Bab 23: Foto cewek siapa kah itu?
“Kan aku bilang nggak usah ke sini,” ujar Mas Adam.
Aku yang tengah duduk di sofa yang ada di kamarnya hanya berani menundukkan kepala. Serba salah juga ya jadi aku. Entar kalau nggak dateng beneran, aku takut dia marah, eh dateng juga masih kena marah.
Aku pun tak tau harus berkata apa. Akhirnya kubiarkan kalimatnya menguap begitu saja. tanganku kugenggam erat sembari berdoa semoga Mas Adam tidak marah besar. Jujur ini pertama kalinya aku melihat Mas Adam marah, jadi aku sekarang juga menebak-nebak kira-kira bagaimanakah Mas Adam kalau marah? Akankah dia mencaci makiku? Atau memukulku? Duh, kalau itu sampai terjadi aku benar-benar kecewa sih. Tapi aku rasa Mas Adam bukan orang seperti itu.
Tak kudengar suaranya lagi namun kurasakan seseorang duduk di sampingku. Tanpa bisa kucegah, kepalaku sontak menoleh ke arahnya. Buru-buru aku palingkan karena aku masih takut. Deruh nafasnya terdengar lumayan keras, tampaknya Mas Adam tengah mengendalikan amarahnya.
Ini memang salahku sih, wajar jika dia marah. Jadi kayaknya aku harus terima apapun yang akan Mas Adam lakuin habis ini. Dia nggak mungkin marah dan bunuh aku kan?
“Kenapa Hpnya nggak dibawa aja si tadi?” suara mas Adam sudah kembali normal. Bolehkah aku berasumsi Mas Adam berhasil mengusri amarahnya sendiri?
Aku meliriknya dan menemukannya menatapku dengan tatapan lembut, bukan tatapan membunuh seperti tadi. Ah, hatiku tiba-tiba sesak. Pria di depanku ini kenapa tidak marah saja si langsung? Kenapa dia harus mengubur amarahnya? Padahal aku pantas dimarahi. Hal itu tentu aja bikin aku semakin merasa bersalah.
“Kelupaaan Mas, nggak keburu juga ambil HP di ruangan, keadaan kafe rame banget.” Jawabku jujur. Tadi Kafe emang uda kayak pasar. Ya seneng sih, tapi degdegan juga kalau ada pengunjung yang merasa dianggurkan karena tidak segera dilayani.
“Besok cari pegawai baru.”
“Ha?”
“Kalau nggak ada budgetnya aku yang bayarin.”
“Eh, Mas nggak gitu.” duh, kenapa Mas Adam malah nyuruh nambah pegawai di kafee? Aneh banget tiba-tiba.
“Terus gimana? Mas nggak mau kamu kecapekan di kafe.”
Ha? apa ini? Mas Adam mengkhawatirkanku? Duh..kenapa jadi so sweet gini sih?
“Mas khawatir?” tanyaku dengan raut wajah bingung, terkejut bercampur jadi satu.
“Ha? siapa? Enggak,” elak Mas Adam cepat. “Mas Cuma nggak mau kamu capek ngurusin kafe, soalnya entar yang ngurusin mas di rumah siapaa?”
Oh.
Oh itu alasannya. Hahah, apasih kamu Ra! kebanyakan berharap kan? makanya jadi kecewa sendiri.
“Yauda entar aku cari pegawai baru.” Kataku.
“Iya, kalau butuh suntikan dana bilang aja.”
“Makasih mas, tapi aku masih punya simpanan banyak kok.” Ini aku nggak sombong sumpah, aku Cuma jujur aja ke Mas Adam. tapi nggak tau kenapa dia sontak melirikku dengan tatapan tidak enak. “Mas, aku bukannya sombong loh. Aku Cuma jujur aja.”
“Iyaa, iya.. mas ngerti. Lagian kalau kamu banyak uang mas juga seneng.”
Aku mengangguk, duh kukira Mas Adam tipe suami yang nggak suka liat istrinya punya penghasilan sendiri. kan banyak sekarang suami yang ngelarang istrinya ini itu karena takut istrinya lebih ‘sukses’ darinya. Sumpah aneh banget sih sama suami yang punya pemikiran begitu.
Ngomongin uang, tiba-tiba aku jadi inget sesuatu. Dompet! Aku memutar otak keras agar bisa mengecek apakah di dompet Mas adam benar-benar ada foto cewek lain seperti yang dikatakan para sepupunya. Jujur aku penasaran siapa cewek itu. Jangan-jangan mantannya....
“Mas,”
“Kenapa?”
“Mas punya uang?”
“Ha?” Mas adam keliatan bingung. Ya wajar sih, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba aku nanyain dia punya uang apa nggak. Apalagi hubungan kami masih belum seperti pasangan yang sudah menikah lainnya.
“Aku boleh minta uangnya nggak?”
“Loh, katanya kamu punya banyak uang?” tanyanya.
Duh, bodoh banget! Bisa-bisanya bikin alasan yang nggak masuk akal gitu.
“Emm iya, tapi sekarang aku ga ada uang cash. Minta dong Masss, lima puluh ribu aja. Aku mau beli sesuatu di indoapril entar kalau pulang.”
“Ha? oke,” Mas Adam mengeluarkan dompetnya. Aku pun sontak mendekat ke arahnya. Dan memicingkan mataku ketika dompetnya terbuka.
“Kamu Kenapa si?”
“Ha?” aku sontak menjauhkan diriku dari Mas Adam. posisi kamu tadi memang sangat dekat, aku nggak sadar uda mengambil jarak sampai sedekat itu. “aku kenapa? Emang aku siapa?” duh, makin gajelas.
Salah satu kekuranganku, kalau ada di posisi yang meghimpit seperti ini pasti jadi ngomong ngawur. Seperti tadi, masak aku nanyain akun siapa sih? Gajelas sumpah. ARAAAAA PABOOO!!
“Ra, kamu aneh.” Kata Mas Adam yang kuberi anggukkan kepala. Iya mas, aku juga sadar kok.
“Jujur kamu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba minta uang lima puluh ribu? Terus kenapa kamu juga kayaknya kepo banget liatin dompet aku? kamu pengen tau seberapa banyak uang aku? iya?”
“Eh enggak mas..” duh, malah jadi salah faham.
“Terus?”
Haruskah aku jujur saja? ya, dari pada aku pendam sendiri kan? aku harus mengkomunikasikannya pada Mas Adam. agar mas adam bisa menjelaskannya. Toh kalau itu emang bener mantannya ya gpp kan? lagian mantan kan Cuma ada di masa lalu. jadi kenapa aku takutt? Dia nggak akan bisa kembali! karena yang namanya masa lalu itu nggak akan bisa menandingi masa depan. Bahkan kata seorang filusuf, masa lalu, masa depan itu nggak ada, yang ada itu masa depan.
“Tadi sepupu mas bilang sesuatu.”
“Sepupu? Bela, Salsa sama Rini? Mereka bilang apa?” wajah Mas Adam sontak terkejut, aku melihatnya dengan ujung mataku. Duh, aku jadi khawatir habis ini para gadis itu akan dimarahi Mas Adam deh. Harusnya aku nggak bilang aja ya tadi? Duh...tapi ini uda nanggung kan?
“Em..”
“Bilang apa raa?”
“Katanya di dompet Mas adam ada foto cewek yang bukan aku.” Ujarku. Aku menatap Mas Adam yang sontak seperti patung. Diam, tidak bergeming sama sekali.
Aku jadi curiga jangan..jangan foto itu masih ada?
“Fotonya masih ada ya Mas?” tanyaku sembari mengigit bibir bawahku. Sumpah aku takut sakit hati! aku takut kalau foto itu beneran masih ada!!! oh tuhan, aku nggak mau sakit hatiii.
“Uda nggak ada Ra,” jawabnya. Gerakan tangannya membuka dompetnya di hadapanku, seolah mempersilahkan aku untuk memeriksanya.
Dan benar emang uda nggak ada fotonya. Akhirnya aku bisa bernafas legah. Tapi...misteri siapa cewek itu masih belum terpecahkan. Jadi aku belum bisa lega banget.
“Berarti emang bener pernah ada foto cewek di dompet Mas?” tanyaku dengan susah payah. Jujur, hatiku sakit waktu tanya gitu. Ya sekalipun aku tau, tak seharusnya aku sakit hati. NGAPAIIIIN gitu loh?
“Iya.” Jawab Mas Adam dengan suara lemah.
Aku menghembuskan nafas panjang. Oke, aku tau. Mungkin foto cewek itu benar-benar mantannya. Lalu apa maksud dari perkataan Rini, yang bilang kalau Adam pernah bilang akan menikahi cewek itu? kenapa dia nggak jadi nikahin cewek itu dan malah nikah sama aku?
Ah..entahlah, entahlah...kayakya nanti pulang aku beneran mau mampir ke indoapril deh buat beli es krim. Gatau kenapa aku jadi nggak bersemangat menjalani hidup dan membutuhkan sesuatu yang manis untuk dopamin.