Bab 27

838 Kata
Bab 27: Masalah di toko kue Masalah di toko kue ternyata sangat rumit, apalagi pihak 'jajanan kurma' yang menuduh toko kueku mengambil resep mereka tidak bisa diajak berdiskusi dengan baik. Mereka selalu menggunakan nada tinggi ketika bicara dan selalu merasa benar sendiri. Alhasil aku pun harus ekstra sabar untuk menghadapinya. Kalau tidak begitu, maka tidak akan ada kata mufakat diantara kami. Setelah melakukan diskusi alot selama tiga jam, akhirnya kami mendapatkan jalan tengahnya. Mereka menyuruhku menjual produk mereka di toko kueku. Awalnya najwa menolak, tapi aku membiarkannya. Yang ada di pikiranku, mereka ini sudah putus asah karena produknya tak laku, sebab itu mereka melakukan cara seperti ini untuk bisa bertahan. Dalam pikiranku, aku berniat untuk menolong mereka. Jarum jam menunjukkan pukul empat sore ketika aku keluar dari toko kue. Aku mengecek ponsel yang sedari tadi sengaja kumatikan. Tidak ada pesan penting namun ada satu kontak yang sejak tadi menghubungiku. Dia adalah...Mas Adam. Ada puluhan chat baru darinya yang memenuhi ruang chat kami dan lima panggilan tak terjawab. Ponselku memang sengaja kumatikan tadi, takut menganggu diskusi yang berjalan. Jadi wajar jika aku tidak mendengar panggilan sebanyak itu. Jujur aku jadi Deg-degan, takut dan khawatir mas Adam marah. Ini adalah kali kedua aku mengabaikan teleponnya setelah kejadian event restaurant kemarin. Mungkin setelah ini aku juga akan disuruh untuk menambah pegawai di toko kue? Entahlah, yang jelas sekarang aku ingin pulang dan istirahat. Padahal sejak tadi hanya duduk dan mendengarkan tapi entah kenapa rasa capek sekali. “Mbak,” ketika hendak masuk ke dalam mobil Najwa memanggilku. Najwa ini anak dari Bu Rani—teman baik Ibu. Dulu Bu Rani yang menyuruh Najwa bekerja denganku, alasannya daripada nganggur di rumah karena Najwa juga nggak mau kuliah lebih baik membantuku merintis bisnis kue yang waktu itu tak sebesar sekarang. Awalnya aku menolak, karena aku merasa tak bisa memberi gaji Najwa dengan pantas. Bu Rani tetap teguh dengan keinginannya dan tak mempermasalahkan upah Najwa. Dia hanya ingin anaknnya bisa belajar membangun bisnis dari bawah. Sebab itu ketika aku mulai membuka kafe, dan sibuk mengurusi Kafe, aku percayakan toko kue itu pada Najwa. Aku beri dia kebebasan untuk mengelola toko kue ini. Dan alhamdulillah, semakin ke sini toko kueku semakin banyak yang suka. Tentu saja itu tidak lepas dari kerja keras Najwa. Dia memang sangat berbakat di dunia bisnis dan memiliki mental baja yang tahan banting. “Kenapa Wa?” kutatap raut wajahnya yang ayu dan dibalut sebuah kain kerudung bewarna hitam itu. Najwa berusia tiga tahun dibawahku. “Besok aku mau ke Bali Mbak, nikahan Mbak Rina.” Katanya kemudian. Astaga..aku baru ingat jika dia pernah ijin akan cuti dua minggu saat nikahan Mbak Rina—saudara kandungnya. “Loh besok nikahannya?” kataku terkejut. Karena jujur aku lupa banget! Kemarin sempat dichat Mbak Rina dikasih undangan tapi aku nggak sempet baca. “Bukan besok Mbak, hari sabtu tiga hari lagi. Cuman aku sama keluarga ke balinya lebih awal buat nyiapin acaranya,” katanya kemudian. “Mbak dateng kan? tiket pesawat dan alamat hotel uda dititipin ke Ibu Mbak.” Keluarga Najwa emang sultan. Sekalipun penampilan dan gaya hidup mereka biasa, mereka termasuk jajaran crazy reach yang ada di lingkungan tempat kami tinggal. Jadi tak heran ketika mereka mengadakan resepsi pernikahan di bali dan menanggung semua biaya tiket pesawat, hotel para undangan. “Mbak belum tanya Mas Adam Wa, kalau Mas adam izinin Mbak dateng.” Ya, seperti yang kukatan pada Barra. Menikah artinya harus siap kehilangan kebebasan. Sekalipun aku ingin sekali datang ke nikahan Mbak Rina sekaligus jalan-jalan di Bali, aku harus tetap bertanya pada Mas Adam. Apakah dia memberiku izin atau tidak. “Okeh deh, entar kalau jadi dateng kabari ya Mbak.” Katanya kemudian. “Lah emang kenapa?” “Ya biar aku bisa menyambut Mbak dengan baik.” “Hadehh kamu itu kayak sama siapa aja.” “Hehe btw aku uda minta tolong Vivian buat jaga tokoh selama aku nggak ada,” katanya. “Iyaa, entar mbak juga akan sering ke sini selagi kamu di bali. Uda jangan pikirin kerjaan, nikmatin aja suasana Bali dengan happpy.” Ujarku, mengingat dia mengambil cuti selama dua minggu. Entahlah mungkin dia dan keluarganya akan melakukan jalan-jalan keliling bali setelah acara resepsi itu. “Oke siap boss, jujur mbak Ara makin cantikk setelah menikah.” Puji Najwa yang kutau dia tidak bohong. Karena aku juga merasa seperti itu setiap kali melihat diriku di pantulan kaca. “Hehe iyaya? Pasti aura kebahagiaanku keliatan banget,” ucapku. “Bangettttt!” “Bahagia terus ya Mbak.” “Amin makasih, kamu juga yaaa..fokus perbaiki diri dulu” “Siap!!” Dan aku pun memeluk Najwa sebentar sebelum menaiki mobil. Ketika aku hendak membuka pintu mobil, ada sebuah mobil yang berhenti di depan toko kue. Awalnya aku hendak mengabaikannya, namun ketika melihat siapa sosok yang turun dari mobil itu membuatku mau tak mau harus menghentikan tangan. Mas Adam, dia turun dari mobil itu dengan wajah yang membuatku bertanya-tanya. Ada apa? kenapa dia terlihat marah? Apa karena aku mengabaikan teleponnya lagi? Mampus. Fix bakal dimarahin lagi. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN