Bab 36: Saran dari Ningsih Hari sudah berganti, matahari mulai menyinari bumi dengan terang, pemandangan indah pagi hari kembali terpampang nyata dibalik gorden. Seusai sholat subuh tadi aku putuskan untuk tidur lagi. Rasa kantuk itu tidak bisa kutahan, dan aku terbangun kembali ketika jarum jam menujukkan angka tujuh. Najwa masih tertidur pulas denganku lengkap dengan mukenanya. Pasti saking ngantuknya sampek ga sempet lepas mukena. Entahlah semalam dia tidur jam berapa yang jelas tadi malam tidurku nyenyak sekali. Aku bahkan merasa hidup kembali ketika membuka mata. Sayangnya perasaan ‘hidup kembali’ itu hanya kurasakan sebentar. Karena selanjutnya aku kembali dihinggapi perasaan resah, gelisah karena tak kutemukan pesan balasan dari Mas Adam. Entah ini sudah teleponku yang berapa

