Bab 20

1017 Kata
Ara ingin berteriak pada dunia jika dia bahagia. Dia ingin menunjukkan  pada semua orang jika dia tengah hidup di mimpi yang menjadi kenyataan. Dia tidak menyangka perasaannya waktu kecil bisa kembali lagi memenuhi hatinya. Atau sebenarnya perasaan itu tidak pergi ke mana-mana? Selama ini Ara saja yang sibuk pergi mencari, tanpa menyadari di dalam hatinya masih tersisa perasaan yang belum selesai. Dan bisa Ara pastikan, perasaan itu semakin besar sekarang. Karena sejak mendengar namanya disebut oleh Adam dalam sebuah kalimat ijab qabul, disaat itulah hati Ara jatuh semakin dalam padanya. Pada pesona Adam yang selalu membuatnya jatuh. Maka tidak heran jika hanya dengan memandang wajah Adam seperti sekarang saja sudah membuat hati Ara penuh dengan kebahagiaan. Jarum jam menunjukkan angka tiga ketika Ara terbangun dari tidur. Sudah menjadi kebiasaan Ara bangun pagi-pagi buta, sebab itu kebiasaan itu tidak bisa ia hilangkan sekalipun sudah menikah. Dulu ketika masih lajang dan terbangun di tengah malam, Ara langsung mencari ponsel sembari mengumpulkan niat untuk pergi ke kamar mandi. Namun sekarang lain lagi. Ara tidak mencari keberadaan ponselnya, ia bahkan tak penasaran sama sekali dengan notifikasi apa yang ia dapatkan. Yang ada di pikirannya ketika membuka mata hanya Adam. Karena wajah lelaki itu yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata. Ah..Ara masih sulit percaya lelaki yang sedang tertidur pulas di hadapannya itu sudah menjadi suaminya. Sungguh Ara beruntung sekali karena mendapatkan lelaki setampan Adam. Selain tampan, Adam juga lelaki shalih, sopan, berilmu dan pekerja keras. Sekalipun akhir-akhir ini sikap adam membuat Ara kecewa, bagi perempuan itu di matanya Adam masih sosok yang sempurna untuk dijadikan suami. Tapi...apakah Ara pantas menjadi istri Adam? Tiba-tiba saja perasaan tidak percaya diri memenuhi relung hati Ara. "Mas.." Ara berniat membangunkan Adam untuk melakukan shalat malam bersama. "Mas Adam.." Suara Ara terdengar sangat lembut di telinga Adam. Membuat tidur Adam yang sejak tadi pulas pun terganggu. osisinya. "Mas Adam bangun," kata Ara lagi. Adam pun dengan keadaan setengah sadar membuka matanya. Sosok Ara dengan jarak yang cukup dekat adalah yang pertama kali Adam lihat. Ia kemudian menggeliatkan tubuh dan mencoba mengambil alih nyawanya. "Iya Ra, kenapa?" Suara Adam parau dan itu terdengar sangat menyenangkan bagi Ara. Ara tersenyum, "mas mau shalat malam nggak? Kalau mau, ayo kita jamaah." Mendengar jawaban Ara, Adam terpejam sebentar. Hingga kemudian mengangguk tanda mengiyakan ajakan Ara. Ara pun segera bangun dari posisinya, "Ara ambil wudhu dulu." Jujur ini juga salah satu impian Ara. Shalat malam dengan kekasih halalnya. Menghadap Allah di sepertiga malam yang katanya waktu mustajabah—dimana setiap doa yang diucapkan pasti terwujud. Selepas mengambil wudhu, Ara dan Adam pun melakukan shalat bersama. Rasanya berbeda sekali dengan shalat sendirian. Ada perasaan haru yang menjalar ke dalam diri Ara ketika setiap gerakannya di pimpin oleh Adam. Usai shalat, Ara mengaminkan setiap doa yang diucapkan Adam. Ia pun turut berdoa dalam hati. Do'anya malam ini, semoga pernikahan mereka selalu dilimpahkan keberkahan. Dia juga memohon pada Allah semoga dia bisa bersama Adam selamanya. Agar rasa bahagianya tidak mengenal kata kadaluarsa. "Makasi ya Mas," Ujar Ara selepas mencium tangan Adam. "Makasi buat apa?" "Makasi mas uda mewujudkan salah satu mimpiku. Bisa melakukan shalat tahajud dengan suami adalah salah satu harapanku selama ini." Adam tersenyum singkat, kemudian mengangguk. "Mas yang harusnya makasih, kalau nggak karena kamu mungkin mas nggak shalat tahajud pagi ini." "Besok mau dibangunin tahajud lagi?" "Boleh," Kata Adam dengan cepat. Sekalipun belum mandi, Adam tetap terlihat tampan. Ara melirik sosok Adam sekilas sebelum melanjutkan kegiatannya "Kamu rutin shalat tahajud?" Tanya Adam sembari menatap Ara yang sedang berada di area almari. Entah apa yang perempuan itu cari. "Iya mas, tahajud amalan yang istiqamah yang selalu aku lakukan beberapa tahun terakhir." Kata Ara. Oh, ternyata sejak tadi dia sibuk mencari selimut. Karena di tangannya itu kini ada selimut berwarna merah. Mungkin selimut itu dibawa Ara dari rumahnya. sembari membawa selimut itu, Ara menaiki tempat tidur mereka. Duduk di samping Adam. Di tangannya yang lain juga membawa ponselnya. Kurang satu jam lagi adzan subuh terdengar, jadi dia memutuskan untuk berselancar di dunia maya sembari mengecek i********: kafe dan toko kuenya. "Aku pernah denger ceramah seorang ustadz, katanya kita harus punya satu amalan yang dilakukan istiqamah. Siapa tau amalan itu yang bikin kita terlihat sepesial di mata Allah." Kata Ara sembari sibuk menatap ponselnya. Ara memang selalu merasa haus akan ilmu agama. Dia merasa hidup di dunia ini tidak ada gunanya jika tidak menjadi hamba Allah sepenuhnya. Sebab itu, sekalipun bukan lulusan pondok, Ara cukup religius. Satu minggu sekali dia selalu mengikuti pengajian di dekat rumah bersama ibu-ibu majlis taklim. Jika tidak bisa hadir, Ara akan ganti dengan melakukan pengajian online dengan melihat kanal youtube yang menyediakan cermah dengan guru yang terpercaya. Dan harapan Ara setelah menikah dengan Adam adalah dia bisa lebih mendalami agama tanpa melihat kanal YouTube lagi. Harapan Ara, Adam yang akan membimbingnya untuk lebih mengenal agamanya sendiri. Sehingga bisa menjadi muslim yang lebih taat dari sekarang. "Keren kamu ra," Ucap Adam dengan senyum manisnya. Ara sontak menoleh ke samping, menatap Adam dengan tatapan bingung. "Keren kenapa mas?" "Ya keren aja punya amalan sendiri, shalat tahajud lagi. Ga semua orang bisa kayak kamu." Puji Adam dengan menatap Ara lembut. Mendengar itu tentu saja membuat Ara senang, ia juga malu karena dipuji Adam. "Ara masih punya banyak dosa mas." "Semua umat manusia di dunia ini punya banyak dosa Ra, yang jadi pembeda, kita mau meminta maaf dengan tulus atau tidak kepada Allah. Mas dulu pernah denger kata guru mas, katanya orang yang shalat tahajud itu orang-orang pilihan. Karena tidak semua orang mau bangun disaat sedang enak-enaknya tidur. Dan mas rasa, kamu salah satunya." Ara tersenyum, kemudian mengangguk. "Amin Mas." Adam mengelus kepala Ara, kemudian mendekat dan mencium puncak kepalanya. Jantung Ara sontak berdegub dengan kencang. "Mas tidur dulu, nanti aku bangunin kalau uda masuk subuh." "Makasi Ra," Kata Adam sebelum merebahkan dirinya dan memejamkan mata. Inilah kehidupan pernikahan yang diharapkan Ara. Ternyata, Adam suami yang baik. Dia bisa memenuhi ekspektasi Ara selama ini. Benar saja, beberapa hari yang lalu pikiran Adam mungkin masih kalut dengan kematian Bapak. Karena siapapun orangnya, pasti akan merasa hancur ketika melihat salah satu orang tuanya tiada. tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN