Bab 68

1799 Kata

Mas Adam menatapku tajam sembari meraba pipinya yang memerah gara-gara aku tampar. Aku masih berdiri di tempat ku, tidak bergeming. Kakiku bergetar hebat, air mataku entah sudah berapa banyak yang jatuh. Aku sangat sedih dan marah. Ada rasa takut karena sudah menampar mas adam, tapi ada perasaan lega karena dalam diriku bilang, mas adam memang pantas mendapatkannya. Tidak seharusnya dia mengatakan hal gila itu. Apa dia kira aku tidak punya iman dan harga diri? Apa seperti itu pandangannya terhadapku? Sungguh gila. Jika mengingatnya seperti ini, membuatku merasa jika tamparan yang ku berikan masih tidak ada apa-apanya. Harusnya aku sobek-sobek mulutnya karena menghinaku. Tapi aku masih waras dan ingat dengan jelas jika dia masih suamiku. Aku juga tidak mau dijadikan tersangka karena mela

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN