"Alhamdulillah, selamat anak dan cucu Bapak Ibu perempuan." Seorang perawat datang membawa pesan yang membahagiakan itu. Aku yang tadinya termenung menatap lantai rumah sakit yang bewarana putih itu pun sontak menoleh ke sumber suara dan segera mendekat ke tempat sangat perawat. Bunda, ayah, dan Bapak yang ada di sana pun melakukan hal yang sama. Ku lihat semburat kebahagiaan tersirat di raut wajah mereka. "Bagaimana keadaan Ibunya?" tanyaku. Itu adalah kabar yang ingin aku dengar. Sejak Ara meminta maaf tadi, aku jadi khawatir terjadi sesuatu pada dirinya. Aku takut Ara kenapa-kenapa. Pikiran liarku pun sejak tadi sudah membayangkan hal terburuk, membuatku takut dan sumpek sejak tadi. Sang perawat tersenyum menatapku, "tampaknya suami lebih mencintai istrinya daripada anaknya," ujarn

