketika dokter bilang penyakit Bapaknya Adam semakin parah, kami semua jadi bingung untuk mewujudkan keinginannya itu. Adam pun akhirnya mau menikah tapi dia bilang tidak punya calon. Akhirnya kami carikan dan ketemu kamu. alhamdulillahnya kamu mau menikah dengan Adam dan Adam juga begitu, padahal dari dulu dia paling rewel kalau dikenal-kenalin cewek. Waktu Bunda kasih tau kamu sama Adam mau menikah, Bapak langsung senang. beliau merasa legah karena kamu yang menjadi istri Adam. Bapak sudah punya feeling kalau kamu akan menjadi istri yang baik untuk Adam” “Amin, semoga ya Bundaa.” Kata Ara dengan hati yang senang. setidaknya sebelum meninggal ia benar-benar mendapatkan restu dari Bapak. “Pasti Ra, dan Bunda nggak nyangka hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan untuk Bapak. Dia pasti sekarang sudah bisa meninggalkan dunia dengan tenang karena tau kamu sudah menikah dengan Adam. Jujur Bunda merasa ikhlas melepas kepergiian Bapak, karena Bunda tau Bapak meninggal dengan keadaan tenang. Tidak ada lagi keinginan dunia yang ia harapkan berkat kamu.” Bunda membawa Ara ke dalam pelukannya. “Terima kasih..” suara Bunda bergetar, pundak ara pasti basah karena air mata Bunda. Ara mengelus punggung Bunda dengan lembut. dia tak menyangka Bunda akan sekuat dan sehebat ini. perasaan ikhlas setelah ditinggal seseorang yang dicintai, tidak akan bisa mudah dirasakan oleh orang biasa seperti Ara. “Aduh Bunda malah nangis,” Bunda melepas pelukannya “uda sana kamu pulang. nanti Bunda tunggu di rumah.” Ara mengangguk, “mas Adam kemana ya Bun?” “Ah, dia pasti lagi ngurusin biar jasad bapak biar bisa pulang. Kamu langsung pulang aja. nanti Bunda bilangin ke adam.” “Oh iya Bunda, Assalamu’alaikum.”Ucap Ara sembari mencium tangan Bunda. Ia pun meninggalkan rumah sakit bersama keluarganya. TBC.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN