Bab 22

1458 Kata
Hari ini malam minggu tapi aku masih sibuk di kafe karena ada event spesial untuk peluncuran menu baru. Aku sibuk memantau berjalanannya event dan memastikan semuanya berjalan lancar. Keadaan kafe pun sangat ramai, karena dipenuhi para pengunjung yang antusias mengikuti event yang hanya ada malam hari ini. membuat semua pelayan dan koki sibuk, bahkan aku sesekali turut membantu untuk melayani pengunjung. Sebab itu aku tidak menyadari ketika ada sebuah telepon masuk di ponselku. aku bahkan tak memikirkan apapun lagi selain keadaan di kafe. Membuatku seketika lupa jika sudah memiliki janji dengan Mas Adam. Ketika aku selesai mengantarkan pesanan pelanggan dan hendak kembali ke area dapur, Citra yang kulihat dari jauh sibuk telepon pun menyuruhku mendekat ke arahnya. Dahiku berkerut, ada apa? aku pun dengan cepat menuju tempat citra. “Ada apa cit?” tanyaku. “Mas Adam nyariin Mbak,” ujarnya sembari menyodorkan ponsel milik kafe yang memang biasanya sehari-hari dibawa oleh citra. “Kenapa?” kataku. Citra menghendikkan bahu, “Mbak buat salah kayaknya, Mas Adam suaranya nyeremin.” Usai citra bilang begitu, aku sontak teringat janji makan malam bersama di rumah Bunda. Ya Allah, kenapa aku bisa lupaaa? Hari ini kan ada pertemuan keluarga Mas Adam sekaligus tahlil untuk Bapak? Aku sontak mengambil ponsel di tangan citra dan menuju ruanganku. Gawat!!! “Halo Mas,” setelah sampai di ruanganku, aku baru menyapa orang yang disebrang sana yang mungkin saja tengah marah besar. “Kamu di mana?” suaranya terdengar dingin. Sial, benar kata Citra. Nada bicara Adam terdengar nyereminnnnn. “Mas, maaf ya..ya Allah aku emang bodoh banget sampek lupa. Aku masih di kafe, ini aku mau otw ke rumah Bunda.” “Nggak usah.” “Loh, Mass masih di sana kan?” “Hp kamu kemana si?” “Eh..em...ada kok, cuman tadi aku taruh di ruangan.” “Buang aja kalau nggak penting!” “Mas marah ya? duh, maaf mas..” “Kamu nggak usah ke sini, aku uda bilang Bunda kalau kamu sibuk.” “Tapi aku bisa ke sana sekarang mas.” “Telat ra.” “Pokoknya aku ke sana! Mas jangan kemana-mana.” “..” “Yauda, aku tutup ya Mas..Assaalmualaikum.” Dengan gerakan cepat aku pun membereskan tas dan bergegas meninggalkn Kafe. Duh.. masa bodoh dengan kafe yang tengah ramai, yang ada dipikiranku sekarang hanya Mas Adam! “Loh Araaa?” Bunda menyambutku dengan hangat. Aku tersenyum kemudian mencium tangannya. Keadaan rumah bunda malam ini sangat ramai, mereka sibuk membacakan lantunan ayat alquran. Membuatku untuk ragu masuk ke dalam rumah. sebab itu setelah sampai, aku masih bengong di depan teras rumah sembari menimang jalan masuk lain agar tidak menganggu acara di dalam. Hingga kemudian Bunda muncul tak tau dari mana. “Katanya Adam kamu sibuk?” Aku tersenyum tak enak, duh..sungguh aku merasa bersalah. Kenapa sihh aku lupaa? Sejak pagi aku emang uda sibukk banget ngurusin event di kafe. Di pikiranku isinya Cuma rencana buat mastiin acara berjalan lancar. Ampek nggak sadar kalau uda ada janji lain. “Maafin Ara ya Bun, ara lupa.” “Gpp Ndukk, ayo masuk-masuk.” Kata beliau. Aku masuk ke dalam rumah dan menemukan banyak sekali saudara Mas Adam yang beberapa masih belum aku kenali. Bunda pun memperkenalkan aku kepada mereka. Mereka menyambutku dengan ramah, dan memberiku pertanyaan basa-basi yang kujawab dengan senang hati. Ah, ternyata keluarga Adam besar sekali yaa. Mereka juga baik dan menyambutku dengan penuh perhatian. “Oh ini to ara ituu. Aku ini Tantenya Adam Raa, Tante Wati.” Seseorang menghampiriku. Wajahnya tampak lebih mudah dari yang lain. wajahnya cantik, mirip Bunda Bilqis. Mungkin Bunda Bilqis waktu muda mirip Tante Wati, pikirku. Hingga tak sadar aku digiring Tante Wati menuju belakang rumah. Di belakang rumah itu ada beberapa anggota keluarga lain. Jika yang ada di ruang tengah tadi para keluarga yang sudah tua, yang berkumpul di belakang rumah ini adalah para anak mudanya. Karena kudapati wajah mereka seperti lebih muda dariku. “Gaisss, lihat ini ada siapaaa!” kata Tante Wati sembari merangkulku yang berdiri di sampingnya. Semua orang yang ada di sana pun sontak menatapku. “Istrinya Mas Adam te?” “Mbak Ara yaa?” “Masya Allah, cantik sekalii!!!” “Mbak Araa, ayo siniii!!” ucap mereka bergantian. “Mbak Ara, aku Bela sepupu Mas Adam,” kata perempuan cantik yang menggunakan kerudung bewarna merah maroon. Dia yang menggeretku hingga duduk di tengah-tengah mereka—yang tidak kukenal sama sekali. Tante Wati yang melihat itu hanya tersenyum sembari memperhatikanku di recoki mereka. “Salam kenal ya Bela,” kataku dengan senyum manis. Sekalipun jujur aku merasa risih, tapi senang juga bisa diterima dengan hangat seperti ini. “Aku Salsa mbak, sepupunya Mas Adam juga.” Itu suara perempuan yang cantik berkacamata yang menggunakan kerudung hitam. “Iya Salsa, salam kenal yaa.” Jawabku. Aku pun menatap perempuan lain yang ada di depanku, dia satu-satunya yang tidak memakai kerudung. Wajahnya ayu, dengan gigi gingsul yang menghiasi deretan giginya. “Kalau kamu siapa?” tanyaku padanya. “Rini Mbak Ara, “ jawabnya dengan lembut. “Salam kenal ya rinii,” kataku dengan senyum hangat. “Mbak Ara maaf, kalau aku tanya sesuatu boleh nggak?” kata Salsa. Aku menatapnya penasaran, wajahnya terlihat serius dan ketika dia mengatakan ingin menanyakan sesuatu semua orang sontak memperhatikannya. Apa yang mau dia tanyain? Pikirku. Kuanggukkan kepala sebagai isyarat mengizinkannya untuk bertanya. Dengan penasaraan aku pun menunggu dia mengucapkan pertanyaan. “Mbak Ara beneran ndak pacaran dulu sama Mas Adam?” kata Salsa dengan wajah polosnya. Ara tebak, Salsa ini pasti masih SMA, atau bahkan masih SMP? Entahlah, gadis itu masih terlihat belia. “Salsa! Kenapa tanya begituuu?” ujar Tante Wati. Salsa tidak merasa pertanyaan salah, sebab itu gadis itu tetap cuek badai dan menatap Ara penuh harap agar pertanyaannya segera dijawab. “Nggak sayang, nggak pakek pacaran.” jawabku yang sontak disambut teriakan ketiga remaja abege itu. “TUHKAN BENER TEBAKANKUU!!!” kata Salsa berteriak kesenang. “Mereka itu nikahnya  dijodohin jadi nggak pakek pacaran.” “Iyayaya Sal, sekarang gantian. Aku yang mau nanyak Mbak Ara,” Kata bela seolah memberi peringatan pada salsa untuk diam. “ Apa Ara?” “Emm..Mbak Ara operasi plastik ya?” “Ha?” aku tercenggang dengan pertanyaan  Ara. Nggak paham kenapa dia tanya gitu. “Maksud lo apaan si Bel? Kenapa bikin pertanyaaan begitu?” Ujar Salsa sewot.  Kayaknya salma dan Bela ini sering bertengkar deh. Aku pun hanya menyimak cekcok singkat diantara mereka dengan tersenyum heran. Hingga kemudian Bela menyuruhku segera menjawab pertanyaannya. “Ya enggak pernah Bel, nggak punya uang juga.” Jawabku. “Berarti yang ada di dompet Mas Adam perempuan lain,” kata Bela terdengar mengambil kesimpulan. Dia nggak sadar ucapannya itu bikin semua orang diem sambil mikir sesuatu. “Bela pernah liat dompet Mas Adam?” tanya Tante Wati. Bela mengangguk, “pernah te. Tapi beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya aku lupa. Pokoknya waktu itu Mas Adam mau ngasih aku uang, terus aku ngintip foto yang ada di dompetnya.“ “Aku juga,” Rini akhirnya turut berbicara. Aku tidak tau kemana pembicaraan ini berujung. Aku menjadi penasaran dengan apa yang diomongkan Bela tadi. Kira-kira di dompet Mas Adam itu foto siapa ya? tiba-tiba aku juga jadi penasaran. “Rini kenapa? Tanya Tante wati. “Aku juga liat foto cewek yang di dompet Mas Adam,” kata Rini. “Malah Mas Adam bilang itu foto calon istrinya. Makanya aku bingung waktu liat wajah Mbak Ara yang nggak sama dengan cewek yang di dompet Mas Adam.” Penjelasan Rini membuatku membeku. Maksudnya apa si? Jadi Maas Adam sebenarnya punya calon istri lain selain aku sebelumnya? Katanya dulu Mas Adam nggak punya calon siapasiapa? Aku pun hanya tersenyum singkat karena tak tau harus merespon bagaimana lagi. “Ara,” suara Mas Adam memecahkan kecanggungan diantara aku dan para sepupunya. Aku menoleh menatapnya yang tengah menampakkan wajah masam. Ataga...aku lupa akan menghadapi Mas Adam yang tampaknya marah padaku. “Eh Adam, nyari Ara ya? Maaf ya, Tante bawa Ara ke sini soalnya biar kenal sepupu-sepupu kamu.” Kata Tante Wati. “Iya Gpp tante, Ara saya ajak ke dalam dulu yaa.” Kata Adam sembari memberikan kode padaku untuk mengikutinya. Aku pun mengucapkan selamat tinggal pada mereka, dan mengekori Adam dari belakang. masih kudengar bisikan-bisikan sepupu Adam yang cukup mengusik pikiranku. “Rini lo kenapa ngomong gituu sih?” itu mungkin suara bela, karena terdengar tegas dan jutek. “Ya kan lo yang mulai,” kata Rini santai. “Tapi kan nggak harus lo perjelas jugaaa!!” Ujar Salsa. “Kalau menurut Tante, kalian yang salah.” kalimat Tante Wati adalah kalimat terakhir yang kudengar. Hingga kemudian Adam meraih tanganku dan menarikku untuk mempercepat langkah. Duh, Fix habis ini aku bakal kena omel Mas Adam. Serem!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN