Ara merasakan kecewa karena berharap lebih pada sosok Adam. Sebab itulah, dia memutuskan untuk tidak berharap sekalipun memberikan kesempatan kedua. Agar jika kecewa kembali menyapa, rasa sakit yang dia rasa tidak terlalu besar. "Ara," Adam memanggil nama istrinya itu dengan suara lembut. Jarang Adam lakukan, sehingga ketika dilakukan itu membuatnya merasa malu. Sementara yang dipanggil masih sibuk dengan leptopnya. Adam mencoba sabar. Akhir-akhir ini hobi ara memang mengacuhkannya. Dia harus terbiasa. "Ra," "Ara." Melihat ara yang tidak bergeming, Adam pun bangkit dari tidurnya. Menuju Ara yang sedang duduk di lantai beralaskan karpet bulu sembari menatap leptop yang Ara letakkan di meja. "Uda malem," kata Adam sembari turut duduk di karpet bulu itu. Tangannya menyentuh halus ba

