Aku berhasil menahan diriku untuk tidak pulang dan memeluk mas Adam. Yaaa aku harus bisa menahan diriii agar tidak terlihat gampangan di mata mas Adam. Cuma godaan seperti itu tentu saja tidak akan mempan, sekalipun itu berhasil membuatku senyum-senyum terus dan membuat Citra bertanya-tanya. Maaf ya cit, kamu pasti jadi takut liat senyumku terus. Tapi aku nggak bisa menahannya. Hahaha. Bahkan saat melihat pengunjung makan sendiri pun aku senyum senyum sendiri. Mikirin gimana visualisasi mas Adam makan sendirian di rumah sambil mikirin aku. Asatagaa...apakah aku sudah sepenting itu dimata mas Adam sampai dia nggak nafsu makan kalau tanpa aku?
"Hihihihi" Aku terkekeh sendiri, tanpa menyadari sekarang aku berada di dapur bantuin Bara memasak nasi goreng.
Bara sontak menepuk bahuku. "Mbak? Are you okay?"
Belum kujawab, citra muncul dan menyaut "mbak Ara aneh hari ini bar," Katanya.
"Iya Cit, dari tadi dia senyum terus. Eh sekarang malah ketawa sendiri. Serem!" Ujar Bara sembari melirikku.
"Ada apa si mbak? Mbak lagi kenapa? Mbak lagi sakit?" Tanya citra.
Aku hanya senyum membiarkan mereka beragumen sesuka mereka. Bingung juga kalau mau jawab. Masak jujur? Ya maluu lah, entar malah digodain terus ama mereka.
"Kayaknya nggak sakit deh cit," Bara menatap wajahku penuh selidik. "Tapi jatuh cintaaaa"
"Aku juga mikir gitu Bar, tapi ga berani bilang" Ujar citra sembari melirikku yang tak berhenti tertawa.
"Maaf ya," Kataku kemudian.
Membuat mereka semakin bingung.
"Maaf kenapa mbak? Jatuh cinta itu normal kalii" Kata citra.
"Maaf kalau aku uda bikin kalian nggak nyaman," jelasku.
"Eh nggak gitu mbak, kita masih nggak nyangka aja Mbak Ara uda menikah. Apa nggak ada resepsi mbak? Kita pengen ni makan kambing guling di nikahan Mbak." Kata citra yang bikin aku mikir juga.
Iyaya? Apa aku dan Mas Adam nggak ngadain resepsi? Duh, kayaknya nggak pantes deh, Bapak kan baru meninggal masak uda bikin acara pesta sih. Kapan-kapan aku pengen bahas ini sama Mas Adam. Pengen tau juga dari sudut pandangnya.
"Mbak, aku boleh tanya sesuatu nggak?" Kata Bara.
Citra yang tadinya berdiri di dekat mesin pendingin kini malah duduk di dekat pantry. Menatapmu dengan tatapan hikmat.
Aku baru salah selesai memasak pesanan terakhir. Jarum jam masih menunjukkan pukul sebelas, jadi kafe masih sepi. Beda lagi satu jam atau setengah jam kemudian, pasti ramai pesanan untuk makan siang atau pegawai kantor yang mampir ke kafe
"Apaaa?" Ucapmu. Melirik Bara yang juga duduk di samping Citra. Pegawai untuk kafe ini sebenarnya ada enam. Tapi yang paling dekat denganku ya mereka berdua. Ngomong-ngomong soal pegawai, aku jadi ingat permintaan Mas Adam untuk menambah jumlah pegawai.
"Oh ya Bar, temen kamu jadi kan ya ngelamar di sini?"
"Jadi mbak, besok dia baru bisa ke sini. Soalnya hari ini ada urusan di kampusnya."
Aku mengangguk. Jadi semalam aku uda bilang ke Bara masalah ini, karena beberapa waktu yang lalu dia menanyakan masalah lowongan pegawai padaku.
"Kamu mau tanya apa?"
"Nikah itu enak nggak?" Ucap Bara yang jujur bikin aku kaget.
Tiba-tiba aja tuh anak nanyain itu, hei apa Bara uda punya pacar? Setauku bocah itu masih pengen sendiri dulu deh. Bara itu cakep, berulang kali diajak customer buat kenalan tapi dia selalu nolak. Gatau deh apa alasannya. Masi jadi misteri sampai sekarang. Pernah kutanya dulu, dan jawabannya ya apa yang aku katakan tadi. Dia masih pengen sendiri.
"Kenapa tanya gitu? Kamu mau nikah ya?" Kutatap wajahnya lamat-lamat. Dia tiba-tiba jadi salting.
"Nggak gitu mbak, aku penasaran aja." Kata Bara sembari menetralkan wajahnya.
Lucu. Pasti dia uda pengen nikah tapi masih belum mau jujur sama aku. Gpp, denger dia tanya gini aja uda bikin aku seneng.
"Kamu tau Pak Faiz nggak bar, Fahruddin faiz?" Tanyaku. Karena aku tiba-tiba teringat rekaman ngaji filsafat beliau ketika membahas pernikahan.
"Dosen UIN kan mbak? Yang ngisi ngaji filsafat di masjid jendral sudirman?"
"Iya betul, dulu mbak pernah ikut ngaji filsafatnya waktu bahas pernikahan. Beliau mengutip perkataan salah satu filusuf yang mbak lupa siapa, katanya menikah atau nggak menikah kamu akan menyesal. Ketika menikah kamu akan menyesal karena tidak punya waktu lagi untuk melakukan apa yang kamu suka. Dan ketika tidak menikah, kamu juga akan menyesal. Karena tidak bisa merasakan kebahagiaan ketika menikah."
"Jadi..?"
"Bohong kalau mbak jawab menikah itu enak Bar. Soalnya ya emang bener, nikah juga bikin kita menyesal. Emang sekarang mbak belum ngerasain, soalnya masih nikmatin peran baru Mbak sebagai istri, tapi bisa dipastikan cepat atau lambat penyesalan akan datang. Entah itu karena gara-gara liat temen mbak yang belum nikah, atau gara-gara mbak kecapekan ngurus rumah."
Mendengar penjelasanku, Bara dan citra mengangguk mengerti.
"Tapi kalau nggak nikah menurut mbak malah lebih nyesel lagi."
Kataku kemudian.
"Setuju Mbak," Saut Citra.
"Pikirin lagi Bar, menikah bukan persoalan yang gampang."
Bara mengangguk dan kami pun mengakhiri perbincangan siang itu karena tiba-tiba terdengar nada dering dari ponselku. Ada telepon masuk yang kukira dari Mas Adam. Tapi itu dari...Najwa? Orang yang uda aku percaya buat ngurusin toko kue.
"Iya ada apa Wa?" Kataku selepas menjawab salam.
"Mbak dimana?"
"Kenapa Ra?" Suara Najwa yang gemetar membuat pikiranku melayang. Pasti ada masalah di toko.
"Ini ada orang marah-marah,"
"Ha? Kenapa?"
"Katanya kita ambil resep roti mereka."
"Roti yang mana Ra?"
"Roti bolu kurma Mbak."
"Itu roti uda lama kan? Kenapa tiba tiba mereka nuduh gitu?"
"Gatau mbak, aneh. Mbak bisa ke sini nggak?"
"Bisa, tunggu bentar ya."
Selepas itu aku pun segera bersiap menuju toko kue. Padahal rencananya hari ini mau pulang cepet tapi kayaknya nggak bisa. Huhu.
Kangen Mas Adam:((
Tbc.