Bab 23

1030 Kata
Kondisi mentalku setelah menikah dengan Ara tidak stabil. Aku sering diam dan bersikap acuh dengan sekitar. Hal ini tentunya bukan karena statusku yang lajang berubah menjadi menikah, tapi karena kematian Bapak yang benar-benar membuatku seperti jatuh ke dalam jurang. Sialnya sekalipun aku sudah diberi tau akan ada waktu aku akan dijatuhkan, tetap saja aku tak merasa siap. Atau sampai kapanpun aku tak akan pernah siap? Aku masih belum sekuat atau seikhlas Bunda, yang bisa bersikap biasa saja menyambut kepergiaan Bapak. Aku tidak bisa kembali dengan cepat karena rasa kehilangan itu terlalu menyakitkan. Rasanya sesak melihat orang yang selama ini kujadikan teladan berbaring lemah tak berdaya hingga dikubur dalam liang lahat. Tak tega membayangkan Bapak sendirian di sana. Apa bapak baik-baik saja sekarang? apa bapak kesepian? Pikiran-pikiran seperti itulah yang ada di otakku setelah pemakaman bapak. Semua pertanyaan gila itu tentunya tak medapatkan jawaban pasti. Berimbas pada suasana hatiku yang buruk dan tingkahku yang menjadi murung. Dan aku tau, itu pasti membuat Ara terluka. Apalagi ketika aku ketahuan membohonginya. Saat itu hari pertama Ara pindah ke rumah kami. Rasanya janggal ketika aku menyebut rumah itu sebagai rumah kami, karena selama ini rumah itu rumah penginapan yang digunakan untuk menampung keluarga atau teman-temanku yang ingin berlibur di jogja. Sebenarnya aku tak pernah berniat untuk tinggal di sana, tapi tiba-tiba saja aku memiliki ide untuk mengajak Ara tinggal di rumah itu. Mungkin saat itu aku teringat ucapan Bapak yang ingin segera memiliki menantu. Jadi saat itu aku berpikir akan melakukan apapun agar Ara mau menikah denganku. Termasuk mengajaknya tinggal di rumah ini, karena dia terlihat menyukainya. Tawaran itu tentu saja aku lakukan agar Ara mau menikah denganku. Karena hanya Ara satu-satunya yang Bunda kenalkan padaku dan membuat hatiku merasa 'klik' seolah tau jika Ara lah orangnya. Sekalipun aku tak berharap banyak tentang pernikahan ini, tapi aku tetap ingin orang yang menikah denganku adalah orang yang tepat. Dan aku rasa, orang yang tepat itu adalah Ara. Sifatnya yang baik hati dan mudah percaya, membuatku merasa jika dia bisa menjadi 'pemeran pengganti' menggantikan seseorang yang seharusnya menjadi istriku. Aku tidak mau membahas perempuan itu. Karena ada rasa sesak jika mengingat perasaanku yang masih sangat besar untuknya tapi aku harus menikah dengan orang lain. Ah, saat ini aku bahkan harus menghembuskan nafas berulang kali untuk mengusir rasa sesak itu. Sudah, mari kita kembali ke topik awal. Yaitu bagaimana kejadian ketika aku ketahuan membohongi Ara. Semua itu diawali dengan adegan di ranjang. Dimana aku mulai tergoda melihat tubuh Ara yang baru saja selesai mandi. Hei...aku masih laki-laki normal, hasratku masih bekerja dengan baik. Jadi tidak salah jika aku mendadak nafsu ketika dekat dengannya. Dan dia juga istri sahku, di mata agama dan di mata negara. Keinginan untuk memeluk, mencium atau menjamah tubuh Ara tentunya semakin besar. Dengan gerakan cepat aku pun mencium bibirnya. Melumat sampai kami berdua kehabisan nafas. Itu adalah ciuman pertamaku. Rasanya tidak bisa aku jabarkan. Yang jelas jantungku berdebar sangat kencang dengan alasan yang tak jelas. Hingga kemudian aku mendengar bisikan yang membuatku melepas ciuman itu. Bisikan dari dalam diriku yang kusesali kenapa baru datang disaat aku sedang menikmati bibir Ara. Membuat kenikmatan itu sirna dan menyisahkan kekhawatiran yang menjalar dalam diriku. Bisikan itu berbunyi: aku juga mencintaimu dam. Dan tiba-tiba wajah 'perempuan itu' terbayang di pikiranku. Aku bingung, apakah aku sedang membayangkan perempuan itu saat berciuman dengan Ara? Kenapa dia tiba-tiba muncul? Membuatku merasa bersalah sekali pada Ara. Sebab itu aku segera pergi dari rumah. Dengan alasan ada pekerjaan di pabrik padahal ya tidak. Aku bohong pada Ara dan aku tau, tak seharusnya aku begitu. Hingga kemudian kami bertemu di rumah Bunda. Dia bertanya apa aku bohong? Dan aku jawab jujur. Mungkin dia tau dari Bunda jika aku tidak di pabrik. Dan parahnya aku malah bilang hal-hal yang tidak seharusnya aku katakan padanya. Saat itu aku sedang kacau, sama sekali tak ada niatan menyakiti hati Ara. Tapi tampaknya aku sudah menyakitinya. Bahkan kulihat dia menangis. Alhasil malam itu kudekap tubuhnya sembari mengucapkan kata maaf. Aku pun memintanya memberiku waktu untuk menenangkan diri. Setelah beberapa hari Ara memberiku waktu, aku pun sudah merasa tenang. Pertanyaan tentang kematian Bapak tidak lagi muncul. Apa aku sudah ikhlas? Tampaknya. Karena tak ada lagi sesak jika teringat Bapak. Aku pun kembali seperti dulu, tidak lagi murung sekalipun sesekali aku masih merasa sesak. Tapi kata Bunda itu sudah mendingan dari pada aku terus-terusan merasa sedih. Semua itu mungkin berkat Ara. Setelah kejadian minta maaf dan menangis itu, aku berhati-hati sekali memperlakukannya. Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Setidaknya jika aku tak bisa mencintainya aku juga tidak akan menyakitinya. Ya, itu prinsipku saat ini. Ara juga memperlakukan ku dengan baik. Dia memberiku makanan enak dan benar-benar pintar memanjakan ku. Dia selalu 'berisik' mengatakan apapun yang dia sedang lakukan. Selalu menyambut ku di rumah ketika aku pulang kerja. Selalu ada untukku ketika aku membutuhkannya. Namun lain untuk hari ini. Sejak tadi siang aku sudah mengingatkannya tentang acara tahlilan di rumah. Tak kunjung kutemukan balasan darinya. Itu membuatku cukup khawatir dan resah. Aku takut dia lupa dan tidak membacanya. Sialnya chat itu tidak ia baca sampai sore hari. Aku berpikiran baik, Jangan-jangan ara di rumah Bunda dan membantu Bunda menyiapkan acara tahlilan? Makanya dia tak sempat membalas chatku. Kemungkinan yang kuciptakan sendiri itu sedikit memberikan ketenangan. Hingga aku sampai di rumah dan tak kutemukan Ara di sana. Kemana sih dia? Kenapa aku telepon juga tidak diangkat? Akhirnya karena kesal aku mencoba bersabar dan menunggu. Hingga malam hari kutunggu balasan pesan darinya yang tak kunjung datang. Aku pun mencoba memeriksa halaman i********: kafe miliknya. Kucoba ketikkan nama kafe Ara, dan kucek satu persatu akun dengan nama yang hampir mirip. Dan ketemu. Di post terakhir bilang kalau hari ini ada menu baru dan diskon besar di kafe. Apa karena ini Ara tidak menjawab telepon ku? Sungguh aku pun tak paham kenapa aku menjadi kesal sampai begini. Tapi wajar kan jika aku kesal padanya? Tidak aneh kan? Ya.. Ini perasaan wajar yang memang harus aku rasakan. Perasaan yang tak ada sangkut pautnya dengan perasaan cinta. Dan aku yakin, aku bukannya khawatir, aku hanya merasa kesal saja karena Ara tidak ada di sini. Tapi perasaan kesal itu tiba-tiba saja hilang saat aku melihatnya baik-baik saja. Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN