Bab 48 “Ra, naik sepeda yuk?” kudengar suara Mas Adam ketika aku hendak menuju dapur menggambil minum. Jarum jam menunjukkan pukul enam pagi, kami baru saja selesai shalat subuh dan membaca al-quran bersama sekalian melaksanakan shalat dhuha. “Ada dua sepeda di garasi, mau nggak? Keliling desa aja, udaranya sejuk banget kalau pagi hari.” Katanya lagi. Kulirik sosoknya yang kini duduk di kursi meja makan sembari menatapku yang masih sibuk dengan urusan menghilangkan haus. “Boleh,” kataku kemudian. “Tapi setelah aku masak ya?” aku meletakkan gelas minum di dekat dispenser. Mengembalikannya ke tempat asalnya. Kemudian ikutan duduk di kursi meja makan. duduk di depan Mas Adam yang pagi ini rambutnya masih basah efek mandi besar subuh tadi. Sama halnya dengan rambutku. “Nggak usa Ra, nant

