Bab 21

1030 Kata
"Selamat makann!!!" Aku membuatkan mas Adam nasi goreng seafood spesial pakai telor untuk sarapan. Menyambutnya dengan senyum ceria ketika dia tiba di meja makan. Pagi ini dia menggunakan kemeja bewarna putih yang dimasukkan rapi ke dalam celana hitam. Katanya dia akan bertemu dengan investor penting untuk perusahaan, sebab itu ia memintaku menyiapkan  baju yang resmi—karena biasanya kalau kerja dia hanya menggunakan kemeja kotak-kotak, kaos dan celana asal. "Aku masak nasi goreng kesukaan mas!!" Kataku dengan semangat. Menyuruhnya untuk segera duduk dan menyendokkan nasi untuk piring di hadapannya. "Keliatannya enak," Katanya dengan senyum manis. Ia kemudian menyantap nasi goreng itu dengan raut wajah tak sabar. Ah rasanya senang sekali melihat mas Adam antusias dengan masakanku. "Gimanaa? Enakk?" Tanyaku ketika satu suapan nasi berhasil ke dalam mulutnya. Mas Adam mengangguk , "masakan kamu selalu enak Ra." Katanya. "Makasiii masss," Pagiku sudah sempurna. Mendengar pujian dari Mas Adam dan bisa menatapnya makan dengan lahap adalah nikmat yang luar biasa. "Nanti siang aku kirimin nasi goreng apa menu lain?" "Gausa Ra, ngerepotin kamu malahan. Mending aku makan di warung deket pabrik." "Ih, nggakk mauu. Aku malah seneng bisa ngirimin mas Adam makanan." Kataku. Satu minggu ini aku memang rutin membuatkannya makan siang yang kukirimkan lewat gosend. "Yauda terserah kamuu," "Yeyy!" Pekikku senang. Kulihat wajah mas Adam yang tersenyum singkat sembari menikmati masakanku. “Jadi mas Adam mau apa?” “Emm..” ia terlihat berpikir, kemudian menghendikkan bahu. “semua makanan kamu Mas suka.” Katanya sembari tersenyum. “Oke, tapi aku boleh cerewet nggak sih?” kataku. Sejak tadi aku memang sibuk berbicara dan mengabaikan makanan di piringku. Aku akan memakannya selepas Mas Adam pergi, karena Mas Adam lebih terlihat menarik dari pada piring itu. “Apa? Kamu mau cerewet apa?” Mas Adam moodnya lagi bagus ya? sejak tadi, senyum manisnya itu selalu mewarnai parasnya. Membuat mataku semakin merasa beruntung bisa menatap dengan jarak yang dekat seperti sekarang. “Mas harus makan sayur, vitamin dalam sayur itu penting loh Mas,” kataku. Aku menatap piringnya yang hampir habis, tapi masih tersisa potongan sawi yang sengaja aku campur dengan nasi goreng. Berharap bisa Mas Adam makan sedikit, tapi tampaknya sejak tadi dia makan sambil memisahkan nasi dengan sayuran itu. “Rasanya aneh Ra.” katanya sembari memakan potongan sawi yang ia sisahkan. “Mas belum terbiasa, makanya aneh. Coba Mas makan sama nasi gorengnya.” Aku menyendokkan satu sendok nasi goreng yang ada potongan sawinya, kemudian menyuapkkannya pada Mas Adam. “Aaaa..” Tanpa mengucapkan apapun Mas Adam menurut, ia pun membuka mulutnya dan memakan suapanku. “Gimana? Enakk?” Raut wajah Mas Adam yang sejak tadi merenggut pun terlihat tersenyum. Ia menganggukkan kepala dan menikmati sisa-sisa makanan di mulutnya. “Rasanya jadi nggak aneh. Malah rasa nasi gorengnya lebih enak.” “Iyaa kan??” kataku senang, aku mirip sekali seorang Ibu yang membujuk anaknya memakan sayur. Haha apalagi Mas Adam sejak tadi terlihat sangat penurut. “Lain kali, sayurnya dicampur aja makannya sama makanan yang Mas Adam suka. Jadi rasanya biar nggak aneh.” Mas Adam mengangguk dan melanjutkan makannya dengan lahap. Setelah sarapan, Mas Adam berpamitan berangkat ke Pabrik. Aku mengantarnya sampai depan rumah dengan bergelanyut manja di tangannya. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengannya. Tapi nggak lucu juga kalau aku ikut dia pergi ke mana-mana. “Mas nanti pulangnya jam berapa?” kataku dengan masih setia memeluk tangannya. Tinggiku yang lebih pendek darinya membuatku melakukan aktivitas itu dengan nyaman. “Em...nggak tau Ra, aku kalau pulang dari pabrik itu nggak menentu.” Jawabnya. Tangan kirinya yang tidakku peluk, kini sibuk membuka pintu mobil. “ini kamu mau ikut Mas ke pabrik apa gimana?” Aku memanyunkan bibir, aaa...aku nggak mau pisah samaa Mas adaam. Aku mau ada di dekatnya teruuus. Aku mau peluk dia teruus. Aku mauu cium aroma tubuhnya teruuus. Aku mau liat senyum manisnya teruuus. Dengan terpaksa aku pun melepaskan tautan tanganku dengannya. “Mas jangan lembur yaa.” Mas Adam terkekeh, “kamu kenapa si? Kenapa tiba-tiba jadi manja ginii?” Eh, iya kenapa aku jadi kayak anak kecil sih? Duh, dengan malu aku pun menundukkan kepala. Efek Mas Adam nurut aja aku suapin kali yaa makanya aku ngerasa nggak sungkan lagi kalau mau manja-manja? Huhu, sebenernya aku manja tau mas, selama ini aku pendam aja. “Iya, iyaa mas usahin pulang cepet ya.” katanya sembari megelus puncak kepalaku. “Oke,” hatiku rasanya meleleh diperlakukan seperti ini. duh, mas adam kalau lagi mode kalem gini emang bikin stres. Aku mencium tangan kanannya sebelum ia masuk ke dalam mobil. Memberikan lambaian tangan dan menutup pintu pagar setelah mobilnya hilang di belokan gang. Ah...pagi yang indah!!! Hari ini adalah hari ke lima kami tinggal bersama. Aku merasa semakin dekat dengan Mas Adam. Karena sikapnya tidak seperti hari pertama aku pindah ke rumah ini. Dia lebih banyak mengajakku bicara sekarang. sehingga rumah kami tidak sepi dan suasana diantara kami tidak canggung. Aku pun menjadi lebih nyaman berada di dekatnya. Sekalipun begitu, kami berdua masih belum melakukan malam pertama. Tapi ketika tidur, Mas Adam memelukku erat. Dan itu sudah lebih dari cukup untukku. “Mas sudah sampai di pabrik?” ketika sampai kafe, aku tiba-tiba penasaran apa Mas Adam sudah sampai pabriknya? Sebab itu aku putuskan untuk menelponnya. Tak lama, sambungan telepon itu segera terhubung. “Kenapa Ra?” tanya Mas Adam di sebrang sana. “Gpp, Ara kepo aja. Pengen tau, Mas Adam uda sampai apa belum?” “Uda Ra, ini lagi kerja.” “Ara ganggu ya?” “Em..kenapa sih? Ada masalah?” “Enggak, Ara Cuma pengen tau aja apa yang Mas Adam lakuin.” “Mas kerja Ra.” “Iya, maksudku kerjanya ngapain?” “Kalau kamu kepo mending ke sini.” “Gpp?” “Emang kamu nggak kerja?” “Kerja sih,” “...” “Hahaha, yauda Mas yang semangat ya kerjanya!” “Iya kamu juga.” Kemudian sambungan telepon itu tertutup. Aku merasa legah karena Mas Adam sudah sampai di pabrik dengan selamat. Sebenarnya tawaran Mas Adam untuk berkunjung ke pabrik cukup menggiurkan tapi hari ini aku sudah janjian mau intreview koki baru.  Mungkin besok atau lain kali aku akan berkunjung ke sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN