Bab 25

718 Kata
Bab 24: Menghindar Aku gamau lagi inget foto cewek yang katanya pernah di dompet Mas Adam, karena itu cuma bikin aku overthinking! Sebab itu agar aku tak ingat, aku ingin menghindari Mas Adam sebentar. Dengan beberapa alasan yang kukarang sendiri, aku bilang padanya jika aku harus berangkat pagi karena belanja dulu di pasar. Menurutku alasan itu nggak masuk akal, soalnya selama ini aku kalau belanja bahan baku untuk kafe itu di supermarket atau nggak ya dikirim langsung dari distributornya. Tapi karena Mas Adam nggak paham gimana sistem berbahan bakuan di kafeku, dia pun cuma mengangguk mengerti. Aku pamit pergi ketika dia masih sibuk di kamar mandi. Agar aku tidak perlu mencium tangannya atau menatap wajahnya pagi ini. Maaf ya Mas, sebenernya aku juga nggak tau aku ini kenapa. Kenapa kok rasanya campur aduk gini. Antara kesel, overthingking dan sedih. Makanya semalem aku diem aja dan milih tidur lebih cepet. Daripada aku ngobrol sama Mas dan masih terbayang-bayang foto itu. Semoga Mas nggak menyadari ya, soalnya aku Cuma butuh waktu aja buat sendiri sebentar. Buat menangin hati yang ga baik-baik aja pas tau Mas dulu pengen nikah sama cewek lain. Sekalipun aku nggak seharusnya ngerasain itu. Jarum jam di tanganku menunjukkan angka tujuh ketika aku sampai di kafe. Baru pertama kali aku datang sepagi ini, biasanya paling pagi jam delapan atau sembilan karena kafe baru buka jam sepuluh siang. Selepas membuka pintu gerbangnya, seseorang yang biasanya menjadi tukang parkir di kafe menyapaku. “Mbak ara? Tumben jam segini uda sampai?”ujarnya. Namanya Pak Selamet, rumahnya berada di dekat sini. Pak Selamet biasanya memang datang pagi untuk menyapu halaman kafe, membuka gerbang dan membersihkan area belakang. “Oh, iya Pak lagi pengen aja berangkat pagi.” Kataku dengan senyum basa basi. “Bapak uda sarapan belum?” tiba-tiba aja aku pengen gudeg Bu Darti—gudeg langganan ku yang rasanya enak sekali. Mungkin ada baiknya aku makan gudeg, siapa tau setelah makan moodku akan kembali baik-baik saja. sekalipun semalam es krim yang kubeli tidak mempan sama sekali untuk memperbaiki perasaanku. “Belum Mbak, rencananya habis nyapu halaman mau pulang sebentar buat makan.” kata Pak Selamet. “Sekarang aja Pak, tolong beliin saya gudeg Bu Darti nanti Bapak juga saya belikan.” “Wah, beneran ni mbak?” “Iya Pak, beli tiga aja. entar yang dua bawa pulang.” “Okeh Mbak!” katanya bersemangat. Aku pun memberinya selembar uang seratus ribu dan dengan cepat ia bergegas menuju warung gudeg bu darti yang lokasinya tidak jauh dari kafe. Sembari menunggu gudegku datang, aku menuju ruanganku dan baru menyadari jika ada satu chat w******p masuk. Dari Mas Adam. Mas Adam: Ra, kamu dimana? Mas Adam: kamu uda pergi? Mas Adam: nggak sarapan duluu? Mas Adam: kenapa nggak tunggu aku selesai mandi? Pesan itu ia kirimkan dua puluh menit yang lalu, mungkin saat aku perjalanan menuju ke sini. Kemudian pesan baru yang baru saja masuk itu berbunyi: Mas Adam: kok nggak dibales? Mas adam juga bisa cerewet yaa, tercipta senyum di wajahku yang kutaksadari melengkung begitu saja. Aku pun duduk di kursi kemudian membalasnya. Aku: Maaf ya mas, beneran sibuk banget pagi ini. Kalau nggak cepet-cepet entar kehabisan. Maaf baru balas tadi di jalan. Tidak menunggu lama sudah kutemukan balasan darinya. Mas Adam: harusnya kamu tunggu sebentar ra, mas mandinya juga nggak lama kan? yauda terus km blm sarapan? Waw, apa Mas Adam lagi perhatian? Atau Cuma mau ngomong gitu aja biar aku nggak sakit dan ngerepotin dia? Ya, kayaknya itu deh! Nggak mungkin dia perhatian. Aku: blm mas, ini lagi dibeliin Pak selamet. Mas Adam: Pak selamet siapa? Aku: pegawai kafe Mas Adam: oke, nanti Pap makanannya Aku: buat apa? Mas Adam: buat mastiin km benar2 makan Aku: haha ngapain aku bohong si Mas Adam: ya gatau AKu: Mas uda makan? Mas Adam: uda tapi rasanya aneh Aku: nggak enak ya masakan aku? Mas Adam: nggak gitu Cuma aneh Aku: lah terus gimana? apanya yang aneh Mas? Mas Adam: mungkin karena nggak ada kamu Aku: makin gajelas Mas Adam: km jgn salting Aku: aku nggak salting Mas Adam: halah, paling sekarang lagi senyum-senyum sendiri Aku: sotau! Bener mas, aku sekarang lagi senyum-senyum sendiri! Duh..bisa-bisanya sih kamu giniin aku?? kenapa kamu giniin akuu? Stress. Aku sekarang nggak tau harus kayak gimana. menghindari kamu atau pulang dan meluk kamu sekarang. tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN